Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

Terbang ke Singapura Bersama Batik Air


Pengalaman naik Batik Air ke Singapura
Maafkan atas ketidaksempurnaa gambar #hiyaah...

Ini kali kedua kami menggunakan Batik Air untuk penerbangan Internasional. Banyak pertanyaan yang muncul ke saya nggak khawatir naik Batik Air? Emang bagus ya? Asliii ini bukan postingan bersponsor, cuma karena banyak yang tanya yo wes tak tulis aja di sini ya...

Dulu, saya juga sama kok sempat ragu mau naik Batik Air, maklumlah ya stigma negatif saudaranya si Lion masih melekat kuat karena kan masih satu grup. Tapi, di tengah krisis kepercayaan ini, kenapa pada akhirnya saya memilih si Batik menjadi maskapai langganan? Semua gara-gara suami saya, ahaha... Jadi beliau ini sudah beberapa kali lebih sering naik Batik ketimbang saya dan menurutnya Batik juga bagus, justru dia paling on-time di antara maskapai lainnya, pesawatnya baru, dan full-service dengan harga yang bedanya cukup jauh dengan si plat merah. 

Heuheuu... baiklah untuk pertama kalinya saya mencoba naik maskapai ini adalah untuk rute Surabaya-Jakarta kalau tidak salah (saking seringnya), ahahah.. Alhamdulillah tak ada kesan negatif selama perjalanan, hal tersebut yang kemudian membuat saya bergumam, "boleh juga" apalagi ditambah memiliki on-time performance yang baik, stafnya ramah, dan smooth landing

Atas dasar itulah, akhirnya ke Singapura pun kami kembali memilih maskapai Batik (karena pertimbangan membawa anak-anak juga sih.). 

Untuk penerbangan Internasional Batik Air berada di Terminal 2D bandara Soekarno Hatta, CGK. Kami berangkat pagi hari, antrean di counter check-in ramai tapi lancar. Niatnya sih gak mau check-in baggage, tapi karena stroller si keponakan nggak bisa masuk bagasi kabin, ya sudah semua koper mini kami sertakan masuk bagasi.

On Time Performance
Pengalaman yang sudah-sudah, alhamdulillah setiap terbang bersama Batik Air kayanya nggak pernah telat. Jadi saat itu kami sudah siap-siap paling nggak 45 menit sebelum jadwal, sudah ada di area tunggu. Dan bener aja kan kurang 30 menit kami semua sudah disuruh boarding. Bahkan asli kagum banget waktu nyocokin saat pertama kali pesawat push back dengan jam di handphone. Beuuh, on time banget. Tapi kan ya gitu, traffic di landasan cukup padat, jadi take offnya ya nggak pas seperti di jadwal juga, tapi it's okey!

Komunikatif
Yang saya suka pilotnya ini komunikatif, maksudnya begini hampir setiap naik Batik Air pilotnya itu selalu menyapa dan memaparkan bagaimana kondisi cuaca selama di atas dan di tempat tujuan. Apa maskapai lain gitu juga ya? (Maklum jarang naik yang lain). Pengalaman menjelang landing di Singapore, sang pilot bilang intinya bilang bahwa karena kepadatan lalu lintas di bandara Changi, pesawat kami harus antre hingga 30 menit jadilah kami berputar mengeliligi wilayah selatan Singapura. 
naik batik air ke Singapura
Alhamdulillah, overall cuaca baik, meski ada sedikit guncangan ringan

IFE (In-Flight Entertainment)
Saat keberangkatan sayangnya banyak film yang tidak bisa diputar padahal bilangnya sih mau direset. Syukurnya masih ada 1 film anak yang masih bisa diputar. Saya berharap sih ada film atau kartun baru kekiian untuk anak, misal: Tayo, Robocar Poli, Litle Poni (deuuh anakku pasti gembira banget ini)

Meals on board
Mungkin karena dekat kali ya, jadi tidak ada nasi untuk penerbangan rute ini. Saya juga menyayangkan sekarang air mineralnya disajikan dengan gelas, padahal enak yang dulu pakai botol jadi gak ada yang mubazir. Selama perjalanan dari dan ke Singapura kami mendapatkan roti dan snack gurih seperti nugget. Rasa rotinya cukup enak, snack gurih lumayan untuk mengganjal perut. Soal cita rasa dan kualitas makanan saya akui maskapai sebelah lebih oke.
makanan di batik air
Anak saya sih suka rotinya.

Leg room
Saya pribadi hampir tidak ada masalah dengan leg-room karena memang tubuh saya cukup mungil. Sementara buat suami saya leg-room ini penting karena beliau kan tinggi dan tubuhnya juga cukup besar.
Spacious leg room batik air
Lumayanlah yah..  Itu dalam kondisi biasa lho nggak dirapet-rapetin supaya kelihatan lega.

Ramah penumpang
Maksudnya begini, saya pernah melihat di layar monitor saat peragaan alat keamanan di pojok kiri/kanan bawah gitu ada video untuk para tuna rungu. Menurut saya ini sangat baik, karena itu artinya Batik Air sangat welcome dan begitu peduli terhadap keselamatan seluruh penumpangnya.

Kemewahan yang terjangkau
Kalau bicara fasilitas maskapai ini beda tipis dengan si maskapai sebelah. Yang membedakan adalah kualitas rasa makanan dan harga. Ya, dengan fasilitas serupa kita bisa dapatkan harga yang cukup jauh di bawah harga kompetitornya (baca: ga***a). Kemarin saja untuk GA harga tiket SG pp dari Jakarta paling murah 2.6an juta. Sementara Batik bisa menyetuh harga di 1.5juta pp. See? Gak berlebihan kan kalau saya bilang Batik Air itu ya kemewahan yang terjangkau. 

