Featured Post

Ad Block

Artikel Pilihan

8 Tips Liburan ke Bromo Bersama Anak

tips liburan ke Bromo bersama anak

Liburan ke Bromo bersama anak? Why not! Bromo itu sudah terfasilitasi banget lho buat para turis. Bromo menjadi wisata "pendakian" yang ramah anak. Kita bisa dengan mudahnya menuju view point (baca: tempat melihat sunrise) dengan jeep tanpa perlu berlelah-lelah mendaki. Banyak warung makan, sekadar mie instan atau telur dadar dan ceplok mudah didapat. Namun demikian, kita tetap harus perhatikan apa saja yang perlu jadi catatan selama liburan ke Bromo bersama anak. Yuks simak tips berikut:

1. Pastikan kondisi anak fit
Jangan memaksakan keinginan. Daya tahan tubuh anak tidak seperti orang dewasa. Anak yang sedang meriang, batuk, dan pilek sangat mungkin membuatnya jadi cranky karena memang kondisinya tidak nyaman. Apalagi yang memiliki riwayat asma, ada baiknya konsultasikan dahulu ke dokter sebelum bepergian dan mintalah perbekalan obat-obatan yang bisa dibawa. Secara umum setidaknya bawalah obat penurun panas, obat pilek tetes (misalnya: breathy), balsam bayi, minyak telon, dan lainnya. Perhatikan juga kondisi fisik ayah bundanya ya. 

2. Pastikan anak kenyang tapi tidak kekenyangan.
Bila perut kosong dan terkena embusan angin yang dingin, siapapun mudah masuk angin. Nah, untuk menghindari hal ini pastikan anak kenyang tapi jangan sampai kekenyangan. Perut yang kenyang akan membuat anak lebih anteng dan dapat menikmati suasana dengan menyenangkan.

3. Pakaikan outfit untuk cuaca dingin
Kenakan jaket tebal, kupluk atau topi bulu yang menutup telinga, syal, kaos tangan, dan kaos kaki. Syal bisa juga digunakan untuk menutup hidung sang anak bila sewaktu-waktu ada deburan pasir. Bila masih bayi sangat dianjurkan membawa selimut bayi. Meski saat pagi hingga siang cukup terik namun anginnya masih sangat dingin. Sebaiknya gunakan semua kostum yang bisa menghangatkan. Demikian juga untuk kedua orang tua, pakailah outfit yang nyaman, sepatu cats atau sandal gunung sangat disarankan.

4. Siapkan makanan ringan dan air minum
Menjelajah Bromo tak cukup satu-dua jam. Sehingga sangat mungkin berangkat yang dalam kondisi kenyang seiring penjelajahan menjadi lapar kembali. Memiliki persediaan seperti roti atau biskuit susu bisa mengganjal perut sementara waktu dan jangan lupa lengkap dengan air minumnya ya. 

5. Siapkan gendongan yang nyaman
Yang bepergian dengan bayi, gendongan ala kangguru ini rasanya sangat nyaman, bayi akan merasa lebih hangat karena dekat dengan tubuh ibunya. Ibu pun tidak begitu lelah pada satu sisi bahu karena beban dibagi rata di kedua pundak. Kalau stroller? Saya sih tidak menyarankan, karena kawasan TNBTS ini kaya lautan pasir, mobil saja harus yang 4WD atau sebangsa Jeep untuk bisa melaju di tempat ini.

6. Siapkan payung lipat
Meski tidak sedang musim hujan, payung ini berguna untuk menghalau teriknya matahari kala siang. Bila musim hujan baiknya juga sedia jas hujan. Bulan agustus sangat dingin bahkan bisa turun salju, sedangkan paling baik untuk mengunjungi Bromo karena hawanya sejuk dan rerumputan tumbuh cantik adalah bulan April.

7. Ikhlaskan sunrise
Tak bisa dipungkiri salah satu yang menjadi andalan dan daya tarik Bromo adalah sunrise-nya. Gradasi warna yang tercipta sebelum, saat, dan setelah terbitnya dapat menyihir siapapun yang melihatnya. Namun untuk bisa melihat sunrise ini biasanya kita sudah harus bersiap sejak tengah malam. Nah, ini yang menjadi pertimbangan lebih buat para orang tua, akankah memaksakan kehendak melihat sunrise yang belum pasti terlihat (misal dalam kondisi mendung atau tertutup kabut dan awan), atau membiarkan anak beristirahat agar nyaman dalam menjelajah Bromo? 

Kalau saya prefer mengikhlaskan sunrise, demi anak cukup tidur, bangun dengan segar, dan nyaman menjelajahi Bromo. Percayalah Bromo masih sangat anggun berdiri di antara kompleks Pegunungan Tengger meski sudah melewati fase sunrise. Ingin tahu seperti apa panorama TNBTS selepas matahari terbit? Ini kisah saya ketika Lost in Bromo; Liburan Bersama Anak.

8. Berikan briefing 
Anak-anak itu sama kaya kita perlu di-briefing sebelum mengunjungi tempat baru. Kita juga seringkan membaca review, ingin tahu seperti apa tempatnya, harus bagaimana ketika di sana, dan semacamnya. Nah, anak-anak juga demikian, baginya mengunjungi tempat atau orang baru sama menegangkannya ketika kita harus bicara di depan umum yang dihadiri seorang Gubernur. Penting untuk memberi tahu bahwa kita akan melakukan perjalanan ke Gunung. Tambahkan informasi-informasi yang menyenangkan dan jangan menceritakan hal yang dapat membuatnya berpikir negatif. Dan untuk orang tua juga penting berpikir positif.

Nah, sekiranya itulah beberapa hal perlu diperhatikan ketika kita ingin mengajak anak berlibur ke pegunungan, salah satunya Bromo. Jangan lupa berdoa. Teruslah menjelajah bersama si kecil, tunjukkan padanya bahwa dunia ini indah dan wajib kita jaga keindahannya. Happy Traveling!


Itinerary Lengkap Wisata Batu-Malang 4 Hari 3 Malam


Sejujurnya buat kalian yang memang punya banyak waktu untuk liburan dan memutuskan untuk pergi ke Malang Raya, percayalah liburan 4D3N ke sana itu sangat amat kuuuurang, apalagi sama anak kecil. Yap, inilah yang kami rasakan, semangat menggebu apa daya fisik juga harus diperhatikan haknya.

Nanti saya paparkan juga itinerary awal yang lumayan padat tetapi sangat memungkinkan bila ingin dijalani, kalau saya karena melihat kondiai anak dan orang tua jadi lebih santai saja dan melepaskan beberapa destinasi demi kenyamanan bersama. 

Day 1 (CGK-MLG, Museum Angkut)
Sebagai informasi saja, kami sudah memesan tiket pesawat return sejak jauh hari di GATF. Pesawat Garuda ini untuk rute Malang dari Jakarta hanya ada dua flight yaitu jam 08.20 dan 10.40. Kami memilih flight pertama dan tiba di Malang sekitar pukul 10.05. 

