Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

Perjalanan Mengajarkanku ...

Menfaat perjalanan

Sejatinya kehidupan kita adalah sebuah perjalanan. Dari suatu tempat ke tempat berikutnya, dari suatu waktu ke waktu berikutnya. Adakah kita mau mengambil pelajaran darinya?

Waktu yang hilang tak akan terganti. Sedetik berlalu menjadi sebuah pengalaman, pun sedetik ke depan menjadi sebuah misteri. Adalah saat ini yang bisa kita lakukan untuk diri kita, menjadi bahagia dalam taat padaNya.

Mungkin dulu kita pernah salah ambil langkah lalu menyesali keadaan tersebut parahnya rasa sesal itu terbawa sampai saat ini. Padahal rasa sesal itu ibarat batu besar yang terikat pada kaki Elang, sulit terbang tinggi baginya.

Menyesallah bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk mengubah masa depan lebih baik melalui tindakan kita saat ini yang bermanfaat. Memaafkan masa lalu adalah memaafkan diri sendiri, setelah sebelumnya meminta maaf pada Sang Pencipta.

Perjalanan mengajarkanku banyak hal ...


Entahlah, sejatinya perjalanan itu melelahkan namun tetap saja banyak orang yang menikmatinya termasuk aku. Beberapa temanku bilang, "gue suka liburan tapi gak suka packing!" Aku justru sebaliknya. Endorfinku bahkan sudah mengalir sejak aktivitas kemas-kemas.

Di sinilah, perjalanan juga mengajarkanku ketelitian, keteraturan, dan persiapan yang baik. Sebagai seorang melankolis, di mana kerapian sudah menjadi pembawaan, maka tak sulit membuat semuanya lebih ter-organize.

Perjalanan juga tak selamanya mulus, kadang kita dihadapkan pada kondisi menjemukan. Pesawat delayed, makanan tak sesuai selera, toilet penuh, semua mengajarkan kita bagaimana cara bersabar. Karena perjalanan menjadi salah satu waktu terbaik untuk berdoa, maka tahanlah ucapan kecuali yang baik-baik.

Perjalanan juga menjadi ujian keimanan kita. Sebagai muslim yang melancong ke negeri dengan minoritas muslim kadang kita menemui kendala tentang di mana tempat solat, di mana mencari makanan yang halal. Sayang jika kita melakukan perjalanan di bumiNya namun kita lalai dengan hal ini. Maka upayakanlah untuk bisa tetap solat meski jadi tontonan, who knows bisa jadi tuntunan serta upayakanlah yang halal di manapun berada.

Perjalanan juga mengajarkanku arti keajaiban. Bahwa nyatanya jika Allah berkehendak, kita tak harus punya uang untuk berplesir, tak harus bisa bahasa Inggris untuk ke luar negeri. Namun demkian, bukan berarti kita mengabaikan usaha. Terkadang pikiran-pikiran kita sendiri yang membatasi kemampuan kita. Perasaan merasa tak punya daya atau tak pantas adalah benteng yang menahan tatapan kita akan dunia luar. Cobalah untuk membuat hidup kita lebih sederhana, simplify your life. Merasa cukup dan bersyukur dengan yang ada.

Perjalanan mampu menambah wawasan kita, membuka cakrawala, menerangi hati dan membahagiakan. Mendatangi tempat yang baru, bertemu penduduk lokal, melihat bangunan unik nan bersejarah, juga memahami kebudayaan setempat menjadi ilmu pengetahuan baru buat kita.

Perjalanan juga mengajarkanku hikmah kehidupan, bahwa nyatanya nafsu itu ya hanya sesaat. Katakan saja kita hendak ke Paris, satu hal yang tak boleh lupa tentu saja berfoto di depan Menara Eiffel. Berapa lama kita berada di menara Eiffel? Buat yang ikut paket tour pasti tahu banget, satu jam berada di sana juga sudah bagus banget. See? Perbandingan antara lamanya perjalanan yang ditempuh dengan kenikmatan memandang eiffel sangat berbeda jauh.

Perjalanan pun mengajarkanku arti berjuang, beradaptasi, menghargai, sekaligus mensyukuri semua yang kita lalui.

Dan melalui perjalanan, aku menyadari betapa kecilnya diri ini. Sedikit melongok dari ketinggian melalui kaca jendela pesawat, betapa manusia, mobil, bahkan gedung pencakar langit sekalipun tak ubahnya seperti mainan. Demikian juga ketika kita di bawah memandang langit nan luas, maka pesawat yang melintas pun tak ubahnya seperti lalat yang terbang. Patutkah kita sombong? Semoga setiap perjalanan menjadikan kita lebih tawadhu. 


Perjalanan nyatanya banyak memberikan kita pelajaran. Dan melalui inilah kita benar-benar belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya bahwa kita harus tetap, bergerak, harus tetap mengayuh agar tak jatuh.

Perjalanan tak harus jauh pun tak harus mahal. Sekadar berjalan menyusuri taman dekat rumah, berkunjung ke rumah orang tua, menginap di penginapan dalam/luar kota, hingga sekadar menyicipi kuliner nusantara atau mancanegara sudah bisa memberikan kita banyak pelajaran.

Lakunkanlah perjalanan karena ia akan memberikanmu pengalaman-pengalaman baru dan berbeda, meski dengan orang dan tempat yang sama. Tidak percaya? Cobalah!


Diary #UmrohBackpacker Part 4: City Tour Madinah; Masjid Quba, Kebun Kurma, Jabal Uhud

City tour Madinah

Madinah, 13 Maret 2019

Sudah baca part-2 tentang solat di pelataran Masjid Nabawi dan part-3 tentang ziarah ke makam Rasulullah Saw di Raudhah? Kalau belum boleh mampir dulu. Kalau sudah cus lanjut.

Tanpa terasa, fajar pun menyingsing. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Padahal hari itu kami ada jadwal city tour dan diharapkan semua sudah siap berangkat pukul 07.30.

Huwaaah, satu jam untuk makan dan bebersih, cukupkah? Yah, gitu deh ... Hihi ... Setelah melakukan ini itu akhirnya kami baru siap berangkat jam 08.30. Telaaat deh. Agaknya Madinah dan Makkah mulai disiplin soal waktu. Sekarang bus-bus itu nggak boleh ngetem, jadi kalau lama dikiiit aja, bus mereka itu difoto oleh polisi sana kemudian kena denda. Makanya supir busnya bete kalau kita telat atau lama movingnya.

Masjid Quba

Destinasi yang pertama kami kunjungi adalah Masjid Quba. Dalam perjalanan ini sang muthawwif memberikan tausiyah singkat. Sambil mendengarkan, saya buka tirai jendela bus. Ternyata menyenangkan ya menyimak ceramah sambil melihat suasana kota.

Baiklah, Masjid Quba ini merupakan masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah Saw bersama para sahabatnya ketika tiba di Madinah. Sebaiknya berwudhulah sebelum mengunjungi masjid ini karena pahalanya begitu besar.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumahnya. kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, baginya sama dengan pahala umrah.'' (Sunan Ibn Majah no. 1412). 

Dari balik jendela saya perhatikan banyak burung yang berterbangan. Udaranya sejuk meski sinar matahari sedikit menyilaukan. Bulan Maret-April agaknya memang menjadi waktu yang menyenangkan untuk ibadah umroh. Cuacanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia bahkan di Madinah lebih sejuk pada pagi dan malam hari.

Akhirnya kami sampai, ternyata tidak begitu jauh dari penginapan kami di Movenpick, hanya sekitar 15 menit dengan bus, kami sudah tiba di Masjid Quba. Tausiyah singkat dari Pak Ustadz pun berakhir. Rupanya lokasi parkir bus kami agak jauh dengan Masjid Quba.