Perjalanan dengan Batik Air ke Singapura nantinya akan tiba di T3 bandara Changi. Jalannya cukup jauh untuk sampai ke imigrasi. Siapkan stamina atau bisa juga sekalian eksplor Changi aja yes. Nah demikianlah review singkat saya selama terbang dengan Batik Air ke Singapura
Alhamdulillah, tibalah kami di Changi dalam cuaca yang cukup terik.

Jalan Sore di Taman Budaya GWK, Bali

ikon bali dan landmark pariwisata GWK Bali

Tempat ini dari awal memang sudah masuk dalam list liburan kami saat di Bali. Selain belum pernah, tempat ini kan ikonik banget sama Bali. Ibaratnya kaya belum sah kalau belum pernah mampir ke taman budaya ini.

Waktu itu kami mengunjungi GWK (Garuda Wisnu Kencana) sekitar jam 3 sore. Jadi setelah makan siang di Ubud kami langsung ke selatan, tepatnya ke GWK ini. Perjalanan cukup jauh kalau dari Ubud, kami semua sempat tertidur di mobil, jadi gak tau deh lewat mana. Qiqiqi #ampuuun, maklum kopermini taunya udah sampe aja.

Waktu itu kami mengunjungi GWK pada hari kerja tepatnya hari selasa, meski begitu suasana di sana cukup ramai. Kebanyakan sih ya turis, saya perhatikan beberapa ada dari India, Jepang, orang-orang bule, dan lainnya. Kami langsung menuju counter loket. Ada perbedaan harga tiket untuk WNI dan WNA. Harga untuk dewasa IDR 70.000 (senin-jumat), anak 5-12 tahun IDR 60.000, sementara anak di bawah 4 tahun masih gratis, kalau hari sabtu-minggu harganya 10.000 lebih mahal dari hari biasa. Taman budaya GWK ini buka setiap hari dari jam 08.00 - 20.00. Di depan loket ini juga sudah ada jadwal pertunjukan yang bisa kita nikmati. Mulai dari tari-tarian hingga nonton teater.
Ada tarian barong, kecak, di GWK
Klik untuk perbesar yaa...

Daya Tarik Utama

Patung GWK merupakan daya tarik utama wisatawan, termasuk saya ketika mengunjungi tempat ini. Oya areal taman budaya ini cukup luas jadi harus siapkan tenaga untuk mengitarinya ya, belum lagi kita harus mendaki beberapa anak tangga sebelum bisa menikmati kegagahan patung ini. 

Setelah memasuki kawasan GWK, kita akan disambut oleh fotografer untuk mengabadikan gambar, namun ternyata untuk bisa mengambil foto ini kita harus membayar. Awalnya saya pikir sudah termasuk harga tiket masuk, ternyata belum dan harganya lumayan dengan kualitas yang baik tapi terlihat photoshopnya. Justru lebih natural yang foto dengan kamera sendiri. Nanti kita juga diminta mengenakan kain kuning yang diikatkan pada pinggang.

Gagah dan kokoh itu kesan saya saat pertama kali melihat patung ini. Saya pun tak luput ingin segera mengabadikan keberadaan kami bersama patung yang katanya bila sudah rampung akan menjadi patung tertinggi di dunia mengalahkan patung Liberty di New York. Karena tempat ini berada di dataran tinggi, pemandangan yang tercipta sangat cantik, perpaduan lautan luas, langit yang biru, dan lalu lintas pesawat sangat memanjakan mata.

Penamaan Garuda Wisnu Kencana bukan tanpa arti. Dewa Wisnu kalau dalam agama Hindu dikenal sebagai dewa pemelihara yang mengendarai burung garuda. Konon katanya berasal dari kisah burung Garuda yang menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang kemudian dilindungi oleh Dewa Wisnu (Dewa Pemelihara). 

Menurut salah satu pemandu di sana katanya patung GWK ini ingin dijadikan ikon budaya sekaligus landmark pariwisata Bali. Arsitek patung GWK ini adalah I Nyoman Nuarta. Beliau saat ini tinggal di Bandung, sebagian patung GWK juga dibuat di sana dan bila sudah selesai nantinya akan diangkut ke Bali.

Karana akan dijadikan ikon budaya, tempat ini juga kerap memamerkan kesenian tradisional yang dimilikinya, makanya jadwal pertunjukan seni sudah tersusun rapi, sehingga siapapun yang ingin menikmati seni dan budaya Bali dengan waktu terbatas dapat datang ke tempat ini karena letaknya tak begitu jauh dari Bandara.


Plaza Wisnu
Ini merupakan area tertinggi di GWK di mana patung Dewa Wisnu diletakkan. Di dekatnya ada sumber mata air yang diyakini suci yaitu mata air suci Parahyangan somaka giri. Dikatakan suci karena katanya mata air ini tidak penah kering meski musim kemarau. Area ini dapat dipergunakan untuk cocktail party, pertunjukan seni budaya, video shooting, pre-wedding, upacara pernikahan, dan sebagainya.
Muka yang sudah pada kuyu, ehehehe...

Plaza Garuda
Ini merupakan areal di mana patung kepala Garuda tersebut diletakkan dengan pemandangan menawan tebing-tebing kapur Lotus pond di depannya. Lokasi ini juga bisa digunakan untuk gala dinner, video shooting, pre-wedding photo session, upacara pernikahan, dan lainnya.
Projek patung tertinggi di dunia
Area di sekitar patung garuda tersebut namanya Plaza Garuda

Lotus Pond
Tempat ini merupakan area utama dan terbesar di kawasan GWK saat ini, dengan dikelilingi tebing-tebing kapur yang megah dan berlatar belakang patung kepala Garuda. Yang bisa dilakukan di sini? Banyak, Berfoto, bersantai, berlari, berjalan santai, bersegwey, bermain layangan, dan lainnya. 


