Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

Perjalanan ke Coban Rondo yang Melegenda


Setelah mengalami pergulatan batin antara Museum Angkut dan JTP3, kini bingung lagi antara Coban Rondo (Air Terjun) atau Batu Secret Zoo (Kebun Binatang). Hiyaah gitu aja pakek bingung segala. Beginilah kalau liburan singkat sementara tempat wisatanya banyak banget. Baiklah, agaknya tema liburan ke Malang kali ini lebih ke alam aja ya mencari yang lebih natural, soalnya di Jakarta susah nyari yang beginian. Ibaratnya nih bagi warga Jakarta kalau mau ke kebun binatang bisa ke Ragunan atau kalau mau yang hawanya mirip di Batu, bisa ke Taman Safari. Tapi kalau nyari Air Terjun alami, mau kemana coba? #makesensekanya

Hari ketiga di Malang ini jadwalnya lebih santai sih. Kami keluar hotel sekalian check-out sekitar jam 09.30an pagi. Heuheuu asliii kurang banget rasanya liburan di Batu, Malang ini. Soalnya selain belum puas nikmatin hotelnya itu sendiri juga karena banyak tempat wisata sekitar penginapan yang belum kita kunjungi. Sebagai informasi saja The Singhasari Resort, tempat kami menginap ini dekat banget sama JTP3 dan BNS. Bismillah, next kalau liburan lagi ke sini eksplor semuanya deh ya.

Otw Coban Rondo

Kalau dari penginapan kami The Singhasari ini untuk mencapai Coban Rondo masih harus nanjak lagi ke arah Pujon sekitar 20 menitan. Perjalanan kami ke Coban Rondo cukup lancar, jalannya berkelok-kelok tapi bagus. Sepanjang jalan kiri-kanan banyak pohon-pohon tinggi, yah mirip-mirip seperti di Puncak suasananya, cuma di sini lebih sepi, beda sama Puncak yang kiri kanan sudah banyak kios-kios dan restoran. 

Begitu sampai kami yang masih di dalam mobil, membayar tiket masuk sebesar 35ribu/orang. Tiket masuknya ini nanti bisa digelangkan supaya mudah ditandai saat mau masuk wahana. Ini merupakan tiket terusan, jadi kita bisa pakai untuk bermain hampir seluruh wahana. Wow bisa dibilang murah ya, padahal yang disajikan itu bentukan alam yang nggak ada duanya. Iya dong mungkin tempat lain ada Coban juga tapi pasti tidak ada yang identik satu sama lain, namanya juga ciptaan sang Maha Kuasa.

Wahana Outbond dan Labirin

Wahana pertama yang kami temui adalah lebih ke kegiatan outbond. Ada flying fox, panahan, berkuda, labirin, serta beberapa spot foto yang instagrammable banget. Tadinya sih saya mau men-skip tempat ini karena fokus utama kami ya Coban Rondo aja udah, tapi pikir yang lain, "udah lihat dulu saja, kalau tidak suka tinggal pindah." Hmm... bener juga sih. Oiya lagi pula anak saya waktu itu mengeluh pusing, kayanya antara kena AC langsung saat di mobil atau jalannya berkelok-kelok. Jadi ya sudah saya pun mengurut punggungnya sebentar dengan minyak telon sambil si anak memeluk ayahnya. Daaan, seketika si ayah gelege'an alias sendawa berkali-kali, setelah itu? Alhamdulillah si anak pun ceria kembali malaaaah ngajakin naik flying fox yang tingginya, beuuuh saya aja gak mau nyobanya.

Ya sudah karena si ayah juga mau nyobain, jadilah berduaan mereka terbang romantis di flying fox. Daaaan ternyata dong dia malah minta lagi... Hohoo ... Sudah ya karena memang satu gelang ini hanya berlaku 1x permainan tersebut. 

Kami terus berjalan menjelajahi tempat lainnya. Ealah ternyata ada panahan, si suami katanya mau coba. Terus otak akuntingku muncul, "masa aku gak main apa-apa, lha wong sudah bayar yasudah kalau panahan mah hayuk aja deh."  Gitu deh kira-kira gumamku dalam hati. Meski begitu, tetap saja anak panahku malah banyak dipake sama suami, untungnya pas anak panah terakhir berhasil masuk di lingkaran. Apa sih ini istilahnya? Haahaa ...
Ternyata berat juga yes nariknya...
Nggak jauh dari tempat panahan ini juga adala toilet dan musholla. Di sisi sebelahnya ada area luas yang sudah ditata dengan sangat cantik dan apik. Kalau sudah di area sini, foto di mana juga pokoknya cakep deh. Oiya satu lagi, di sini juga ada taman labirin lengkap sama menara pengintainya. Buat apa? Ya mungkin buat memberi petunjuk yang di dalam labirin. Soalnya nek ora bisa mumet di dalam labirin. 
Asyiknya jalan rame-rame itu ada yang motoin :D
Ada yang pernah masuk labirin?
Dekat wahana ini banyak tukang jajanan termasuk oleh-oleh. Sebagai informasi saja ya, toko paling kanan menjual dengan harga yang relatif terjangkau dan kualitasnya cukup baik. Buat perbandingan saja, anak saya dibelikan topi oleh yangutinya topi dengan harga 20.000, kacamata 15.000 dan kaos dengan bahan adem seharga 35.000 saja dooong. Sementara di tempat oleh-oleh, kaos dengan kualitas bahan yang bagus itu harganya paling murah 65.000an, huwaah terus menyesal kenapa nggak beli pas di Coban saja. Ya sudahlah itu namanya rezeki. Sekarang sudah tau kisaran harga di tempat oleh-oleh jadi next kalo di tempat wisata ada yang menjual barang dengan kualitas sama tapi harga lebih miring, sikat aja.

Coban Rondo; Bukan Sekadar Air Terjun

Nah ini yang ditunggu-tunggu, asli penasaran karena saya kayanya sih memang belum pernah lihat air terjun secara langsung. Terus langsung kepikiran dong, pas adik ipar bilang waktu dia ke Coban Rondo ada monyetnya. Heuheuuu ... Nah kan pas sampai di parkiran bener aja, monyetnya ternyata buanyaaak banget, udah gitu gede-gede dan lincah-lincah. Katanya tipsnya adalah jangan tatap mata si monyet, soalnya dia bisa jadi agresif karena merasa terancam dan juga kalau bisa makanan atau minuman diumpetin dulu deh. Waktu itu ibu mertua saya nenteng jagung ke mobil dan kita udah teriak semua takut si monyet masuk. Soalnya itu monyet udah kaya mau nggaruk makanannya gitu.
Banyak jajanan di parkiran
Kesunyiannya bikin nyaman banget saat berkunjung ke sana.

Ya sudahlah, bismillah ... Yakin saja nggak akan reseh kok kalau kita tidak membuat dia tidak nyaman. Monyet di sini tidak seagresif yang di Uluwatu, Bali, jadi woles aja ya. Waktu itu kami ke sini hari selasa, tidak begitu banyak pengunjungnya jadi sangat nyaman. 

