Masjid Sultan Singapura; Kesyahduan di Tengah Keramaian

Kesyahduan mesjid sultan singapura kopermini.id

Bagi para pelancong yang sudah sering bolak-balik ke Singapura, pasti sudah akrab betul dengan masjid yang satu ini, apalagi kalau bukan Masjid Sultan Singapura.

Siang itu di bulan April cuaca sangat terik. Demi mendapatkan foto yang bagus kami menyempatkan berhenti sejenak tepat di depan masjid ini, sebagai akad bahwa kami sudah sah ke sana. 

Masjid yang terletak di Kampong Glam ini ternyata merupakan masjid tertua dan terbesar di Singapura. Usia sama sekali tidak memengaruhi wajah maupun sisi interior masjid. Desainnya yang bergaya Mogul India dengan kubah berwarna emas sangat cantik dipadu warna krem dan coklat pada bangunan utamanya. Sementara di sisi dalam masjid ini didominasi oleh nuansa Melayu dengan warna hijau yang menyejukkan mata.
INTERIOR masjid sultan singapura kopermini.id
Interior Masjid Sultan Singapura
Sisi dalam masjid bagian laki-laki
Tidak sedikit pelancong asing dari berbagai negara tertarik melihat lebih dalam masjid Sultan ini. Namun bagi mereka dengan pakaian yang agak terbuka akan dipinjamkan pakaian khusus untuk menghormati fungsi masjid sebagai tempat ibadah umat muslim. Masjid ini memang sudah lumrah dijadikan objek wisata. Di dalamnya bukan sekadar tempat ibadah melainkan ada syiar yang berbicara bagaimana Islam sesungguhnya.
Turis asing dengan pakaian terbuka diminta menggunakan pakaian khusus
Syiar Islam di Masjid Sultan
Mini gallery tentang Masjid Sultan
Lantai bawah masjid ini diisi untuk jamaah laki-laki, sementara perempuan di sisi lantai atas. Bagi yang kesulitan berjalan atau merasa lelah bisa menggunakan lift (khusus wanita) yang tidak jauh dari tempat wudu wanita. Catatan bagi para pengguna lift harus melepaskan alas kaki karena lift ini sudah masuk batas suci.

Saat saya memasuki masjid ini, kesyahduan akan nilai rohani sebagai umat muslim begitu terasa. Meskipun ramai di luar orang berlalu-lalang, menikmati makan siang, berswafoto, bahkan sebagian asyik tawar-menawar barang dagangan, namun di sini justru sebaliknya. Sambil menunggu adzan zuhur kami sempat beristirahat sejenak, ditemani kesejukan kipas angin.
Tampak jamaah begitu khusyuk ibadah

Tidak lama kemudian, sekitar pukul 01 siang lewat sepuluh menit, adzan berkumandang. Saya mecoba memejam mata namun yang terbesit justru saya berpikir tidak sedang di Singapura, sungguh adzan yang saya dengar tak ada beda sedikitpun dengan yang saya dengar sehari-hari di Jakarta.

Masjid ini cukup luas, bahkan menurut beberapa sumber bisa menampung hingga 5000 jamaah. Masya Allah! Dan gak cuma itu, yang saya salut masjid beserta lingkungannya sangat bersih. Mukena pun tergantung rapi dan tidak bau. Ada tulisan kurang lebih begini bunyinya di lemari mukena, "Allah Maha Tahu, Kembalikan telekung (mukena) pada tempatnya." Cukup diingatkan bahwa Allah Maha Melihat, dan semua bersedia melakukannya.

Menurut sejarah masjid ini didirikan oleh Sultan Husain Shah Johor, pada tahun 1824 hingga 1826. Sebagai bentuk keistimewaan dari Inggris sebagai ganti dari penyerahan kekuasaan mereka atas Singapura, Thomas Stanfor Rafles memberikan tumenggung (kepala daerah) dan Sultan tunjangan hidup tahunan dan Kampong Glam bagi tempat tinggal mereka. Di sana Sultan membangun istana dan membawa seluruh keluarga dan pengikutnya dari Riau, Malaka, dan Sumatera yang kemudian menetap di Kampong Glam.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini tak cukup menampung jamaah yang terus bertambah. Singapura sudah menunjukkan eksistensinya sebagai pusat perdagangan islam sejak tahun 1900an. Di tahun 1924 akhirnya disetujui agar dibangun masjid baru yang lebih luas di atas lahan yang sama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan. 