Indraloka Garden
Taman Indraloka terletak di sebelah Timur Restoran Jendela Bali, area ini berupa kebun dengan  pemandangan panorama kota Denpasar, Kuta dan sekitarnya yang indah  dari ketinggian tempat ini.  Sejujurnya kami tidak ke tempat ini, karena kami juga tidak tidak tahu di mana tempat pastinya. Maklum kami mengunjungi tempat ini tanpa pemandu, jadi yang kami kunjungi ya selewatnya kami saja. Dan lagi areal ini secara keseluruhan luas banget.

Amphiteater 
Kami juga tidak mengunjungi tempat ini, karena hari sudah sore dan kami masih berencana mengunjungi pantai (meski akhirnya tidak jadi juga, karena cuaca mendung sangat). Perkiraan setiap pertunjukan bisa memakan waktu 30 menit sampai 1 jam. Baiklah, next kita coba mampir ke sini. 

Tirta Agung
Area ini merupakan lorong-lorong di antara tebing kapur yang menjulang tinggi dan tangga masuk menuju lotus pond. Di tempat ini juga ada dua patung berbentuk tangan. Mana fotonya? Gak ada, ahahah... 


Naik bus menyusuri gunung kapur 
Awalnya saya pikir bus ini (yang tertera di pic utama) adalah bus rekreasi untuk mengitari seluruh areal GWK, ternyata bus ini membawa kami menyusuri gunung kapur dengan jalan yang berliku dan cukup terjal. Ampuuun, tau begini gak ikutan deh, ehehehe... Jadi bus ini mebawa kami mendekati ke sebuah bangunan yang rencananya akan di bangun penginapan, kantor, pusat hiburan dengan replika GWK di atasnya. 
Naik bus di dalam GWK
Tinggi juga yaa... 

Lapar melanda? Tenang, masih di kawasan GWK, ada restoran keluarga "Jendela Bali" yang menyajikan makanan chinese, internasional, dan yang gak ketinggalan khas Bali tentunya dengan pemandangan eksotis Bali yang menawan.

Nah, itulah cerita jalan-jalan sore kami di GWK, maafkan untuk semua foto narsis maupun foto yang gak ada, eheheh... Kamu sudah pernah ke GWK? Kalau belum, jangan lupa masukan ini dalam list saat ke Bali nanti ya...

Menginap di Bedrock Hotel, Bali


Waktu itu kami sudah mengantungi tiket penerbangan pagi hari untuk kembali ke Jakarta, jadi kami sengaja nyari tempat penginapan yang gak jauh-jauh dari bandara tapi sekaligus dekat objek wisata dan kuliner. Nah, karena waktu juga sudah mepet, jadilah kami gak banyak cari info penginapan lain, yang penting dapet dulu buat dua kamar. Kok dua kamar? karena kan jalan-jalannya sama orang tua juga. 

Di Bali ini sebenarnya hanya transit, cuma karena ada yang belum pernah main ke Bali, jadi kami sepakat untuk sekalian memanfaatkan waktu transit ini untuk eksplor tipis-tipis si Pulau Dewata. Ngapain aja seharian di Bali, salah satunya ke Tampak Siring.

Hotel ini tidak menyediakan free shuttle bandara, jadi kami harus melalui sedikit pergulatan saat mencari taxi di Bandara. Oke, let me tell you a story, waktu itu kami tiba saat jam makan siang. Dalam kondisi lapar dan letih setelah melewati 3.5 jam perjalanan udara, kami mencari tempat makan keluarga di bandara tapi gak nemu, sementara kami sudah geret koper cukup jauh. Akhirnya sepakat sudahlah kita langsung ke hotel saja. Pesen dulu dong taxi bandara, saya pikir mas-mas yang tetiba narik koper-koper kami itu merupakan bagian service dari penyedia taxi, ternyata itu adalah porter. Jadi mereka minta tambahan biaya untuk jasa yang digunakannya. Hadeuuh... tau gitu kita bawa sendiri aja mas.

Okelah, setelah di mobil sang supir cerita, saya gak enak juga melarangnya, karena kan kita sama-sama kerja. Kalau kita yang melarang nanti malah "ribut". Hmm ya bener juga sih, jadi kalau memang gak mau ya baiknya dari si customer yang bilang. Gak lama ngobrolin ini eh ternyata kita sudah sampe, aslii ternyata deket banget, gak sampe 10 menit lah sudah tiba di Bedrock Hotel. Tapi tetep maksudnya deket bukan berarti bisa walking distance ya.

Terang di luar, temaram di dalam. Itu kesan yang saya dapat ketika memasuki hotel ini. Tidak ada pintu kaca yang membatasi antara loby dan sisi luar hotel. Jadi sambil menanti kesiapan kamar kami bisa duduk santai di sofa empuk berbentuk setengah lingkaran sambil menikmati udara Bali ditemani welcome drink segelas es jeruk nipis segar manis. Cukup merilekskan di tengah udara Bali yang cukup terik siang itu.

Proses check-in tidak lama, kami kemudian mendapat kunci dan langsung menuju kamar. Keluar dari lift, sepanjang lorong antar kamar yang berhadapan dihiasi lampu yang temaram. Mungkin agar menambah kesan tenang dan homy kali ya. 

