Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

Dan Dialah Sang Maha Pencipta




Bismillahirrohmaanirrohiim...

Summarji'il-bashoro karrotaini yangqolib ilaikal-bashoru khoosi`aw wa huwa hasiir
"Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih."
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 4)

Sepenggal ayat di atas mengingatkan saya pada perjalanan ke negeri kangguru musim panas lalu. Pada suatu pagi yang cukup terik kami (saya dan keluarga) diajak mengunjungi salah satu pantai yang sangat cantik di Perth, Cottosloe Beach. Letaknya yang berada di pinggir kota dan langsung menghadap Samudera Hindia akan membuat siapapun setuju bahwa ini adalah lukisan alam yang sangat indah. Adalah hal yang sangat saya syukuri bisa menjadi saksi atas kesempurnaan ciptaanNya ini.

Kembali dengan kontemplasi. Menurutmu bisakah manusia membuat yang serupa dengan ini? Membuat pantai yang putih bersih, samudera yang luas, angin yang menyapu ombak dan membawa kesejukan, hingga gradasi warna langit yang cantik? Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. 

Tak pernah bosan memandang ini semua, namun semakin lama dipandang semakin tampak jelas betapa lemahnya penglihatan kita. Seberapa lama kita sanggup menahan kedipan mata karena takjub dengan potret yang ada? Satu menit? Dua menit? 

Pada akhirnya kita harus berkedip lagi untuk bisa mengulangi kenikmatan memandang ini. Dengan sinar matahari yang masih condong di timur saja mata kita sudah tak sanggup terbuka lebar melihat lanskap yang terbentang di hadapan. Kacamata atau picingan mata karena silau mentari pun adalah bukti betapa lemahnya penglihatan ini. 

Itu baru tentang mata. Belum lagi ketika kita bahas tentang kemampuan berdiri, berjalan, berlari. Bagaimana Allah Swt menyusun sedemikian apiknya sistem rangka tubuh kita hingga bisa melangkah ke belahan bumi lainnya? Bagaimana antar tulang bisa bersinergi tanpa ada kekecauan gerak, bisa menopang tubuh sedemikian beratnya bahkan sambil berlari?

Perjalanan bahkan dalam rangka liburan pun tak selamanya mulus. Maka daripada mengumpat berkata tak baik lebih baik berdoa, karena doa saat safar itu mustajab. Benar bila ada yang mengatakan, bila tak sanggup berkata baik, maka diamlah!  Kemampuan kita berkata-kata pun semua karena ciptaannya yang begitu sempurna. Mari kita renungkan, ketika kita mengucapkan L, maka posisi lidah di atas dan bibir terbuka, ketika kita berucap D lidah sempat ke atas dan kemudian ke bawah, ketika mengucap T lidah di antara gigi kemudian ke dalam, dan kita bisa mengucap rangkaian kalimat begitu baik tanpa lidah tergigit.

Poinnya adalah perbesar syukur, memahami bahwa kita manusia begitu lemah karena tak ada kekuatan melainkan dariNya. Merasa cukup dengan yang ada justru dapat mengayakan hati. Tak masalah bila kita baru mampu menjelajah yang dekat, selama perjalanan itu membawa setiap detik kita untuk mengingatNya, itu lebih baik. Teringat tulisan gurunda Indari Mastuti, "Jika air yang sedikit sudah mampu menghilangkan dahaga, tak perlu meminta yang banyak yang malah bisa menenggelamkan" lalu bila boleh saya lanjutkan ... namun bila dengan yang banyak itu kita bisa distribusikan dengan baik sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak makhluk, maka mintalah. Sesungguh Allah Swt Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Inilah yang saya suka dari sebuah perjalanan, menggali hikmah, menemukan pesan, dan memandang alam dengan penuh kerendahan hati, karena Dialah Yang Maha Tinggi. Apalah arti perjalanan tanpa bisa menemukan pesan cintaNya di hati. Karena sejatinya setiap perjalanan adalah cara kita untuk mengenal Allah Swt lebih dekat melalui ciptaan-ciptaanNya.

Menikmati Cita Rasa Es Krim yang Melegenda di Toko Oen Malang

Cagar Budaya di Malang

"Di tengah modernitas Malang Raya sebagai kota wisata, ada satu tempat yang telah berdiri sejak lama dan melebur dalam suasana kekinian, sebuah kedai es krim yang melegenda dan siap mengajak siapa pun yang datang kembali merasakan atmosfer tempo doeloe." 
Penghujung September lalu saya dan keluarga berkesempatan menikmati liburan singkat di Malang Raya. Dua hari kami habiskan di kota wisata Batu, namun belum puas rasanya kami menjelajah objek wisata yang ada, kini hari ketiga kami sudah harus bertolak ke Malang. Sore itu udara Malang cukup dingin, maklum saja selain daerahnya yang memang di dataran tinggi juga kondisi saat itu tengah hujan rintik-rintik. 

Sebuah mobil minibus putih membawa saya dan keluarga dari Pujon, Batu, menuju sebuah toko es krim di pusat kota Malang. Mobil ini berjalan dengan kecepatan rata-rata sehingga saya bisa melihat dengan jelas bagaimana suasana kehidupan di sepanjang jalan menuju Malang. Lalu lintas cukup ramai namun tidak semrawut. Sesekali tampak bunga kekuningan di tepi jalan, sangat unik dan menarik perhatian kami. "Ini seperti di Korea," celoteh adik saya takjub. Sayangnya sang supir tidak mengetahui pasti nama pohon ini. Lantas, saya teringat unggahan foto seorang sahabat yang merupakan warga Malang tentang pohon ini, inilah pohon Tabebuya. 

Setelah lebih kurang satu jam perjalanan, kami tiba di Malang. Hujan rintik-rintik pun reda. Mobil kami berbelok ke kiri menuju Jalan Basuki Rahmat. Tampak sebuah bangunan dengan arsitektur modern klasik bertuliskan Riche Heritage Hotel di sebelah kiri jalan. Tidak jauh dari sini, kami sampai di depan sebuah bangunan klasik bercat putih gading dengan sedikit sentuhan hijau tua, terlihat tulisan Toko Ice Cream “Oen” Palace" di sisi atasnya. 