Kami tiba dari sisi samping Masjid Quba. Tampak dua bangunan, yang satu bangunan utama, yang satunya lagi di seberangnya tempat belajar mengajar. Dulu waktu umroh yang pertama kali, saya solat di bangunan utama Masjid Quba, di sana agak ramai. Sementara yang kali ini saya disarankan untuk solat di bangunan seberangnya, suasananya lebih tenang, sehingga insya Allah bisa lebih khusyuk beribadah. Muthawwif kami bilang sama saja kok, karena masih bagian dari Masjid Quba.

Di pelataran parkir banyak pedagang yang menjual aneka makanan maupun oleh-oleh khas dari Arab Saudi. Tidak lama kami di sini, seusai solat, berfoto sejenak, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kurma.


Kebun Kurma

Ini menjadi destinasi kedua kami. Tidak terlalu jauh juga dari Masjid Quba, sekitar 15 menit dengan bus kami sudah sampai. Lalu saya teringat 5 tahun silam, membeli kurma Ajwa di sini dengan kualitas yang kurang baik. Jadi karena saya dan suami nggak pandai memilih, jadi kami serahkan pada si penjual. Ealah, ternyata kurma Ajwa yang kami beli kering banget bahkan sampai sulit dimakan.

Jadi kunjungan kali ini kami tidak membeli kurma di sini lantaran kuapok dengan pengalaman yang lalu, wkwkwk. Terus nggak beli kurma gitu? Tetep beli dong, tapi nggak di situ, belinya di Makkah di Siafa, lokasinya di kios lantai dasar Zam-Zam Tower. Kurma Ajwanya di Siafa ini enak, segar, dan manisnya pas.

Sekarang di kebun kurma kami justru membeli buah tin dan aprikot kering. Harganya sekitar 10-15 riyal perbungkus. Saya memang menyukai buah kering, selain tekstur dan rasa, khasiatnya juga banyak.

Kebun kurma ini sangat luas. Saya dan rombongan kemudian menikmati duduk-duduk santai di bawah pohon kurma. Cuaca panas seketika terhalau oleh barisan pohon kurma. Sambil menikmati frozen ruthab (kurma muda), "maka nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan?"


Oya, rasa Ruthab frozen ini enak banget menurut saya. Apalagi saat cuaca panas makan yang segar dingin itu jadi bikin on lagi. Ruthab frozen ini crunchy, manis, dan pastinya dingin, hati-hati yang giginya sensitif. Ruthab frozen ini nggak bisa dibuat oleh-oleh karena tak tahan lama karena kan harus frozen, kalau tidak jadinya rusak.

Tidak lama di kebun kurma kami segera menuju destinasi selanjutnya yaitu Jabal Uhud.

Jabal Uhud

Ini menjadi destinasi ketiga di city tour kami kali ini. Jabal Uhud termasuk bukit yang istimewa karena dijanjikan kelak menjadi salah satu bukit yang ada di surga.
Nabi SAW bersabda, ‘Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga’, (HR Bukhari).
Jabal Uhud ini merupakan saksi bisu dari perang uhud yang menewaskan 70 syuhada. Para syuhada tersebut kemudian dimakamkan di sekitar Jabal Uhud.

Menurut penuturan sang mithawwif, dulu waktu terjadi banjir, kondisi makam rusak berat sehingga ada rencana untuk memindahkan makam. Namun ternyata meski sudah lebih dari 40 tahun dalam kubur, jasad para syuhada masih baik dan segar, seperti baru saja meninggal. Akhirnya tak jadi dipindahkan. Kini kompleks makam dikelilingi oleh pagar berjeruji dengan tinggi sekitar 3 meter.

Bus kami sudah terparkir rapi. Sang muthawwif menanyakan "apakah ada yang ingin turun?" Duuh, meski sudah pernah tapi kok rasanya sayang ya kalau gak turun.

Ya sudah beberapa di antara kami turun, sebagian menaiki bukit, sebagian menunbhu di bawah, salah satunya saya. Ternyata oh ternyata si anak minta naik, huwaah baiklah mamak pun akhirnya naik.

Jangan lupa berdoa untuk para syuhada. Dulu Nabi Muhammad Saw hampir tiap tahun berziarah ke sini dan kebiasaan ini diteruskan oleh para sahabatnya setelah beiiau wafat.

Selain berziarah banyak orang berfoto dan mendaki bukit. Di sana tidak sedikit orang yang berniat bantu memotretkan kita, cuma hati-hati kadang ada yang meminta bayaran. Jadi saran saya kalau mau meminta tolong difotokan, mintalah pada jamaah Indonesia insya Allah mereka bersedia dan nggak pamrih. Kalau ketemu orang Timur Tengah dan niat mau memfotokan bilang saja "La" artinya nggak.

Pelataran Jabal Uhud ini cukup luas, banyak para pedagang yang berjualan. Harganya tidak begitu mahal, suami saya beli kopiah di sini harganya 2 real sementara ibu mertua saya membeli aprikot kering harganya 10 real. Huhu padahal si aprikot ini saya beli di kebun kurma harganya 15 real.

Usai berfoto kami segera kembali ke bus, tapiiiiii duuh namanya juga anak-anak ya lihat aja ada tukang eskrim mangkal, qiqiqi. Kami akhirnya membeli es krim rasa vanilla dan coklat harganya sekitar 5 real kalau tidak salah. Tapi gakpapalah anggap aja hadiah buat si anak yang sudah sangat baik dalam perjalanan ini.

Hmm ... enak, segar, dan dijamin halal. Sambil menunggu kembalian, sesekali kami menikmati es krim tapi bukan contoh yang baik makan sambil berdiri, kami segera menuju bus supaya nggak cepat mencair dan bisa makan es krim sambil duduk, which is ini salah satu sunnah rasul.


Hari sudah semakin siang, kita mengejar agar bisa salat zuhur berjamaah di Nabawi. Alhamdulillah jam 12 kurang kami sudah tiba di hotel, istirahat sejenak kemudian berangkat ke masjid.

Ini hanyalah sebuah catatan tentang kota Madinah dan apa yang ada "didalamnya". Semoga perjalanan ini bisa membangkitkan ghirah islam kita. Jadi rindu lagi kan ... Semoga Allah Swt memudahkan kita semua beribadah kedua kota suci Makkah dan Madinah baik untuk umrah maupun haji. Aamiin.

Diary #UmrohBackpacker Part 3; Pengalaman ke Raudhah Malam Hari

Masuk dari pintu 25
Menunggu antrean ke Raudhah.


"Hmm ... punya kerudung hitam nggak?"

Pause dulu ...

Sudah baca cerita Part 2 kemarin tentang pengalaman religi saat di Masjid Nabawi? Kalau belum klik dulu linknya ya. Jadi, tahukan bagaimana kemarin saya ketar-ketir menanti haid bersih?

Long story short, alhamdulillah pas banget menjelang magrib saya sudah bersih ini artinya saya berkesempatan ikut ke Raudhah.

Memang esoknya nggak bisa? Bisa sih jam-jam sholat duha, cuma rasanya riweh aja karena harus persiapan untuk umroh. Enaknya kan hari itu istirahat, karena perjalanan Madinah-Makkah cukup panjang juga sekitar 5 jam-an.

Oke, lanjut! Jadi saya dapat info dari suami, kata muthawwifnya (pemimbing laki-laki) yang mau ikut ke Raudhah malam ini, setelah solat magrib langsung balik ke hotel untuk makan malam. Kalau sudah, nanti langsung saja ketemuan sama muthawwifahnya (pembimbing perempuan) di lobby, kemudian berangkat bareng untuk solat isya dan lanjut ke Raudhah.