Saat itu kami pesan kamar deluxe, tidak terlalu besar namun cukup nyaman untuk ukuran sebuah tempat tidur di hotel, karena kami toh lebih banyak di luar. Kamar mandi pun minimalis tapi semua amenities standar tersedia. Viewnya waktu itu kami mengahadap kolam renang sekaligus bangunan yang belum jadi masih ada tukang yang sesekali wara-wiri, jadi gak berani buka jendela lebar-lebar. Sebetulnya agak jauh sih bangunan itu, cuma jaga-jaga aja.
pengalaman menginap di bedrock hotel bali
Gak dapet yang double, twin bed pun bisa dikondisikan, qiqiqi...
qiqiqi, berantakaaaan..
Di hotel ini juga ada kolam renang, tapi gak ada kolam renang anak. Letaknya di lantai dasar antara loby dan tempat makan. Agak kurang privat sih jadinya karena bisa dilihat banyak orang, yah yang baru datang, yang lagi makan, yang baru keluar lift, yang nunggu lift, qiqiqi... 

Soal breakfast, menunya cukup variatif, soal rasa so-so, pelayanan oke, satu yang kurang sreg adalah, waktu itu saya bertanya, "mas ini halal kan?" Mas-masnya yang tadinya lagi nunduk entah ngapain, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan bilang, "yang mana mba?" O'ow dalam hati kok yang mana sih, emang ada yang gak halalkah? Seharusnya kalau memang halal semua kan dia tinggal bilang halal mba. Yauda saya tunjuk capcaynya. Dia bilang sih halal. Okelah kalau begitu.

Saya akui di Bali memang agak sulit mencari menu halal, jadi baiknya ditanya atau baca review orang lain. Sebagian ada juga yang memberikan label halal. Bertanya merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita sih, soalnya kan masih domestik juga, which is masih banyak pilihan makanan halal. Beda kalau di luar negeri, katanya selama no bacon no alcohol masih boleh asal jangan berlebihan. CMIIW.

Hotel ini letaknya cukup strategis. Di depannya ada convenience store. Kalau kita keluar hotel lalu belok kanan ada restoran halal, tapi lupa namanya, heee #ampuuun... Rasanya cukup enak, porsinya juga cukup besar, tempatnya luas, tapi agak kurang terawat dengan baik. Kalau kita keluar hotel lalu belok kiri, terus saja menyusuri jalan itu kita akan sampai pada sebuah pantai yang sangat terkenal yaitu Pantai Kuta.
restoran halal dekat bedrock
Maafkaaaan, lupa ini nama tempat makannya apa.
Dan sekarang kan udah ada ojol (baca: gojek) jadi makin gampang aja memenuhi segala kebutuhan kita. Tempat pusat kaos joger juga gak jauh-jauh banget dari hotel ini, kalau bingung naik apa bisa digojek aja. 

Saya rasa itu saja mengenai hotel ini dan pengalaman yang saya rasakan di dalamnya #tsyah.

Marina Barrage; Bukan Bendungan Biasa

Bendungan yang jadi objek wisata Singapura

Apakah kamu senang mendatangi tempat yang antimainstream saat liburan? Kalau ya, saya rasa Marina Barrage ini salah satu tempat yang tepat untuk kamu kunjungi selama di Singapura. Mengapa harus ke sini, bukankah cuma bendungan? Betul, tapi bagi saya Marina Barrage lebih dari sekedar bendungan, melainkan ada ilmu pengetahuan, kebermanfaatan, dan rekreasi tentunya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa bendungan di tengah kota ini memiliki pemandangan yang indah terutama saat sore hari menjelang sunset. Tidak hanya itu kalau biasanya kita berfoto berlatar belakang Marina Bay Sand dari sisi di mana ada Merlion dan esplanade, tapi di Marina Barrage justru kita akan mendapatkan foto dari arah sebaliknya.

Waktu kami ke Singapura April lalu, driver yang mengantar kami selama di Singapura sempat tidak merekomendasikan tempat ini untuk dikunjungi, alasannya hanya bendungan, tak ada apa-apa. Saya pun hanya tersenyum dan membiarkan diri saya berlalu darinya, haha #apasih lebay. Yang jelas Marina Barrage sudah masuk dalam itinerary saya jadi must visit banget.

Sekilas tentang Marina Barrage


Bendungan ini merupakan visi Perdana Menteri (PM) Singapura pertama, Mr. Lee Kuan Yew dan diresmikan oleh Mr. Lee Hsien Loong (PM Singapura saat itu) pada 31 Oktober 2008 lalu. Marina Barrage adalah bendungan ke-15 di Singapura yang juga menjadi bendungan pertama yang ada di tengah kota sekaligus yang terbesar  dengan luas 10.000 hektar. Lokasinya berada di area Marina Chanel. Fungsinya si Marina Barrage ini selain untuk menjaga pasokan air bersih untuk warga Singapura juga untuk mengontrol banjir dan sarana rekreasi. 
Marina Chanel
Bendungan ini banyak mendapat penghargaan internasional, salah satunya:
 "The highest honour for the best project entry" dari The American Academy of Enviromental Engineers Annual Award.


Fasilitas yang ada di Marina Barrage

Di lantai bawah, tidak jauh dari tempat parkir ada restoran keluarga, hanya saja saya kurang paham bagaimana kehalalannya. Kalau mau ngirit, bisa membawa bekal sendiri, nanti makannya di atas di lapangan yang luas sambil melihat lalu-lalang pesawat dan aktivitas pelabuhan, wooh awesome!
Restoran atau cafe di Marina Barrage
Yang lapar ... Yang lapar ...

Nah untuk bisa ke atas menikmati keindahan Singapura dari sisi yang berbeda, sudah disediakan tangga yang kalau untuk ukuran orang Indonesia, kebanyakan reaksinya nanya gini, "ada lift gak?" Ahaha... tapi emang anak tangganya banyak dan kita harus naik hingga ke lantai 3 kalau gak salah. Sayangnya di sini tidak ada eskalator, tapi tenang masih ada lift kok, *yeay, kami pun gembira*
Fasilitas Marina Barrage
Posisi lift agak tersempil
Fasilitas menarik lainnya yang ada di sini adalah Gallery cafe, water playground, toilet, dan lainnya. Sayang kami tidak mengunjungi ini semua karena yang kecil-kecil udah capek banget.