Hari pertama ini itinerary kami sebetulnya padat. Begitu tiba ada jadwal ke Jatim Park3 dan sorenya ke Museum Angkut. Namun karena saat itu lalu lintas padat karena sedang ada karnaval dan kami baru tiba di sekitar penginapan pukul 12.30an kami memilih makan siang dulu di warung Mbok Sri. Setelah itu cek-in hotel di The Singhasari Resort sekitar jam 13.30an.
Warung Mbok Sri di Batu
Makan siang dulu...
Lelah? Pastinya ... So, rencana ke Jatim Park kami pending dulu, demi menyiapkan stamina untuk eksplorasi museum Angkut di sore hari. Biaya masuk museum Angkut saat akhir pekan lebih tinggi dari hari biasa. Hiks, padahal udah milih liburan dari minggu sampai rabu, lupa ke Museum Angkutnya malah hari minggu. Hihi, tapi nggak apa-apa tetep seru kok. Berapa harganya? kalau tidak salah IDR 100.000/pax, anak dengan tinggi di atas 85 cm dikenakan tarif yang sama.

Malam harinya kami makan di Warung Wareg, menunya mirip-mirip dengan Mbok Sri, aneka ikan, udang, cumi, rawon, nasi goreng, dan sebagainya.
Tempat makan keluarga di Batu
Gelap yaaks, maaf...

Day 2 (Bromo-Staycation)
Ini kayanya yang jadi gong acara kami selama di Malang Raya. Kami memang sengaja nggak mengejar sunrise. Jadi kami berangkat ke Bromo setelah subuh sekitar pukul 05.30 dari penginapan. Biaya masuknya sangat terjangkau dengan panorama alami yang masya Allah memanjakan mata banget. Sekitar jam 11.00 kami kembali turun ke Malang dan makan siang di Resto Festival Dermaga. Sesuai namanya restoran ini juga menyajikan aneka makanan laut. Lucu sih desainnya bertema kapal-dan laut gitu. Soal rasa biasa saja tapi saya rasa anak-anak akan suka karena ada tempat makan menyerupai kapal serta kids corner.
Restoran festival dermaga Malang
Resto Festival Dermaga
Selepas dari Bromo yang asliii capek banget tapi seneng, selanjutnya kami lebih memilih menikmati siang hingga malam di The Singhasari Resort. Habis naik gunung sorenya berendam di jacuzzi enak kali yaaa ... 
Jacuzzi di the singhasari Resort
Bilang masnya dulu yaa, biar dinyalakan air panasnya.
Makan malamnya kembali ke Mbok Sri, hihi ... Selain enak lokasinya juga dekat sekali dengan penginapan. 

Day 3 (Coban Rondo, Toko Oen, Bakso Presiden)
Hari ketiga ini lebih santai, tadinya sempet galau sih mau ke Batu Secret Zoo atau Coban Rondo. Cuma karena mau yang lebih alami dan sulit dijumpai di ibukota jadilah kami memilih ke Coban Rondo. Seru? Bangettt, baca ya ulasan saya tentang Coban Rondo. 

Setelah dari Coban Rondo kami kembali makan siang di Mbok Sri, hahaha.... (((((3 days in a row))))) dan tempat duduk kami sama lagi dengan sebelumnya. Terus kami saling ledek gitu, ada yang bilang "ini mah mbaknya hapal banget sama kita" ada juga yang bilang "samain aja sama menu kemarin mbak" ada lagilah yang katanya "begitu kita dateng, si mbaknya langsung masakin menu kemarin tau, rawon, sayur bayem, bebek goreng, gurame saus telur asin".   Hahaha ... Tapi bagus kan ya jadi nggak usah repot, samain aja dengan yang kemarin. Jadi gini sih, selain emang ngelewatin juga bingung  milih-milih tempat makan di Batu, karena emang niatnya kulineran di Malang.

Sebelum ke Malang, kami nyempetin ke toko oleh-oleh persis di samping Warung Mbok Sri, cuma menurut saya harganya di atas rata-rata jadi kami membeli sekadarnya aja.

Perjalanan ke Malang sudah menjelang sore sekitar pukul 14.30an dan cuaca mendung disertai hujan rintik-rintik. Tadinya kami mau langsung cek-in di Kertanegara tapi karena sudah di luar, hujan juga sudah reda kami pun melipir dulu ke Toko Oen. Toko es krim legendaris yang juga sudah terdaftar sebagai Cagar Budaya Indonesia. Di Malang ini saya perhatikan memang masih banyak bangunan bergaya tempo doeloe yang masih cukup terawat.
Toko Oen es krim legendaris

Selepas mencicipi cita rasa es krim yang melegenda sejak zama kolonial tersebut kami beristirahat dulu ke penginapan. Sekitar jam 5 sore kami kembali ke luar menikmati Bakso Presiden, yang rasanya menurut saya itu .... C alias cukup tau aja sih, yah masih ada yang lebih enak. 

Oiya dekat Bakso Presiden ini ada sate ayam yang menurut saya enak, dagingnya juga empuk, dan bumbunya pas legitnya. Sebelum ke penginapan kami sempatkan mampir ke Strudel Malang yang tempatnya tidak jauh dari Kertanegara. 

Malam harinya kita semua beristirahat di kamar saja, karena besok pagi sudah harus cek-out. Hiks, sungguh 4 hari yang terasa sekejap saja selama di Malang ini. 

Day 4 (MLG-CGK)
Kami segera check-out setelah sarapan. Tidak sempat mampir-mampir lagi karena flight kami jam 10.55. Tadinya mau yang jam 13.00 cuma khawatir macet saat perjalanan dari bandara ke rumah. 

Demikianlah itinerary kami selama 4D3N dari jadwal itinerary sesungguhnya yang seperti ini: 

Hari Pertama Minggu (23/9)
Budget liburan di malang 4 hari
Itinerary hari pertama
Pukul 09.00 driver siap di bandara
Pukul 10.05 pesawat tiba
Pukul 10.30 menuju Batu 
Pukul 12.00 - 13.00 langsung ke The Singhasari Resort check-in (sholat dll)
Pukul 13.00 - 16.00 ke Museum Angkut di Batu
Pukul 16.00 - 19.00 Jatim Park 3
19.00 menuju ke Singhasari Resort rehat

Hari Kedua, Senin (24/9)
Budget Travel Bromo
Itinerary hari ke-2
Pukul 04.00 persiapan ke Bromo
Pukul 04.30 - 07.00 tiba di Wonokitri
Pukul 07.30 - 12.00 ke love hill, lautan pasir, savana, teletubies, pure dan kawah Bromo
Pukul 12.00 - 14.30 menuju Singhasari Resort rehat
Pukul 18.00 - 19.00 ke Alun-alun Batu
Pukul 19.30 - 21.00 ke BNS
Pukul 21.30 rehat

Hari ketiga Selasa (25/9)
Coban Rondo
Itinerary hari ketiga

Pukul 08.00 - 11.30 persiapan ke Omah Kayu, Taman Langit, Paralayang, Coban Rondo
Pukul 11.30 menuju Singhasari cek out 
(atau cek out skalian pagi bisa juga)
Pukul 12.00 - 13.00 ke pusat oleh-oleh di Batu
Pukul 13.00- 14.00 menuju Malang langsung Hotel check-in rehat
Pukul 16.00 - 21.00 muter-muter Malang 

Hari keempat Rabu (26/9)
Wisata alam di Batu
Itinerary hari keempat

Pukul 06.00 sarapan di hotel
Pukul 07.00 check-out
Pukul 07.45 transfer Bandara
Pukul 09.00 persiapan boarding
Pukul 12.30 tiba di Jakarta

See? Yang saya coret adalah tempat wisata yang kami lewati saat ini. Banyak bangetkan jadwal kami yang di-skip? Kalau kalian backpacker-an atau jalan berduaan aja atau anaknya sudah besar-besar mungkin bisa mengikuti itinerary di atas. Namanya liburan mah dibikin asyik saja ya...