Oen Ice Cream Palace Patissier 

Restoran yang telah berdiri sejak tahun 1930 ini memiliki desain khas kolonial. Kini, bangunan ini tetap seperti yang dulu, sangat kontras dengan suasana kota yang dipenuhi kendaraan serta beberapa bangunan modern di seberangnya, ada sebuah mall besar yang juga telah berdiri lama di Malang.
Eksterior toko oen Malang
Meski gerimis, wajib foto dulu :)

Oen Ice Cream Palace Patissier adalah nama mula Toko Oen di Malang pada tahun 1930. Restoran ini merupakan tempat favorit untuk berkumpul bagi orang-orang Belanda dan Eropa masa itu. Pemilikinya seorang Tionghoa bernama Max Liem yang memiliki marga Oen. Tempat ini juga sangat bersejarah karena pernah dijadikan sebagai tempat diadakannya Kongres Komite Nasional Indonesia tahun 1947. 

Melihat lebih dalam Toko Oen Malang 

Kami turun satu per satu dari mobil. Udara sejuk sangat terasa menyelimuti pipi saya. Saya tarik nafas dalam dan merasakan aroma sisa-sisa hujan yang membasahi pepohonan. Langsung saya keluarkan kamera untuk mengabadikan beberapa gambar di depan dan sekitar Toko Oen. 

Rupanya masih sedikit gerimis ataukah ini hanya tetesan air yang jatuh dari pohon besar di dekat kami? Entahlah. Setelah mengambil gambar kami semua bergegas masuk. Suasana di dalam toko lebih redup, selain lantainya yang berwarna abu tua, juga tak ada lampu yang menyala sebagai tambahan penerangan sore itu. Kesan kolonial masih sangat terasa, sebuah etalase roti model lawas menyambut kedatangan kami. Terlihat beberapa roti dan kue di dalamnya. Ciri khas bangunan kolonial juga tampak dari langit-langitnya yang tinggi, pilar-pilar putih serta pintu dan jendela dengan kaca yang lebar. Kaca-kaca ini sangat membantu pencahayaan serta sirkulasi udara yang baik. Sungguh desain yang sangat matang bahkan bisa menjadi inspirasi bangunan di masa kini.

Sejurus kemudian, mata saya tertuju pada sebuah spanduk berlatar putih dengan tinta merah bertuliskan "Welkom in Malang Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft". Beberapa pramusaji berdiri di bawah tulisan ini, seolah siap menyambut para tamu yang datang. Mereka memakai kemaja putih, bawahan hitam, lengkap dengan sepatu pantofel serta peci hitam. Ada beberapa meja bundar dan kursi rotan rendah dengan warna dominan hijau toska, putih, dan coklat. Bila tak nyaman duduk dengan posisi rendah, pengunjung juga bisa memilih kursi yang lebih tinggi, malah beberapa meja di alasi dengan kain bermotif kotak-kotak dengan warna dominan merah dan putih. Beberapa tirai putih transparan juga terpasang menutupi setengah bagian bawah jendela. Sungguh kesan klasik bangunan ini makin terasa kala saya melihat beberapa lukisan masa lalu yang menghiasi dinding-dindingnya. Berada di sini seolah kita diajak menikmati suasana masa lalu. 

Sambil mengamati toko bersejarah ini langkah kami terhenti di sebuah meja kayu bundar yang berada persis di dekat jendela. Tak lama kemudian, seorang pelayan pria datang menghampiri kami dengan beberapa buku menu di tangannya. Sapa hangat bergulir di antara kami yang dilanjutkan dengan pemesanan beberapa menu khas Toko Oen. 

"Apa es krim yang khas dari Toko Oen, Mas?" tanya saya lantang. 
"Oen's spesial," jawabnya mantap. 

Setelah melihat-lihat menunya, pilihan kami jatuh pada es krim Oen’s spesial, Banana Split dan Tutti Frutti. Oen’s special adalah es krim dengan tiga rasa berbeda yaitu, coklat, vanilla, dan stroberi, serta diberi pemanis berupa wafer batang, wafer rol, dan krim putih dengan potongan kecil buah ceri di atasnya. Sementara Tutti Frutti adalah es krim berbentuk seperempat lingkaran berwarna coklat dan tengahnya berwarna putih rasa buah-buahan. Satu lagi, Banana Split merupakan es krim tiga rasa yang diberi tambahan dua iris pisang potong memanjang yang mengapit es krim tersebut.
Harga Banana Split Toko Oen Malang
Banana Split, yummy!
Harga es krim di toko oen Malang
Oen's Special menjadi menu spesial di Toko Oen Malang
Dari segi harga, es krim ini di atas rata-rata, namun dari segi suasana dan sejarah, Toko Oen adalah juara. Untuk sebuah Oen’s special dibanderol dengan harga Rp. 55.000 dan Banana Split dengan harga Rp. 60.000 (September, 2018). Tidak beberapa lama pesanan kami datang. Soal rasa mungkin tidak se-creamy es krim masa kini, namun tetap es krim Oen memiliki cita rasa yang sulit dilupakan. Teksturnya sedikit kasar, rasanya ringan, tidak terlalu manis, dan mudah mencair. Ya, inilah es krim yang telah menghiasi Malang sejak zaman kolonial. Es krim homemade yang dibuat dengan masih mempertahankan keasliannya. 

Selain menu es krim, Toko Oen juga menyediakan menu makanan Indo-Hollandnya. Ada steak lidah, sup buntut, juga nasi goreng. Konon, kelezatan steak lidah di tempat ini cukup tersohor sehingga banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang mencicipinya.
Keberadaan Toko Oen di tengah modernitas kota Malang wajib dijaga dan dilestarikan. Toko Oen memang pantas menjadi Cagar Budaya Indonesia, lebih dari sekadar kedai es krim, Toko Oen merupakan bangunan bersejarah yang sudah lama keberadaanya, bahkan sebelum Indonesia merdeka, menjadi saksi bisu sebuah perjuangan lintas zaman. 