Hingga kini masjid Sultan Singapura masih berdiri kokoh dan tidak sedikit jamaah baik dari dalam dan luar negeri yang memakmurkannya. Pada tanggal 14 Maret 1975, masjid ini mendapat pengakuan dari pemerintah Singapura sebagai national monument dan dimiliki serta dikelola oleh Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS). Masjid Sultan Singapura adalah saksi bagaimana Islam dapat diterima dengan baik di negeri super modern tersebut.
Kampong glam kopermini.id
See you on next trip stories :)

31 komentar:

  1. Wah, keren. Makasih infonya. Saya belum pernah ke Singapore 😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah ya mba, Allah kasih rezeki nanti ke sini dan ke negara2 lainnya.

      Hapus
  2. Cuma lewat depannya saja saya, Mbak..Belum pernah masuk. Hiks!
    Wah, ternyata masjidnya merupakan saksi bagaimana Islam diterima dengan baik di Singapura. Masya Allah.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa mba Dian bukannya lama di Singapore ya? Aaahh ter-la-luuuuu!!! Hehee..

      Hapus
  3. aiihh sukaaa! Alin seneng ga mam di sana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senengnya lebih karena rame2 sama sepupu2nya mam. Ooh sama pas di Aquarium tuh yg seneng banget.

      Hapus
  4. Wah. Blog baru ya mak? Keren dah plesiran teruus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak khusus plesir yang ini... Alhamdulillah mak salah satu bentuk ibadah yang menyenangkan.

      Hapus
  5. Biasanya saya selalu ambil air di keran masjid abis sholat. Soalnya airnya dingin krn diambil dari sumur masjid. Lumayan hemat kan kalau bawa botol senditi hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaaa iya sama mba. Itu kemarin suami saya yang ambilin seger ya apalagi pas panas-panas gitu, lumayan ngirit secara air mineral mahal di sana.

      Hapus
  6. Mesjidnya bagus ya mbak, terasa syahdu juga hanya dengan melihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, bawaanya adem aja kalau di dalam mesjid.

      Hapus
  7. jadi kangen jalanan ini, masjid ini. memang pas masuk ke masjid ini, rasanya gimana gitu, betah aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa iya kan kalau yang udah pernah ke Singapura pasti gak asing sama kawasan ini.

      Hapus
  8. Terima kasih untuk sharingnya mba. Ditunggu postingan travel selanjutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah siap, doakan bisa jalan-jalan terus ya.. :)

      Hapus
  9. Waah... Saya belum pernah kesana Mbak Arum. Tahun depan insyaallah ada plan mau ke Singapore. Nanti pengen ke Masjid Sultan jugaa. Berasa damai kalau ke masjid ya, serasa di negara sendiri hhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mba, salah satu tempat yang harus dikunjungi kalo jelong-jelong ke sini.

      Hapus
  10. Masya Allah!
    Kalau ke daerah lain apalagi kalau ke negeri lain, masjid adalah tujuan pertama saya. Senang saja rasanya seperti berada di kampung sendiri. Suara adzan dan suara imam kan sama di masjid manapun kita berada. Terima kasih yah saya sudah dimanjain dengan foto-fotonya yang indah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah Bu, saya jadi takjub aja sama keindahan Islam. Masya Allah, semoga kita bisa nikmatin masjid-masjid di negara lainnya ya Bu.

      Hapus
  11. paling suka lihat arsitek mesjid yang unik

    BalasHapus
  12. Saya betah banget di sini. Selain beribadah, istirahat, di sini kita bisa wisata religi dan belanja. Duh, jadi kangen ke SG

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuk mba banyak destinasi wisata baru lho di sini.

      Hapus
  13. Saya belom pernah mampir. Nti klo k3sana lagi harus mampir nih

    BalasHapus
  14. Kalo yang lagi tawar menawar di luar itu apa aja mba yang di jual, sama ga kaya di sini seperti peci,tasbih,aneka parfum dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin itu yang saya liat banyak tas, aneka souvenir untuk oleh-oleh, sama money changer. Di money changer juga ada yang tawar-menawar lho, heee

      Hapus
  15. Subhanalloh,,, Indahnya,, semoga Islam berjaya di singapura. Btw, yang jualan diluar juga sama kaya di Indo ya kebiasaannya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya betul jalan-jalan di Singapura masih berasa hawa Indonesianya. Sebagian pedagang pun bisa bahasa kita.

      Hapus