Ternyata tidak jauh kami berjalan dari parkiran sudah mulai tampak air terjunnya. So, saya bisa bilang Coban Rondo kurang cocok buat kalian yang suka liburan ala petualang. Ini lebih cocok buat pelancong dengan paham narsisme kaya saya yang menyukai alam tapi ala-ala koper. Makanya kopermini merasa cocok banget ke sini. Ambiance-nya itu juara banget, bikin betah berlama-lama, menghirup udara pegunungan yang segar banget. Di sekeliling kami banyak pepohonan tipikal dataran tinggi gitu yang bentangan cabangnya hampir menutupi langit Coban Rondo. Nah beberapa langkah kemudian, kami sampai di hadapan air terjun Rondo, sampingnya itu ada sungai yang airnya jernih banget, dihiasi batu-batu kali beraneka ukuran. Aah, heavenly!
Pohonnya tinggi-tinggi banget
Masya Allah, aslinya cantik bangettt... Air terjunnya langsung mengalir ke sungai.

Sungainya berundak-undak dengan banyak bebatuan mulai dari kerikil hingga yang besar.

Maka, sesi foto-foto menjadi keharusan setelah sebelumnya memuja kebesaran Ilahi dengan segala ciptaanNya. Tidak berlama-lama sih kami di sana, paling sekitar 15-20 menitan. Hhh... Nyatanya kepuasan manusia memang segitu saja ya, coba bandingkan dengan perjalanan menujunya. #kontemplasi.

Setelah puas kami kembali ke mobil untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Malang. Namun dalam perjalanan ke parkiran ternyata saya menemukan spot di mana terdapat beberapa mainan anak seperti ayunan, perotosan, dan jungkat-jungkit. Saya juga menemukan sebuah tulisan berupa legenda Coban Rondo di papan wawasan yang ada di sini, mau tahu kisahnya :
Asal-usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusuma berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan.
Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tiak jelas asal usulnya. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan kepada punokawan yang menyertainya Raden Baron  berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada Cobannya (air terjun), perkelahian berlangsung seru dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menjadi janda (Dalam bahasa jawa Rondo).
Sejak saat itulah, Coban tempat tinggal Anjarwati menanti suaminya dikenal dengan COBAN RONDO...
Konon, batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri.
Nah, kisah legenda Coban Rondo ini mengakhiri eksplorasi kami di sini. See you on next trip stories. :)

Lost in Bromo; Liburan Bersama Anak

Liburan bersama anak ke Bromo


Bukan tanpa prencanaan, justru perjalanan kami ke Bromo selepas subuh adalah perencanaan yang sudah sangat matang sejak awal. Kami memang tidak mengejar sunrise, alasannya tentu saja demi kenyamanan si anak. Mungkin sebagian menyayangkan ke Bromo tak melihat sunrise itu ibarat makan pizza nggak pake toping, hahaa ... Apa bagusnya gitu mungkin ya ... Tapi, saya rasa kalian harus setuju selepas sunrise pun kawasan Bromo ini masih memamerkan pemandangan yang sangat cantik. 

Perjalanan kami waktu itu berawal dari The Singhasari Resort di Batu. Sekadar informasi saja, sebetulnya kalau mau ke Bromo itu lebih dekat dari Malang ketimbang Batu. Pukul 05.15 pagi kami sudah siap di lobby hotel, tak lupa mengambil nasi kotak berisi nasi goreng komplit dan roti di meja reservasi sebagai bekal sarapan kami di mobil. 

Sebetulnya ini sudah agak kesiangan sih, langit juga sudah lumayan terang. Tapi, tetap asyiklah kami jadi bisa melihat dengan jelas aktifitas warga Malang di pagi hari, ada yang berangkat sekolah, siap-siap berdagang, kerja, dan lainnya. Waktu tempuh kami dari penginapan hingga ke kawasan TNBTS  (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sekitar 1.5 jam melalui jalur Tumpang, katanya ada juga jalur lain melalui Pasuruan hanya saja lebih lama sekitar 3 jam kalau dari penginapan kami, atau bisa juga melalui Probolinggo. Memang banyak jalan menuju Bromo karena letaknya yang di tengah-tengah. 

Sebelum memasuki kawasan TNBTS, kita membayar tiket masuknya dulu. Untuk kendaraan roda empat dikenakan biaya 10.000, sementara perorangnya saat hari kerja 27.500. Harga yang sangat terjangkau, meski begitu untuk wisatawan mancanegara ada perbedaan harga sekitar 10x lipatnya. Di samping loket retribusi ini ada toilet, sebaiknya kalau udah ada rasa-rasa ingin buang air mending di sini saja. Soalnya mulai pergantian Jeep agak susah mencari toilet. Waktu itu kami sampai meminta izin numpang ke toilet sekolah di tempat pergantian Jeep ini. Whuaa pas pintu mobil dibuka, jangan ditanya bagaimana rasanya. Dingiiin brrrrr, bahkan dinginnya mengalahkan AC mobil.... Saya langsung memakai jaket karena kami akan berpindah mobil.

Ini kali pertama buat saya dan si anak naik Jeep. Pengalaman yang mendebarkan, bagaimana tidak, melihat mobilnya saja sudah kebayang sangarnya menaklukan medan. Aah ada sih rasa deg-degan, hingga saya sampaikan ke sang supir, "Jalannya santai aja ya, Pak!" Alhamdulillah sang supir, Pak Sujud sangat ramah dan beliau juga punya jam terbang yang tinggi mengendarai Jeep ini, jadi cukup menangkanlah. 

Kami ber-6 ditambah supir sudah siap di mobil. Yang jelas tidak lupa berdoa. Formasi duduk kami di Jeep, suami dan anak (5 tahun) di depan. Saya, adik ipar, ibu & bapak mertua di belakang. Kursi belakangnya ini berhadapan dan saya kurang nyaman dengan posisi ini jadi tetaplah ngadepnya ke depan terus selain juga karena ngeri liat samping yang jurang. Sebetulnya jalannya relatif bagus cuma memang medannya agak curam, berliku, dan sempit. Jadi kalau ada Jeep yang papasan yah tau sama tau deh, yang lebih lowong ya mengalah saja.
harga tiket masuk bromo
Pengalaman pertama selalu berkesan 
Sekitar 15 menit setelah berganti Jeep tadi kami mulai memasuki kawasan padang savana dengan gugusan bukit di sisi kiri dan kanannya. Sayang beberapa minggu sebelum kedatangan kami, area ini sempat terbakar dan kini menyisakan rumput-rumput hitam saksi keganasan kobaran api saat itu. Padahal katanya kalau sedang musim hujan tempat ini bagus sekali, terlihat rumput-rumput hijau bak karpet. Tak lama dari bukit ini terlihat hamparan pasir yang begitu luas. Sesekali tampak pasir yang seperti sedang menari karena tersapu oleh angin atau jejak Jeep yang melaju. Kelihatannya sih indah namun bila mendekat harus hati-hati karena bisa masuk dan melukai mata. Menurut pak Sujud bila semua Jeep dikumpulkan jumlahnya bisa mencapai 2000an unit, wow banyak ya... 

Pak Sujud merekomendasikan supaya kami langsung ke view point saja nanti setelah itu baru keliling ke pasir berbisik, dan bukit teletubbies. Kawah Bromo? Heee, nggak. Kami lihat dari kejauhan saja. Banyak pertimbangan sih, pertama fisik yang pasti akan melelahkan naik tangga yang tinggi banget itu, kedua waktunya sudah mendekati waktu makan siang, ketiga demi kenyamanan si anak juga karena ini pengalaman pertamanya ke gunung. Jadi biar yang dia ingat bahwa ke gunung itu menyenangkan. Hihi ....