Banyak jalan menuju Toko Oen 

Keberadaanya di pusat kota Malang, tepatnya di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 5, membuat Toko Oen sangat mudah ditemui. Bila kita datang dari stasiun Kota Baru Malang bisa hanya dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum yang melintas di depannya. Bila mengenakan kendaraan pribadi tinggal arahkan kendaraan menuju alun-alun kota Malang. Dari alun-alun akan mudah kita temui Toko Oen ini. Kini, dengan kemudahan taksi online serta perangkat lunak google maps kita bisa sampai di Toko Oen dengan mudah. 


Harapku pada Toko Oen 

Sebagai penikmat es krim, besar harapan saya agar Toko Oen tetap mempertahankan cita rasa khasnya. Tidak perlu berinovasi meniru-niru es krim kekinian sehingga dikhawatirkan hilang kealamian cita rasa es krim tempo doeloe-nya. Keunikan rasa adalah identitas, akan menjadi nilai tambah serta pembeda dari es krim lainnya di masa kini. 

Selain soal rasa, agaknya harga juga perlu dibuat lebih bersahabat bagi warga atau turis lokal, agar bisa menjangkau seluruh lapisan. Mungkin konsekuensi dari harga yang relatif terjangkau adalah suasana yang lebih ramai namun kita bisa berikan aturan bagi para pengunjung agar suasana di dalam restoran tetap nyaman. 

Hal lain yang menjadi perhatian saya sebagai seorang muslim adalah mengenai status kehalalannya. Meskipun saat suami saya tanyakan kepada pramusaji es krim di sini halal namun alangkah lebih bijak bila Toko Oen juga memberikan kepastian status ini setidaknya untuk es krimnya. Besar harapan saya es krim Oen bisa dinikmati oleh semua lapisan. 

Satu lagi, mengenai kualitas makanan. Masyarakat tentu berharap rasa yang istimewa dari bahan-bahan segar berkualitas, apalagi dengan harga yang cukup tinggi saat ini. Agaknya harapan ini tidak berlebihan, semoga Toko Oen terus mampu berdiri mempertahanakan keasliannya sebagai restoran legendaris di tengah zaman yang terus maju. 





8 Tips Liburan ke Bromo Bersama Anak

tips liburan ke Bromo bersama anak

Liburan ke Bromo bersama anak? Why not! Bromo itu sudah terfasilitasi banget lho buat para turis. Bromo menjadi wisata "pendakian" yang ramah anak. Kita bisa dengan mudahnya menuju view point (baca: tempat melihat sunrise) dengan jeep tanpa perlu berlelah-lelah mendaki. Banyak warung makan, sekadar mie instan atau telur dadar dan ceplok mudah didapat. Namun demikian, kita tetap harus perhatikan apa saja yang perlu jadi catatan selama liburan ke Bromo bersama anak. Yuks simak tips berikut:

1. Pastikan kondisi anak fit
Jangan memaksakan keinginan. Daya tahan tubuh anak tidak seperti orang dewasa. Anak yang sedang meriang, batuk, dan pilek sangat mungkin membuatnya jadi cranky karena memang kondisinya tidak nyaman. Apalagi yang memiliki riwayat asma, ada baiknya konsultasikan dahulu ke dokter sebelum bepergian dan mintalah perbekalan obat-obatan yang bisa dibawa. Secara umum setidaknya bawalah obat penurun panas, obat pilek tetes (misalnya: breathy), balsam bayi, minyak telon, dan lainnya. Perhatikan juga kondisi fisik ayah bundanya ya. 

2. Pastikan anak kenyang tapi tidak kekenyangan.
Bila perut kosong dan terkena embusan angin yang dingin, siapapun mudah masuk angin. Nah, untuk menghindari hal ini pastikan anak kenyang tapi jangan sampai kekenyangan. Perut yang kenyang akan membuat anak lebih anteng dan dapat menikmati suasana dengan menyenangkan.

3. Pakaikan outfit untuk cuaca dingin
Kenakan jaket tebal, kupluk atau topi bulu yang menutup telinga, syal, kaos tangan, dan kaos kaki. Syal bisa juga digunakan untuk menutup hidung sang anak bila sewaktu-waktu ada deburan pasir. Bila masih bayi sangat dianjurkan membawa selimut bayi. Meski saat pagi hingga siang cukup terik namun anginnya masih sangat dingin. Sebaiknya gunakan semua kostum yang bisa menghangatkan. Demikian juga untuk kedua orang tua, pakailah outfit yang nyaman, sepatu cats atau sandal gunung sangat disarankan.

4. Siapkan makanan ringan dan air minum
Menjelajah Bromo tak cukup satu-dua jam. Sehingga sangat mungkin berangkat yang dalam kondisi kenyang seiring penjelajahan menjadi lapar kembali. Memiliki persediaan seperti roti atau biskuit susu bisa mengganjal perut sementara waktu dan jangan lupa lengkap dengan air minumnya ya. 

5. Siapkan gendongan yang nyaman
Yang bepergian dengan bayi, gendongan ala kangguru ini rasanya sangat nyaman, bayi akan merasa lebih hangat karena dekat dengan tubuh ibunya. Ibu pun tidak begitu lelah pada satu sisi bahu karena beban dibagi rata di kedua pundak. Kalau stroller? Saya sih tidak menyarankan, karena kawasan TNBTS ini kaya lautan pasir, mobil saja harus yang 4WD atau sebangsa Jeep untuk bisa melaju di tempat ini.

6. Siapkan payung lipat
Meski tidak sedang musim hujan, payung ini berguna untuk menghalau teriknya matahari kala siang. Bila musim hujan baiknya juga sedia jas hujan. Bulan agustus sangat dingin bahkan bisa turun salju, sedangkan paling baik untuk mengunjungi Bromo karena hawanya sejuk dan rerumputan tumbuh cantik adalah bulan April.

