Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

Rumah Atsiri Indonesia; Agrowisata Modern di Tawangmangu


Seperti yang sempat aku singgung di artikel sebelumnya, mumpung lagi di Tawangmangu masih ada satu tempat lagi yang ingin kami kunjungi sebelum kembali ke Solo, yaitu Rumah Atsiri Indonesia.
Rumah atsiri indonesia


Awalnya tidak ada rencana ke sini namun saat cek-in di hotel Aziza Solo terdapat tumpukan brosur Rumah Atsiri di meja resepsionisnya. Isenglah diambil itu brosur oleh suamiku. Nah pas di kamar, aku pun nanya apaan ini yah? Kok kaya bagus sih? Ada gambar green house, bunga-bunga, dan beberapa informasi mengenai minyak atsiri. Di sini aku mikir, seru juga nih kalau ternyata menjual beberapa produk hidroponik atau organik.

Suamiku pun setuju dari brosurnya memang terlihat bagus dan unique gitu. Pas lihat lokasinya, ternyata sejurus dengan perjalanan kami ke Sarangan. Hmm ... cocoklah! Bisa nih dimampirin besok, kata suamiku.

Singkat cerita, sore itu selepas dari Telaga Sarangan mampirlah kami ke Rumah Atsiri Indonesia yang terletak di Jalan Watusambang, Plumbon, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Nggak sulit kok nyarinya, kalau ke Telaga Sarangan dari arah Solo pasti melewati. Belum sampai Tawangmangu atas deh sepertinya. Ada billboard besar sekali mengenai Rumah Atsiri, pokoknya eye-catching. Rumah Atsiri ini posisinya nggak persis di tepi jalan melainkan agak masuk sekitar 300 meter dari jalan utama.

Begitu masuk di gerbangnya, aku kira kita perlu membayar tiket, ternyata nggak dong ... Seriyes? Iyes ... Tapiii harus beli voucher senilai 50ribu/orang yang bisa kita gunakan di dalam, haha sama aja yaa ... Well, sedikit gerutu sih karena jatuhnya yah lumayan juga ya secara kita kan ber-6, walau anak kecil free sih. Etapi enaknya voucher ini bisa digabungkan lho.
Voucher rumah atsiri
Ini tampilan vouchernya.


Setelah membeli voucher, kami pun memarkirkan mobil. Lahan parkirnya cukup luas dan saat itu juga ada beberapa mobil yang turut parkir di sana, maksudnya nggak sepi juga kok tempat ini.

Keluar dari mobil, pemandanganku langsung dihadapkan pada sebuah bangunan green house yang cukup besar. Sayang tidak sempat intip isinya. Aku justru memilih berfoto di halaman depan ketika menunggu ibu mertuaku dan ontynya Alin ke toilet. Oya jadi di kawasan parkir ini ada toilet yang sangat bersih, konsepnya pun nggak jauh dari alam-alam gitu. Samping tempat aku berfoto ini ada sedikit bidang lahan yang ditanami lavender dan beberapa cemara. Cantique deh.
Rumah atsiri tawangmangu
Meski terlihat panas, tapi aslinya sejuk lho.

Rumah Atsiri ini konsepnya lebih ke eco-green living. Dindingnya dominan berupa kaca-kaca yang tembus pandang. Tak banyak permainan warna selain putih, hitam, dan warna alam. Atapnya tinggi dan miring membuat ruangan menjadi luas. Aku melangkah masuk antara penasaran dan bingung sih apa yang harus diselami, untungnya aku mulai kenal beberapa tanaman semenjak follow instagramnya dr. Zaidul Akbar.

Sebelum berkeliling, kami menyambangi meja resepsionisnya dulu dong, sedikit bertanya-tanya mengenai Rumah Atsiri Indonesia dan apa saja yang kita sebagai orang umum bisa kerjakan di sini.

Rumah Atsiri Indonesia


Jadi, Rumah Atsiri Indonesia ini adalah sebuah kompleks edu-rekreasi yang mana bangunan ini merupakan hasil restorasi dari pabrik Citronella Indonesia-Bulgaria tahun 1963. Banyak aktivitas yang bisa kita kerjakan di sini, mulai dari jelajah museum, tour taman dengan beragam koleksi tanaman atsiri, menikmati sajian restoran, berbelanja merchandise, hingga workshop yang bisa membangkitkan jiwa scientist kita.

Seru-seru lho kalau mendengar penjelasan mbaknya. Ada workshop membuat minyak telon, playdough, bath bomb, dan lainnya.i Kta juga bisa lho melihat demo penyulingan minyak atsiri di sini setiap hari sabtu, minggu, dan hari libur nasional. Waktu itu karena aku berkunjung pas hari kamis jadi nggak bisa lihat deh.

Setelah bertanya-tanya, kami melihat-lihat beberapa jenis tanaman di rak. Sebagai orang awam di bidang pertanian, sejujurnya aku nggak banyak tahu mengenai tanaman-tanaman ini.
Sejarah rumah atsiri karanganyar
Jadi kepengen juga di rumah koleksi beginian.
Setidaknya yang aku tahu bahwa di sana ada rosemary, serai, dan daun mint yang semuanya menarik hatiku banget. Langsung deh ngebayangin minum infused water dengan campuran salah satu dari tiga bahan tersebut. Hmm ... segeer pastinya.