Selepas solat magrib dengan masih bermukena ria saya makan malam karena memang niatnya mau mukenaan aja biar gampang solatnya dan pengen ngirit baju juga tepatnya, qiqiqi...

The flash! Gak pake lama pokoknya, saya bersama dua adik ipar selepas makan malam langsung cus ke lobby yang kami juga aselik bingung banget di hotel ini musti naik lift yang mana. Soalnya di bawahnya itu nyatu dengan mall dan lumayan gede gitu deh.

#dramakesatu

Singkat cerita, kami keluar dari lift, muter ... muter ... muter ... nyari lobby nggak ketemu juga, akhirnya kami memutuskan keluar dari hotel supaya jelas mana pintu utamanya. Ealah ternyata masih mayan jauh tapi setidaknya lebih mudah mengetahui mana sisi depannya. Nah itu! Baru deh terlihat pintu utamanya, wkwkwk... Udah olahraga duluan, it's ok!

Setibanya di lobby, saya sih lihat ada seorang wanita bertubuh tambun dan berpakaian hitam-hitam berdiri tak jauh dari pintu lobby, tapi kami berlalu begitu saja karena yang kami kenal ya muthawwifnya.

Nggak lama, muthawwif kami datang dan memperkenalkan si muthawwifah yang ternyata wanita yang tadi saya lihat. Beliaulah yang nanti akan menemani kami di Raudhah. Si muthawwif pamit, akhirnya tinggal kami ber-empat.

#dramakedua

"Hmm ... pada pake mukena ya? Punya kerudung hitam gak? tanya si muthawwifah.
"Ada sih, tapi di kamar. Memang kenapa?" tanya saya.
"Soalnya penjaga di sana agak-agak sensi sama jamaah kita." jawab si muthawwifah.
"Hmm ..." kami bertiga mengangguk-angguk dan saling melempar pandangan.
"Eh tapi kalau repot gak usah deh" ujar si muthawwifah.
"Gimana nih ... gimana nih?" Kami kemudian saling bertanya-tanya.

Yoweslah, kami ikuti saran si muthawwifah. Meski PR banget balik ke kamar hotel, bukan soal jauhnya, tapi lewat mananya itu yang bikin bingung. Dan si muthawwifah ini nggak mau kami ajak ketemuan di gate 15, maunya di depan pintu lift, huhuu... padahal buat kami lebih mudah ketemuan di gate 15. Baiklah, semangat!!!

#dramaketiga

"Lho kok nggak bisa dibuka pintunya?"
Drama ketiga, pintu kamar hotel kami nggak bisa dibuka, mana lagi buru-buru.
"Coba ... coba kunci yang lain" ujar salah satu di antara kita.
"Duh, nggak mau juga"
Coba lagi kartu yang lain, nggak bisa juga. Ya Allah, 3 kartu dan semuanya nggak bisa.
Istigfar, basmalah, semua kami ucapkan.
"Telpon ... Telpon" maksudnya telpon para cowo supaya cepat datang. Syukurnya kamar kami itu connecting jadi bisa masuk dari kamar sebelahnya.

Alhamdulillah ... pertolongan Allah datang, pucuk dicinta ulam tiba. Saya lihat suami, anak, dan yang lainnya muncul dari kejauhan.

"Cepetaaaan" heboh deh langsung minta kunci, masuk kamar dan kami bergegas ganti outfit. Akhirnya kami sekalian saja pakai gamis dan kerudung hitam. Selesai! Cus berangkat. Huhuhuu padahal itu gamis mau dipakai besok buat umroh.

Inna ma'al usri yusro

"Ting tung" suara lift berbunyi pertanda kami sudah sampai lantai yang dituju. Selepas tiga drama tadi, sekarang kami merasa diberi banyak kemudahan. Keluar dari lift, seorang wanita melambai-lambai dari kejauhan. Nah itu dia muthawwifahnya. Alhamdulillah nggak pake nyasar.

Sambil berjalan menuju masjid ia memberi briefing. Kita jalan gandengan berdua-berdua ya, menuju pintu 25.

Saya bergandengan dengan sang muthawwifah, dengan langkah agak cepat karena memang sudah adzan isya, ia juga bercerita sedikit. "Saya juga heran jamaah kita itu suka "dikalahkan", yah bisa sih kalau mau lowong, tapi nunggu sampai jam 2 pagi setelah semuanya selesai."

Lalu saya ingat pengalaman umroh 5 tahun lalu, ke Raudhah di jam solat dhuha sekitar jam 9-10 gitu deh, suasana ramai, dan mereka para penjaganya itu lebih mendahulukan orang-orang Timur Tengah yang badannya tinggi-tinggi gitu. Sebetulnya ada baiknya juga, karena kan postur wanita asia ya memang begini, jadi lebih pada faktor keamanan juga.

Lanjut cerita yang tadi ya, kalau malam itu semua dicampur dari wilayah negara mana pun. Nah jadi ini yang perlu strategi. Salah satu adik ipar saya sudah ke Raudhah malam sebelumnya dengan rombongan besar dan dengan muthawiffah yang berbeda.

Katanya sih ia salah strategi #tsyahbahasanya, jadi dia itu pas nunggu memang masuk dari pintu 25, tapi teruuuus menuju barisan paling depan dan berdiri lama. Padahal sekat yang dibuka menuju Raudhah itu bukan yang di depan melainkan di samping. Jadi walaupun sudah paling depan, tetap saja gak jadi duluan karena salah tempat menunggu.

Nah kalau saya kemarin, selepas solat isya, mulai mendekat dan terus masuk. Solat jenazahnya? Ya saat takbir di mana posisi kami saat itu ya solat saja, karena kan tak perlu rukuk dan sujud yang penting ada shafnya. Setelah itu kami terus maju sampai ke titik yang sejurus dengan sekat samping. Kami duduk menunggu hingga sekat itu di buka. Selagi menunggu kita bisa berdzikir, mengaji, atau berdoa. Biasanya kan kalau jamaah umroh Indonesia dapat buka panduan kecil gitu ya, nah itu bisa dibaca-baca.

Sekitar satu jam kemudian suasana semakin ramai, ternyata sekat menuju Raudhah akan dibuka. Kami siap-siap berdiri dan bergandengan dua-dua. Saat menuju sekat tersebut, muthawwifah kami agaknya sedikit kesal lantaran ada rombongan jamaah dari Indonesia yang berpegangan tangan panjang sekali hingga mengular, akibatnya seorang ibu hampir terjatuh karena ditarik-tarik oleh rombongannya. Nah, mungkin ini lah ya kenapa muthawwifah saya menyarankan gandengannya berdua-dua.

Sekat pun dibuka. Kami semua berlarian menuju Raudhah berharap cepat mendapat tempat di depan agar bisa solat. Situasinya sangat padat dan berdesakan.

Istigfar, solawat, terus saya lantunkan, memohon kemudahan. Muthawwifah saya ini sangat sigap dengan tubuh tambunnya ia menahan gelombang desakan dari jemaah lain agar saya tak terjepit. Ya Allah, mata saya berkaca-kaca lagi membayangkan suasana kala itu.

Rinduuuu....