7. Ikhlaskan sunrise
Tak bisa dipungkiri salah satu yang menjadi andalan dan daya tarik Bromo adalah sunrise-nya. Gradasi warna yang tercipta sebelum, saat, dan setelah terbitnya dapat menyihir siapapun yang melihatnya. Namun untuk bisa melihat sunrise ini biasanya kita sudah harus bersiap sejak tengah malam. Nah, ini yang menjadi pertimbangan lebih buat para orang tua, akankah memaksakan kehendak melihat sunrise yang belum pasti terlihat (misal dalam kondisi mendung atau tertutup kabut dan awan), atau membiarkan anak beristirahat agar nyaman dalam menjelajah Bromo? 

Kalau saya prefer mengikhlaskan sunrise, demi anak cukup tidur, bangun dengan segar, dan nyaman menjelajahi Bromo. Percayalah Bromo masih sangat anggun berdiri di antara kompleks Pegunungan Tengger meski sudah melewati fase sunrise. Ingin tahu seperti apa panorama TNBTS selepas matahari terbit? Ini kisah saya ketika Lost in Bromo; Liburan Bersama Anak.

8. Berikan briefing 
Anak-anak itu sama kaya kita perlu di-briefing sebelum mengunjungi tempat baru. Kita juga seringkan membaca review, ingin tahu seperti apa tempatnya, harus bagaimana ketika di sana, dan semacamnya. Nah, anak-anak juga demikian, baginya mengunjungi tempat atau orang baru sama menegangkannya ketika kita harus bicara di depan umum yang dihadiri seorang Gubernur. Penting untuk memberi tahu bahwa kita akan melakukan perjalanan ke Gunung. Tambahkan informasi-informasi yang menyenangkan dan jangan menceritakan hal yang dapat membuatnya berpikir negatif. Dan untuk orang tua juga penting berpikir positif.

Nah, sekiranya itulah beberapa hal perlu diperhatikan ketika kita ingin mengajak anak berlibur ke pegunungan, salah satunya Bromo. Jangan lupa berdoa. Teruslah menjelajah bersama si kecil, tunjukkan padanya bahwa dunia ini indah dan wajib kita jaga keindahannya. Happy Traveling!


Itinerary Lengkap Wisata Batu-Malang 4 Hari 3 Malam


Sejujurnya buat kalian yang memang punya banyak waktu untuk liburan dan memutuskan untuk pergi ke Malang Raya, percayalah liburan 4D3N ke sana itu sangat amat kuuuurang, apalagi sama anak kecil. Yap, inilah yang kami rasakan, semangat menggebu apa daya fisik juga harus diperhatikan haknya.

Nanti saya paparkan juga itinerary awal yang lumayan padat tetapi sangat memungkinkan bila ingin dijalani, kalau saya karena melihat kondiai anak dan orang tua jadi lebih santai saja dan melepaskan beberapa destinasi demi kenyamanan bersama. 

Day 1 (CGK-MLG, Museum Angkut)
Sebagai informasi saja, kami sudah memesan tiket pesawat return sejak jauh hari di GATF. Pesawat Garuda ini untuk rute Malang dari Jakarta hanya ada dua flight yaitu jam 08.20 dan 10.40. Kami memilih flight pertama dan tiba di Malang sekitar pukul 10.05. 

Hari pertama ini itinerary kami sebetulnya padat. Begitu tiba ada jadwal ke Jatim Park3 dan sorenya ke Museum Angkut. Namun karena saat itu lalu lintas padat karena sedang ada karnaval dan kami baru tiba di sekitar penginapan pukul 12.30an kami memilih makan siang dulu di warung Mbok Sri. Setelah itu cek-in hotel di The Singhasari Resort sekitar jam 13.30an.
Warung Mbok Sri di Batu
Makan siang dulu...
Lelah? Pastinya ... So, rencana ke Jatim Park kami pending dulu, demi menyiapkan stamina untuk eksplorasi museum Angkut di sore hari. Biaya masuk museum Angkut saat akhir pekan lebih tinggi dari hari biasa. Hiks, padahal udah milih liburan dari minggu sampai rabu, lupa ke Museum Angkutnya malah hari minggu. Hihi, tapi nggak apa-apa tetep seru kok. Berapa harganya? kalau tidak salah IDR 100.000/pax, anak dengan tinggi di atas 85 cm dikenakan tarif yang sama.

Malam harinya kami makan di Warung Wareg, menunya mirip-mirip dengan Mbok Sri, aneka ikan, udang, cumi, rawon, nasi goreng, dan sebagainya.
Tempat makan keluarga di Batu
Gelap yaaks, maaf...

Day 2 (Bromo-Staycation)
Ini kayanya yang jadi gong acara kami selama di Malang Raya. Kami memang sengaja nggak mengejar sunrise. Jadi kami berangkat ke Bromo setelah subuh sekitar pukul 05.30 dari penginapan. Biaya masuknya sangat terjangkau dengan panorama alami yang masya Allah memanjakan mata banget. Sekitar jam 11.00 kami kembali turun ke Malang dan makan siang di Resto Festival Dermaga. Sesuai namanya restoran ini juga menyajikan aneka makanan laut. Lucu sih desainnya bertema kapal-dan laut gitu. Soal rasa biasa saja tapi saya rasa anak-anak akan suka karena ada tempat makan menyerupai kapal serta kids corner.
Restoran festival dermaga Malang
Resto Festival Dermaga
Selepas dari Bromo yang asliii capek banget tapi seneng, selanjutnya kami lebih memilih menikmati siang hingga malam di The Singhasari Resort. Habis naik gunung sorenya berendam di jacuzzi enak kali yaaa ... 
Jacuzzi di the singhasari Resort
Bilang masnya dulu yaa, biar dinyalakan air panasnya.
Makan malamnya kembali ke Mbok Sri, hihi ... Selain enak lokasinya juga dekat sekali dengan penginapan. 

Day 3 (Coban Rondo, Toko Oen, Bakso Presiden)
Hari ketiga ini lebih santai, tadinya sempet galau sih mau ke Batu Secret Zoo atau Coban Rondo. Cuma karena mau yang lebih alami dan sulit dijumpai di ibukota jadilah kami memilih ke Coban Rondo. Seru? Bangettt, baca ya ulasan saya tentang Coban Rondo. 