Sekarang soal budget, berapaan sih yang dihabiskan selama 4D3N dengan 5 dewasa dan 1 anak?  Awalnya kami rencana hanya bertigaan saja, namun ternyata eyang kakung dan putri serta ontynya mau ikut juga, maka kami buat per 3 pax karena memang harganya berbeda. Di sini kami  juga menggunakan jasa travel jadi semuanya sudah termasuk tanpa perincian lebih lanjut seperti harga sewa transportasi, bensin, supir, dan lainnya.

Pesawat GATF return 3 pax: 3 x 1.100.000 = 3.300.000 (Ini yang kami pesan melalui GATF)
Pesawat GA return 3 pax   : 3 x 1.667.000 = 5.001.000 (Ini kelas V which is kelas promo terendahnya GA, kalau 3 pax bedanya lumayan yaa)
Paket Tour 4D3N 3 pax (supir, mobil, tiket masuk Museum Angkut dan Bromo) 3 pax : 3.000.000
Paket Tour tambahan 3 pax : 450.000 (Ini untuk yang tambahan 3 pax)
Coban Rondo 5 pax : 5 x 35.000 = 175.000 (karena bisa beli tiket di dalam saat kita mau ikut wahana)
Hotel The Singhasari 2 malam 2 kamar : 2 x 2 x 900.000 = 3.600.000
Kertanegara standard room per malam per kamar : 450.000
Kertanegara family room per malam per kamar : 750.000
Makan siang dan malam untuk 7 orang dengan supir selama 3 hari : 6 x 350.000 = 2.100.000
(Untuk makan saya ambil rata-rata saja karena memang bisa dibilang harga makan di sini cukup terjangkau, apalagi sesekali kami tidak makan di restoran besar)

Jadi total biaya semua yang kami keluarkan selama 4D3N, untuk 6 pax adalah : 18.826.000 atau sekitar 3.1jutaan/pax.  Menurut saya sih ini harga yang cukup terjangkau liburan dengan maskapai full service, penginapan berbintang, tiket wisata, makan, serta transportasi termasuk bensin, lengkap dengan supirnya, juga tour Bromo.

Semoga itinerary di atas bisa menjadi inspirasi buat kalian ya yang mungkin punya waktu liburan terbatas tapi ingin merasakan banyak objek wisata di Malang Raya. Soal harga tenang saja, banyak yang bisa ditekan kok, mulai dari pesawat, tempat menginap, makan, hingga transportasi. Jadi, silakan disesuaikan dengan budget dan kebutuhan masing-masing ya.
berapa paket liburan ke Malang
Happy Traveling!

See you on my next travel stories πŸ’—

Menginap di Kertanegara Malang; Premiun Guest House in Town

Guest house nyaman di Malang

Setelah dua hari kami menginap di Batu, jalan-jalan menikmati Museum Angkut, panorama Bromo, hingga sejuknya udara Coban Rondo, kini hari ketiga kami berpindah ke Malang. Selain agar lebih dekat dengan bandara, kami juga ingin menikmati wisata kuliner dan atmosfer kota Malang sesungguhnya.

Sekitar pukul 5 sore kami tiba di sebuah penginapan bernama Kertanegara. Tidak seperti biasanya kali ini kami memilih guest house sebagai pilihan tempat menginap. Selain lebih hemat pertimbangan lainnya adalah karena akan jadi tempat sekadar tidur saja. Dan mengapa juga harus di Kertanegara? Hmm ... sebab saya lihat sekilas review dan kamarnya oke banget karena ada family room yang muat hingga 4 orang. 

Lalu, benarkah aslinya seciamik ulasan dan foto-foto kamarnya yang ada? Yuks, dengarkan cerita saya berikut...

Kesan pertama saya melihat penginapan ini tuh homy banget. Saat pertama kali tiba saya lihat banyak pepohonan besar di pinggir jalan. Apalagi waktu itu habis hujan jadi aromanya tuh mantul (baca: mantap betul) deh. Parkirannnya sih tidak begitu luas, mungkin muat untuk 5-6 mobil saja. Parkirannya terletak di halaman depan, tak ada basement, pagar maupun pembatas berupa taman seperti penginapan pada umumnya namun ada pos satpam.

Setelah dari parkiran kami mulai masuk ke lobby. Dominan warna coklat dan kremnya memberi efek nyaman di mata. Beberapa furnitur kayu yang ada di lobby memperkuat kesan lokalnya sesuai dengan namanya yang jawa banget, tapi di luar itu semua, tetap kaya akan sentuhan modernnya. Lobbynya nyaman sebagai ruang tunggu maupun ruang bertemu teman atau klien karena bersih dan suasananya tenang. Staf front office-nya juga ramah dan proses cek-in lancar tanpa kendala.
Guest House dekat Ijen Boulevard
Lagi cek-in ceritanya.
pengalaman menginap di Kertanegara
Matur nuwun mba Erny jamuannya.
Kami mendapat kamar di lantai 2 dari 3 lantai. Bisa naik lift maupun tangga. Kami pesan kamar tipe standard dan family room. Untuk ukuran sebuah guest house tempat ini sangat di atas rata-rata, pantas saja kalau menamai dirinya premium guest house. Desainnya tidak kalah dengan sebuah hotel (budget). Kamar standard ini cukup luas dan komplit dari segi kelengkapan, ada amenities, kran air hangat, serta mini bar (teh, kopi, gula, dan kettlenya). Kasurnya empuk, nyaman dengan selimut linennya yang bersih. 
Kamar standard Kertanegara
Ini ruangan untuk standard-room. 
Sementara di kamar orang tua kami, tipe family-room jelas lebih luas. Ada dua kasur ukuran queen yang mana setiap kasurnya bisa muat untuk dua orang. Jadi kapsitas family-room ini bisa muat untuk 4 orang dewasa dan 2 anak kecil yang tidurnya masih sekasur sama orangtuaya. Oiya, Saking luasnya jadi sangat nyaman untuk solat. So kalau bicara soal kamar, jelas kenyamanannya untuk penginapan di kelasnya.
Family room di Kertanegara
Ini ruangan untuk family-room. 