Aktivitas yang bisa dilakukan di Marina Barrage


Kemarin kami mendatangi tempat ini pada kamis sore. Saat itu tempat ini tidak terlalu ramai, mungkin karena cuaca masih panas dan terik. Namun saya melihat ada beberapa kelompok orang yang tengah mengadakan piknik kecil-kecilan bersama temannya. Sebagian lagi ada asyik berdua di tengah taman dan ada juga yang sedang melakukan foto prewed. Kami sendiri memilih duduk-duduk santai menikmati geliat kota Singapura sore hari. 
Things you can do in Marina Barrage
Kurang dari 5 menit biasanya kita bisa melihat pesawat yang akan landing dari sini,

Kebanyakan sih katanya tempat ini dikunjungi oleh para mahasiswa untuk meneliti atau menggali informasi untuk tugas sekolahnya.

Jadi kalau ditanya, bisa ngapain aja, jelas banyak ya. Mulai dari melihat barisan pesawat yang hendak landing, aktivitas pelabuhan, pikinik bersama teman atau keluarga, bermain layangan, bermain air, jogging, bersepeda, hingga menikmati sunset sambil  tafakur alam.

Cara untuk menuju Marina Barrage


Sebetulnya saya juga kurang paham kalau naik transportasi umum ke Marina Barrage. Buat kamu yang juga pengen ke sini mungkin MRT yang menuju Gardens by The Bay bisa dijadikan patokan, karena lokasi keduanya searah dan tidak terlalu jauh.


Tips bila akan mengunjungi Marina Barrage


1. Buat anak-anak yang suka main air, baiknya membawa baju ganti. 
2. Bawalah alas kain dan bekal makanan dan minuman bila ingin menikmati rekreasi ini dengan piknik.
3. Kunjungi sore hari kalau bisa menjelang sunset supaya dapat melihat gemerlap gedung-gedung pencakar langit yang sangat cantik. Kemarin kami mengunjungi tempat ini jam 4 sore, cuaca masih cukup terik. 
4. Hmm apa lagi ya? *thinking. Yang mau tambahkan feel free isi dikomen yaa...

Tips menghemat air ala patung water drops Marina Barrage



1. Gunakan flush kecil bila memungkinkan. Kalau tanpa flush, gunakan gayung dengan air secukupnya, yang penting bersih dan tidak menimbulkan bau.
2. Cuci sayur dan buah-buahan dalam baskom berisi air. (Hmm, bukannya bagusan pakai air mengalir ya?)
3. Gunakan cangkir untuk menyikat gigi. Nah kalau ini sudah saya terapkan ke anak.
4. Mandinya jangan lama-lama ya.
5. Cuci pakaian dalam kondisi muatan penuh. Jadi mungkin maksudnya kalau ada pakaian putih cuci terpisah aja secara manual daripada nyuci dua gelombang menggunakan mesin. Soalnya kalau mesin cuci kan pakaian sedikit atau banyak airnya sama, gitu kali ya...

So, kesimpulan dari perjalanan kali ini adalah bukalah mata hati kita. Karena semua tergantung dari mana kita melihatnya, karena hati yang sebesar lubang jarum bagaimana bisa melihat keindahan seekor nyamuk. Begitupun dengan ini, kalau kita hanya memaknai ini sebagai sebuah bendungan tentu tak akan bisa menikmati keindahan Singapura dari sisi lainnya.
Bendungan Marina Channel
See you on our next trip stories

Kenali Waktu Tepat ke Tampak Siring, Bali

Ada apa di Tampak Siring


Hanya karena transit di Bali, terjadilah liburan singkat ini. Liburan 3D2N yang rasa sehari, hehee... Hmm, sejujurnya ini salah saya sih, dalam kondisi lelah selepas liburan di negara tetangga, saya sudah males untuk searching tempat wisata keluarga yang asyik di Bali. Pengennya sih ke Uluwatu, melihat pura, danau dan Gunung Batur yang cantik, tapi sayangnya jauuuh banget kalau dari Bandara Bali. sementara kami hanya punya waktu full day tour 1 hari di Bali. 

Beberapa teman merekomendasikan, yauda kalau gak mau yang jauh-jauh dan bukan wisata watersport yah nikmatin pantai-pantai wilayah Bali Selatan aja. Asliiiii nyeseeel banget gak eksplor pantainya Bali. Padahal mesti deh banyak spot yang instagrammable, mulai dari pantai Pandawa, pantai Dreamland, pantai Padang-Padang, pantai Balangan, pantai Jimbaran hingga pantai Kuta. "Di kuta Bali kau peluk erat @#$%^& *singing #eaaak nostalgia sama lagunya Andre Hehanusa. Qiqiqi ketauan deh angkatan berapa. Okeskip!

Kami terpaksa merelakan pantai-pantai cantik itu dengan alasan sudah pernah ke Jimbaran dan Kuta. Sementara kami tuh pengen cari sesuatu yang beda yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Akhirnya satu hari itu jadilah kami liburan singkat di Bali dengan mengunjungi Tampak Siring, makan siang di Bebek Joni, dan GWK, lanjut beli oleh-oleh ke Krishna dan beli baju kesukaan di Joger. 

Tapi kali ini saya hanya mau membahas soal Tampak Siring, soalnya ini cukup berkesan karena baru kali ini saya mengalami di mana realita tak sesuai harapan saat liburan. Hehee, lebay? Hmm ....