Setelah dari Coban Rondo kami kembali makan siang di Mbok Sri, hahaha.... (((((3 days in a row))))) dan tempat duduk kami sama lagi dengan sebelumnya. Terus kami saling ledek gitu, ada yang bilang "ini mah mbaknya hapal banget sama kita" ada juga yang bilang "samain aja sama menu kemarin mbak" ada lagilah yang katanya "begitu kita dateng, si mbaknya langsung masakin menu kemarin tau, rawon, sayur bayem, bebek goreng, gurame saus telur asin".   Hahaha ... Tapi bagus kan ya jadi nggak usah repot, samain aja dengan yang kemarin. Jadi gini sih, selain emang ngelewatin juga bingung  milih-milih tempat makan di Batu, karena emang niatnya kulineran di Malang.

Sebelum ke Malang, kami nyempetin ke toko oleh-oleh persis di samping Warung Mbok Sri, cuma menurut saya harganya di atas rata-rata jadi kami membeli sekadarnya aja.

Perjalanan ke Malang sudah menjelang sore sekitar pukul 14.30an dan cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik. Tadinya kami mau langsung cek-in di Kertanegara tapi karena sudah di luar, hujan juga sudah reda kami pun melipir dulu ke Toko Oen. Toko es krim legendaris yang juga sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya Indonesia. Di Malang ini saya perhatikan memang masih banyak bangunan bergaya tempo doeloe yang masih cukup terawat.
Toko Oen es krim legendaris

Selepas mencicipi cita rasa es krim yang melegenda sejak zama kolonial tersebut kami beristirahat dulu ke penginapan. Sekitar jam 5 sore kami kembali ke luar menikmati Bakso Presiden, yang rasanya menurut saya itu .... C alias cukup tau aja sih, yah masih ada yang lebih enak. 

Oiya dekat Bakso Presiden ini ada sate ayam yang menurut saya enak, dagingnya juga empuk, dan bumbunya pas legitnya. Sebelum ke penginapan kami sempatkan mampir ke Strudel Malang yang tempatnya tidak jauh dari Kertanegara. 

Malam harinya kita semua beristirahat di kamar saja, karena besok pagi sudah harus cek-out. Hiks, sungguh 4 hari yang terasa sekejap saja selama di Malang ini. 

Day 4 (MLG-CGK)
Kami segera check-out setelah sarapan. Tidak sempat mampir-mampir lagi karena flight kami jam 10.55. Tadinya mau yang jam 13.00 cuma khawatir macet saat perjalanan dari bandara ke rumah. 

Demikianlah itinerary kami selama 4D3N dari jadwal itinerary sesungguhnya yang seperti ini: 

Hari Pertama Minggu (23/9)
Budget liburan di malang 4 hari
Itinerary hari pertama
Pukul 09.00 driver siap di bandara
Pukul 10.05 pesawat tiba
Pukul 10.30 menuju Batu 
Pukul 12.00 - 13.00 langsung ke The Singhasari Resort check-in (sholat dll)
Pukul 13.00 - 16.00 ke Museum Angkut di Batu
Pukul 16.00 - 19.00 Jatim Park 3
19.00 menuju ke Singhasari Resort rehat

Hari Kedua, Senin (24/9)
Budget Travel Bromo
Itinerary hari ke-2
Pukul 04.00 persiapan ke Bromo
Pukul 04.30 - 07.00 tiba di Wonokitri
Pukul 07.30 - 12.00 ke love hill, lautan pasir, savana, teletubies, pure dan kawah Bromo
Pukul 12.00 - 14.30 menuju Singhasari Resort rehat
Pukul 18.00 - 19.00 ke Alun-alun Batu
Pukul 19.30 - 21.00 ke BNS
Pukul 21.30 rehat

Hari ketiga Selasa (25/9)
Coban Rondo
Itinerary hari ketiga

Pukul 08.00 - 11.30 persiapan ke Omah Kayu, Taman Langit, Paralayang, Coban Rondo
Pukul 11.30 menuju Singhasari cek out 
(atau cek out skalian pagi bisa juga)
Pukul 12.00 - 13.00 ke pusat oleh-oleh di Batu
Pukul 13.00- 14.00 menuju Malang langsung Hotel check-in rehat
Pukul 16.00 - 21.00 muter-muter Malang 

Hari keempat Rabu (26/9)
Wisata alam di Batu
Itinerary hari keempat

Pukul 06.00 sarapan di hotel
Pukul 07.00 check-out
Pukul 07.45 transfer Bandara
Pukul 09.00 persiapan boarding
Pukul 12.30 tiba di Jakarta

See? Yang saya coret adalah tempat wisata yang kami lewati saat ini. Banyak bangetkan jadwal kami yang di-skip? Kalau kalian backpacker-an atau jalan berduaan aja atau anaknya sudah besar-besar mungkin bisa mengikuti itinerary di atas. Namanya liburan mah dibikin asyik saja ya...

Sekarang soal budget, berapaan sih yang dihabiskan selama 4D3N dengan 5 dewasa dan 1 anak?  Awalnya kami rencana hanya bertigaan saja, namun ternyata eyang kakung dan putri serta ontynya mau ikut juga, maka kami buat per 3 pax karena memang harganya berbeda. Di sini kami  juga menggunakan jasa travel jadi semuanya sudah termasuk tanpa perincian lebih lanjut seperti harga sewa transportasi, bensin, supir, dan lainnya.