Kami berlalu saja di padang pasir ini karena akan langsung menuju penanjakan 1. Tampak beberapa Jeep tengah parkir sementara para penumpangnya ramai berfoto. Pak Sujud ini merupakan orang Tengger (huruf e pada Tengger dibacanya seperti kata meletus ya), ia kerap berhenti dan menyapa bila berpapasan dengan kawannya, berbicara dengan bahasa yang saya sendiri kurang bisa memahami, maklum yang asli jawa itu orang tua, sementara saya asli jawa Jakarta.

Jalan menuju penanjakan juga sama curamnya. Suara klakson selalu dibunyikan ketika akan berbelok karena memang sangat berliku dan sempit. Beberapa motor asyik saja melaju, mungkin memang ia sudah mahir dan hafal medannya. Sebelum tiba di penanjakan 1 atau view point kami sempat melewati Love Hill atau bukit cinta. Belum lama memang tempat ini dibangun. Katanya dinamakan demikian karena banyak yang memadu kasih #tsyahbahasanya. Baiklah, kami harus fokus menuju penanjakan 1, so tempat ini kami lewati dulu. 

Yeah, akhirnya kami tiba di view point pukul 08.15an. Masih harus sedikit berjalan menanjak melalui beberapa anak tangga sebelum benar-benar bisa melihat komplek Pegunungan Tengger nan megah. Di penanjakan 1 ini ada toilet yang letaknya di dalam warmindo, kalau musholla saya kurang tahu pasti. 
View point sunrise Bromo
Brrr ... Asli dingin beeud ...
Naik tangga ke penanjakan
Qiqiqi, ketahuan jarang exercise nih...

Aah sedikit lagi, semangaaat!!! Kami akan benar-benar melihat ciptaanNya nan agung. Yap, inilah pemandangan indah di hadapan kami... Masya Allah, cantik banget meski matahari sudah meninggi dan menyilaukan mata. Sangat jelas setiap lekuk punggung gunung-gunung di hadapan dan makin sempurna ketika melihat langitnya yang bergradasi warna biru hingga putih nan bersih. Sementara di bawahnya beralaskan pasir yang terus berbisik. Kini, sudah dipasang pagar untuk melihat sunrise, memang terlihat kurang natural saat di foto tapi faktor keamanan memang yang utama mengingat Bromo kini sudah menjadi objek wisata keluarga bahkan dengan anak dan orang tua.
Pemandangan Bromo pagi hari bulan September
Masya Allah cantiknya ...😍
Ada yang bertanya, "apakah Bromo masih memiliki sensasi alami mendaki?" Menurut saya Bromo sangat memanjakan para pendaki pemula bahkan untuk mereka dan juga saya yang gemar melancong ala koper. Bisa dibilang turis sangat terfasilitasi ke sini. Contohnya saja view point ini, disediakan bangunan melingkar berundak-undak yang bisa digunakan untuk duduk santai melihat sunrise seperti laiknya teater. Saking sudah menyatu sebagai objek wisata bahkan ada tukang bakso keliling di area pegunungan ini. Memang tidak begitu sulit mencari tempat makan bahkan berburu oleh-oleh di Bromo.
suasana view point Bromo
Memang ada reduksi akan kealamiannya, namun di satu sisi ini sangat memfasilitasi wisatawan.

Brrr... Sesekali saya memasukan tangan ke kantong jaket karena dinginnya. Ya, bagi saya udaranya termasuk dingin meski terlihat cukup terik. Foto-foto pun tak luput kami lakukan. Setelah puas, kami mulai turun. Menyempatkan berhenti di Love Hill yang ternyata juga memiliki pemandangan yang indah. Karena keindahannya sampai ada pasangan yang tengah bersiap foto-prewed di sini. Kalau mau menanjak mungkin lebih bagus lagi, tapi kami semua rasanya sudah cukuuuup lelahnya, haha ...
Ibudari-bundadari-bibidari-bidadari (lagi nunduk) 😀
Bukit Cinta terletak pada ketinggian 2.680 mdpl dan merupakan salah satu tempat tertinggi di komplek Pegunungan Tengger yang biasa dijadikan lokasi untuk melihat Kaldera Tengger yaitu Gunung Bromo, Gunung Kursi, Watangan, dan Gunung Widodaren, dari sini pula kita dapat melihat Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl). Menurut Suku Tengger tempat ini juga disebut Lemah Pasar yang nama aslinya Pasar Agung yang merupakan tempat memenuhi kebutuhan upacara adat. *Demi akurasi informasi, narasi ini saya kutip seutuhnya dari papan informasi yang ada di Bukit Cinta.💓
Pemandangan Bromo dari Love Hill
Pemandangan kompleks Pegunungan Tengger dari Love Hill

Pasir Berbisik

Tujuan kami selanjutnya adalah pasir berbisik. dinamakan demikian karena memang bila tertiup angin menimbulkan suara di telinga seperti bisikan-bisikan. Indonesia memang kaya, kita bisa merasakan sensasi seperti berada di gurun pasir timur tengah. Harusnya memang membawa masker karena bila angin cukup kencang sangat mungkin pasirnya masuk ke mata dan hidung. Anak saya beberapa kali kelilipan bahkan suami saya yang sedang makan roti di mobil juga sempat termakan pasirnya, haha karena pas mangap pas pintunya dibuka. Kawasan Bromo ini kalau malam gelaaaap sekali. Tak ada cahaya selain dari lampu sorot Jeep dan mungkin juga sinar bulan. Makanya kalau malam-malam berjalan sendirian tanpa pemandu atau supir yang paham arenanya, ngeri tersesat.
Pasir Berbisik di Bromo
Entah deh lupa, ini di pasir berbisik atau bukan, yang jelas kami lihat lautan pasir yang luas.

Foto di pasir berbisik
Kita terus berjalan bergandengan ya sayang ... 

Bukit Teletubbies

Menurut penuturan pak Sujud, bulan terbaik mengunjungi Bromo adalah bulan ke-4 alias April, udaranya sejuk dan rerumputannya hijau subur. Bila ingin melihat salju datanglah di bulan Agustus. Perbincangan dengannya terus bergulir sampai akhirnya kami tiba di Bukit Teletubbies. Bukit ini bukan tempat shooting teletubbies melainkan bentuknya yang menyerupai.
Bukit Teletubbies Bromo Kebakaran
Jangan imajinasikan sebuah angka, karena itu hanya bilangan tanpa makna 😅
Jaga kode etika pecinta alam
Si anak lagi enggan membuka maskernya, karena memang pasirnya cukup sering berterbangan.