Rate permalam perkamar untuk yang standar sekitar 450 ribu, sementara yang family-room 750 ribu. Semuanya sudah termasuk sarapan. Kalau family-room dapat jatah untuk 4 orang sementara yang standar seperti biasa untuk 2 orang. Oiya di sore hari juga disedikan snack dan teh di ruang makan, tempat yang sama untuk sarapan. Menu sarapannya dari segi rasa enak, kalau dari variasi standar sih. Ada ayam kecap, tumis buncis wortel, dan tahu goreng. Disediakan juga roti tawar lengkap dengan selai dan toasternya. Ada potongan buah segar juga seperti: pepaya, semangka, dan melon. Sementara untuk minumnya tersedia air putih, teh, dan air jeruk. Oya bila ingin telur bisa minta ke stafnya nanti dibuatkan di ruang sebelah tempat makan ini. Saya baru tahu bila sebuah penginapan tidak menyediakan egg-corner kita sebetulnya bisa pesan ke staf terkait.
dapat sarapan di Kertanegara
Rasanya sih lumayan enak. 
Ulasan menginap di Kertanegara Malang
Nah, ruangan sebelah kiri ini semacam dapur mini, bisa pesan minuman juga.

Dekat dengan ruang makan ada sebuah taman kecil cantik untuk berfoto-foto di sana. Sebagai tempat menginap dengan segmen semi-backpacker atau liburan keluarga hemat atau sekadar menjadi tempat menginap, Kertanegara ini sangat layak diperhitungkan.
Penginapan murah tapi bagus di Malang
Hyaah, narsis dulu ya om-tante 
Lokasinya yang dekat Ijen Boulevard sangat mudah diakses dari manapun. Area di sekitarnya juga banyak kafe untuk tempat meet-up bersama teman. Berselang satu gang/jalan di samping kanan hotel ada pusat oleh-oleh Malang Strudel. Oiya untuk daerah Ijen ini katanya kalau hari minggu ada CFD, sehingga jalanan di depan hotel ramai dengan orang jualan. Waktu itu kami menginap saat hari rabu sih, jadi terlihat sangat lengang. Daerah Ijen ini juga buat saya pribadi enak dipandang mata, karena selain bersih dan teratur juga banyak rumah mewah bahkan beberapa ada yang mempertahankan rupa asli zaman kolonial.
Dekat Ijen Boulevard
Aaah, jadi baper pengen ke sini lagi. 
Dekat pusat oleh-oleh Malang Strudel
Ini deket banget sama Kertanegara, cukup walking distance. Pilihan oleh-olehnya juga beragam nggak Strudel tok!
Aaah, meski tak ada fasilitas fitness center, kita tetap bisa mengolah tubuh dengan menghirup udara pagi dan berjalan santai atau berjogging di sepanjang Ijen Boulevard yang nyaman.
See you on our next travel stories

The Singhasari Resort Batu; Hotel Mewah nan Bersahaja


Saya percaya kalau ada yang bilang "everything happens for a reason". Sebetulnya kami merencanakan liburan ke Malang sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Namun entah niat yang belum terlalu kuat atau memang secara keadaan belum memungkinkan, jadilah rencana liburan ke Malang itu mengendap di dalam bucket list kami hingga beberapa tahun.

Sampai suatu ketika di bulan April 2018, waktu itu ada GATF, beragam destinasi luar pun kami incar. Siapa sih yang nggak ngiler lihat tiket ke Korea pergi-pulang cuma 3jutaan? Tapiiii, mengingat satu dan lain hal salah satunya visa, jadilah kami urungkan niat tersebut. Karena merasa sayang kalau nggak ambil kesempatan di GATF jadilah kami pilih destinasi domestik, yaitu Malang. 

Jeda dari tiket ter-issued sampai berangkat itu sekitar 5 bulan. Cukup lama sih, tapi tetap saja urusan hotel galaunya nggak kelar-kelar. Sampai H-5 kalau nggak salah sudah mengerucut dan keluarlah dua nama yaitu Golden Tulip Holland Resort Batu (hotel anyar) dan The Singhasari Resort Batu. Baca review sana-sini, pertimbangan orang tua, lokasi, serta fasilitas, akhirnya kami memilih The Singhasari Resort. Kalau saya pengen merasakan dua-duanya sih, tapi kasihan yang lain dan pasti ribet urusan cek-in/outnya.

Sampai akhirnya, penghujung September lalu kami tiba di Bandara Abdul Rahman Saleh, Malang sekitar jam 10an pagi. Bandara Malang ini tidak terlalu besar tapi kata suami yang beberapa tahun lalu pernah ke sini sudah sangat banyak kemajuannya. Ada photobooth bertuliskan IπŸ’—Malang sebelum pintu keluar. Sepuluh menit kemudian supir kami tiba di terminal kedatangan. Agak telat dari jadwal sih karena katanya sedang ada bersih desa alias karnaval. Awalnya saya antusias, whuaa bisa sekalian lihat karnaval nih, tak tahunya, hihi...
Abdul Rahman Saleh
Touchdown; Foto dulu yes
Kami datang hari minggu, suasana kota cukup ramai, sesekali juga arus lalu lintas tersendat karena antre lampu merah daaaan ada bersih desa alias karnaval. "Ooh seperti ini toh" gumam saya. Tidak sempat terfoto karena saat melintasi, kendaraan kami sudah di ekor barisan, sementara mereka berbelok masuk ke jalan yang lebih kecil.

Ternyata karnavalnya nggak cuma di sana, tapi ada juga di perempatan menuju Batu menggunakan jalan protokol, akhirnya kami dialihkan ke jalan alternatif yang cuma satu-satunya dan bisa dibayangkan seperti apa macetnya. Huwaah lihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, pantes perut kok sudah berasa laper. Ya sudahlah kalau begitu mesti makan dulu ini baru cek-in. Makan siang kami di RM Mbok Sri letaknya tidak jauh dari The Singhasari Resort. 

Sekitar pukul 1 siang kami menuju hotel. Tidak ada kesan "menonjol" dari luar (baca: jalanan) tampilannya sangat sederhana. Namun siapa sangka selepas melewati pemeriksaan kendaraan oleh mba-mba satpam yang sangat ramah kami melihat area parkir dan halaman yang sangat luas. Tampak juga bundaran kolam air mancur dengan serangkaian huruf kapital bertuliskan TSR yang cukup besar. 

Mobil yang kami tumpangi tiba di depan lobby, seorang staff membuka pintu mobil kami dengan senyum mengembang mengisyaratkan keramahan. Staf lain yang melihat kerepotan kami juga sigap membantu merapikan koper dan barang bawaan kami lainnya. Yang saya suka dari lobby ini ruang terbukanya sangat luas, sehingga tidak butuh pencahayaan lebih di siang hari. 