Setelah itu kami langsung menuju restaurant di lantai bawah. Selain ada tangga juga ada jalur untuk difabel, tersedia kursi roda yang bisa digunakan secara gratis.

Masya Allah .... Cantik banget! Pertama kali aku turun ke restaurant dan melihat taman Marigold di sana. Bunganya berwarna warni kuning dan oranye sangat kontras dengan warna dominan Rumah Atsiri, bagus banget buat latar foto. Nggak heran, banyak muda-mudi yang juga ambil gambar di Plaza Marigold ini.
Htm rumah atsiri, karanganyar
Dan kami pun ... Love to take photos here


Sekilas Tentang Marigold


Oya, kalian tahu nggak sih kalau Marigold ternyata banyak dijadikan sebagai sesaji kalau bagi umat Hindu, makanya nggak heran kalau perkebun Marigold terbesar ini ada di India, sementara di Indonesia banyaknya di Bali dan dikenal dengan nama "Gumitir".
Museum dan laboratorium rumah atsiri
Cantique, yah!

Setelah bibit tumbuh, masuk ke tahap perawatan bunga. Pada fase vegetatif pemupukan dilakukan hingga 7-10 hari sekali. Penyiraman bunga Marigold dilakukan secara berkala tergantung musim dan kebutuhan tanaman. Umumnya hama yang menyerang adalah ulat dan tungau dan ini bisa diberantas dengan insektisida. Sumber : official ig of Rumah Atsiri.

Dudududu ... Saking bagusnya nih, lupa kalau kita tuh sudah sore di sini dan belum menggunkan vouchernya untuk pesan makan dan minum. Hihi ... maklumlah ya galfok sama tamannya! Oke setelah aku baca-baca menunya, pilihanku jatuh pada minuman ini daaan bertiga samaan. Haha ... Sementara untuk menu makannya aku pilih spaghetti carbonara.
Menu makan rumah atsiri
Ini beneran enyaaak.
Restoran rumah atsiri tawangmangu
Huhu ... daku lupa namanya, yang pasti segarrrr

Soal rasa gimana? Minumannya sih udah kelihatan ya yang pasti seger dengan paduan rasa sedikit asam dan ada manisnya juga, apalagi minumnya sama aku. Hehehe ... Kalau soal menu makannya hmm ini ... Sebetulnya aku belum lapar, yah gimana nggak, kita itu baru aja makan kan di kebun strawberry, cuma mikirnya daripada sayang nggak kepake vouchernya akhirnya yoweis pesenlah spaghetti carbonara. Rasanya ternyata ya saaaaangat enak. Kalau belum makan bisa maklum mungkin lapar, tapi kita sudah pada kenyang lho dan tetap bilang ini enak. Enaknya itu ya creamy semacam rasa saus telur asin campur keju aah pokoknya enak apalagi dengan potongan telurnya kata pak swami sih endesss banget.

Setelah digabung-gabung sisa saldo vouchernya masih cukup ternyata untuk beli salad dan rawon. Ya sudahlah ya, kita bungkus keduanya. Awalnya rawon ini buat mertuaku sih, cuma ternyata malam itu mereka memilih makan di depan hotel, mau mencicip tongseng katanya. So, salad dan rawonnya ya aku makan saja. Hoho ... monmaap perasaan makan mulu ya ...
Restoran rumah atsiri karanganyar
Setelah 1 jam lebih perjalanan, beginilah penampakannya. Masih fresh kan?

Meski sudah melalui perjalanan 1 jam-an ditambah mampir sana-sini dan beraktivitas ina-ini rasa saladnya tetap segar lho. Sebetulnya yang membedakan rasa salad adalah dressingnya ya, nah aku ini milih dressing yang isinya minyak zaitun, madu, dan lemon kalau nggak salah, enak paduan rasanya.

Dan untuk rawonnya sebetulnya enak, cuma sayang dagingnya dikit dan potongannya kecil-kecil, He he ... Nggak mau rugi banget.

Oke, balik lagi ke Rumah Atsiri ya, pokoknya setelah puas foto-foto kita rencana mau langsung balik ke hotel. Cuma duuh gitu ya, karena nunggu lama di toilet jadilah sempat lihat-lihat dulu ke outletnya daaaan beli dong kaosnya. Wkwkwkw ... Awalnya nggerutu vouchernya mahal ternyata malah kurang.
Sejarah rumah atsiri pabrik citronella
Salah satu sudut di Rumah Atsiri


Cah wedok pun dibelikan kaos sama eyangnya pas banget ada warna toska kesukaannya. Swami pun sama awalnya sekadar nanya ada ukuran buat dia gak. Maklum ya big size kadang nggak nyari model, ada aja udah alhamdulillah. Nah pas banget di sini pun ada ukurannya. Ya sudahlah ikutan beli, apalagi bahannya memang enak dan nyaman dipakainya. Harganya 100k an yang serat bambu sedikit di atasnya.

Kaos rumah atsiri

Sudah yuk yuk yuk! Dari tadi nggak beranjak-beranjak, kelamaan di sini bisa eksplore semua sudutnya nanti, haha ...
Pabrik citronella
Jalan menuju parkiran yang dihiasi tanaman rosemary. 