Air mata saya tak terbendung lagi, nangiiiis sejadi-jadinya. Bukan karena sakit terdesak-desak tapi lebih karena terharu dan bersyukur. Ya Allah, makasiiih banget udah dikasih kesempatan lagi bisa ke makam Nabi. Berharap sangat akan syafaat dari Rasululloh Saw kelak di yaumul akhir. Semoga kelak kita termasuk umat yang dikenali oleh beliau dan mendapat syafaatnya ya atas izin Allah Swt. Aamiin

Setelah melalui perjuangan saling desak, akhirnya bisa juga saya sampai depan dan solat di karpet hijau. Iya di Raudhah. Begitu tenang tak ada desak-desak. Muthawwifah saya menyarankan solat sunah dua rokaat saja, gantian dengan yang lain. Saya pun mengikuti sarannya, solat sunah mutlak dan berdoa panjang di sujud terakhir. Kemudian sedikit mundur dan memberi kesempatan yang lain untuk solat. 

Beberapa jamaah justru tampak mengusap-usap dinding/sekat makam. Ini tak boleh, ya! Mereka yang melakukan ini pun dimarahi oleh askarnya, karena memang tak ada keberkahan pada dinding tersebut. Hati-hati mengharap keberkahan pada suatu benda jatuhnya bisa menjadi syirik. Yang benar adalah solat menghadap kiblat, berdoa, dan perbanyak sholawat.  

Sebelum keluar Raudhah kami berdoa sejenak untuk para sahabat juga. Ada makam sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq serta sayyidina Umar bin Khattab. Perjalanan keluar dari Raudhah lebih mudah dan lebih tenang. Sekitar Pukul 10.15 malam kami sudah selesai ziarah dari makam Nabi. Alhamdulillah, banyak kemudahan setelah tiga drama di awal tadi. Tanpa pakai lama
Hari semakin malam dan tetap ramai orang di masjid ini. Kami menikmati sebentar suasana malam di Madinah. Indaaaah sekali, bermandikan cahaya dari pijaran lampu di masjid, hotel,serta pertokoan. Kota Nabi kini semakin modern, demi kemudahan transaksi sudah banyak tersedia mesin atm di sekitar masjid. Pun para jamaah yang ingin keliling Madinah bisa menumpak hop on hop off bus.

Bus malam di madinah
Saya tidak mencoba, jadi tak ada reviewnya ya...


Mengapa sih Raudhah ini begitu berarti?


Ya, ini merupakan tempat yang istimewa di Masjid Nabawi. Posisinya terletak di antara rumah Rasululloh Saw dan mimbar tempat beliau berkhutbah. Kalau kita lihat dari luar, rumah Nabi yang kini menjadi makam beliau dapat dikenali dari kubah yang berwarna hijau. Begitu pun dengan kondisi di dalam Raudhah dapat dikenali dari karpetnnya yang berwarna hijau.

Dulu Raudhah letaknya di luar halaman Masjid Nabawi namun seiring dengan perluasan akhirnya Raudhah ini berada di dalam Masjid Nabawi. Beberapa hadis menyatakan bahwa Raudhah termasuk dalam taman-taman surga.

"Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga." (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Dulu, Rasulullah SAW melakukan ibadah, memimpin salat, menerima wahyu ya di tempat ini, di Raudhah. Dan kini banyak orang berdatangan ke sini selain karena cinta pada sang suritauladan, juga karena ini merupakan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Di dunia, inilah posisi di mana kita begitu dekat dengan sang Baginda. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad, Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad.

Tips bagi wanita yang ingin ke Raudhah:

1. Gunakan outfit serba hitam
Kalau tadi baca ceritanya, pasti tahu ya alasannya. Selain itu, warna putih itu sebetulnya rawan, maksudnya rawan menerawang bila terkena cahaya ataupun lampu. 
2. Masuk dari pintu 25
3. Carilah posisi yang sejurus dengan sekat (dinding plastik berwarna putih). Jangan terlalu depan saat menunggu karena yang dibuka sekatnya adalah yang sisi samping.
4. Perbanyaklah berdoa dan bersholawat.
5. Bila mudah haus, boleh bawa air minum karena agak lama menunggunya.
6. Pahami waktu yang ditentukan bagi wanita untuk mengunjungi Raudhah, yaitu pagi, selepas zuhur, dan setelah isya.
7. Jangan mendesak/menyakiti orang lain kecuali bila kita didesak duluan, boleh mempertahankan diri.
8. Sebaiknya jangan dalam kondisi lapar, karena cukup menyita energi juga.

Kalau yang bawa anak kecil? Sepanjang saya ke sana sih belum pernah lihat ada anak kecil. Saya pun memilih tidak mengajak anak karena selain sudah malam juga kondisinya yang padat.

Hindari kesalahan-kesalahan ini di Raudhah

1. Tidak boleh campur baur antara perempuan dan laki-laki. Masjid Nabawi ini saya lihat sangat tertib, termasuk ada jam khusus serta pintu khusus bagi wanita.

2. Tidak boleh "Ngalap berkah" dengan mengusap-usap dinding atau cara lainnya. Ini yang pernah saya lihat dan sontak dilarang dan dimarahi oleh Askar. Tujuan kita itu beribadah kepada Allah Swt, bukan mencari keberkahan dari yang lain. Hati-hati ya, meyakini suatu benda dapat mendatangkan berkah jatuhnya malah syirik.

Saya rasa sekian dulu tjurhatan tentang Raudhah. Maaf ya tidak bisa foto-foto di Raudhah, bukan apa-apa riweh sama diri sendiri euy, heuheu ... Semoga bermanfaat dan terus ikuti perjalanan umroh backpacker rasa koper kami ya di part-part selanjutnya. 
Tips ke Raudhah saat malam
Sekitar jam 10 .15 malam. 


Wasaalamualaikum.

8 Tips Agar Anak Tak Cranky Saat Liburan

Liburan dan anak cranky? Eleuuh, PR banget ya ... Butuh kesabaran yang berlapis-lapis kayanya. Sabar dengan diri sendiri juga sabar sama sikap anak yang lagi cranky.
Libura bersama anak repot tidak ya

Bicara soal sabar, jangankan anak-anak orang dewasa pun perlu belajar banyak. Traveling adalah kegiatan yang menyita energi selain biaya dan waktu tentunya, hihii ...

Namun begitu meski harus menempuh perjalanan yang jauh, bahkan biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit, orang-orang tetap menyukai traveling. Bahkan kini bukan sekadar gaya hidup tapi sudah menjadi kebutuhan (bagi sebagian orang).

Banyak hal tak terduga yang mungkin saja terjadi selama perjalanan. Bila naik pesawat, bisa jadi delayed, yang naik mobil mungkin AC mati atau ban kempes. Selama liburannya sendiri bisa jadi objek wisata yang dituju malah penuh sesak, makanannya tidak sesuai dengan selera. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Kita yang dewasa mungkin bisa tahan alias sabar, namun yang anak-anak menghadapi ini semua rasanya sangat melelahkan. Anak-anak itu agaknya pantang merasa bosan, karena ketika bosan biasanya mereka akan mencari gadget sebagai jalan keluar (kebanyakan).

Untuk seorang anak apalagi yang masih balita sebetulnya mereka tak paham arti berlibur, apa lagi hanya melihat-lihat keindahan kota. Percaya deh, keindahan yang paling hqq buat seorang anak kecil adalah melihat bundanya.

Liburan anti-cranky bersama anak 


Namun karena sesuatu hal kadang kita perlu mengajak anak saat traveling. Lalu, bagaimana membuat anak agar tak-cranky alias bisa bersabar dengan kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi selama perjalanan:


1. Briefing

Bagi anak itu mendatangi tempat baru, sensasinya sama kaya kita kalau mau tampil di depan presiden, perlu briefing. Nanti tampil setelah siapa, bicaranya berapa lama, siapa saja yang perlu disebut dalam sambutan, berpakaiannya harus bagaimana.