Sementara suami cek-in, saya dan anggota keluarga yang lain duduk-duduk santai di lobby. Segelas minuman jahe dingin serta handuk hangat mendarat di meja kami, kombinasi yang pas untuk melepas penat kami setelah lama bermacetan siang itu. Proses cek-in tak ada kendala, stafnya sangat ramah dan helpful bahkan permintaan kami untuk rice box sebagai bekal ke Bromo keesokan paginya langsung di follow-up.
Lobbynya luas banget dan TSR tahu karena Batu sejuk jadi dibuat terbuka selebar-lebarnya, tanpa daun pintu apalagi AC.
Pemandangan di belakang bangku yang sebelah kiri ini adalah Gunung yang sangat cantik
Sampailah kami di kamar yang masih satu lantai dengan lobby, pertimbangannya meminimalisir naik turun tangga karena kan bawa orang tua dan anak kecil, meski begitu tidak berisik kok. Kami memesan 2 kamar tipe deluxe, yang satu double-bed ukuran king size, satunya lagi twin-share dengan satu bed tambahan. 
Hotel bagus di Batu
Waktu pertama tiba tidak ada boneka handuk itu. Ini foto diambil saat hari ke-2 selepas balik dari Bromo.
Ambiance-nya njawa banget, motif kain pada background lampu maupun hiasan selimut, sarung bantal dan lemari kayu misalnya kental akan kesan klasik dan semua ini tetap dibalut dengan modernitas yang bernama tekonolgi. Ada free wifi serta akses internet yang sangat cepat. Meski tidak ada bath-tub tapi sebagaimana hotel berbintang lainnya, tersedia water heater yang berfungsi dengan baik, amenities pun tersedia cukup lengkap, hanya saja saya merasa masih kurang dari segi keharuman baik sabun maupun shampoonya dan handuknya juga terlihat sudah lama. 

Warna kamar tidur yang dominan coklat dan krem ini menambah efek relaksasi. Kasurnya sangat nyaman dilengkapi linen putih yang bersih. Kamar kami tidak ada akses baik ke taman maupun kolam renang, pemandangannya ya taman dan lukisan alam, hmm... asyiknya itu jadi lebih private dan romantis, hahaa... Harga kamar ini sekitar 1.3jutaan/malam. Namun waktu itu karena kami pesan langsung untuk 2 malam jadi dapat diskon sehingga harganya sekitar 900ribu/malamnya. Alhamdulillah ...
menginap di the singhasari resort
Entah menatap apa, tapi dia senang banget di sini. Hawanya juga sejuk sih.

Hari pertama kami melewatkan sarapan di hotel. Kami dibekalkan menu Indonesia nasi kotak yang isinya nasi goreng, telur rebus, ayam goreng, sate lilit, jeruk, dan kerupuk. Sementara menu western-nya berisi 1 lembar roti gandum dan 1 lembar roti biasa, butter, telur rebus, selai, susu, dan aneka pastry. Pastrynya ini enak-enak apalagi pakai butter jadi menguatkan rasa. Oiya ini satu orang pilih ya, mau menu Indonesian atau western

Hari selanjutnya baru kami sarapan di hotel. Letaknya satu lantai di bawah lobby. Menunya sangat beragam, dari luar sudah tersedia aneka roti, sushi, jamu-jamuan, soto madura, sandwich, aneka bubur, pecel, waffle dan pancake, aneka buah dan jus segar, egg-corner dan tentunya makanan berat. Kalau saya sih seperti biasa mengawali dengan buah, lalu beberapa menit kemudian lanjut sandwich, omelet, dan terakhir soto madura dengan nasi. Semuanya enak dan soto maduranya enaaaaak banget.
Ronde1: Buah dulu, cukup segini aja karena kan niat makan yang lain juga.
Ronde2: Waw porsinya lumayan, makan 1 slice aja sudah kenyang. Ya sudah yang satunya disimpan.
Ronde3: Rahasiaaaa, ahaha... Pokoknya ronde 3 harus nasi biar anteng. #AkuCintaIndonesia
Nah yang nggak boleh terlewat adalah kolam renang, sayangnya sore hari saat kami mau berenang, kolamnya agak kotor. Bukan kotor karena kotoran yang menjijikkan sih tapi kotornya karena serbuk-serbuk bunga yang tertiup angin. Siang menjelang sore waktu itu, memang anginnya cukup kencang dan pasca hujan juga kalau tidak salah. Para petugas di kolam renang juga sudah berusaha menyaring namun namanya tempat terbuka dan banyak bunga tentu sulit dihindari. Akhirnya si anak, suami saya dan adiknya memilih berendam di Jacuzzi, airnya lebih hangat dan ada efek gelembung-gelembungnya jadi ada sensasi kaya dipijat-pijat gitu. Kemudian kami mengecek lagi kolam biasa, ternyata airnya dingin banget, terus jacuzzi kami dipakai keluarga lain, jadilah udahan aja berenangnya, hahaha... Aseliiik belum puas banget si anak, hihii...
Serbuk-serbuk dari bunga-bunga itulah yang menghiasi kolam renangnya.

Fasilitas lain untuk yang sifatnya rekreasi itu ada, movie theater, kids club and children playground, dan game center. Sementara untuk yang sifatnya olahraga itu ada kolam renang, tennis court, gym and fitness center, billyard, dan mini golf. Dan kalau mau supaya tambah rileks ada juga fasilitas spa.
Nggak usah ditanya si anak senengnya kaya gimana :D
Satu hal yang menurut saya hotel ini patut jadi pilihan adalah lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan aneka tempat wisata, seperti Jatim Park3 dan BNS (Batu Night Spectacular). Mau ke Museum Angkut juga tidak terlalu jauh sekitar 15 menit dengan kendaraan roda empat bila arus lalu lintas lancar, sementara kalau ke Coban Rondo masih sekitar 20-30 menitan lagi. Dalam hal mencari makanan juga tidak sulit, keluar hotel, nengok kanan sedikit sudah terlihat warung Mbok Sri, tempat makan keluarga yang enak dan murah meriah. Mencari oleh-oleh juga nggak susah, di samping RM Mbok Sri juga ada hanya saja harganya lumayan, ada lagi yang lebih komplit dan besar tempatnya, namanya Brawijaya Istana Oleh-Oleh, sekitar 10 menit dengan kendaraan juga sudah tiba di alun-alun Batu. 

Sayangnya padatnya kegiatan kami mengeksplor Malang Raya, membuat kami belum cukup puas merasakan kenyamanan yang hqq... #lebay Aah, selalu ingin kembali ke The Singhasari Resort, dan semoga segera bisa ke sini lagi. So far, inilah penginapan dengan staff terramah yang pernah saya jumpai.

See you on our next travel stories :)

Perjalanan ke Coban Rondo yang Melegenda


Setelah mengalami pergulatan batin antara Museum Angkut dan JTP3, kini bingung lagi antara Coban Rondo (Air Terjun) atau Batu Secret Zoo (Kebun Binatang). Hiyaah gitu aja pakek bingung segala. Beginilah kalau liburan singkat sementara tempat wisatanya banyak banget. Baiklah, agaknya tema liburan ke Malang kali ini lebih ke alam aja ya mencari yang lebih natural, soalnya di Jakarta susah nyari yang beginian. Ibaratnya nih bagi warga Jakarta kalau mau ke kebun binatang bisa ke Ragunan atau kalau mau yang hawanya mirip di Batu, bisa ke Taman Safari. Tapi kalau nyari Air Terjun alami, mau kemana coba? #makesensekanya

Hari ketiga di Malang ini jadwalnya lebih santai sih. Kami keluar hotel sekalian check-out sekitar jam 09.30an pagi. Heuheuu asliii kurang banget rasanya liburan di Batu, Malang ini. Soalnya selain belum puas nikmatin hotelnya itu sendiri juga karena banyak tempat wisata sekitar penginapan yang belum kita kunjungi. Sebagai informasi saja The Singhasari Resort, tempat kami menginap ini dekat banget sama JTP3 dan BNS. Bismillah, next kalau liburan lagi ke sini eksplor semuanya deh ya.