Liburan Keluarga ke Telaga Sarangan; Susuri Danau di Ketinggian


Surakarta, 27 Juni 2019

Kamis pagi itu cuaca Solo cukup cerah. Selepas sarapan di sini kami kembali ke kamar untuk menyiapkan segala keperluan selama di Sarangan.
Liburan bersama anak ke Telaga Sarangan

"Aku nggak bawa jaket nih katanya dingin ya?" Celetuk ontynya Alin.

Dalem hati sedingin apa sih, lha wong panas begini, lagian kayanya masih dinginan Bromo. Nada sedikit menantang ya kedengarannya, padahal asli nanya lho.

Sekitar jam 08.30 kami berangkat dari Solo menuju Telaga Sarangan yang tentu saja melewati Tawangmangu, Karanganyar lalu Magetan.

Iya Telaga Sarangan itu berada di Magetan, Jawa Timur, tapi bisa jadi alternatif tempat wisata kalau lagi menginap di Solo. Nggak deket banget sih, jaraknya sekitar 57.8 km atau kalau dengan mobil bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam.
jarak Surakarta ke Telaga Sarangan
Google makes everything easier (tentu saja atas izin Allah)

Selama perjalanan Solo-Magetan kami disuguhkan pemandangan yang indah apalagi saat di Tawangmagu, sepanjang jalan itu banyak sengkedan atau terasering. Benar-benar manjain mata banget. Sesekali kami berhenti selain sengaja mau foto di sawah juga memang mencari toilet, hihi ... Setelah itu lihat-lihat jajanan dan beli juga kan bakso pentol yang enak banget. Beneran enak lho, apalagi udaranya sejuk-sejuk gitu terus makan bakso pentol hangat. Aaah maknyus.
Sengkedan atau terasering di Tawangmangu
Sengaja melipir demi foto di sawah, hihi ...
Sampingnya ini SPBU lho sementara yang lain asyik makan bakso pentol di mobil

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan panduan gmaps. Jalannya terus menanjak namanya juga daerah pegunungan ya. Kalau kalian tahu Gunung Lawu, nah di sinilah lokasinya, di Tawangmangu.

Memasuki daerah pegunungan udara semakin dingin. Brrr ... istigfar deh. Saltum banget nggak bawa jaket, alhamdulillah si anak ada baju hangat yang ketinggalan di mobil. Saking dinginnya kita tuh sampai nggak nyalahin AC, cukup buka kaca dan merasakan udara asli pegunungan. Segernyaa ...

Kita semua sama-sama belum pernah jadi nggak ada yang bisa kasih saran lewat sini saja atau situ aja atau jangan belok kanan, jangan belok kiri, daaaan sebagainya. Tau sendiri kan ya, kalau pakai peta online macam gmaps gitu kadang kita diarahkan jalan yang nggak umum meski memang lebih cepat.

Jadi jalan yang kami tempuh itu menanjak banget, sampai khawatir ini mobil kuat nggak ya, tapi yakin bismillah kuat. Melihat mobil lain sekelasnya saja bisa kita juga pasti bisa. Jalanannya yah tipikal jalan di Puncak gitu. Pemandangan di sebelah kiri banyak rumah warga dan perkebunan, sementara di kanan adalah lereng gunung yang berselimut kabut.

Warga di sini banyak menanam daun bawang, strawberry, butternut atau labu madu, serta tanaman khas dataran tinggi lainnya.

Selain rumah penduduk, di sini juga banyak penginapan dan tempat wisata keluarga. Kayanya seru juga sih menginap di sini latihan sebelum ke Eropa, heheh ...

Di sepanjang jalan banyak terlihat pohon cemara. Pohon cemaranya rerata menguncup seperti memeluk dirinya sendiri, seolah ingin mengatakan pada siapapun yang melihatnya, "hei aku kedinginan".
Perjalanan ke Tawangmangu
See? Pohon cemara pun kedinginan
Wisata di Tawangmangu
Tulisannya sudah Selamat Datang padahal masih lumayan hingga tiba di Telaga Sarangannya

Jalan yang ditunjuki gmaps ini selain curam juga sekalinya ada belokan, berkelok tajam. Beberapa kali aku memeringatkan suami yang sedang menyetir untuk berhati-hati. Perasaanku sih agak ngebut tapi katanya nggak juga lagian menurutnya ini untuk menjaga momentum karena kalau kecepatan berkurang berat lagi nariknya meski sudah menggunakan power mode.

Baiklah ... yang penting terus berdoa dan berhati-hati. Meski hati dag dig dug tapi melihat alam sekitar hati jadi adem banget. Kabut mulai menebal dan berarak turun ke lereng bukit, jarak pandang semakin dekat tentu saja fog lamp harus dinyalakan.

Aaaah pokoknya nggak bisa dilukiskan keindahannya karena mata adalah alat potret terbaik, terbaik dari handphone dan kamera canggih manapun.