Briefing yang tepat dapat memberikan imajinasi juga persiapan mental pada diri anak. Sebutkan saja kemungkinan yang bisa terjadi namun dengan bahasa yang bisa menguatkannya.

Seperti saat pengalamaan umroh kami kemarin, sebelumnya saya katakan padanya, "Nanti kemungkinan kita akan begadang atau tidak tidur sepanjang malam karena harus ibadah, makanya kalau sore ada kesempatan tidur, Alin tidur ya, biar tetap sehat dan kuat".

Kita bisa tambahkan juga, "malam-malam langitnya bagus, lho. Kalau cerah nanti bisa lihat bintang-bintang."

Alhamdulillah selama perjalanan ibadah kemarin si anak tidak rewel meski berlangsung sepanjang malam. Dan ia bisa ikut tidur pula pagi harinya.

2. Temani bermain

Menjaga emosi anak tetap stabil selama perjalanan apalagi yang monoton baginya bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila kita termasuk orangtua yang menerapkan no-gadget. Kalau saya sendiri baru tahap meminimalisir-gadget aja sih, heuheuu...

Nah, untuk menjaga suasana hatinya agar tetap riang, kita perlu berkorban menemaninya bermain. Apa jenis permainannya? Kalau saya kemarin ABC 5 Dasar, suit jepang, tebak-tebakan, muka jelek, wkwk sampai motret anggota keluarganya. Bisa juga sebetulnya bermain peran.

Saran saya sih kalau masih kecil bawakan activity book aja, misal buku mewarnai, stiker tempel-tempel, alat tulis.

3. Menyediakan camilan

Kadang kan kita lelah juga ya dan butuh istirahat saat perjalanan. Nah, kalau saya siapkan camilan kesukaannya, yah cheating sedikit saat liburan masih ditolerirlah, hihi... Kita bisa sediakan biskuit, wafer, vitamin kunyah, atau coklat.

Biasanya saat ngemil begini, hati anak sedang lembut, kita bisa sekalian ajarkan tentang berbagi.

4. Bercerita

Bagi tipe anak auditorik, mendengarkan cerita bisa jadi hal yang menyenangkan. Nah membawa buku cerita juga bisa jadi pilihan. Nanti kita bisa meminta ia kembali menceritakan apa isi bukunya.

Bila ia tak mau? Kita bisa pancing, misalnya dengan membuat cerita yang tidak sesuai dengan cerita tadi.


5. Membaca hikmah dibalik peristiwa

Buat kita para orangtua, coba deh lebih peka terhadap peristiwa apapun yang terjadi di sekitar kita selama perjalanan. Misal ada truk yang terjeblos ke parit, kita bisa sampaikan hati-hati dalam berkendara, kalau mengantuk sebaiknya tidur. Lalu kita sambungkan dengan aktivitanya, adek kalau mengantuk juga tidur ya meski lagi asyik bermain. Ga mau kan mainannya hilang, karena salah lihat, mainannya dikira sampah jadi taruhnya di tong sampah.

Kalau pengalaman saya kemarin bisa baca di sini, bagaimana ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan setelah sebelumnya "terusir", hihi ...

6. Beri pujian pada prosesnya

Kita jangan harapkan anak bisa se-nice kita saat mengikuti perjalanan orang dewasa. Ketika ia sudah mau makan setengah porsi dari biasanya, pujilah ia sudah mau memakannya. Ketika ia sudah mau ikut solat meski masih goyang sana-sini pujilah usahanya. Ketika ia mules, sudah jongkok dan pupnya belum keluar, pujilah bahwa ia sudah mau mencoba (ini PR saya bangeeet).

Memberi pujian sesuai porsinya akan membuat anak merasa diapresiasi dan percaya diri, sehingga ia mau mencoba dan tak khawatir bila belum berhasil.

7. Ajarkan anak mengungkapkan isi hatinya

Alhamdulillah selama kami liburan bersama, anak saya begitu menyenangkan meski harus berjalan jauh menyusuri sudut kota saat kami di Perth, tidak tidur semalaman saat umroh, menahan cuaca dingin saat di Bromo, dan lainnya.

Itu semua tak lepas karena kemudahan dari Allah dan saya beserta suami juga kerap mengajaknya bicara. Kami ajarkan bagaimana ia mengungkapkan isi hatinya. Bila mengantuk katakan mengantuk, bila lapar katakan lapar, bila capek katakan capek.

Kami jelaskan bahwa marah-marah malah akan membuat kita tidak dapat apa-apa. Kalau tidak bilang, orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan. Misalnya mau permen karena tidak bilang jadi tidak beli karena tidak tahu.

8. Berikan hadiah sewajarnya

Selain pujian, hadiah juga bisa kita berikan. Nah reward ini adalah bentuk penghargaan buat anak karena sudah begitu menyenangkan atau setidaknya sudah mau berusaha melakukan sesuatu yang menurut kita baik.

Sekadar es krim, sebuah permen atau coklat kesukaannya agaknya sudah menjadi reward yang berkesan buat anak. Hmm mungkin tergantung usia anaknya juga kali ya... Anak saya sih masih 5 tahunan so far masih bisa dengan cara ini.

Nah, Demikianlah hal-hal yang bisa kita lakukan agar anak tak cranky dan tetap menyenangkan selama liburan.

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman juga saat liburan bersama anak? Share yuks...

Diary #UmrohBackpacker Part2: Ketika Ucapan Kontan Terijabah di Masjid Nabawi

Pengalaman solat di masjid Nabawi

Assalamualaikum ...

Lihat deh foto itu, langitnya indah, bersih dan gradasinya cantik berwarna lembayung . Ini saat fajar, usai kami melaksanakan solat subuh berjamaah. Itu baru sepenggal keindahan yang menghiasi langit Madinah. Sebelum membaca part-2 ini jangan lupa baca part-1nya juga ya tentang perjalanan Jeddah-Madinah. Sebetulnya kali ini inginnya membahas tentang Madinah dulu biar runut, tapi saya nggak bisa tahan mau bicara tentang Masjid Nabawi dan Raudhah juga. Hihihi ... maklum saking belum bisa move on-nya.

Saya sedih, selama 3 hari 2 malam di Madinah, saya nge-flek sisa haid selama 2 harian. Jadilah hanya bisa menatap keindahan Masjid Nabawi dari balik jendela kamar. Flek saya ini di luar kebiasaan banget, biasanya haid saya itu 7 hari selesai, ini sudah hampir 10 hari belum usai juga dan terus flek 3 hari belakangan. Ketar-ketir? Jelas, soalnya dari tiga hari di Madinah hampir 2 harinya berlalu begitu saja sementara keesokan harinya sudah harus cek-out menuju Makkah untuk umroh.
Kamar Movenpick menghadap Masjid Nabawi
Haram View

Lalu saya teringat nasihat salah satu guru untuk membaca Quran surat Al Baqarah. Saya bertekad tuh setelah makan siang mau khatamin surat Al Baqarah. Alhamdulillah dikasih kemudahan, si anak mau bermain sama ayahnya dulu. Siang itu sambil berbaring saya mendengarkan murrotalnya hingga selesai dan memohon ampun, Alhamdulillah atas izin Allah Swt, menjelang magrib saya sudah bersih.  It means saya bisa ikut ke Raudhoh malam hari dan umroh keesokan harinya. Ini semua tak lepas doa dari orang-orang tersayang yang memohon agar saya bisa segera solat.

Sebelum bahas tentang Raudhoh saya mau berbagi cerita saja soal Masjid Nabawi. Masjid ini begitu istimewa karena di dalamnya juga ada makam orang paling mulia di dunia yaitu Rasululloh Saw serta  makam para sahabatnya. 