Jadi waktu itu kami berangkat dari hotel jam 09.00 pagi menuju Tampak Siring di Ubud. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dengan kendaraan roda empat dan ditemani sedikit kemacetan di hari kerja. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup asyik untuk dinikmati. Suasana Balinya kentara banget di setiap sudut jalan. Kayanya kalau di Bali mah di mana pun kita foto, orang sudah tahu bahwa kita sedang di Bali. 

Wilayah Ubud ini memang di dataran tinggi jadi lebih sejuk dan lebih tenang, jalanannya juga berkelok dan menanjak. Mendekati lokasi mulai banyak pemandangan pematang sawah. Sampai akhirnya tibalah kami di salah satu kompleks istana yang sudah sangat tersohor di Bali, yaitu Tampak Siring. Sebagai pelancong kami hanya mengunjungi pura tirta empul yang juga terdapat kolam pemandian di dalamnya.

Waktu itu supir kami bilang, hari ini bertepatan dengan hari suci umat Hindu, kalau tidak salah sih bertepatan dengan purnama. Jadi selain turis, tempat ini juga ramai oleh umat Hindu yang mau ibadah. Saat di parkiran sudah banyak kendaraan terparkir, baik mobil pribadi, mobil travel hingga bus. 

Oiya saya ada sedikit tips sebelum kalian masuk ke dalam Pura ini.

1. Buat yang merasa sering pipis baiknya ke WC dulu aja ya soalnya di dalam gak ada toilet. Letak toilet ini ada di samping loket. Agak smell bad sih waktu itu, tapi bule-bule kayanya pada enjoy aja.
2. Bagi kalian para wanita yang sedang haid juga tidak diperkenankan masuk ke dalam Pura.
3. Buat yang rambutnya panjang tergerai, jangan lupa dikuncir atau kalian akan diminta menguncir sendiri di dalam atau malah mau dikuncirin?
4. Berpakaianlah yang sopan.
5. Bagi yang murni ingin berwisata, baiknya atur jadwal agar tidak bertepatan dengan hari suci mereka. Pada saat hari suci biasanya tempat ini terutama kolam pemandian akan ramai. Jelas kurang nyaman buat yang suka hunting foto, kecuali kalau memang ingin merasakan langsung atmosfer atau membuat liputan seputar hari suci di sana.
6. Apalagi ya... Hmm kayanya itu aja sih. Kalau ada lagi boleh ditambahin loh.

Harga tiket masuknya cukup terjangkau, sekitar 15.000/orang dan 5000/mobil. Sebelum masuk kawasan inti, kami diminta memakai kain yang sudah mereka (pihak pura) siapkan. Meski sudah berpakaian tertutup saya juga tetap harus memakainya kecuali anak kecil. Tidak dipungut biaya, cuma katanya kalau mau sedekah tak apa.
Hari purnama tirta empul
Tempat penyediaan kain sarung, bisa pilih motif yang cantik-cantik
Sebelum masuk kami sempat mengambil gambar di beberapa spot khas Bali. Inilah kekurangan liburan tanpa guide kadang gak bisa full team karena harus gantian jadi fotografer. Tapi it's yeko, eh okey! 

Ketika masuk area Pura, bau khas sajen langsung menyergap hidung saya. Jujur saja, saya agak agak kurang nyaman dengan bau ini begitupun dengan anak saya. Hal ini membuat kami cepat saja melalui tiap sudut Tirta Empul selain juga tidak ada pemandu yang bisa menjelaskan nilai historis tiap bangunan yang ada.
liburan keluarga ke bali
Di mana pun kami foto, nuansa Balinya selalu terasa
Sampai akhirnya tibalah kami ke salah satu area yang menjadi ikon Tirta Empul, yaitu kolam pemandiannya. Saya sampai gak percaya, inikah yang pernah saya lihat di foto? Kok... kok... kok... ramai banget sih? Hehe... Iya jelas tempat ini menjadi sangat ramai karena bertepatan dengan hari suci umat Hindu. Saya hampir tidak bisa melihat space untuk satu orang yang bisa menyelip di antaranya (oke yang ini lebay!) hahaa... Inilah pertama kalinya saya melihat objek wisata di mana ekspektasi tak sesuai realita. Saya pikir cuma ada di 9GAG. Hahaa...
Pemandian tirta empul Ubud
Kenali kapan waktu tepat berkunjung ke sini. Catet!
Umat Hindu meyakini air di tempat pemandian ini merupakan air suci. Makanya banyak orang rela antre demi bisa membasuh muka atau mandi di kolam yang terdiri dari 13 pancuran air ini. Kami pun tidak lama di sini, karena banyak orang dengan tubuh yang basah berlalu lalang untuk menjalankan ritual selanjutnya. 

Perjalanan kami tiba pada sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Dasar kolamnya tampak dengan sangat jelas, berwarna hijau lumut dihiasi tumbuhan air yang bergerak-gerak terbawa arus lembut air di kolam tersebut. Di sisi sebelahnya lagi ada kolam yang berisi ikan-ikan koi beraneka warna. Ikan-ikan tersebut kelihatan sangat sehat, gemuk, dan lincah. Mereka seolah berebutan inhin mengucapkan selamat datang kepada para turis. Anak saya sendiri cukup tertarik di sini, bisa berfoto bersama ikan yang besar-besar.
Kolam jernih di tirta empul, gianyar
Jernihnya air membuat indah pantulan pepohonan di permukaan kolam
Ada apa di Tampak Siring