Aaah, tak terasa, hari sudah makin siang dan si anak juga tampak udah lelah sangaaat. Whaa sepertinya ada yang kurang, saya belum membahas tips serta do and dont'snya sekalian saat berlibur ke gunung khususnya Bromo. Baiklah nanti tipsnya bisa klik di sini ya (maafkan sementara linknya belum hidup). Yang jelas kalau kalian mengaku mencintai alam, ingatlah kode etiknya ya ... 
Take nothing but picture (jangan mengambil apapun kecuali gambar).
Leave nothing but foot print (jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki atau jejak).
Kill nothing but time (jangan membunuh apapun kecuali waktu).
Liburan bersama anak ke Bromo
See you on our next trip stories 💗

Museum Angkut; Tak Sekadar Transportasi, Tapi Juga Rasakan Sensasi Lintas Zaman


Sebetulnya kami sudah tiba di Malang sejak pukul 10.00 pagi. Rencana awal sih mau kulineran sebentar lanjut ke Jatim Park 3 karena lokasinya yang tidak begitu jauh dari penginapan kami. Hanya saja karena perjalanan dari Bandara Abdul Rahman Saleh ke The Singhasari Resort memakan waktu yang cukup lama karena macet jadilah itinerary kami agak berantakan. Ya begitulah ya, manusia hanya bisa berencana, Allah tetap yang menentukan. Jadi saat kami tiba waktu itu sedang ada carnaval atau bersih desa istilahnya yang mana acara tersebut menggunakan jalan protokol. Bisa terbayang dong ya jalan alternatif satu-satunya tentu jadi macet banget karena semua teralihkan ke sini.

Kami selesai makan siang sekitar pukul 14.00, mau ke JTP3 rasanya kok berat, mengingat sore kita mau ke museum angkut dan besoknya pagi-pagi sekali kami berangkat ke Bromo. Ya sudahlah lambai-lambai dulu sama JTP3. Kalau gitu mending istirahat dulu aja deh bobo cantik di hotel sambil menunggu asar dan mandi sore biar seger jelajah Museum Angkutnya. 

Sebetulnya pilihan yang sulit antara JTP3 atau museum angkut namun setelah menimbang-nimbang kami prefer ke Museum Angkut karena tahu nggak, kita harus bangga nih, Museum Angkut ini merupakan museum transportasi pertama di Asia Tenggara, lho! 👏👏👏

Perjalanan kami ke Museum Angkut menggunakan travel yang sudah kami pesan dengan sahabat saya yang asli Malang. Asyiknya menggunakan travel ini kita bisa menghemat waktu dan supir siap kapan saja. Perjalanan kami dari The Singhasari Resort ke Museum Angkut minggu sore itu sangat lancar, sementara arah sebaliknya (baca: menuju Malang) macet parah.

Sekitar 15 menit kami sudah tiba di Museum Angkut. Suasana minggu sore waktu itu tidak begitu ramai oleh pengunjung tapi kemeriahan tempatnya sih udah kerasa banget bahkan sejak di pintu kedatangan. Sebelum masuk jangan lupa beli tiketnya dulu ya. Dan bagi kalian yang membawa kamera DSLR dikenakan charge tambahan. Malah dulu katanya tidak boleh membawa kamera kecuali kamera handphone.
Harga tiket masuk

Setelah dipakaikan gelang masuk, kami menuju ruangan utama yang cukup besar yang memamerkan mobil-mobil kuno tapi tetap tampak mewah dan menarik. Nggak cuma mobil ada juga motor, pesawat, sepeda, hingga kereta kuda. Oiya ada catatan nih kalau objeknya dikelilingi oleh rantai artinya jangan dimasuki ya meski sekadar berfoto atau memegang sedikit saja bagiannya. Mereka sangat menjaga objek tersebut. Sebaiknya berfoto di luar rantai saja. Kami tidak berlama-lama di sini karena museum angkut ini luas dan masih banyak zona lainnya.
Liburan bersama anak ke museum angkut
Mobilnya gede ya, gagah pula.

Kami lanjut ke lantai dua. Buat yang tidak kuat naik tangga tenang saja karena ada lift kok. Lantai 2 ini isinya lebih ke transportasi tradisional (non mesin) seperti yang menggunakan hewan itu ada cikar tuban yang menggunakan kerbau dan Cidomo Lombok yang menggunakan Kuda. Sisi luar di lantai 2 ini juga memiliki pemandangan yang bagus. Banyak orang yang berfoto berlatar belakang gunung Panderman. Gunung yang namanya berasal seorang pendaki Belanda Van Der Man yang mengangumi view dan sunrise gunung. Kalau sore suasanya lebih sejuk meski mungkin sebagian gunungnya tertutup awan. Bagus sih konsepnya, nggak cuma sekadar menghadirkan tapi juga sudah dirancang sedemikian rupa sehingga objek tersebut benar-benar nyata dan terasa lebih hidup. Kaya becak yang berlatar jalan Malioboro, Yogyakarta.
Cidomo Lombok di Museum Angkut
Cidomo Lombok
Ceritanya di Malioboro. Insya Allah next ya, Lin... :)
Nah, ini yang biasanya sangat dinantikan sama anak-anak cowo apalagi yang punya cita-cita sebagai pilot, flight simulator. Untuk mencobanya dikenakan biaya lagi. Saya dan keluarga sih nggak nyobain, kami lanjut saja ke lantai 3 melihat koleksi pesawat mulai dari pesawat tempur sampai pesawat kepresidenan. Penasaran sih sama interior pesawat kepresidenannya, ternyata dalamnya whuaa banget deh. Maksudnya sudah terbayang sih kalau replikanya aja begitu bagaimana aslinya. Di dalam juga ada replika bapak BJ Habibie dan meja kerja presiden, ruang awak, ruang bersantai, dan ruang makan. Pesawat replika ini katanya menggunakan pesawat express air yang dicat menyerupai pesawat kepresidenan kita. Di lantai 3 ini juga lebih bagus lagi pemandangannya karena hampir seluruhnya merupakan ruang terbuka kecuali sebagian food corner atau yang disebut Runway27 yang didesain seperti berada di dalam pesawat.
Van Der Man gunung yang terlihat dari Museum angkut
Gunung Panderman tengah menunjukkan dirinya.
Kata si embak penjaganya ini menggunakan pesawat express air
Ceritanya ini di dalam pesawat kepresidenan. 

Asyiknya di sini itu tersedia banyak bangku dan toilet. Jadi sangat mengerti banget deh kebutuhan para pengunjung apalagi yang mebawa anak-anak ataupun orang tua. Museum angkut ini sangat luas, tidak ada penyewaan sepeda seperti di JTP2. Jadi kalau lelah memang sebaiknya istirahat saja dulu duduk santai. 