Otw Coban Rondo

Kalau dari penginapan kami The Singhasari ini untuk mencapai Coban Rondo masih harus nanjak lagi ke arah Pujon sekitar 20 menitan. Perjalanan kami ke Coban Rondo cukup lancar, jalannya berkelok-kelok tapi bagus. Sepanjang jalan kiri-kanan banyak pohon-pohon tinggi, yah mirip-mirip seperti di Puncak suasananya, cuma di sini lebih sepi, beda sama Puncak yang kiri kanan sudah banyak kios-kios dan restoran. 

Begitu sampai kami yang masih di dalam mobil, membayar tiket masuk sebesar 35ribu/orang. Tiket masuknya ini nanti bisa digelangkan supaya mudah ditandai saat mau masuk wahana. Ini merupakan tiket terusan, jadi kita bisa pakai untuk bermain hampir seluruh wahana. Wow bisa dibilang murah ya, padahal yang disajikan itu bentukan alam yang nggak ada duanya. Iya dong mungkin tempat lain ada Coban juga tapi pasti tidak ada yang identik satu sama lain, namanya juga ciptaan sang Maha Kuasa.

Wahana Outbond dan Labirin

Wahana pertama yang kami temui adalah lebih ke kegiatan outbond. Ada flying fox, panahan, berkuda, labirin, serta beberapa spot foto yang instagrammable banget. Tadinya sih saya mau men-skip tempat ini karena fokus utama kami ya Coban Rondo aja udah, tapi pikir yang lain, "udah lihat dulu saja, kalau tidak suka tinggal pindah." Hmm... bener juga sih. Oiya lagi pula anak saya waktu itu mengeluh pusing, kayanya antara kena AC langsung saat di mobil atau jalannya berkelok-kelok. Jadi ya sudah saya pun mengurut punggungnya sebentar dengan minyak telon sambil si anak memeluk ayahnya. Daaan, seketika si ayah gelege'an alias sendawa berkali-kali, setelah itu? Alhamdulillah si anak pun ceria kembali malaaaah ngajakin naik flying fox yang tingginya, beuuuh saya aja gak mau nyobanya.

Ya sudah karena si ayah juga mau nyobain, jadilah berduaan mereka terbang romantis di flying fox. Daaaan ternyata dong dia malah minta lagi... Hohoo ... Sudah ya karena memang satu gelang ini hanya berlaku 1x permainan tersebut. 

Kami terus berjalan menjelajahi tempat lainnya. Ealah ternyata ada panahan, si suami katanya mau coba. Terus otak akuntingku muncul, "masa aku gak main apa-apa, lha wong sudah bayar yasudah kalau panahan mah hayuk aja deh."  Gitu deh kira-kira gumamku dalam hati. Meski begitu, tetap saja anak panahku malah banyak dipake sama suami, untungnya pas anak panah terakhir berhasil masuk di lingkaran. Apa sih ini istilahnya? Haahaa ...
Ternyata berat juga yes nariknya...
Nggak jauh dari tempat panahan ini juga adala toilet dan musholla. Di sisi sebelahnya ada area luas yang sudah ditata dengan sangat cantik dan apik. Kalau sudah di area sini, foto di mana juga pokoknya cakep deh. Oiya satu lagi, di sini juga ada taman labirin lengkap sama menara pengintainya. Buat apa? Ya mungkin buat memberi petunjuk yang di dalam labirin. Soalnya nek ora bisa mumet di dalam labirin. 
Asyiknya jalan rame-rame itu ada yang motoin :D
Ada yang pernah masuk labirin?
Dekat wahana ini banyak tukang jajanan termasuk oleh-oleh. Sebagai informasi saja ya, toko paling kanan menjual dengan harga yang relatif terjangkau dan kualitasnya cukup baik. Buat perbandingan saja, anak saya dibelikan topi oleh yangutinya topi dengan harga 20.000, kacamata 15.000 dan kaos dengan bahan adem seharga 35.000 saja dooong. Sementara di tempat oleh-oleh, kaos dengan kualitas bahan yang bagus itu harganya paling murah 65.000an, huwaah terus menyesal kenapa nggak beli pas di Coban saja. Ya sudahlah itu namanya rezeki. Sekarang sudah tau kisaran harga di tempat oleh-oleh jadi next kalo di tempat wisata ada yang menjual barang dengan kualitas sama tapi harga lebih miring, sikat aja.

Coban Rondo; Bukan Sekadar Air Terjun

Nah ini yang ditunggu-tunggu, asli penasaran karena saya kayanya sih memang belum pernah lihat air terjun secara langsung. Terus langsung kepikiran dong, pas adik ipar bilang waktu dia ke Coban Rondo ada monyetnya. Heuheuuu ... Nah kan pas sampai di parkiran bener aja, monyetnya ternyata buanyaaak banget, udah gitu gede-gede dan lincah-lincah. Katanya tipsnya adalah jangan tatap mata si monyet, soalnya dia bisa jadi agresif karena merasa terancam dan juga kalau bisa makanan atau minuman diumpetin dulu deh. Waktu itu ibu mertua saya nenteng jagung ke mobil dan kita udah teriak semua takut si monyet masuk. Soalnya itu monyet udah kaya mau nggaruk makanannya gitu.
Banyak jajanan di parkiran
Kesunyiannya bikin nyaman banget saat berkunjung ke sana.

Ya sudahlah, bismillah ... Yakin saja nggak akan reseh kok kalau kita tidak membuat dia tidak nyaman. Monyet di sini tidak seagresif yang di Uluwatu, Bali, jadi woles aja ya. Waktu itu kami ke sini hari selasa, tidak begitu banyak pengunjungnya jadi sangat nyaman. 

Ternyata tidak jauh kami berjalan dari parkiran sudah mulai tampak air terjunnya. So, saya bisa bilang Coban Rondo kurang cocok buat kalian yang suka liburan ala petualang. Ini lebih cocok buat pelancong dengan paham narsisme kaya saya yang menyukai alam tapi ala-ala koper. Makanya kopermini merasa cocok banget ke sini. Ambiance-nya itu juara banget, bikin betah berlama-lama, menghirup udara pegunungan yang segar banget. Di sekeliling kami banyak pepohonan tipikal dataran tinggi gitu yang bentangan cabangnya hampir menutupi langit Coban Rondo. Nah beberapa langkah kemudian, kami sampai di hadapan air terjun Rondo, sampingnya itu ada sungai yang airnya jernih banget, dihiasi batu-batu kali beraneka ukuran. Aah, heavenly!
Pohonnya tinggi-tinggi banget
Masya Allah, aslinya cantik bangettt... Air terjunnya langsung mengalir ke sungai.