Setelah mencapai puncak, jalan kembali menurun. Udara yang sejak tadi dingin pun perlahan berubah sedikit lebih hangat rasanya. Sinar matahari mulai terlihat. Tak lama kemudian kami tiba di tempat wisata Telaga Sarangan. Harga tiket masuknya sekitar 20ribu perorang.
Biaya masuk Telaga Sarangan

Ternyata di dalam kawasan wisata ini sangat ramai, terlihat banyak mobil pribadi, travel, bus, dan juga beberapa penginapan. Ya, ternyata banyak juga lho hotel di Telaga Sarangan. Parkirannya sebetulnya cukup luas, ada dua tingkat. Namun begitu tetap saja agak sulit mencari slot yang kosong karena musim liburan juga kali ya jadi banyak yang ke sini. Kalau dulu katanya bisa parkir di dalam persis di dekat Telaganya, namun sekarang hanya tamu hotel yang di dalam yang bisa.

Sebelum pintu gerbang kami sudah disambut oleh para pedagang. Mulai dari kaos, mainan, makanan, hingga sayuran segar ada semua. Oya di sini juga ada toilet dan musholla yang cukup bersih.

Alhamdulillah ... Akhirnya tiba juga kami di Telaga Sarangan, sang objek wisata utama. Duuuh cakep banget deh, terpampang pegunungan yang menjulang tinggi melatarbelakangi si Telaga.

Kisah Legenda Telaga Sarangan

Legenda Telaga Sarangan
Aslinya lebih rame cuuyy ...

Sebagaimana objek wisata alam pada umumnya di Indonesia, Telaga Sarangan pun memiliki kisah legenda. Menurut cerita yang dilansir budayajawa.id, Telaga Sarangan juga dikenal dengan nama Telaga Pasir. Kok bisa?

Beginilah misteri Telaga Sarangan "Jreng ... Jreng ..." hehee ...

Begini, konon zaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Pasir ( Kyai Jalilung ) dan Nyai Pasir ( Nyai Jalilung ). Keduanya hidup aman tentram di hutan gunung Lawu. Suatu ketika sang suami berangkat untuk berladang namun karena ladang tersebut dipenuhi pohon besar sang Kyai Pasir pun menebang pohon-pohon itu terlebih dahulu.

Singkat cerita, ditemukanlah sebuah telur di bawah pohon besar yang ditebangnya tadi. Ia pun membawanya pulang untuk direbus dan dimakan. Suami-istri tersebut sangat menikmati telur yang dimasaknya.

Setelah dimakannya telur tersebut, sang Kyai berangkat kembali ke ladang melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ia merasa sekujur badannya kaku dan sakit, tubuhnya panas, dan matanya berkunang-kunang, hingga kemudian ia pun jatuh ke tanah. Hal aneh menimpa sang Kyai, tubuhnya berubah menjadi seekor ular naga yang besar.

Sementara sang istri yang juga memakan telur yang sama merasakan hal demikian pula. Ia berangkat menyusul suaminya ke ladang. Badannya pun menjadi panas, kaku, dan kemudian tersungkur ke tanah dan berubah menjadi ular naga yang besar juga.

Kedua naga itu akhirnya berguling-guling dan menggeliat-geliat di tanah ladang yang menyebabkan tempat tersebut menjadi cekungan yang semakin besar dan dalam kemudian memancarkan air. Nah karena ulah Kyai dan Nyai Pasir inilah Telaga Sarangan dikenal juga dengan Telaga Pasir.

Itulah kisah legenda dibalik keindahan Telaga Sarangan. Masyarakat di sini begitu menyadari bahwa Telaga ini menjadi salah satu sumber matapencahariannya. Makanya mereka merawat betul Telaganya. Setiap jumat kataya ada bersih-bersih danau dari sampah. Iya sih pas aku lihat juga bersih banget.
danau sarangan bersih
haha mommaap close up :D

Aktivitas di Telaga Sarangan


Ada beberapa aktivitas yang bisa dikerjakan di sini, antara lain berkuda dan naik speed boat.

Berkuda; Tepatnya Menunggang Kuda

Aku bukannya nggak mau sih, cuma agak ribet aja karena pakai rok. Hahah alasan! Jadilah Alin ditemani ontinya menyusuri tepi Telaga dengan kuda. Kayanya luas juga soalnya lumayan lama aku menunggunya.
Biaya berkuda di Sarangan
Dududu yang sudah besar dan nggak mau ditemenin berkudanya, hmm ...

Kalau mengitari Telaga biayanya 60ribu/orang, sementara kalau keliling "pasar" cukup merogoh kocek 40ribu/orangnya. Kudanya cakep-cakep, bersih dan kalem kok jadi tenang saja, bahkan juga nggak terlalu bau.

Menaiki Speedboat

Nah ini, mamak berusaha memberanikan diri sampai bilang ke abangnya jangan ngebut ya. Gimana pula speed boat nggak ngebut coba. Hahah ...

Baiquelah, kami ber-4 akhirnya mencoba naik speed boat. Sementara ibu dan bapak mertuaku menunggu di kedai sambil nyeruput jahe hangat.

Bismillah, pengalaman pertama ini pun dimulai. Huwaaah ... Seenggak ngebut-enggak ngebutnya tetep aja berasa ngebut buatku, tapi melihat anak berani banget masa aku kelihatan takut bisa diketawain nanti, hahaah ...
dermaga sarangan
Danaunya bersih ya dan mereka paham potensi yang ada pada daerahnya. 