Saya sendiri sudah tidak sabar ingin segera memasuki zona Uni Eropa, Inggris, dan Amerika. Namun sebelum menuju ke sana, ada zona Batavia yang menggambarkan Jakarta tempo doeloe. Ada stasiun kota, bajaj, sunda kelapa, dan beberapa khas kota Jakarta lainnya kaya ondel-ondel dan kerak telor. Di sini juga ada tempat makan, jadi kalau ada yang haus atau lapar kita bisa mengisi perut dulu. Karena ini masih setengah perjalanan dari keseluruhan Museum Angkut.
Ceritanya di Sunda Kelapa. 
Ini si ayah mau pesen apa kenal sama simbok sih?
Selepas area Batavia kami memasuki area mobil-mobil kuno lagi. Semuanya dilingkari tali artinya kita hanya boleh melihat dan berfoto dari luar tali tersebut. Bagus sih, jadi mobilnya tetap terlihat bersih dan kinclong, nggak ada tuh bekas ceplakan tangan-tangan.
Mobil tua di museum angkut
Kinclong beet kan? 
Nah, setelah dari sini baru deh kita memasuki kawasan yang hits banget. Sering kan lihat plang bertuliskan The Gangster Town ini? Beberapa tempat ikonik Amerika juga ada di sini. Zona ini didesain menyerupai kehidupan di Amerika banget (kaya pernah aja), gemerlap lampu dari berbagai sudut dihiasi warna langit yang mulai meredup menambah hidup zona ini. Semakin malam museum angkut ini semakin ramai, maklum kali ya karena hari minggu.
Gak anak-anak, remaja, ibu-ibu juga demen foto di sini.
Sekarang lanjut memasuki zona Uni Eropa. Berbeda dengan zona sebelumnya, di sini konsepnya indoor. Beberapa negara yang hadir dalam zona ini adalah Jerman, Perancis, Belanda, dan Italia. Awalnya sempat bingung sih apa hubungannya museum angkut dengan negara-negara Uni Eropa ini, ternyata demi menghidupkan suasana mereka menampilkan alat transportasi seperti vespa, motor, serta mobil khas atau yang pernah tren di negara tersebut lengkap dengan lanskap tiruannya. 
#tsyah, gaya si ayah naik Velocette
Akhirnya terasa lelah juga, kami pun duduk-duduk sejenak di Zona Inggris. Zona ini ada yang indoor dan outdoor. Di sisi outdoor kita bisa berfoto di depan istana buckingham yang pasti tiruan. Kita juga bisa menikmati sisi dalam istana tersebut bahkan bertemu ratu Elizabeth yang juga tiruan. Tapi, kalau kami memilih tidak masuk, hihii sudah lelah sangaaat...
Mobil tua yang masih kelihatan tjakeeep.
Kami langsung saja menuju jalur bertuliskan EXIT. Yang unik adalah jalur exit ini dibuat seolah-olah kita seperti masuk ke dalam kereta dengan sensasi gujak-gajuk yang persis banget kaya naik kereta sungguhan. Seru banget, Museum Angkut ini sepertinya sudah dikonsep dengan sangat matang. 

Selepas dari zona-zona tadi kita keluar di area jajanan. Di tengah-tengahnya dibangun sungai buatan. Sesekali ada perahu lewat, ternyata kita bisa menaiki perahu ini hanya saja saya tidak tahu persis berapa harganya. Ada juga yang replika misalnya perahu apung dan perahu cinta. Jajanan di sini sepertinya tidak begitu mahal, segelas es degan dibanderol dengan harga 8000 rupiah saja. Rasanya pun mantul, air degannya berasa banget.
Ini yang namanya perahu cinta. Tampang udah lelah beeeet, si anak masih on aja minta foto mulu...
Es degan tersebut pun menutup perjalanan kami di Museum Angkut malam itu. Meski luas tapi nyaman banget dijelajahi karena banyak kursi, tempat makan, dan toilet, bahkan ada musholla juga. Letak musholla ini berada di area pecinan dan Batavia. Semua sudutnya instagrammable banget. Sebagian areanya pun dibuat ada yang indoor dan outdoor, jadi kita tidak bosan dan sesekali bisa menghirup udara segar, bahkan konsep outdoornya malah bisa menambah pencahayaan yang membuat foto-foto kita jadi lebih ciamik. 

Lokasi Museum Angkut ini di Batu, Malang. Tepatnya di Jl. Sultan Agung No. 2, Ngaglik, Kota Wisata Batu, Jawa Timur. Jam bukanya mulai dari 12.00-20.00 wib. Harga tiket masuknya untuk weekday 70.000 sementara weekend 100.000. Hiks, kopermini masih perlu banyak belajar membuat itinerary nih padahal udah sengaja liburan pas weekday, eh minggunya katut ke Museum Angkut mestinya besoknya aja ya, biar harga tiketnya lebih murah.... Hihi... Gakpapa deh yang penting kalian bisa belajar dari sini yaa ... Jadi pengen belajar bikin itinerary lagi, #ehmodus

Sekian dulu ya jalan-jalan kopermini sekeluarga, see you on our next travel stories... 💗 

Menginap di Mercure Jakarta Simatupang


Acara menginap kali ini berbeda, sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Apa bedanya? Baru kali ini kami ngotel tanpa rencana. Jadi ini sebetulnya bukan liburan lebih tepatnya dipaksa liburan karena ada suatu urgensi yang menyebabkan kami harus mengungsi sementara waktu, #tsyah. Apakah alasan dibalik itu? Kayanya nggak perlu tahu ya, hihi kopermini malu...

Okey deh lanjut saja soal kesan-kesan selama keluarga kopermini menginap di Mercure Jakarta Simatupang ya ...

Kedatangan kami sore itu sedang hujan deras, belum mandi, lagi kuyu-kuyunya, aah pokoknya lagi nggak camera-face banget lah. Etapi petugasnya tetap ramah, lho! Sejak pemeriksaan keamanan kendaraan sampai pas nunggu di lobby semua staff ramah, cumaaa ... Hmm, ada satu ganjalan sih, mungkin si staff ini nggak ngeh kali ya.

Jadi saya kan waktu itu duduk di mobil tepatnya di kursi belakang nemenin si anak yang lagi kecapean banget. Nah, karena sudah kebiasaan pakai child lock jadilah saya ikut terkunci dari dalam dan harus dibukain sama seseorang yang ada di luar. Biasanya kan yaaa, kalau ada mobil yang berhenti di depan lobby, petugasnya langsung bukain pintu mobil ya, tapi yang ini nggak. Sampai suami saya buka kaca dan bilang, "Mas, tolong dibukain dong yang belakang." Terus barulah staff itu dengan ramah membuka pintu. Buat saya sih it's ok. Malah kadang yang saking sigapnya buka pintu suka bikin risih, ya nggak sih. Kita belum siap misal masih benerin hijab atau tas anak eh udah main dibuka aja. Hihii ... Balik lagi sih ini soal selera. Oke lanjut.

Check-in process
Saya dan si anak pun masuk sementara suami melaju dengan mobil ke basement mencari parkiran. Kesan pertama ketika memasuki lobby ini desainnya modern dan elegan. Tidak begitu luas namun permainan cahaya lampu-lampu yang berwarna kuning keemasan memberi kesan wah dan menambah efek ketenangan gitu deh. Proses cek-in nggak lama, nggak ribet juga, paling diminta uang deposit aja sebesar 500ribu yang mana harus dibayar cash (nggak bisa debit).
Alhamdulillah ... Kopermini dapat koper mini baru dari Adinda Azzahra Tour & Travel

Room ambiance
Kami memesan kamar standar dengan double-bed, ruangannya tidak begitu luas (namanya juga standard room :D), namun semua tertata sangat apik, rapi, dan bersih jadi tetap memberi kesan lapang. Yup. desain kamarnya modern minimalislah, satu yang saya kurang suka yaitu lukisan di dinding yang terlalu banyak detail gambarnya, sedikit memusingkan. Jadi, konsep lukisannya semacam menggambarkan atmosfer ibukota which is ada macetnya, tukang jualannnya, bajajnya, dengan kepadatan penduduknya. Kayanya nggak pas aja, setelah bermacet-macet di luar terus begitu masuk kamar disuguhkan lukisan kepadatan kota Jakarta lagi. Sorry to say kalau saya bilang lukisan ini lebih cocok berada di kamar anak.