Bagi umat muslim masjid ini begitu berarti, bagaimana tidak bahkan ganjaran pahala solat di dalamnya adalah 1000 kali lebih besar dari masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya menyukai Masjid ini, mau datang saat fajar maupun senja, mau saat terang maupun gelap gulita selalu indah dan syahdu.

Jarak antara penginapan kami di Movenpick dengan Masjid Nabawi begitu dekat. Kami masuk  ke masjid ini melalui pintu gerbang 15. Pelatarannya luas dan berhiaskan payung-payung nan indah. Dulu seingat saya payung ini kerap menutup saat menjelang magrib. Namun kali ini saya belum sekalipun melihat payung yang menanungi pelataran Masjid Nabawi ini tertutup. 

Menurut saya, suasana di Masjid Nabawi ini lebih damai, tenang, dan teratur ketimbang di Masjidil Haram. Meski solat di pelataran, namun jelas wilayah untuk jamaah perempuan dan untuk jamaah laki-laki. Sedangkan kalau di Masjidil Haram, kadang kalau solat di pelatarannya hanya terpisah sedikit jaraknya antara jamaah perempuan dan laki-laki.

Bila ingin solat di dalam Masjid, baiknya sedia kantong plastik untuk menaruh sendal/sepatu. Sebetulnya ada rak untuk alas kaki di dekat pintu masuk, namun ini pilihan sih, kalau saya prefer membawa kantong plastik sendiri agar sendalnya bisa diletakkan di dekat kita nantinya.

Sebelum masuk ke dalam masjid, barang bawaan kita akan diperiksa oleh para askar. Kalau dulu katanya tidak boleh bawa ponsel berkamera, makanya dulu saya suka letakkan di dalam Alquran. Kalau sekarang agaknya lebih kendur, paling yang tidak boleh itu membawa barang belanjaan, mungkin khawatir mengotori masjid kali ya.
Solat di masjid nabawi pahalanya 1000x lipat
Nah, dekat pintu masuk yang di belakang itu ada rak sepatu. 

Askar di Masjid Nabawi kata orang-orang lebih ketat, kalau menurut saya? Hmm sama saja sih dengan yang di Masjidil Haram. Beberapa kali saya "diusir" agar solatnya tidak di dalam. Hihi ... Kenapa? Entah karena memang saya yang sudah membatin kalau bawa anak tidak bisa solat di dalam atau ya memang murni mentaati aturan bahwa orang tua dengan anak kecil solatnya di lapis kedua.  Tidak bisa masuk banget hingga ke dalam. 

Bagi saya di sisi manapun selama di dalam Masjid Nabawi, semuanya indah. Dalamnya megah, arsitektur interiornya kental dengan nuansa Arabian. Banyak pilar nan kokoh di mana di bagian bawahnya terdapat pendingin ruangan serta kumpulan Alquran dari para pewakaf. Kadang ada juga rak sepatu dekat tiang tersebut. 

Lengkungan yang menghubungkan dua pilar di dekatnya khas bergaya Timur Tengah dengan warna abu-abu dan krem yang berselang-seling. Entah berapa banyak jumlahnya, saya hanya bisa berdecak kagum. Tampak pula kaligrafi asma Allah di dinding-dindingnya yang sangat jelas terlihat, sebab pancaran ratusan lampu yang terang benderang. Warna lampunya bukan putih menyilaukan juga bukan kuning yang membuat mata lelah, namun di anatara keduanya yang memberi suasana damai dan nyaman untuk berlama-lama di dalamnya. Tak hanya itu kemewahan juga tampak dari lampu gantungnya dengan warna dominan emas.
Ademnya suasana masjid nabawi
Keindahan interior Masjid Nabawi

Kubah di Masjid Nabawi ini juga bisa terbuka dengan cara bergeser. Jadi desain Masjid ini sangat apik termasuk soal sirkulasi udara. Kapan bergesernya? Dulu sih saya melihatnya pagi di jam-jamnya solat dhuha. Maka cobalah saat di sini, jelajahi keindahannya ke seluruh sisinya. Mungkin pegal, mungkin lelah karena memang sangat luas, tapi percayalah ini akan menambah rasa cinta kita pada Allah Swt, Rasululloh Saw, juga pada masjid ini.

Kalau dulu saat umroh pertama, ketika ke masjid tak pernah lupa mukena dan sajadah, di umroh kali ini saya justru lebih sering menanggalkan keduanya. Maksudnya saya lebih suka mengenakan gamis, jilbab panjang, dan kaos kaki. Dengan demikian saya bisa langsung solat dan bisa di mana saja mengisis shaf yang kososng karena tanpa sajadah Memang perlu tidak sih membawa sajadah? Kalau saya setelah mengetahui ini, prefer tidak membawa karena lebih ringkas dan enteng. Hehe bukan itu aja sih, kadang sajadah kita itu ukurannya besar-besar, jadi kalau berdiri saat solat, renggang-renggang shafnya. Mengenai shaf solat ini jangan dianggap sepele ya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan shaf shalat jamaah dengan memerintahkan:
“Rapatkan shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing.” (HR. Abu Daud 667, Ibn Hibban 2166, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Alasan lain tak begitu perlu membawa sajadah adalah di dalam itu sudah disediakan karpet yang empuk dan bersih. Karpet di Masjid Nabawi warnanya merah, sedangkan yang di Masjidil Haram warnanya hijau sama dengan Raudhah. Selama di Masjid Nabawi aktivitas yang bisa kita lakukan adalah solat, dzikir, mengaji, dan melakukan amal baik lainnya.

Kita juga bisa berbagi lho baik dalam bentuk uang, makanan, ataupun Alquran untuk wakaf di masjid. Wakaf Alquran ini bila memang mampu baiknya jangan dilewatkan. Ini salah satu cara agar pahala atau kebaikan kita terus mengalir meski sudah kembali ke Tanah Air. Oya, pastikan Alquran yang kita wakafkan merupakan Alquran cetakan Madinah agar tidak kena sortir. Jadi setiap hari akan ada petugas yang mengecek Alquran yang ada di Masjid, bila tak sesuai maka akan diambil, katanya sih bisa dibagikan ke sekolah atau masjid-masjid lain di sana.

Berlama-lama ibadah di dalam masjid jangan khawatir kehausan, banyak galon zam-zam baik yang dingin maupun tidak dingin. Gelasnya pun banyak tersedia. Yang gelas tengkurap artinya masih baru, yang terbuka menghadap ke atas artinya sudah dipakai. Saran saya ambil air secukupnya saja yang mampu kita habiskan, sayang kan jadi mubazir kalau ambil penuh ternyata kita cuma habiskan setengah gelas.
Minum air zam-zam
Jangan lupa berdoa sebelum minum ya , insya Allah berkah dan menyehatkan.

Bila batal wudhunya? Tenang banyak tempat wudhu di pelataran. Kalau soal toilet wanita di Masjid Nabawi saya juga kurang tahu hingga saat ini. Nah, soal toilet umum di Masjidil Haram lebih friendly, mudah ditemukan pokoknya. Dan ingat toilet, saya jadi ingat pengalaman unik saat di Masjid Nabawi. Inilah momen di mana apa yang saya ucapkan kontan terijabah. 