Sungainya berundak-undak dengan banyak bebatuan mulai dari kerikil hingga yang besar.

Maka, sesi foto-foto menjadi keharusan setelah sebelumnya memuja kebesaran Ilahi dengan segala ciptaanNya. Tidak berlama-lama sih kami di sana, paling sekitar 15-20 menitan. Hhh... Nyatanya kepuasan manusia memang segitu saja ya, coba bandingkan dengan perjalanan menujunya. #kontemplasi.

Setelah puas kami kembali ke mobil untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Malang. Namun dalam perjalanan ke parkiran ternyata saya menemukan spot di mana terdapat beberapa mainan anak seperti ayunan, perotosan, dan jungkat-jungkit. Saya juga menemukan sebuah tulisan berupa legenda Coban Rondo di papan wawasan yang ada di sini, mau tahu kisahnya :
Asal-usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusuma berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan.
Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tiak jelas asal usulnya. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan kepada punokawan yang menyertainya Raden Baron  berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada Cobannya (air terjun), perkelahian berlangsung seru dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menjadi janda (Dalam bahasa jawa Rondo).
Sejak saat itulah, Coban tempat tinggal Anjarwati menanti suaminya dikenal dengan COBAN RONDO...
Konon, batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri.
Nah, kisah legenda Coban Rondo ini mengakhiri eksplorasi kami di sini. See you on next trip stories. :)

Lost in Bromo; Liburan Bersama Anak

Liburan bersama anak ke Bromo


Bukan tanpa prencanaan, justru perjalanan kami ke Bromo selepas subuh adalah perencanaan yang sudah sangat matang sejak awal. Kami memang tidak mengejar sunrise, alasannya tentu saja demi kenyamanan si anak. Mungkin sebagian menyayangkan ke Bromo tak melihat sunrise itu ibarat makan pizza nggak pake toping, hahaa ... Apa bagusnya gitu mungkin ya ... Tapi, saya rasa kalian harus setuju selepas sunrise pun kawasan Bromo ini masih memamerkan pemandangan yang sangat cantik. 

Perjalanan kami waktu itu berawal dari The Singhasari Resort di Batu. Sekadar informasi saja, sebetulnya kalau mau ke Bromo itu lebih dekat dari Malang ketimbang Batu. Pukul 05.15 pagi kami sudah siap di lobby hotel, tak lupa mengambil nasi kotak berisi nasi goreng komplit dan roti di meja reservasi sebagai bekal sarapan kami di mobil. 

Sebetulnya ini sudah agak kesiangan sih, langit juga sudah lumayan terang. Tapi, tetap asyiklah kami jadi bisa melihat dengan jelas aktifitas warga Malang di pagi hari, ada yang berangkat sekolah, siap-siap berdagang, kerja, dan lainnya. Waktu tempuh kami dari penginapan hingga ke kawasan TNBTS  (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sekitar 1.5 jam melalui jalur Tumpang, katanya ada juga jalur lain melalui Pasuruan hanya saja lebih lama sekitar 3 jam kalau dari penginapan kami, atau bisa juga melalui Probolinggo. Memang banyak jalan menuju Bromo karena letaknya yang di tengah-tengah. 

Sebelum memasuki kawasan TNBTS, kita membayar tiket masuknya dulu. Untuk kendaraan roda empat dikenakan biaya 10.000, sementara perorangnya saat hari kerja 27.500. Harga yang sangat terjangkau, meski begitu untuk wisatawan mancanegara ada perbedaan harga sekitar 10x lipatnya. Di samping loket retribusi ini ada toilet, sebaiknya kalau udah ada rasa-rasa ingin buang air mending di sini saja. Soalnya mulai pergantian Jeep agak susah mencari toilet. Waktu itu kami sampai meminta izin numpang ke toilet sekolah di tempat pergantian Jeep ini. Whuaa pas pintu mobil dibuka, jangan ditanya bagaimana rasanya. Dingiiin brrrrr, bahkan dinginnya mengalahkan AC mobil.... Saya langsung memakai jaket karena kami akan berpindah mobil.

Ini kali pertama buat saya dan si anak naik Jeep. Pengalaman yang mendebarkan, bagaimana tidak, melihat mobilnya saja sudah kebayang sangarnya menaklukan medan. Aah ada sih rasa deg-degan, hingga saya sampaikan ke sang supir, "Jalannya santai aja ya, Pak!" Alhamdulillah sang supir, Pak Sujud sangat ramah dan beliau juga punya jam terbang yang tinggi mengendarai Jeep ini, jadi cukup menangkanlah. 

Kami ber-6 ditambah supir sudah siap di mobil. Yang jelas tidak lupa berdoa. Formasi duduk kami di Jeep, suami dan anak (5 tahun) di depan. Saya, adik ipar, ibu & bapak mertua di belakang. Kursi belakangnya ini berhadapan dan saya kurang nyaman dengan posisi ini jadi tetaplah ngadepnya ke depan terus selain juga karena ngeri liat samping yang jurang. Sebetulnya jalannya relatif bagus cuma memang medannya agak curam, berliku, dan sempit. Jadi kalau ada Jeep yang papasan yah tau sama tau deh, yang lebih lowong ya mengalah saja.
harga tiket masuk bromo
Pengalaman pertama selalu berkesan 
Sekitar 15 menit setelah berganti Jeep tadi kami mulai memasuki kawasan padang savana dengan gugusan bukit di sisi kiri dan kanannya. Sayang beberapa minggu sebelum kedatangan kami, area ini sempat terbakar dan kini menyisakan rumput-rumput hitam saksi keganasan kobaran api saat itu. Padahal katanya kalau sedang musim hujan tempat ini bagus sekali, terlihat rumput-rumput hijau bak karpet. Tak lama dari bukit ini terlihat hamparan pasir yang begitu luas. Sesekali tampak pasir yang seperti sedang menari karena tersapu oleh angin atau jejak Jeep yang melaju. Kelihatannya sih indah namun bila mendekat harus hati-hati karena bisa masuk dan melukai mata. Menurut pak Sujud bila semua Jeep dikumpulkan jumlahnya bisa mencapai 2000an unit, wow banyak ya... 

Pak Sujud merekomendasikan supaya kami langsung ke view point saja nanti setelah itu baru keliling ke pasir berbisik, dan bukit teletubbies. Kawah Bromo? Heee, nggak. Kami lihat dari kejauhan saja. Banyak pertimbangan sih, pertama fisik yang pasti akan melelahkan naik tangga yang tinggi banget itu, kedua waktunya sudah mendekati waktu makan siang, ketiga demi kenyamanan si anak juga karena ini pengalaman pertamanya ke gunung. Jadi biar yang dia ingat bahwa ke gunung itu menyenangkan. Hihi ....