Kolam ikan ini menjadi penjelajahan terakhir di pura Tirta Empul. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, kami sempat melihat istana yang berdiri anggun di atas bukit. Itulah istana Tampak Siring. Istana ini digunakan sebagai tempat istirahat Presiden RI-1 beserta keluarga saat berkunjung ke Bali. Selain itu, istana ini dulu juga kerap dijadikan tempat menjamu tamu negara. Sayangnya, hanya orang tertentu yang boleh memasuki kawasan istana hingga saat ini.
Apa bisa masuk ke Tampak Siring?
Bak istana di kayangan ya, terletak di bukit dan bisa melihat akivitas di pura

Sepanjang jalan keluar banyak berderet toko kaki lima dengan harga yang menurut saya memang cukup murah. Saat itu seseorang menawari pakaian anak dengan harga Rp. 10.000/pcs. Sebetulnya saya penasaran, cuma karena jalan sama suami dan orang tua terpakasa rasa itu saya pendam, heuheuu... asliii padahal cuma pengen tahu bahannya kaya gimana, kalo adem kan lumayan banget, beli di toko oleh-oleh harganya berkali-kali lipat. 

Usai sudah perjalanan satu jam kami di Tirta Empul. Bagi saya perjalanan ini masih menyisakan banyak tanya terutama tentang istana Tampik Siring itu sendiri. Oiya jangan lupa untuk mengembalikan kain tadi ya.

Waktupun sudah menunjukkan saatnya makan siang. Di dekat sini ada beberapa tempat makan enak dengan pemandangan pematang sawah yang memanjakan mata. Buat yang muslim sebaiknya pastikan apakah tempat makan tersebut halal atau tidak, karena di Bali agak sulit mencari tempat makan yang bersertifikasi halal. Untuk makanan seperti bebek khas Bali biasanya ada sayuran khusus, nah ini yang katanya jadi titik krusial. Di manakah titik krusial tersebut? Heuheuu ampuni gaya yang sok tau ini ya. Jadi di beberapa tempat ada yang menggunakan lawar sebagai tambahan bumbu dari sayuran tersebut. Jadi katanya lawar ini juga ada versi tidak haramnya. Yang mau tahu lawar itu apa dan bagaimana googling aja yes.

Long story short, singkat cerita, kami memutuskan makan di Bebek Joni. Saya lihat websitenya sih mereka menyatakan halal. Sayang tidak ada foto makanan karena kami semua lapar beratsss, hahaa... Yang jelas bebek krispinya enak garing kriuk-kriuk, kami semua memesan itu cuma beda ada yang paha dan dada, jadi tidak tahu bagaimana rasa menu lainnya ya. Soal harga, ini dia, standarnya sudah seperti turis, tapi worth it dengan rasa dan pemandangan yang ditawarkan. Tidak ada musholla khusus, tapi mereka bisa sediakan di tempat art-gallery cuma tak ada mukena dan sarung, jadi baiknya siapkan sendiri ya.
Bebek Joni Halal
Laper ya neng? Sabar yaa... Qiqiqiqi... 

Demikianlah perjalanan setengah hari kami di Ubud, setelah ini kami akan turun ke wilayah selatan Bali yaitu GWK. Ada apa saja sih di GWK, nantikan cerita lainnya ya... See you on our next trip stories

Cara Mengisi Kartu kedatangan a.k.a Incoming Passenger Card Australia



Sebelum menjejakkan kaki di Australia, kita akan diminta untuk mengisi kartu kedatangan terlebih dahulu (Incoming Passenger Card). Di kartu ini memuat beberapa hal terkait data pribadi dan barang-barang apa saja yang kita bawa. 

Sebelum tiba di Australia saya mendapat brief tentang pengisian kartu ini dari provider travel yang kami gunakan di sana. Duuh sampe di-briefing dulu kesannya kan jadi kaya makin horor aja gitu. Padahal kalau sudah dijalani ternyata gak seseram yang dibayangkan kok. Yaudah syukur sih dijelasin bagaimana cara mengisinya jadi sekarang saya bisa berbagi hal yang sama. Oiya sebaiknya minta kartu ini lebih ya, khawatir ada yang salah isi atau gimana. Kartu ini biasanya dibagi saat di ruang tunggu sebelum boarding atau mungkin di pesawat (kalau ada stok), atau bisa juga di bandara Australia nantinya. 

Cara Mengisi Incoming Passenger Card Australia:

Halaman depan
Cara mengisi kartu kedatangan Australia
(Klik untuk memperbesar). Jawablah dengan jujur ya.
Sumber pic: homeaffairs[dot]gov[dot]au 
Family/surname (Nama Keluarga)
Isi dengan nama belakang kamu 
Given Names (Nama depan)
Isi dengan nama depan kamu
Passport number (Nomor Paspor)
Isi dengan nomor paspor yang terletak di sudut kanan atas. Biasanya berupa kombinasi huruf angka seperti X123456
Flight number or name of ship (nomor penerbangan)
Isi dengan nomor penerbangan kamu, misal ID1234, atau GA333. Biasanya ada di tiket kok.
Intended address in Australia (alamat di Australia)
Isi dengan alamat tempat tinggal kamu atau nama hotel/apartemen/sejenisnya di Australia.

Do you intend to live in Australia for the next 12 months? (Apa kamu akan tinggal hingga 12 bulan ke depan di Aussie)
Ini jawaban iya atau tidak. Kalau memang iya tandai di kolom ya. Kalau tidak tandai di kolom tidak. 
If you are not an Australian Citizen (kalau kamu bukan warga Australia)
Do you have tuberculosis? (Apakah kamu sedang sakit TBC?) 
Do you have any criminal convictions? (Apakah kamu pernah berbuat kriminal?).