Pesawat GATF return 3 pax: 3 x 1.100.000 = 3.300.000 (Ini yang kami pesan melalui GATF)
Pesawat GA return 3 pax   : 3 x 1.667.000 = 5.001.000 (Ini kelas V which is kelas promo terendahnya GA, kalau 3 pax bedanya lumayan yaa)
Paket Tour 4D3N 3 pax (supir, mobil, tiket masuk Museum Angkut dan Bromo) 3 pax : 3.000.000
Paket Tour tambahan 3 pax : 450.000 (Ini untuk yang tambahan 3 pax)
Coban Rondo 5 pax : 5 x 35.000 = 175.000 (karena bisa beli tiket di dalam saat kita mau ikut wahana)
Hotel The Singhasari 2 malam 2 kamar : 2 x 2 x 900.000 = 3.600.000
Kertanegara standard room per malam per kamar : 450.000
Kertanegara family room per malam per kamar : 750.000
Makan siang dan malam untuk 7 orang dengan supir selama 3 hari : 6 x 350.000 = 2.100.000
(Untuk makan saya ambil rata-rata saja karena memang bisa dibilang harga makan di sini cukup terjangkau, apalagi sesekali kami tidak makan di restoran besar)

Jadi total biaya semua yang kami keluarkan selama 4D3N, untuk 6 pax adalah : 18.826.000 atau sekitar 3.1jutaan/pax.  Menurut saya sih ini harga yang cukup terjangkau liburan dengan maskapai full service, penginapan berbintang, tiket wisata, makan, serta transportasi termasuk bensin, lengkap dengan supirnya, juga tour Bromo.

Semoga itinerary di atas bisa menjadi inspirasi buat kalian ya yang mungkin punya waktu liburan terbatas tapi ingin merasakan banyak objek wisata di Malang Raya. Soal harga tenang saja, banyak yang bisa ditekan kok, mulai dari pesawat, tempat menginap, makan, hingga transportasi. Jadi, silakan disesuaikan dengan budget dan kebutuhan masing-masing ya.
berapa paket liburan ke Malang
Happy Traveling!

See you on my next travel stories 💗

Menginap di Kertanegara Malang; Premiun Guest House in Town

Guest house nyaman di Malang

Setelah dua hari kami menginap di Batu, jalan-jalan menikmati Museum Angkut, panorama Bromo, hingga sejuknya udara Coban Rondo, kini hari ketiga kami berpindah ke Malang. Selain agar lebih dekat dengan bandara, kami juga ingin menikmati wisata kuliner dan atmosfer kota Malang sesungguhnya.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di sebuah penginapan bernama Kertanegara. Tidak seperti biasanya kali ini kami memilih guest house sebagai pilihan tempat menginap. Selain lebih hemat pertimbangan lainnya adalah karena akan jadi tempat sekadar tidur saja. Dan mengapa juga harus di Kertanegara? Hmm ... sebab saya lihat sekilas review dan kamarnya oke banget karena ada family room yang muat hingga 4 orang. 

Lalu, benarkah aslinya seciamik ulasan dan foto-foto kamarnya yang ada? Yuks, dengarkan cerita saya berikut...

Kesan pertama saya melihat penginapan ini tuh homy banget. Saat pertama kali tiba saya lihat banyak pepohonan besar di pinggir jalan. Apalagi waktu itu habis hujan jadi aromanya tuh mantul (baca: mantap betul) deh. Parkirannnya sih tidak begitu luas, mungkin muat untuk 5-6 mobil saja. Parkirannya terletak di halaman depan, tak ada basement, pagar maupun pembatas berupa taman seperti penginapan pada umumnya namun ada pos satpam.

Setelah dari parkiran kami mulai masuk ke lobby. Dominan warna coklat dan kremnya memberi efek nyaman di mata. Beberapa furnitur kayu yang ada di lobby memperkuat kesan lokalnya sesuai dengan namanya yang jawa banget, tapi di luar itu semua, tetap kaya akan sentuhan modernnya. Lobbynya nyaman sebagai ruang tunggu maupun ruang bertemu teman atau klien karena bersih dan suasananya tenang. Staf front office-nya juga ramah dan proses cek-in lancar tanpa kendala.
Guest House dekat Ijen Boulevard
Lagi cek-in ceritanya.
pengalaman menginap di Kertanegara
Matur nuwun mba Erny jamuannya.
Kami mendapat kamar di lantai 2 dari 3 lantai. Bisa naik lift maupun tangga. Kami pesan kamar tipe standard dan family room. Untuk ukuran sebuah guest house tempat ini sangat di atas rata-rata, pantas saja kalau menamai dirinya premium guest house. Desainnya tidak kalah dengan sebuah hotel (budget). Kamar standard ini cukup luas dan komplit dari segi kelengkapan, ada amenities, kran air hangat, serta mini bar (teh, kopi, gula, dan kettlenya). Kasurnya empuk, nyaman dengan selimut linennya yang bersih. 
Kamar standard Kertanegara
Ini ruangan untuk standard-room. 
Sementara di kamar orang tua kami, tipe family-room jelas lebih luas. Ada dua kasur ukuran queen yang mana setiap kasurnya bisa muat untuk dua orang. Jadi kapsitas family-room ini bisa muat untuk 4 orang dewasa dan 2 anak kecil yang tidurnya masih sekasur sama orangtuaya. Oiya, Saking luasnya jadi sangat nyaman untuk solat. So kalau bicara soal kamar, jelas kenyamanannya untuk penginapan di kelasnya.
Family room di Kertanegara
Ini ruangan untuk family-room. 

Rate permalam perkamar untuk yang standar sekitar 450 ribu, sementara yang family-room 750 ribu. Semuanya sudah termasuk sarapan. Kalau family-room dapat jatah untuk 4 orang sementara yang standar seperti biasa untuk 2 orang. Oiya di sore hari juga disedikan snack dan teh di ruang makan, tempat yang sama untuk sarapan. Menu sarapannya dari segi rasa enak, kalau dari variasi standar sih. Ada ayam kecap, tumis buncis wortel, dan tahu goreng. Disediakan juga roti tawar lengkap dengan selai dan toasternya. Ada potongan buah segar juga seperti: pepaya, semangka, dan melon. Sementara untuk minumnya tersedia air putih, teh, dan air jeruk. Oya bila ingin telur bisa minta ke stafnya nanti dibuatkan di ruang sebelah tempat makan ini. Saya baru tahu bila sebuah penginapan tidak menyediakan egg-corner kita sebetulnya bisa pesan ke staf terkait.
dapat sarapan di Kertanegara
Rasanya sih lumayan enak. 
Ulasan menginap di Kertanegara Malang
Nah, ruangan sebelah kiri ini semacam dapur mini, bisa pesan minuman juga.