Kamar mandi dan semua amenities standar hotel tersedia, meski saya sih tetap prefer membawa alat mandi termasuk handuk sendiri. Mini bar dan kettlenya juga berfungsi dengan baik. Kamar kami berada di lantai 8 dari 19 lantai yang ada, jadi pas lah ya di tengah-tengah. Dari sini juga pemandangannya asyik buat melihat traffic ibukota. Oiya sayangnya penerangan di kamar ini temaram saja, mungkin bagi yang terbiasa dengan pencahayaan seperti ini sangat baik buat relaksasi dan pastinya memberi kesan romantis. Atau ... bisa jadi  ini juga menjadi langkah hemat energi yang dijalankan oleh Mercure Jakarta Simatupang. Tapi bagi saya yang biasa dengan kamar terang, justru hal ini memberi effort lebih pada mata untuk adaptasi.

Di kamar tipe ini juga sudah tersedia setrikaan lengkap dengan papan setrikanya. Jadi memudahkan banget kalau mau ngerapiin kemeja, hijab, atau sekadar menghangatkan handuk *biggrin. Nggak bawa alat solat? Tenang, kita bisa meminjamnya juga kok, tinggal calling housekeeping nanti diantar seperangkat alat solat tersebut.

Soal kamar apalagi ya? Hmm ... iya satu lagi, bantalnya oke banget, sangat nyaman digunakan. Saya termasuk yang sulit cocok dengan bantal hotel karena biasanya masih sangat tebal dan tidak enak di leher. Tapi di Mercure Simatupang ini bantalnya bisa menyesuaikan lekuk antara kepala, leher, dan punggung atas dengan baik.

Breakfast menus
Anak saya pagi itu sudah ribut minta makan jam 05.30 pagi. Heuheuu, sementara kami nggak punya roti maupun biskuit. Ya sudahlah ya, rame-rame kita coba ke Graffiti Resto di lantai 1, nanya ke stafnya sudah buka belum untuk sarapan, ternyata ... sudah doong. Wow, Kereen! Keren baik dari segi waktu pelayanan maupun tempatnya.

Tiap sudutnya instagrammable banget, interiornya bagus didominasi warna hitam, putih, dan abu. Menunya cukup variatif dari Indonesian, Western, Chinese, hingga Japan. Sayangnya, telur di egg-corner sudah siap santap jadi tidak hangat lagi. Mungkin biasanya fast-moving kali yah jadi sebagai antisipasi supaya tidak terjadi antrean. Minumannya saya suka karena tersedia fresh-juice. Soal rasa makanan cocok untuk lidah bule. Pelayanan staffnya biasa saja tidak ada yang spesial.
Yang suka sushi, mana suaranya??? 
Laperrr, Bu???


Facilities on 19th floor
Kolam renang, cafe and bar, fitness center, semua ada di lantai 19 alias roof top. Tidak ada children playground, kecuali sabtu dan minggu di lantai 1. Kolam renanagnya sangat minimalis, tidak cocok untuk liburan anak. Untuk cafenya sendiri buka sejak pukul 17.00 wib. Meski kami datang pagi hari, tapi kebayang sih bagaimana suasana malam di roof-top ini. Pendar cahaya lampu dari gedung-gedung sebelah serta lampu kendaraan di jalan pasti menambah hidup suasana di lantai atas itu.
Kolam renang yang sangat minimalis
Karumba

Location
Strategis bangeettt. Mall? Banyaaak. Ada Pondok Indah Mall (PIM), Cilandak Town Square (citos),  South Quarter, Poins Square, juga Carrefour. Rumah sakit? Ada RS Siloam Simatupang, RS Pondok Indah, RSUP Fatmawati, RS Mayapada. Mau ke Bandara Soetta juga nggak jauh-jauh amat, langsung masuk tol sekitar 30 menit sampai kalau nggak macet, biasanya sih nggak ya karena kan lewat tol. Nggak bawa kendaraan? Tenang selain bisa calling taxi atau ojol, juga sekitar sini banyak transportasi publik, apalagi saat ini sedang pembangunan MRT, wah kalau sudah jadi asyik banget.
Apakah kalian memandang bangunan yang sama? #MRT

Value for money?
Karena saat itu kondisinya mendesak, jadi kami tidak sempat membuka situs booking-online. Kami langsung saja menelpon hotelnya untuk menanyakan ketersediaan kamar. Saat itu kamar dibuka dengan rate 1.1juta/malam/kamar yang sudah termasuk sarapan untuk 2 pax.

So kesimpulannya, kalau melihat dari semua yang ditawarkan hotel ini memang lebih cocok untuk keperluan bisnis. Tempatnya yang tidak begitu luas membuat semua areanya sangat mudah dijangkau, hal ini bisa menghemat waktu dan tenaga para bussinessman yang butuh mobilitas tinggi. Ada cafe and bar di roof-top yang bisa dijadikan tempat nongkrong melepas penat serta cozy restaurant yang cocok menjadi tempat kumpul atau bertemu client. Kamarnya juga cukup kedap sehingga memberi ketenangan baik dalam istirahat maupun menyelesaikan pekerjaan.

Sayangnya, bila memang sasarannya untuk bisnis, menurut saya kualitas penerangannya di kamar kurang mendukung, karena saya pribadi merasa kurang nyaman melakukan aktivitas menulis dengan kondisi demikian. Dan satu lagi, lukisan di dinding yang kurang kalem tidak cocok untuk suasana bekerja atau melepas penat.

Jadi, apakah saya mau kembali lagi? Hmm ...  I'll think it twice. Yang jelas untuk  liburan keluarga sih tidak, tapi kalau menjamu tamu atau ada urusan bisnis mungkin bisa jadi pilihan.

So saya kasih nilai hotel ini 3.5 out of 5. *smile

Sekian review kopermini kali ini, see you :)



8 Tips Berburu Tiket Murah di GATF (Garuda Indonesia Travel Fair)

tiket murah di GATF

Hallooo semuaaaa ...

Sudah punya rencana habiskan tahun ini ke mana? Atau sudah mengincar tahun depan buat liburan selanjutnya? Nah ... nah ... buat kalian yang doyan traveling jangan lewatkan kesempatan berharga yang satu ini ya, berburu tiket di GATF alias Garuda Indonesia Travel Fair. Kopermini juga sudah ikutan GATF phase 1 yang diadakan april lalu dan berhasil mendapatkan tiket ke Malang yang insya Allah berangkat September ini. 

Oiya, memang sebetulnya harga tiket murahnya akan lebih berasa kalau kalian gunakan untuk destinasi internasinal ketimbang domestik. Kaya waktu itu kopermini nemuin tiket ke korea cuma 3 jutaan padahal pas ngecek di salah satu travel-online harganya menyentuh 10juta dengan jadwal yang sama, it means diskonnya nyampe 70%. Berarti memang benar claim Garuda saat itu yang diskonnya bisa mencapai 80%. 