Are you bringing into Australia: (Apakah kamu membawa barang-barang ini ke Australia)
Ingatlah untuk selalu menjawabnya dengan jujur, meski cuma satu, sedikit, atau tak dianggap sekalipun #hiyaah
1. Goods that may be prohibited or subject to restrictions, such as medicines, steroid, ilegal pornography, firearms, weapons, or illicit drugs?
(Barang-barang terlarang atau yang mungkin bisa dibawa tapi dalam jumlah terbatas, seperti obat, steroid (dexamethason, Bethason, dsb), dan hal-hal lain seperti segala sesuatu terkait pornografi, bahan peledak, senjata, atau obat terlarang?)

2. More than 2250ml of alcoholic beverages or 25 cigarettes or 25 g of tobacco products? 
(Lebih dari 2250ml minuman beralkohol, atau 25 batang rokok, atau 25g produk tembakau lainnya?)

3. Goods obtained overseas or purchased duty and/or tax free in Australia with a combine total price of nore than AUD900, including gifts?
(Barang-barang yang kamu beli di luar negeri atau di area duty free di Asutralia yang junlahnya lebih dari 900AUD, termasuk kado?) Kalau bisa struk pembelian jangan dibuang ya. 

4. Goods/samples for bussines/commercial use?
(Barang-baranng untuk keperluan bisnis atau komersil?)

5. AUD10000 or more in Australian or foreign currency eauivalent?
(Uang dengan nilai lebih dari 10.000AUD atu mata uang asing yang setara dengan itu)
Note: if a customs or police officer asks, you must report travellers cheques, cheques, money orders or other bearer negotiable instruments of any amount.
(Intinya kalau petugas nanya tentang uang tersebut, tunjukan aja bukti ceknya atau apaun deh yang menunjukkan itu uang kamu atau surat apapun yang terkait uanh tersebut)

6. Meat, poultry, fish, seafood, eggs, dairy, fruit, vegetables?
(Daging, unggas, ikan, hewan laut, telur, produk susu dan turunannya, buah, serta sayur?) 

7. Grain, seeds, bulbs, straw, nuts, plants, parts of plant, tradisional medicine or herbs, wooden articles?
(Gandum, biji-bijian, dedaunan, kacang, tanaman atau bagian lain dari tanaman, jamu, atau bahan kayu)

8. Animal, parts of animals, animal products including equipment, pet food, eggs, biological, specimens, birds, fish, insects, shells, bee products?
(Binatang, bagian dari binatang, produk binatang termasuk peralatannya, makanan binatang, telur, burung, ikan, serangga, kerang, serta produk lebah termasuk madu?)

9. Soil, item with soil attached or used in freshwater areas eg' sports/recreational equipments, shoes?
(Tanah, atau barang-barang yang mengandung tanah. Misal ya kamu bawa sepatu atau sendal kotor yang ada tanah-tanahnya, pasir, atau apapun deh). Soalnya mereka ini sangat menjaga keaslian hayati di sana.

10. Have you been in contact with farm animals, wilderness areas of freshwater stream/lakes etc in past 30 days? 
(Apa pernah kongak dengan hewan ternak, hewan di alam liar, atau hewan air dalam 30 hari terakhir? 

11. Were you in Africa, South/central America or the Carribean in the last 6 days?
(Apa kamu habis dari Africa, Amerika Selatan atau Karibia dalam 6 hari terakhir?

Paling bawah ada tulisan "your signature" day, month, year

Nah jangan lupa tanda tangan di bawah tulisan "your signature" sertakan tanggal, bulan, tahunnya ya. Setelah itu balik halamannya (turn over the card)

Halaman Belakang
Cara mengisi kartu ledatangan Australia
Sudah selesai? Nanti berikan bersama paspor pada petugas imigrasi ya.
Sumber pic: homeaffairs[dot]gov[dot]au 

Your contact details in Australia
(Orang yang bisa dihubungi di Australia, mengenal dan bertanggung jawab dengan kami selama di Australia)

Phone, Email or Address (cukup jelas)

Emergency Contact Details (Family or Friend)
(Isi dengan kontak keluarga/teman kamu yang bisa dihubungi. Kalau saya isi dengan nama salah satu keluarga yang gak ikut berangkat).

Name, Email, Phone or Mail adress

Please complete in english
In which country did you board this flight or ship?
(Dari negara mana pakai pesawat itu?) Kalau saya jawab "Indonesia".

What is your ususal occupation?
(Pekerjaan kamu apa?) Kalau saya jawab "housewife" biar gampang.

Nationality as shown on passport
(Kewarganegaraan sesuai paspor?) Saya jawab "Indonesia".

Please x and answer A or B or C 
(Jawab pakai tanda silang, yang A, B, atau C)
Kalau saya karena untuk holiday isi yang kolom B.
A. Migrating permanently to Australia
(Mau pindah secara permanen ke Australia)

B. Visitor or temporary entrant 
(Turis atau yang cuma sebentar aja di Australia)
Your intended length of stay in Australia. 
(Kira-kira berapa lama kamu tinggal di Australia?)
Your country of residence
(Negara tempat tinggal kamu). Saya jawab Indonesia.
Your main reason for travel (x one only)
(Alasan utama kamu ke Australia (x satu aja))
Convention/conference
Business
Visiting friend or relatives
Employment
Education
Exhibition
Holiday (saya silang yang ini, karena memang untuk liburan) 
Other
(Isi sesuai dengan tujuan kamu ya)

C. Resident returning to Australia
(Penduduk yang Ingin kembali lagi ke Australia)
Country where you spent most time abroad
(Negara di mana kamu menghabiskan waktu paling banyak di sana)

Nah itu saja sih yang harus diisi, gak banyak tapi memang detail dan cukup strict, termasuk sangat terbatas soal barang-barang apa saja yang boleh dibawa masuk ke sini. Oya bayi dan anak tetap harus diisikan kartu ini ya tanpa tanda tangan tentunya.