Dekat dengan ruang makan ada sebuah taman kecil cantik untuk berfoto-foto di sana. Sebagai tempat menginap dengan segmen semi-backpacker atau liburan keluarga hemat atau sekadar menjadi tempat menginap, Kertanegara ini sangat layak diperhitungkan.
Penginapan murah tapi bagus di Malang
Hyaah, narsis dulu ya om-tante 
Lokasinya yang dekat Ijen Boulevard sangat mudah diakses dari manapun. Area di sekitarnya juga banyak kafe untuk tempat meet-up bersama teman. Berselang satu gang/jalan di samping kanan hotel ada pusat oleh-oleh Malang Strudel. Oiya untuk daerah Ijen ini katanya kalau hari minggu ada CFD, sehingga jalanan di depan hotel ramai dengan orang jualan. Waktu itu kami menginap saat hari rabu sih, jadi terlihat sangat lengang. Daerah Ijen ini juga buat saya pribadi enak dipandang mata, karena selain bersih dan teratur juga banyak rumah mewah bahkan beberapa ada yang mempertahankan rupa asli zaman kolonial.
Dekat Ijen Boulevard
Aaah, jadi baper pengen ke sini lagi. 
Dekat pusat oleh-oleh Malang Strudel
Ini deket banget sama Kertanegara, cukup walking distance. Pilihan oleh-olehnya juga beragam nggak Strudel tok!
Aaah, meski tak ada fasilitas fitness center, kita tetap bisa mengolah tubuh dengan menghirup udara pagi dan berjalan santai atau berjogging di sepanjang Ijen Boulevard yang nyaman.
See you on our next travel stories

The Singhasari Resort Batu; Hotel Mewah nan Bersahaja


Saya percaya kalau ada yang bilang "everything happens for a reason". Sebetulnya kami merencanakan liburan ke Malang sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Namun entah niat yang belum terlalu kuat atau memang secara keadaan belum memungkinkan, jadilah rencana liburan ke Malang itu mengendap di dalam bucket list kami hingga beberapa tahun.

Sampai suatu ketika di bulan April 2018, waktu itu ada GATF, beragam destinasi luar pun kami incar. Siapa sih yang nggak ngiler lihat tiket ke Korea pergi-pulang cuma 3jutaan? Tapiiii, mengingat satu dan lain hal salah satunya visa, jadilah kami urungkan niat tersebut. Karena merasa sayang kalau nggak ambil kesempatan di GATF jadilah kami pilih destinasi domestik, yaitu Malang. 

Jeda dari tiket ter-issued sampai berangkat itu sekitar 5 bulan. Cukup lama sih, tapi tetap saja urusan hotel galaunya nggak kelar-kelar. Sampai H-5 kalau nggak salah sudah mengerucut dan keluarlah dua nama yaitu Golden Tulip Holland Resort Batu (hotel anyar) dan The Singhasari Resort Batu. Baca review sana-sini, pertimbangan orang tua, lokasi, serta fasilitas, akhirnya kami memilih The Singhasari Resort. Kalau saya pengen merasakan dua-duanya sih, tapi kasihan yang lain dan pasti ribet urusan cek-in/outnya.

Sampai akhirnya, penghujung September lalu kami tiba di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang sekitar jam 10an pagi. Bandara Malang ini tidak terlalu besar tapi kata suami yang beberapa tahun lalu pernah ke sini sudah sangat banyak kemajuannya. Ada photobooth bertuliskan I💗Malang sebelum pintu keluar. Sepuluh menit kemudian supir kami tiba di terminal kedatangan. Agak telat dari jadwal sih karena katanya sedang ada bersih desa alias karnaval. Awalnya saya antusias, whuaa bisa sekalian lihat karnaval nih, tak tahunya, hihi...
Abdul Rahman Saleh
Touchdown; Foto dulu yes
Kami datang hari minggu, suasana kota cukup ramai, sesekali juga arus lalu lintas tersendat karena antre lampu merah daaaan ada bersih desa alias karnaval. "Ooh seperti ini toh" gumam saya. Tidak sempat terfoto karena saat melintasi, kendaraan kami sudah di ekor barisan, sementara mereka berbelok masuk ke jalan yang lebih kecil.

Ternyata karnavalnya nggak cuma di sana, tapi ada juga di perempatan menuju Batu menggunakan jalan protokol, akhirnya kami dialihkan ke jalan alternatif yang cuma satu-satunya dan bisa dibayangkan seperti apa macetnya. Huwaah lihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, pantes perut kok sudah berasa laper. Ya sudahlah kalau begitu mesti makan dulu ini baru cek-in. Makan siang kami di RM Mbok Sri letaknya tidak jauh dari The Singhasari Resort. 

Sekitar pukul 1 siang kami menuju hotel. Tidak ada kesan "menonjol" dari luar (baca: jalanan) tampilannya sangat sederhana. Namun siapa sangka selepas melewati pemeriksaan kendaraan oleh mba-mba satpam yang sangat ramah kami melihat area parkir dan halaman yang sangat luas. Tampak juga bundaran kolam air mancur dengan serangkaian huruf kapital bertuliskan TSR yang cukup besar. 

Mobil yang kami tumpangi tiba di depan lobby, seorang staff membuka pintu mobil kami dengan senyum mengembang mengisyaratkan keramahan. Staf lain yang melihat kerepotan kami juga sigap membantu merapikan koper dan barang bawaan kami lainnya. Yang saya suka dari lobby ini ruang terbukanya sangat luas, sehingga tidak butuh pencahayaan lebih di siang hari. 