Jadi waktu itu siang-siang, kami bergegas menuju masjid. Saat di pelataran saya bicara dengan ibu mertua, "Solat di sana juga enak, Bu, dekat tempat wudhu". Ibu mertua saya diam saja. Karena sudah mendekati adzan zuhur, kami berjalan lebih cepat, suasana pun sudah semakin ramai.
Pemeriksaan oleh askar pertama kami semua lolos. Saat di askar kedua, ibu mertua serta dua adik ipar saya lolos kecuali saya. Seorang askar berniqob dan jubah hitam "mengusir" sambil berkata "ibu ... ibu" tangannya memberi isyarat agar saya solat di luar.
Saya coba membandel, solat di paling pinggir dekat galon zam-zam, tidak boleh juga. Terus begitu ketika saya mau naruh sajadah, tidak boleh juga disuruh di belakang. Ke belakaaaaang terus akhirnya saya benar-benar solat di luar alias di pelataran persiiiiiiis dekat dengan tempat wudhu yang saya ucapkan ke ibu mertua. 
See you on hajj masjid nabawi
Solat di bawah payung Masjid Nabawi, must try! HIhi ... ini tampang setelah "terusir" dan kemudian mendapat rezeki tak terduga.
letak toilet dan tempat wudu di nabawi
Saya gak potret tempat wudhu nya saat siang, tapi inilah tempat yang saya tunjuk kepada ibu mertua dan saya solat di sampingnya. :D

Astagfirullohaladziim wa atubuilaih ...

Sebetulnya tidak sedih sih atas pengusiran tadi, saya justru geli sendiri kalau ingat kejadian itu. Betapa berdoa itu sangat mudah dan pengabulan doa itu begitu dekat. Ternyata anak saya justru senang sekali solat di pelataran di bawah payung-payung nan besar. Meski terasa juga hawa panas siang tapi lumayanlah masih ternaungi oleh payung yang ada. 

Tidak hanya itu, kebahagiaan bagi si anak salihah ini bertambah ketika ada seorang wanita Turki yang berada di samping kami membuka seplastik permen dan permen tersebut berantakan hingga ke sajadah saya. Tanpa disangka, permen yang berserakan tersebut justru dikumpulkan di sajadah saya dan kemudian ia langsung pindah ke tempat lainnya. Alhamdulillah rezeki anak solihah.

Kejadian ini kemudian saya ambil hikmahnya untuk menjadi pelajaran bagi anak. Bahwa kadang ya beginilah cara Allah mengabulkan keinginan kita. Saya katakan padanya, "kita tidak usah bersedih kalau sesuatu tidak sesuai harapan kita, bisa jadi Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Belum tentu solat di dalam masjid bareng onty dan yayi, ada yang ngasih Alin permen. Ternyata setelah diusir tadi, Alin malah dapat permen di sini." Ia hanya diam dan saya berharap ia sedang mencernanya.

Dan ya memang begitulah kadang kita hidup ini sok tahu, ambil jalan ini itu padahal itu tak baik atau bukan yang kita butuhkan. Akhirnya Allah sebaik-baik perencana, bukan karena benci justru karena menyayangi hambaNya "memaksa" kita masuk ke jalur lainnya, mungkin sedikit tak nyaman, tapi insya Allah baik di ujung perjalanannya. 

Solat zuhur pun usai, kami menunggu sambil duduk santai di bawah payung indah ini. Tiba-tiba seseorang datang membawa tasbih dan memberikannya pada saya. Saya ragu, orang ini jualan atau memberi secara sukarela. Ternyata, cara membedakannya adalah, bila ia bilang "halal" itu artinya dikasih. Alhamdulillah ... 

Kata orang-orang di sana itu kalau kita tak berniat beli jangan pernah menyentuh barang dagangannya atau kita akan dipaksa membelinya, katakan saja "La" artinya tidak. Kecuali ia bilang, "halal" artinya kita boleh pegang.

Orang ramai keluar dari masjid namun saya masih belum melihat ibu dan adik-adik ipar. Tiba-tiba ketika sedang fokus mengamati, seseorang melemparkan permen lagi di antara kami dan berlalu begitu saja. Sontak, saya dan si anak kaget, ya Allah ... Rezeki si anak banget ini sih, rasanya permen itu kaya turun dari langit. Alhamdulillah ... 

Tak lama kemudian mucul juga mereka yang kami tunggu-tunggu. Bersama-sama kami kembali ke hotel untuk makan siang dan istirahat. Sambil berjalan santai menikmati udara Madinah, si anak bercerita penuh kegembiraan pada neneknya. Sungguh, hari yang penuh cerita dan pengalaman.

Wah, maafkan rasanya sudah cukup panjang membahas tentang Masjid Nabawi, kalau begitu cerita tentang Raudhah di part selanjutnya saja ya. Kisi-kisinya, ada tips dan trik mudah ke Raudhah meski orang banyak dan berdesakan.

Wassalamualaikum.

cuaca di Madinah
See you on Hajj, Nabawi Mosque,  insya Allah. Aamiin.

Diary #UmrohBackpacker; Part-1; Jeddah-Madinah



Jeddah, 12 Maret 2019; 02.00 am

"Flight attendants prepare for landing"

Demikian kurang lebih informasi dari kokpit memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat kami akan mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Setelah terparkir rapi, para penumpang yang sebagian besar merupakan jamaah umroh Indonesia ini kemudian turun dari pesawat, sebagian berfoto, sebagian bergegas menuju imigrasi.

Jeddah memang tidak masuk tanah haram, meski begitu antrean imigrasi tetap mengusung konsep gender. Jadi perhatikan mana antrean untuk perempuan dan antrean untuk laki-laki. Kemarin saat mengantre petugas imigrasinya seperti mengingatkan demikian dengan bahasa arab, tentu saja saya tidak paham. Namun yang sudah biasa bolak-balik ke Tanah Suci sudah mengerti apa maksudnya.

Saat kami tiba di imigrasi, antrean tersebut banyak diisi oleh jamaah yang baru saja mendarat dari pesawat yang kami tumpangi, yang tentunya kebanyakan orang Indonesia. Entah gemas atau bagaimana, petugasnya berceloteh sendiri dengan lantang, dan ooh ternyata dia geregetan. Kita memang diharuskan mengantre sesuai gender tapi kan bisa ambil antrean yang paling sedikit, begitu yang saya tangkap, saat si petugas berkata "bla bla bla ... take the shorter line" sambil tetawa kecil dan memandang para jamaah. Qiqiqi ... Maap ya Haji, karena kita tak boleh ada jarak #nantikangen.


Imigrasi selesai! Hati makin bergemuruh, tak sabar menapakkan kaki di Kota Nabi. Namun, bagaimanapun kami harus menahan keinginan yang membuncah itu karena kami masih harus menempuh perjalanan 5-6 jam lagi menuju Madinah dengan jalur darat.

Di tengah dinginnya udara malam, saya, adik ipar, beserta ibu mertua sama-sama merasa ingin buang air kecil. Sayangnya, toilet di bandara Jeddah ini terbatas. Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa antrean toilet wanita sudah mengular hingga ke ruang tempat ambil bagasi. 

Dengan sabar kami mengantre, maju selangkah demi selangkah, dan sesekali sambil bercengkerama sesama jamaah umroh Indonesia lainnya. Tiba-tiba seorang wanita berperawakan tinggi, besar, dengan kulit sedikit gelap memotong antrean. Kontan ibu-ibu jamaah Indonesia merapatkan barisan sambil memberi isyarat pada wanita tersebut agar mau mengantre. Wanita tersebut terlihat enggan dan justru berceloteh "malas". Sontak para jamaah semakin ramai bersorak. Akhirnya terjadilah drama saling mendesak yang akhirnya dimenangkan oleh wanita tersebut. Hufft... #adaadasaja #dramatoilet.