Buat kalian yang sering datang ke GATF pasti tahu banget kan sikon di sana? Perlu tips dan trik supaya bisa dapatkan harga terbaiknya. Yuks simak apa aja yang perlu diperhatikan:

1. Siapkan fisik, mental, spiritual, dan finansial
  • Fisik kalian harus kuat karena yang sudah-sudah itu, setiap acara GATF selalu ramai pake banget, makanya baiknya jangan bawa anak kecil soalnya kasian. 
  • Mental juga begitu, syukuri apa yang ada. Yakin kalau rezeki nggak kemana tapi tanpa mengendurkan ikhtiar ya supaya tawakalnya maksimal.
  • Jangan lupa juga banyak berdoa, karena bagi seorang muslim doa adalah senjata kita,#tsyah. Jangan lupa berdoa semoga diberi kemudahan, kelancaran, dan keberkahan. 
  • Yang paling penting juga siapkan keuangan kalian. Yang phase 1 kemarin sih pembelian tidak harus dengan credit card, bisa juga menggunakan kartu debit.
2. Datang di hari pertama
Biasanya GATF ini cuma berlangsung 3 hari dan diadakan saat weekend,  mulai dari Jumat-Minggu. Ibarat prasmanan nih kalau datang pertama kan masih komplit makanannya, begitu juga GATF ini. Kalau hari pertama pilihan tanggal keberangkatan kita masih banyak available, biasanya kalian pergi juga pas weekend kan? Sementara dalam 1 tahun hanya ada 52 kali weekend itu pun harus dikurangi black-out date alias tanggal-tanggal high-season sedangkan yang berburu tiket ini banyak banget orangnya apalagi buat rute favorit kaya ke Jepang, Korea, Singapura.

3. Datang pagi banget hari
Ini mirip-mirip dengan poin ke-dua. Ini sebetulnya buat yang berburu cashback sih. Apa itu cashback? Nanti saya jelaskan di poin 7. Kalau menurut saya sebaiknya kalian sudah datang sebelum jam happy-hour alias jam di mana Garuda membuka harga tiket terendahnya. 

4. Siapkan tanggal dan tujuan keberangkatan
Pliiis, jangan nanya, "yang promo tanggal berapa, Mba?" atau "yang promo ke mana aja, Mba?" Aseliii, ini makan waktu banget. Baiknya kalian sudah siapkan mau ke mana dan tanggal berapa. Jangan lupa juga siapkan alternatif tujuan dan tanggal keberangkatan dalam rentang waktu 1 tahun ke depan kalau-kalau rute dan tanggal keberangkatan kalian sudah sold-out kelas promonya. Tapi jangan terlalu khawatir, kalau pun kalian dapatkan kelas non-promo, tetap ada diskonnya kok, hanya saja harganya tdak semiring yang kelas promo di jam happy-hour.

5. Siapkan nama dan data diri yang berangkat
Penting banget menyiapkan nama dan data diri para calon penumpang selengkap-lengkapnya. Catat di kertas atau kalian foto dan simpan di folder yang mudah dibuka. Apa saja yang diperlukan? Untuk tujuan internasional, catat semua data yang ada di halaman depan paspor. Mulai dari nama lengkap sesuai paspor, nomor paspor, tanggal lahir, tanggal expired, pokoknya catat aja semua yang ada di halaman depan itu.

6. Booking saat happy-hour
Nah, kalau kalian datang ke GATF jangan khawatir nggak dapat diskon. Semua pasti kebagian, cuma bedanya di besaran diskonnya. Kalau di luar happy-hour mungkin nggak gitu berasa tapi pas happy hour ini yang diskonnya besar-besaran. Kapan sih happy-hour? Biasanya sehari ada dua kali, pagi dan sore. Pagi kisaran jam 10.00-13.00, sore mulai dari jam 16.00-18.00. Jam happy-hour ini mungkin berubah-ubah, jadi pastikan lagi detailnya kalau mau ke sini ya.

7. Dapatkan cahsback-nya makin besar diskonnya
Biasanya Garuda selama program GATF menggandeng suatu bank sebagai partner dalam event-nya. Kaya yang GATF 2018 tahap 1 kemarin mereka menggandeng bank mandiri. Keuntungan buat nasabah mandiri masuknya gratis dan mereka berkesempatan mendapatkan gelang cashback yang nanti bisa dicairkan dan masuk ke dalam rekening kalian #CMIIW soalnya saya nggak kebagian *biggrin. 

Persediaan gelang cashback juga nggak banyak, ada kuotanya. Besaran nominal cashbacknya  juga tergantung dari antrean redeem cashback nantinya. Jadi semakin cepat proses booking-bayar tiket kalian, semakin cepat antre tukarkan gelang cashback, semakin besar diskon yang bisa kalian dapatkan. Dan kebijakan ini bisa saja berbeda tiap periodenya ya. 

Yang perlu diperhatikan juga soal gelang cashback ini, jangan lupa untuk membawa ktp/sim/paspor asli beserta kartu debit/kredit kalian yang bekerjasama dengan GATF saat itu. Misal bank Mandiri yah kalian bawa kartu debit/kredit mandiri kalian.

8. Nggak suka ngantre tapi pengen dapat harga happy-hour? Bisa!
Oiya, sekadar sharing saja, suami saya saat itu datang di hari Jumat pagi sekitar pukul 07.30, jangan ditanya soal gelang cashback-nya ya, soalya sudah ludes 10 menit ketika loket dibuka. Suami saya sempat bertanya dengan salah satu petugas di sana katanya banyak yang rela antre sejak tengah malam. Wew! #langsungpulang haha... Iyalah, soalnya nunggu happy-hour juga masih lama. Jadilah pulang saja ke rumah dan mencoba menggunakan portal sendiri. #namanyajugaorangtravel *biggrin. Jadi saat phase 1 kemarin calon pax sebetulnya bisa pesan di seluruh travel-agent (tidak termasuk travel-online ya) yang bekerjasama dengan GATF dan tidak harus datang langsung ke JCC hanya saja tidak bisa ikut program cashback. 

Nah, begitu jam 10.00 wib teng kami coba cek-cek tiket sesuai destinasi dan harganya WOW bener bikin happy. Kami booking dulu untuk rute Malang selanjutnya cek-cek rute internasional, heuheuu bikin tambah ngiler. Bawaannya pengen booking, cuma langsung ngaca awal tahun udah ke mana aja, hihi...

Soal happy-hour juga baiknya ikut yang pagi hari biar masih banyak pilihan destinasi dan tanggal keberangkatannya. 

Nah, saya rasa itu saja sharing seputar perburuan tiket pesawat di GATF. Maklum soal transportasi saat liburan apalagi pesawat biasanya memakan budget terbesar dari seluruh pengeluaran liburan. Makanya harus pandai-pandai cari pesawat yang murah meriah rasa wah kaya Garuda ini. 

Kamu tertarik ikut berburu di GATF, nantikan GATF 2018 phase 2 yang insya Allah hadir di JCC tanggal 5-7 Oktober 2018.

Liburan di Legian? Setidaknya 7 Keseruan Ini Bisa Kita Dapatkan di Sana


Sejak ada anak, bisa dibilang gaya liburan keluarga kami sudah berubah dari awalnya yang backperan sama suami, sekarang sudah mulai beralih mencari kenyamanan. Kenapa? Karena liburan bersama anak itu sebetulnya tidak mudah lho. Ada mood si kecil yang harus kita jaga. 

So far tempat paling asyik buat liburan bareng anak dan tetap dapat kesan romantisnya saya tetap memilih Bali. Sayangnya waktu kami liburan di Bali awal Januari lalu berlangsung sangat singkat, karena kami hanya memanfaatkan waktu transit. Dan sekarang saya tuh pengen banget mengajak si kecil kembali ke Bali untuk mengeksplor lebih dalam keindahannya selain alasan utamanya sih lebih karena pengen mengenang romantisme honeymoon lagi, qiqiqi *biggrin Ya sudah jadilah kami prefer memilih lokasi yang nggak jauh-jauh dari Kuta.