Kami berlalu saja di padang pasir ini karena akan langsung menuju penanjakan 1. Tampak beberapa Jeep tengah parkir sementara para penumpangnya ramai berfoto. Pak Sujud ini merupakan orang Tengger (huruf e pada Tengger dibacanya seperti kata meletus ya), ia kerap berhenti dan menyapa bila berpapasan dengan kawannya, berbicara dengan bahasa yang saya sendiri kurang bisa memahami, maklum yang asli jawa itu orang tua, sementara saya asli jawa Jakarta.

Jalan menuju penanjakan juga sama curamnya. Suara klakson selalu dibunyikan ketika akan berbelok karena memang sangat berliku dan sempit. Beberapa motor asyik saja melaju, mungkin memang ia sudah mahir dan hafal medannya. Sebelum tiba di penanjakan 1 atau view point kami sempat melewati Love Hill atau bukit cinta. Belum lama memang tempat ini dibangun. Katanya dinamakan demikian karena banyak yang memadu kasih #tsyahbahasanya. Baiklah, kami harus fokus menuju penanjakan 1, so tempat ini kami lewati dulu. 

Yeah, akhirnya kami tiba di view point pukul 08.15an. Masih harus sedikit berjalan menanjak melalui beberapa anak tangga sebelum benar-benar bisa melihat komplek Pegunungan Tengger nan megah. Di penanjakan 1 ini ada toilet yang letaknya di dalam warmindo, kalau musholla saya kurang tahu pasti. 
View point sunrise Bromo
Brrr ... Asli dingin beeud ...
Naik tangga ke penanjakan
Qiqiqi, ketahuan jarang exercise nih...

Aah sedikit lagi, semangaaat!!! Kami akan benar-benar melihat ciptaanNya nan agung. Yap, inilah pemandangan indah di hadapan kami... Masya Allah, cantik banget meski matahari sudah meninggi dan menyilaukan mata. Sangat jelas setiap lekuk punggung gunung-gunung di hadapan dan makin sempurna ketika melihat langitnya yang bergradasi warna biru hingga putih nan bersih. Sementara di bawahnya beralaskan pasir yang terus berbisik. Kini, sudah dipasang pagar untuk melihat sunrise, memang terlihat kurang natural saat di foto tapi faktor keamanan memang yang utama mengingat Bromo kini sudah menjadi objek wisata keluarga bahkan dengan anak dan orang tua.
Pemandangan Bromo pagi hari bulan September
Masya Allah cantiknya ...😍
Ada yang bertanya, "apakah Bromo masih memiliki sensasi alami mendaki?" Menurut saya Bromo sangat memanjakan para pendaki pemula bahkan untuk mereka dan juga saya yang gemar melancong ala koper. Bisa dibilang turis sangat terfasilitasi ke sini. Contohnya saja view point ini, disediakan bangunan melingkar berundak-undak yang bisa digunakan untuk duduk santai melihat sunrise seperti laiknya teater. Saking sudah menyatu sebagai objek wisata bahkan ada tukang bakso keliling di area pegunungan ini. Memang tidak begitu sulit mencari tempat makan bahkan berburu oleh-oleh di Bromo.
suasana view point Bromo
Memang ada reduksi akan kealamiannya, namun di satu sisi ini sangat memfasilitasi wisatawan.

Brrr... Sesekali saya memasukan tangan ke kantong jaket karena dinginnya. Ya, bagi saya udaranya termasuk dingin meski terlihat cukup terik. Foto-foto pun tak luput kami lakukan. Setelah puas, kami mulai turun. Menyempatkan berhenti di Love Hill yang ternyata juga memiliki pemandangan yang indah. Karena keindahannya sampai ada pasangan yang tengah bersiap foto-prewed di sini. Kalau mau menanjak mungkin lebih bagus lagi, tapi kami semua rasanya sudah cukuuuup lelahnya, haha ...
Ibudari-bundadari-bibidari-bidadari (lagi nunduk) πŸ˜€
Bukit Cinta terletak pada ketinggian 2.680 mdpl dan merupakan salah satu tempat tertinggi di komplek Pegunungan Tengger yang biasa dijadikan lokasi untuk melihat Kaldera Tengger yaitu Gunung Bromo, Gunung Kursi, Watangan, dan Gunung Widodaren, dari sini pula kita dapat melihat Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl). Menurut Suku Tengger tempat ini juga disebut Lemah Pasar yang nama aslinya Pasar Agung yang merupakan tempat memenuhi kebutuhan upacara adat. *Demi akurasi informasi, narasi ini saya kutip seutuhnya dari papan informasi yang ada di Bukit Cinta.πŸ’“
Pemandangan Bromo dari Love Hill
Pemandangan kompleks Pegunungan Tengger dari Love Hill

Pasir Berbisik

Tujuan kami selanjutnya adalah pasir berbisik. dinamakan demikian karena memang bila tertiup angin menimbulkan suara di telinga seperti bisikan-bisikan. Indonesia memang kaya, kita bisa merasakan sensasi seperti berada di gurun pasir timur tengah. Harusnya memang membawa masker karena bila angin cukup kencang sangat mungkin pasirnya masuk ke mata dan hidung. Anak saya beberapa kali kelilipan bahkan suami saya yang sedang makan roti di mobil juga sempat termakan pasirnya, haha karena pas mangap pas pintunya dibuka. Kawasan Bromo ini kalau malam gelaaaap sekali. Tak ada cahaya selain dari lampu sorot Jeep dan mungkin juga sinar bulan. Makanya kalau malam-malam berjalan sendirian tanpa pemandu atau supir yang paham arenanya, ngeri tersesat.
Pasir Berbisik di Bromo
Entah deh lupa, ini di pasir berbisik atau bukan, yang jelas kami lihat lautan pasir yang luas.

Foto di pasir berbisik
Kita terus berjalan bergandengan ya sayang ... 

Bukit Teletubbies

Menurut penuturan pak Sujud, bulan terbaik mengunjungi Bromo adalah bulan ke-4 alias April, udaranya sejuk dan rerumputannya hijau subur. Bila ingin melihat salju datanglah di bulan Agustus. Perbincangan dengannya terus bergulir sampai akhirnya kami tiba di Bukit Teletubbies. Bukit ini bukan tempat shooting teletubbies melainkan bentuknya yang menyerupai.
Bukit Teletubbies Bromo Kebakaran
Jangan imajinasikan sebuah angka, karena itu hanya bilangan tanpa makna πŸ˜…
Jaga kode etika pecinta alam
Si anak lagi enggan membuka maskernya, karena memang pasirnya cukup sering berterbangan.

Aaah, tak terasa, hari sudah makin siang dan si anak juga tampak udah lelah sangaaat. Whaa sepertinya ada yang kurang, saya belum membahas tips serta do and dont'snya sekalian saat berlibur ke gunung khususnya Bromo. Baiklah untuk tips liburan ke Bromo bersama anak bisa klik di sini ya . Yang jelas kalau kalian mengaku mencintai alam, ingatlah kode etiknya ya ... 
Take nothing but picture (jangan mengambil apapun kecuali gambar).
Leave nothing but foot print (jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki atau jejak).
Kill nothing but time (jangan membunuh apapun kecuali waktu).
Liburan bersama anak ke Bromo
See you on our next trip stories πŸ’—