Abangnya pake nanya lagi, mau satu atau tiga putaran, langsunglah dijawab tiga putaran sama si anak ini. Huwaaaah ... Etapi ternyata seru juga sih, ada sensasi jedug-jedugnya gitu waktu perahu menyentuh air.
Mengitari danau sarangan dengan speedboat
Dalam keadaan laju lho ini, makanya ngblur...

Putaran pertama bisa dibilang masih selow. Kami bisa menikmati dengan jelas pemandangan sekitar. Menyusuri tiap inchi telaga dengan speedboat sambil take photo itu, sesuatu! Meski jilbab berkibar-kibar karena nggak pake hair spray tapi seru aja, yang penting sih nggak terbang, wkwkwk...
pengalaman naik speedboat di Telaga Sarangan
Nah ini dalam keadaan mesin mati, lebih jelas kan gambarnya, meski ngeriii nahan goyangan

Putaran kedua mulai kencang malah sesekali pakai ngepot. Lalu tiba-tiba mesin mati tepatnya dimatikan sih dan si abangnya berinisiatif motret kita di tengah danau. Jelas saja perahu pun bergoyang-goyang. Hiiih ...

Nah putaran ketiga ini yang super ngebut, beberapa kali saat belokan dibikin sangat miring sampai kami semua teriak. "Aaaaaa...." Apalagi saat sebelum parkir, ngepotnya warbyasah permirsah. Huhuhu... Alhamdulillah kelar juga. Mamak mau nenangin hati dulu nyeruput jahe hangat juga.

Biaya naik speedboat ini 60ribu/putaran/perahu, namun masnya baik kami dikasih diskon jadi 50ribu/putarannya. Aaah pengalaman bangettt ... Tapi aku lebih suka naik perahu yang selow gitu, kaya waktu di Mandurah.

Waktu semakin siang, kami pun menyudahi pertemuan dengan Telaga yang melegenda ini. Kami harus kembali sebelum hari semakin sore dan cuaca menjadi lebih gelap.

Nggak lengkap tentunya ke objek wisata tanpa belanja cinderamata. Hal yang kami suka biasanya sih beli kaos daerah, seru aja sih jadi bisa diingat terus momennya dan berguna karena dipakai.

Sayuran di sini juga segar-segar, rasanya ingin diborong namun apalah daya, selain sudah nggak ada space lagi buat belanjaan juga khawatir layu di jalan.
sayuran segar di Sarangan
Aaaah, rasanya pengen borooongggg
Para penjual di Sarangan
Suasana yang menghiasi sepanjang jalan menuju Telaga Sarangan
Keindahan Telaga Sarangan
See you :)

Kini perjalanan kembali kami melalui jalur yang berbeda, jalur yang umum digunakan oleh para wisatawan. Tidak securam tadi, lebih landai, lebih berkelok-kelok, lebih banyak resto-resto yang instagenic juga.


Mampir Makan Sambil Lihat Kebun Strawberry


Karena lapar kami menyempatkan makan siang di lereng gunung Lawu, berlatar belakang hamparan kebun strawberry dan daun bawang. Waaah kabut semakin turun, dingiiiiin ... Untungnya sempat ambil photo sebentar.
Kebun strawberry di tawangmangu
Beberapa saat sebelum kabut yang di belakang itu berarak menuju kamiiiii ...

Sebelum sore banget kita bergegas turun karena masih ada satu tempat lagi yang mau kita kunjungi, ke manakah itu? Wait ya ...
Rumah atsiri tawangmangu
Segeeer ... Di mana ya ini?

Intinya sih kalau next kalian ke sini juga, jangan lupa bawa jaket atau pakai baju hangat dan pastikan kondisi kendaraan prima serta ada bensinnya. Namanya di gunung nggak ada SPBU yekan, jadi penuhilah saat di kota.

Anak-anak mungkin nggak ingat kapan ini terjadi tapi mereka pasti ingat momen saat kita ke sini.

See you yaaa on our next trip stories.

[Review] Hotel Horison Aziza Solo; Syariah, Berkelas tapi Harga Bersahabat

Hotel syariah murah di solo

Ini kali kedua kami menginap di hotel syariah. Dulu pernah secara tidak sengaja sih saat ada acara di Bintaro, karena hotel incaran kami penuh akhirnya menginap di hotel syariah ini.

Beberapa minggu lalu, aku dan kelurga cemara kecilku pleeeeus mertua dan ontynya Alin memanfaatkan waktu liburan sekolah buat melakukan mudik yang tertunda. 

Singkat cerita, setelah kemarin kami silaturahim ke rumah-rumah saudara kami di Purwodadi dan menginap di sini, sekarang saatnya melipir sedikit ke kota sebelah, Solo. Hehe nggak sebelahan banget juga sih masih sekitar 2 jam kuranglah perjalanan Purwodadi-Solo.

Nah, saat liburan singkat di Solo beberapa waktu lalu itu suami pun googling beberapa penginapan (karena aku urusan booking, ribet euy nyariin hotel mah, hehe) dan ketemulah dengan beberapa hotel syariah. Pikirku boleh jugalah menginap di hotel syariah secara kalau yang biasa-biasa saja ya sudah tahulah ya suasananya ya begitu.