Sementara suami cek-in, saya dan anggota keluarga yang lain duduk-duduk santai di lobby. Segelas minuman jahe dingin serta handuk hangat mendarat di meja kami, kombinasi yang pas untuk melepas penat kami setelah lama bermacetan siang itu. Proses cek-in tak ada kendala, stafnya sangat ramah dan helpful bahkan permintaan kami untuk rice box sebagai bekal ke Bromo keesokan paginya langsung di follow-up.
Lobbynya luas banget dan TSR tahu karena Batu sejuk jadi dibuat terbuka selebar-lebarnya, tanpa daun pintu apalagi AC.
Pemandangan di belakang bangku yang sebelah kiri ini adalah Gunung yang sangat cantik
Sampailah kami di kamar yang masih satu lantai dengan lobby, pertimbangannya meminimalisir naik turun tangga karena kan bawa orang tua dan anak kecil, meski begitu tidak berisik kok. Kami memesan 2 kamar tipe deluxe, yang satu double-bed ukuran king size, satunya lagi twin-share dengan satu bed tambahan. 
Hotel bagus di Batu
Waktu pertama tiba tidak ada boneka handuk itu. Ini foto diambil saat hari ke-2 selepas balik dari Bromo.
Ambiance-nya njawa banget, motif kain pada background lampu maupun hiasan selimut, sarung bantal dan lemari kayu misalnya kental akan kesan klasik dan semua ini tetap dibalut dengan modernitas yang bernama tekonolgi. Ada free wifi serta akses internet yang sangat cepat. Meski tidak ada bath-tub tapi sebagaimana hotel berbintang lainnya, tersedia water heater yang berfungsi dengan baik, amenities pun tersedia cukup lengkap, hanya saja saya merasa masih kurang dari segi keharuman baik sabun maupun shampoonya dan handuknya juga terlihat sudah lama. 

Warna kamar tidur yang dominan coklat dan krem ini menambah efek relaksasi. Kasurnya sangat nyaman dilengkapi linen putih yang bersih. Kamar kami tidak ada akses baik ke taman maupun kolam renang, pemandangannya ya taman dan lukisan alam, hmm... asyiknya itu jadi lebih private dan romantis, hahaa... Harga kamar ini sekitar 1.3jutaan/malam. Namun waktu itu karena kami pesan langsung untuk 2 malam jadi dapat diskon sehingga harganya sekitar 900ribu/malamnya. Alhamdulillah ...
menginap di the singhasari resort
Entah menatap apa, tapi dia senang banget di sini. Hawanya juga sejuk sih.

Hari pertama kami melewatkan sarapan di hotel. Kami dibekalkan menu Indonesia nasi kotak yang isinya nasi goreng, telur rebus, ayam goreng, sate lilit, jeruk, dan kerupuk. Sementara menu western-nya berisi 1 lembar roti gandum dan 1 lembar roti biasa, butter, telur rebus, selai, susu, dan aneka pastry. Pastrynya ini enak-enak apalagi pakai butter jadi menguatkan rasa. Oiya ini satu orang pilih ya, mau menu Indonesian atau western

Hari selanjutnya baru kami sarapan di hotel. Letaknya satu lantai di bawah lobby. Menunya sangat beragam, dari luar sudah tersedia aneka roti, sushi, jamu-jamuan, soto madura, sandwich, aneka bubur, pecel, waffle dan pancake, aneka buah dan jus segar, egg-corner dan tentunya makanan berat. Kalau saya sih seperti biasa mengawali dengan buah, lalu beberapa menit kemudian lanjut sandwich, omelet, dan terakhir soto madura dengan nasi. Semuanya enak dan soto maduranya enaaaaak banget.
Ronde1: Buah dulu, cukup segini aja karena kan niat makan yang lain juga.
Ronde2: Waw porsinya lumayan, makan 1 slice aja sudah kenyang. Ya sudah yang satunya disimpan.
Ronde3: Rahasiaaaa, ahaha... Pokoknya ronde 3 harus nasi biar anteng. #AkuCintaIndonesia
Nah yang nggak boleh terlewat adalah kolam renang, sayangnya sore hari saat kami mau berenang, kolamnya agak kotor. Bukan kotor karena kotoran yang menjijikkan sih tapi kotornya karena serbuk-serbuk bunga yang tertiup angin. Siang menjelang sore waktu itu, memang anginnya cukup kencang dan pasca hujan juga kalau tidak salah. Para petugas di kolam renang juga sudah berusaha menyaring namun namanya tempat terbuka dan banyak bunga tentu sulit dihindari. Akhirnya si anak, suami saya dan adiknya memilih berendam di Jacuzzi, airnya lebih hangat dan ada efek gelembung-gelembungnya jadi ada sensasi kaya dipijat-pijat gitu. Kemudian kami mengecek lagi kolam biasa, ternyata airnya dingin banget, terus jacuzzi kami dipakai keluarga lain, jadilah udahan aja berenangnya, hahaha... Aseliiik belum puas banget si anak, hihii...
Serbuk-serbuk dari bunga-bunga itulah yang menghiasi kolam renangnya.

Fasilitas lain untuk yang sifatnya rekreasi itu ada, movie theater, kids club and children playground, dan game center. Sementara untuk yang sifatnya olahraga itu ada kolam renang, tennis court, gym and fitness center, billyard, dan mini golf. Dan kalau mau supaya tambah rileks ada juga fasilitas spa.
Nggak usah ditanya si anak senengnya kaya gimana :D
Satu hal yang menurut saya hotel ini patut jadi pilihan adalah lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan aneka tempat wisata, seperti Jatim Park3 dan BNS (Batu Night Spectacular). Mau ke Museum Angkut juga tidak terlalu jauh sekitar 15 menit dengan kendaraan roda empat bila arus lalu lintas lancar, sementara kalau ke Coban Rondo masih sekitar 20-30 menitan lagi. Dalam hal mencari makanan juga tidak sulit, keluar hotel, nengok kanan sedikit sudah terlihat warung Mbok Sri, tempat makan keluarga yang enak dan murah meriah. Mencari oleh-oleh juga nggak susah, di samping RM Mbok Sri juga ada hanya saja harganya lumayan, ada lagi yang lebih komplit dan besar tempatnya, namanya Brawijaya Istana Oleh-Oleh, sekitar 10 menit dengan kendaraan juga sudah tiba di alun-alun Batu. 

Sayangnya padatnya kegiatan kami mengeksplor Malang Raya, membuat kami belum cukup puas merasakan kenyamanan yang hqq... #lebay Aah, selalu ingin kembali ke The Singhasari Resort, dan semoga segera bisa ke sini lagi. So far, inilah penginapan dengan staff terramah yang pernah saya jumpai.

See you on our next travel stories :)