Mungkin sebagian orang bilang Kuta itu mainstream banget. Tapi meski begitu saya sih nggak bosan malah ngangenin. Mau tahu apa saja yang ada di Kuta?

1. Waterbom Bali
Tempat air rekreasi air di Bali ini terbesar di Asia juga terbesar ke-3 lho di dunia. Whuaa dateng ke sini bersama anak pasti puas banget. Bermain air dengan segala wahananya di tengah teriknya cuaca Bali pasti memberi kesegaran dan keseruan tersendiri. Mau tahu apa saja keseruannya? Kalau berani cobain deh climax,  jadi kita harus berdiri di sebuah kecil dan turun secara tiba-tiba dengan kecepatan 70km/jam daru ketinggian 16 meter. Wanna try?

kolam air terbesar seasia
Sumber gambar : www.waterbom-bali.com

2. Puing Pesawat
Mau lihat pesawat boeing 737 di tengah pemukiman? Ya, masih di wilayah Kuta kita bisa melihat pesawat tepatnya bangkai pesawat di tengah Pemukiman. Kalau kalian tertarik susuri saja Jalan Bypass Ngurah Rai dari arah bandara ke Nusa Dua. Terus perhatikan sisi kiri jalan, nanti sekitar 500 meter dari Benoa Square dan tepat di samping Dunkin Donuts kalian bisa menemukan bangkai kapal ini.

3. Nikmati hilir-mudik pesawat menjelang sunset di Pantai Kelan
Ke Bali gak nikmati sunset? Whuaa ini sih antara rugi dan belum lengkap liburannya. Bali itu memiliki banyak spot cantik untuk melihat matahari terbenam, salah satunya Pantai Kelan. Di sini asyiknya gak cuma sunset yang bisa dilihat tetapi juga hilir-mudik pesawat. Asyik kan?

4. Dream Museum Zone Bali
Sekarang mulai menjamur seni 3D, termasuk seni lukisan 3D trick art. Nah, di Bali di sinilah lokasinya. Kita bisa beraksi laykanya sungguhan dengan berfoto di lukisan-lukisan yang ada di sini. Nah, yang penting pastikan baterai hape kamu cukup ya. Soalnya sayang banget kalau sudah ke sini gak foto-foto. 
Wisata di kuta
Sumber gambar : www.dmzbali.com

5. Melepas Bayi Penyu ke Habitat
Ingin merasakan serunya melihat geliat bayi-bayi penyu merangkak menuju habitat aslinya? Datanglah ke Bali Sea Turtle Society. Musim menetas terjadi antara bulan April hingga Oktober.
Melepas tukik di Kuta
Sumber gambar : Official instagram of Bali Sea Turtle Society

6. Odyssey Submarine
Kita bisa menikmati sensasi naik kapal selam di Kuta. Kapal selam ini bisa turun hingga 150 kaki di bawah permukaan laut. Melihat sekelompok ikan di antara terumbu karang yang berwarna-warni pasti memberi kepuasaan tersendiri. Malah kalau beruntung kita bisa melihat hiu, lho!

7. Tempat hiburan dan makanan
Nggak susah mencari tempat hiburan dan makanan di Kuta. Malah banyak cafe dan resto unik yang tematik. Salah satunya bisa dijumpai di Nebula Restaurant, tempat makan yang mengusung konsep ala spanyol tempo doeloe.

Melihat beragam keseruan yang bisa dinikmati di Legian dan sekitarnya jadi pengeeen banget liburan akhir tahun nanti ke Bali. Tapiiii nginep di mana ya yang nggak jauh dari tempat-tempat itu?

Hotel mewah di Legian

Hmmm ... Saya itu sebetulnya naksir banget sama Horison Legian, selain memang sudah ternama sehingga nggak ragu lagi dengan servicenya juga ada kid’s corner sih, yang mana tempat ini wajib banget bagi anak kami. 

Rencananya sih kami pengen memanfaatkan liburan akhir tahun untuk menginap di sini. Nah, karena masih beberapa bulan ke depan bisa nih kita nabung sambil hunting harga termurahnya, semoga pas hari H cukup budget liburannya ya, Nak! Saya cek di websitenya langsung wow ternyata harganya lumayan yah untuk dua malam. Apa mungkin karena kami pesan di weekend pada bulan desember ya? Saya pun coba-coba hunting dari travel-online. Ternyata sungguh mengejutkan pesan di Traveloka harganya miring abis. Dengan tanggal yang sama, tipe kamar yang sama dan jumlah malam yang sama harga di Traveloka nggak sampai 2 juta, sementara dari website resminya menyentuh angka 3 juta. 

Aah kalau gitu sih nggak pakai pikir panjang, saya coba pesan ah kamar hotel Traveloka. Ceritanya masih penasaran. Saat menuju websitenya coba cari-cari Horison Legian tadi ternyata ada keterangan pesan di aplikasi lebih murah lagi. Meluncurlah ke aplikasinya. 

Traveloka hotel di legian
Logo ayam di bawah itulah yang menunjukkan pesan di app-nya lebih murah, yeay!
Download aplikasinya, cari hotelnya, masukkan tanggalnya, pilih-pilih kamarnya, masukkan data pribadi, dan taraaaa .... 

Traveloka hotel horison legian
Tiga langkah mudah pesan penginapan di Traveloka app

Ternyata pesan di traveloka harganya jujur 
Beberapa travel-online lain memang kesannya lebih murah tapi ternyata saat mencoba booking, harga tersebut belum termasuk tax. Kalau di Traveloka ini asyiknya harga yang ditampilkan adalah harga final. 

Pilihan pembayarannya beragam 
Yang saya suka dari Traveloka ini sangat memberi kemudahan. Buat saya yang tidak memakai kartu kredit, sangat terbantu karena ada opsi pembayaran melalui transfer atm dan internet banking juga. 

Ada diskon special 
Selain harganya yang sudah miring, ternyata Traveloka masih memberikan diskon spesial bagi kalian pelanggan newsletter ataupun member Traveloka. 

Menawarkan garansi harga terbaik 
Jaringan Traveloka ini cukup luas, nggak cuma hotel di Indonesia saja tapi juga mencakup skala internasional. Karena jaringan yang luas ini Traveloka mampu memberikan harga yang kompetitif bagi pelanggannya. 

Review dari para pelanggan setia 
Sebagai pelanggan tentu kita akan lebih nyaman kalau sudah mengetahui seluk beluk tempat menginap yang akan kita sambangi. Nah, di Traveloka ada kategori review di mana kita bisa melihat ulasan riil dari pengunjung. 

Stay Guarantee 
Ini adalah keunggulan Traveloka menurut saya. Jadi nggak usah khawatir deh, kalau misal terjadi kendala dengan bookingan kita, misalnya overbooked, Traveloka memberikan rekomendasi hotel serupa tanpa biaya tambahan atau uang kita kembali. 

Nah, asyik banget kan pas banget memang taglinnya, pesan di traveloka dulu, liburan kemudian. Kalau teman-teman punya rencana liburan ke mana buat akhir tahun? Coba deh kemudahan pemesanan hotel di Traveloka dan nikmati harganya yang sangat kompetitif. See you and let’s travel!