Finally, diketuklah palu di hotel Horison Aziza Solo. Di sini ini aku baru benar-benar merasakan yang truly syariah. Kalau lewat di lorong depan kamar itu berasa lagi di Tanah Suci soalnya ada lantunan ayat suci dengan suara yang lembut dan sama sekali tidak menggangu ketenangan tamu di dalam kamar.

Well, lokasi hotel ini sangat strategis. Terletak di Jalan Kapten Mulyadi No.115, Kedung Lumbu, Kota Surakarta, Jawa Tengah dekat sekali dengan pasar kliwon, pusat jajanan malam, pasar klewer, Benteng Vastenburg, juga Keraton Surakarta. Cuma ... ah ya gitu deh, nggak sempet melipir ke semua tempat itu huhuuuh ...

Secara fisik bangunan tempat kami menginap ini tak terlalu besar, desainnya cantik, konsepnya Islamic boutique. Halaman depan juga minimalis, ada kursi dan meja di terasnya cocok buat menjamu tamu dengan non mahram atau yang sifatnya semi formal. Lobbynya juga tak terlalu luas dan masih berbagi ruang dengan pajangan dagangan beberapa kain batik dan penyewaan sepeda.
Review menginap di hotel aziza horison solo
Meski space terbatas tapi terasa lega aja gitu soalnya semua disesuaikan dengan ruang yang ada.

Sedikit yang kurang sreg buatku adalah adanya kolam renang yang terletak di sisi samping lobby menuju ruang makan dan gedung utama. Sorry to say menurut aku kayanya lebih cantik dijadikan kolam ikan atau sekalian dirombak jadi mini playground buat anak yah sambil nunggu cek-in kan lumayan.
Hotel syariah keluarga murah di solo
Kedalamannya ini sekitar 60cm, nggak ada lifeguard jadi harus diawasi betul.

Memang sih kolam renangnya buat anak, tapi ... gimana yah agak kurang nyaman aja buatku sih karena banyak orang lalu lalang pastinya. Oya di sini tidak ada kolam renang untuk dewasa, namanya juga syariah yah, nggak pantes dong kolam dewasa juga di sini. 

Semua stafnya ramah, cekatan, dan nggak lupa senyum. Salam khasnya pun bukan selamat pagi, siang, malam tapi assalamualaikum, berasa kaya di rumah banget deh. Cek-innya nggak pakai ribet dan yang aku suka selama nunggu suami proses cek-in ada welcome drink kayanya sih isinya juice sayuran segar warnanya hijau dan ada serat-seratnya gitu, rasanya asem segar enak.

Oya di lantai 1 ada ruang makan, musholla, dan kamar. Di sini juga ada kolam ikan yang penuh kenangan, wkwkw lebay. Soalnya di kolam ikan inilah aku bertemu teman dumay mba Sitatur Rohmah pengusaha sekaligus penulis, keren lho beberapa kali tulisannya masuk Solo Pos.
Review aziza solo hotel
#Bloggerslyfe  

Kamar aku ada di lantai 3 dan untuk bisa ke sana kita perlu tap kartu kamar untuk bisa menggunakan liftnya. Bagus sih buat keamanan juga kan. Nah, untuk deretan angka di lift, kalau di hotel lain banyak menskip angka 4, hal ini tidak berlaku di sini. Keren kan!

Kamarku tipe deluxe twin. Kasur twinnya standar sih cukup buat 1 orang, kalau mau agak luas ya perlu didempetkan kedua kasurnya. Di kamar ini tersedia Alquran, sajadah dan petunjuk kiblat yang jelas di langit-langit. Jendela kamar tidak begitu besar tapi lumayanlah buat pencahayaan.
Cahaya sore dari balik jendela

Kamu perlu extrabed? Bisa! Rate untuk extrabed 250k/malam/kamar sudah termasuk sarapan. Tersedia juga tipe connecting room, makanya aku bilang cocok untuk liburan keluarga.

Kamar mandinya tidak begitu luas. Tipe deluxe tidak ada bathub, adanya shower gantung (tidak bisa dilepas) agak kurang nyaman sih ya apalagi pancuran airnya kurang deras. Tapi yang aku suka pembuangan airnya lancar jadi tidak sampai menggenang. Perlengkapan mandinya standar sih minus hair dryer. Di tipe ini juga tidak tersedia setrikaan.

Nah yang aku suka nih soal sarapan. Menunya sangat variatif, rasanya pun enak kecuali yang menu utama. Selama 2 kali sarapan di sini aku hampir tidak menyentuh menu utama karena rasanya dan menunya biasa. Aku justru suka menu gubugnya.
Menu halal di aziza solo
Desain ruang makan perpaduan klasik modern

Aneka buah dan salad komplit, ada fresh juice, infused water, dan lainnya. Buat kalian yang suka jejamuan juga ada lho, beras kencur dan kunir asam. Aneka bubur mulai dari kacang hijau, ketan hitam, bubur sum-sum juga ada. Nggak ketinggalan bubur nasi yang sekaligus menjadi signature dishnya dengan nama Bubur Taqwa.
Menu utama yang aku colek duluan kalo sarapan. Kalo mau nyontoh boleh. Kata gurunda, pertama buah+jus next salad sayur.
Jejamuan di hotel aziza solo
Ini hotel juga nerapin JSR apa ya?! Sukaak banget cuma aku nggak minum sih, heuheuu kwatir nggak muat yang lain, qiqiqi.
Hotel syariah horison aziza solo murah
Pecinta rebusan juga ada nih menunya.
Nasi kuning aziza solo enak
Kalau masih laper, padetin pakek ini. Aseli uenak tenan!
Bubur taqwa enak hotel aziza solo
Enyaaak ... Isiannya standar sih tapi +teri. 