Setelah sekian lama mengantre, entah berapa jam kemudian karena #sakinglamanya, selangkah lagi kami masuk bilik WC, seseibu berkerudung biru ukuran jumbo tiba-tiba masuk dan memanggil kami. Katanya sudah ditunggu sang muthawwif dan semua rombongan sudah keluar. Lalu kami? Sudah mengantre sejak lama dan harus disudahi begitu saja??? Oh Noooo! Akhirnya kami harus menjelaskan lagi, bahwa sudah ada perwakilan kami yang menunggu dan bus kami berbeda dengan rombongan besar. Ibu tersebut pun akhirnya paham dan ya sudahlah, beliau keluar dan menunggu kami di depan toilet. #dramatoilet lagi ... Setelah selesai, kami keluar menuju exit gate tampak sang muthowwif dan beberapa staff. Kami kemudian bergegas menuju parkiran bus. 

Saat kami tiba di parkiran ternyata busnya tidak ada. Kata sang Muthowwif bus di sana tidak boleh ngetem alias menunggu penumpang, justru penumpang yang harus menunggu, karena khawatir disangka bus gelap. Jadi setelah jamaah ready, siap naik, bus baru datang. Tak lama kemudian, bus tiba. Tak disangka dan dinyana, bus kami begitu besar, untuk 8 orang kami disediakan bus 50 seat. Wow! Kami masih takjub mengamati, perlahan namun pasti masuk ke dalam bus besar ini. Daaan baru saja duduk, muthawwif kami langsung memberikan sarapan nasi kotak. Whaaa sejak touchdown di Arab, saya justru merasa kenyang terus karena sebentar-sebentar dibagikan makanan, meski sekadar roti croissant coklat.
Sewa Bus besar jeddah-madinah
Bus merah yang siap mengantar kami selama perjalanan ibadah
Bus Rawahel Madinah
Menu sarapan ala Indonesia.
Awalnya sih menurut sang muthowwif harusnya pakai mercedez benz sayangnya semua sedang keluar, jadilah kami pakai Bus besar ini. Koplak-koplak dong? Ya nggak lah, emang baju, kebesaran! Namanya kendaraan diisi satu atau penuh juga sebetulnya sama saja. Justru kita yang enak, karena leluasa diisi oleh keluarga sendiri dan yang paling menyenangkan adalah toiletnya jadi kami-kami doang yang menggunakannya.
Sewa Bus Madinah
Busnya nyaman, bisa reclining seat, ada colokan usb, tatakan makan, dan legaaaa

Katanya backpacker tapi kok full-service? Jadi begini, kami memang menggunakan jasa travel Ubepe alias umroh backpacker. Di sini kami bisa custom itinerary, request penginapan, termasuk pesan tiket pesawat sendiri dan dapat muthawwif pribadi. Namun demi menghemat biaya kami akhirnya ikut rombongan besar untuk tanggal keberangkatan dan kepulangannya meski nanti saat tiba di lokasi ya sudah masing-masing. Lengkapnya soal itinerary dan biaya nanti saya ulas terpisah ya. 

Perjalanan dimulai. Sebagian kami melanjutkan tidur, sebagian lagi termasuk saya mengamati pemandangan luar yang masih gelap. Hingga kemudian berhentilah kami di suatu rest area untuk solat subuh. Sayangnya, tempatnya kurang bagus, toiletnya kurang bersih, airnya pun terbatas. Bahkan beberapa jamaah tidak mendapatkan air untuk berwudhu. Saran saya, selalu siapkan air minum dalam botol untuk bersih-bersih maupun berwudhu. Rest area di sana jarang terjamah sehingga kebersihannya pun alakadarnya.

Perjalanan terus berlanjut. Saya padahal ingin sekali bisa tidur agar nanti saat tiba di Madinah sudah segar. Apalah daya, si anak salihah ini terus berupaya mengajak Bundanya bermain. Ada saja hal-hal yang dilakukannya, akhirnya saya pun yang awalnya mulai mengantuk, jadi tak bisa tidur. 

Bus yang luas ini agaknya membuat si anak happy, karena ia bisa memilih duduk di mana pun, berjalan ke mana pun, dan mengajak bermain siapa pun. Saat ia sibuk sendiri dengan aktivitasnya, saya coba membuka sedikit jendela dan memandang langit yang mulai menguning. Fajar pun menyingsing.
perjalanan jeddah ke madinah
Dalam heningnya pagi, Jeddah-Madinah
Mulai tampak padang bebatuan nan luas di sepanjang perjalanan kadang juga diselingi pemandangan gunung batu di sisi kanan dan kiri jalan. Mungkin sebagian memandang ini membosankan tapi tidak bagi saya. Sesekali teringat perjalanan umroh 5 tahun silam, potongan-potongan kejadian sesekali muncul tiba-tiba seperti sebuah potongan film. Masya Allah, syukur pun terucap diberi kesempatan kembali ke Tanah Suci.

Tepat sesuai jadwal kami tiba pukul 10.00 pagi di Madinah. Tampak jelas kehidupan Kota Nabi dari balik jendela Bus. Aktivitas para pedagang dengan pakaian khasnya, hilir mudik jamaah dari dan ke masjid, serta burung-burung merpati yang asyik terbang mengepakkan sayapnya. 

Beberapa jamaah bisa kita kenali dari pakaian maupun karakteristik pembawaannya. Jamaah Indonesia khas dengan mukena maupun pakaian putihnya, sedangkan jamaah Timur Tengah dengan gamis hitam dan niqobnya.

Ada lagi jamaah Turki yang khas dengan blazer panjang berwarna krem atau hitam, serta syal bergambar bendera Turki. Ada juga jamaah Pakistan dan sekitarnya dengan pakaian atasan-bawahan mirip India serta kerundung persegi panjang yang diselempangkan.
Pas motret pas lewat dan ini adalah jamaah Turki.

Bus kami terus menyusuri jalan berliku di antara bangunan-bangunan tinggi tipe penginapan masa kini. Kadang tampak payung Masjid Nabawi di antara bangunan tersebut. Alhamdulillah, tiba juga kami di depan Movenpick Anwar, hotel tempat kami menginap selama di Madinah.
menginap do movenpick madinah
Sangat dekat dengan Masjid Nabawi

Satu persatu, kami turun dari Bus bertuliskan rawahelalmashaer di badannya ini. Sejenak menghirup aroma kota Nabawi, merasakan denyut kehidupan serta atmosfer kedamaian yang ada di Madinah. Kesejukan udara serta semilir angin yang menyapu pipi tak bisa dilupakan. Dan bagaimana mungkin bisa, berada di sini tanpa mengambil gambar?

Bagi saya perjalanan Jeddah-Madinah ini memberi makna tersendiri, betapa sejatinya kita hidup di zaman dengan penuh kemudahan dan kenyamanan. Sudah seharusnya rasa ini kita syukuri dengan banyak amal soleh sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW yang diiringi dengat niat ikhlas karena Allah ta'ala.

Kembali syukur kuucapkan tentang perjalanan Jeddah-Madinah bersama anak. Saya tahu, bagi anak kecil yang tingkat pemahaman akan esensi perjalanan ibadah ini belum seberapa, maka perjalanan panjang ini bukan hal yang mudah. 

Wajar bila ia sesekali meminta bermain maupun memakan camilan coklat kesukaannya. Biarlah, karena menjaga emosi anak tetap stabil dan ceria selama perjalanan yang monoton itu tak mudah. Dan saya angkat topi padanya, betapa ia sangat manis selama perjalanan tersebut, tak ada drama rewel, ngambek, apalagi menangis. Alhamdulillah atas semua kemudahan yang Allah Swt berikan. 

Demikianlah cerita perjalanan kami dari Jeddah ke Madinah. Karena perjalanan tanpa gambar dan tulisan akan hilang dan tinggal kenangan dalam bayangan. #tsyah. Nantikan part selanjutnya ya.