Bubur Taqwa ini kata mbak-mbaknya disajikan tanpa kuah tapi aku nyobain pake kuah sup duuuh enak bangettt, sampai nambah. Gubug lainnya ada aneka rebusan, seperti pisang, kacang, dan jagung. Buat pecinta healthy food pokoknya dimanjakan banget deh.

Ada satu lagi gubug yang menunya tiap harinya ganti sih, tapi pas aku di sana enak terus. Pertama nasi kuning komplit, hari kedua pecel komplit. Egg corner dan cereal pastinya juga ada. Duuh enyaaak bangett pokoknya. Menu utama yang standar tertutupi sama menu gubug-gubug yang mantuuul ...

Seperti yang sudah aku singgung di atas, secara lokasi hotel ini sangat strategis. Butuh logistik, pakaian, dan mau sekalian makan tinggal belok kanan nyebrang sekali sampai deh di Luwes Mall. Mau nyusu segar murni juga nggak jauh dari sini, namnya Shi-Jack bukanya sore sampai malam. Mau ke Pasar Kliwon atau Pasar Klewer, Keraton, dan Benteng? Dekeeet.
Mampirnya ke Shi-Jack yang antrenya ampun-ampunan padahal rasanya B aja.

Pokoknya nggak susah kalau mau kulineran pun, karena di samping kanan hotel ada yang jualan ayam bakar, di seberang hotel ada sate dan tongseng kambing, sementara di sisi selatan (depan hotel belok kiri) tidak jauh ada makanan Timur Tengah yang enak (((katanya))) namanya Marakesh. Huhuu sayang belum nyobain.

Selama menginap di sini aku sih puas banget apalagi dengan rate 400ribu/malam/kamar yang sudah termasuk sarapan untuk 2 orang. Bahkan harganya bisa kurang lho hingga menyentuh angka 325.000/malam/kamarnya. Aku betaaaaah

Stafnya selain baik juga helpful. Bayangkan saja waktu kami lagi repot menata koper dan barang bawaan di mobil, seorang resepsionis tiba-tiba berinisiatif membawakan barang kami yang masih tersisa di lobby. Kalau OB atau bell boy kami maklum, tapi ini resepsionis kan top banget.

Next kalau ke Solo, aku mau banget menginap di sini lagi sekalian nyewa sepeda atau motor supaya puas keliling kota Solo. Saran ya saran ... Tambahin kids coner doong, please ... 😁

Okey, siyaa di cerita selanjutnya. Mau tahu objek wisata yang keren abis di sekitaran Solo (((sekitaran)))? Pokoknya ini nih yang bikin kita nggak sempat eksplor banyak sekitaran hotel padahal bisa kulakan konten banyak, wkwkw minjem istilahnya mba Damar.
Jarak Solo ke Telaga Sarangan
Ada yang kenal tempat ini? Tunggu post selanjutnya ya...

See you on next trip stories :)

[Review] Menginap di Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi; Anak Kecil Pasti Suka


Pengalaman menginap di kyriad purwodadi

Ada yang tahu Purwodadi itu di mana? Baiklah kalau belum, aku beritahu ya. Purwodadi itu adalah ibukota kabupaten dari Grobogan. Grobogan itu sendiri adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah, di mana sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Kudus, Pati, Blora, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Blora. Sebelah selatannya berbatasan dengan kabupaten Ngawi, Sragen, Boyolali, dan Semarang. Sebelah baratnya berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Demak.
Peta jawa tengah
Sumber gambar : grobogan.go.id


Nah jadi kalau dari Jakarta ke Purwodadi melalui Trans Jawa exit tolnya di Semarang. Sementara perjalanan dari Semarang ke Purwodadi masih memakan waktu sekitar 1.5-2 jam.

Okesip sudah kebayang yah. Yuks sekarang kita mulai reviewnya.

Purwodadi ini ya bisa dibilang bukan kota besar sehingga keberadaan hotel seperti ini menurutku sudah bisa menandakan adanya kemajuan apalagi saat aku datang banyak pegawai berseragam pemda menghadiri acara kedinasan di Kyriad Hotel.

Hotel ini berada di jalan Gajah Mada No.10, Majenang, Kuripan, Kec. Purwodadi. Nggak jauh dari sini ada pom bensin, tempat cuci mobil, dan terminal. Sekeliling hotel dihiasi pemandangan persawahan. Whaa poko'e tentrem deh hati.

Lobbynya nggak terlalu besar, kalau pagi sebagian ruangnya malah digunakan untuk sarapan. Agak siangan baru dirapikan kembali untuk memperluas space lobby.
Hotel keluarga murah di purwodadi
Penataan ruang saat tak ada meja dan kursi untuk sarapan.

Kami booking via telpon karena request kamar di bawah dan berdekatan. Ternyata sebawah-bawahnya masih di lantai 3 karena lantai 1 adalah lobby, lantai 2 smoking room.

Resepsionis dan staf lainnya ramah. Kami datang sekitar jam 3an sore. Kayanya nggak ada welcome drink, tapi ada resto mini yang asik buat tempat ngobrol kalau ketemuan sama temen. Hotel ini dilengkapi 2 lift minimalis, maksudnya cukup untuk
 sekitar 6 orang.

Kamarnya standar sih, simple, dan bersih. Kasur twin-bednya tidak besar jadi kalau misal bawa anak 2 baiknya pakai extrabed.
Harha hotel kyriad murah terjangkau
Kalau anaknya masih kecil bisalah didempetin aja.
Hotel grand master purwodadi review
Nah begitulah viewnya

Toiletnya nggak terlalu luas, ada shower panas-dingin, amenitiesnya terbatas, sekadar sabun batang, shower cap, dan dental kit sih ada. Cuma untuk shampo dan sabun mandi, adanya yang sistem one for all, hee satu untuk semua tamu maksudnya. Sistem pembuangan airnya bagus jadi saat mandi nggak pernah ada genangan.

Kasurnya lumayan empuk, ACnya juga dingin, sangat membantu menyejukkan diri secara purwodadi itu panas sangat. Oya harga kamar yang kami pesan ini 380K/malam/kamar termasuk sarapan. Kami meminta extra-bed harganya 150K sudah termasuk sarapan.

Sarapannya sendiri standar sih. Ada bebuahan, rerotian, serealan, rebusan, menu berat, dan satu gubugan. Soal rasa ya gitu deh, biasa. Cuma omeletnya yang menurutku masih enakan buatanku sendiri. Omelet di hotel ini agak asin dan bawang-bawangannya overcooked alias gosong. Soal kamar dan sarapan nggak gitu masalah sih buatku karena yang penting ada buah.

Baca juga : 8 Tips Agar Anak Tak Cranky Saat Liburan.

Nah sekarang mengenai fasilitas yang aku bisa bilang, hotel ini juara banget. Awalnya aku nggak banyak berharap mengenai kolam renang, paling yah begitu aja. Ternyata saudara-saudara ... Kita bisa manfaatkan kolam renang master park, which is ada aneka perosotan, kolam arus, juga kolam dewasa. Dan ini free untuk tamu hotel, wew! Sayangnya, airnya kurang jernih, mungkin karena sore kali ya. Waktu kami datang di pagi hari sih lumayan lebih jernih dan bersih.
Master park purwodadi
Menginap di hotel bonus free masuk waterpark
Surga dunianya anak-anak 😍

Nggak cuma itu, masih ada hiburan lain seperti cinema 3D, pesawat boeing, sampai wahana dunia terbalik. Kalau yang ini bayar tapi menurutku masih amat terjangkau. Untuk nonton di cinema 3D selama 20 menit harga tiketnya 15k/orang. Nawarin si kicik mau yang mana, PD banget mau nonton 3D, ealah begitu lampu dimatiin dan pakai kacamata malah minta udahan. Wkwkwk ... Ya sudah untung masnya baik kita boleh convert tiketnya buat masuk wahana dunia terbalik.
Master park cinema 3D purwodadi


Dunia terbalik ini harga tiketnya 10K/orang, cuma karena kita kan sudah sempat menikmati cinema 3D yang cuma 5 menitan, jadi its okelah nggak usah kembali. Toh daripada hangus kan ini udah mayan banget, haha ... Terus mas-masnya juga baik banget lagi mau motoin dan ngarahin gaya kita. Nggak banyak sih properti di dalamnya tapi dengan harga segitu, lumayan banget.
Nyantai dulu aaah ...
wkwk ... monmaap mamak petakilan 😂

Selepas itu, kami menyusuri semua sudut master park ini. Ada banyak permainan lainnya kaya kereta mini, ayunan, juga perosotan. Ada mushola dan toilet juga yang kelihatannya bersih. Wah anakku puas banget lah menemukan kolam renang kaya gini.

Baca juga : 5 Taman Bunga Celosia Instagenic di Jogja

Fasilitas lainnya dari hotel ini juga ada danau resto dan danau bernyanyi. Danau bernyanyi sepertinya tempat karaoke kalau danau resto ini ya restoran. Waktu kami datang agak sepi restonya mungkin karena hari kerja kali ya dan bukan jam makan juga.
Restoran danau bernyanyi purwodadi
Sepiii ntah karena menjelang magrib atau bukan waktunya makan, atau emang orang sini lebih suka makan di rumah.

Di Danau Resto ini tempatnya juga cakep, banyak spot foto yang instagrammable. Soal rasa juga biasa, tidak istimewa sesuailah dengan harganya.
Spot foto di danau resto grobogan
Gaya apa sih neng?
Kedalamannya 2m lho ini, kalau bawa anak ke sini harus diawasi betul, ya!

Nah, menurut kalian bagaimana untuk hotel di kawasan pedesaan dengan fasilitas yang manjain anak kaya gitu dan dengan harganya yang segitu? Menurut aku sih uwow banget! Next kalau ke Purwodadi mau aku mah ke sini lagi.