Kenali Waktu Tepat ke Tampak Siring, Bali

Ada apa di Tampak Siring


Hanya karena transit di Bali, terjadilah liburan singkat ini. Liburan 3D2N yang rasa sehari, hehee... Hmm, sejujurnya ini salah saya sih, dalam kondisi lelah selepas liburan di negara tetangga, saya sudah males untuk searching tempat wisata keluarga yang asyik di Bali. Pengennya sih ke Uluwatu, melihat pura, danau dan Gunung Batur yang cantik, tapi sayangnya jauuuh banget kalau dari Bandara Bali. sementara kami hanya punya waktu full day tour 1 hari di Bali. 

Beberapa teman merekomendasikan, yauda kalau gak mau yang jauh-jauh dan bukan wisata watersport yah nikmatin pantai-pantai wilayah Bali Selatan aja. Asliiiii nyeseeel banget gak eksplor pantainya Bali. Padahal mesti deh banyak spot yang instagrammable, mulai dari pantai Pandawa, pantai Dreamland, pantai Padang-Padang, pantai Balangan, pantai Jimbaran hingga pantai Kuta. "Di kuta Bali kau peluk erat @#$%^& *singing #eaaak nostalgia sama lagunya Andre Hehanusa. Qiqiqi ketauan deh angkatan berapa. Okeskip!

Kami terpaksa merelakan pantai-pantai cantik itu dengan alasan sudah pernah ke Jimbaran dan Kuta. Sementara kami tuh pengen cari sesuatu yang beda yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Akhirnya satu hari itu jadilah kami liburan singkat di Bali dengan mengunjungi Tampak Siring, makan siang di Bebek Joni, dan GWK, lanjut beli oleh-oleh ke Krishna dan beli baju kesukaan di Joger. 

Tapi kali ini saya hanya mau membahas soal Tampak Siring, soalnya ini cukup berkesan karena baru kali ini saya mengalami di mana realita tak sesuai harapan saat liburan. Hehee, lebay? Hmm ....

Jadi waktu itu kami berangkat dari hotel jam 09.00 pagi menuju Tampak Siring di Ubud. Waktu tempuh perjalanan sekitar 1 jam 30 menit dengan kendaraan roda empat dan ditemani sedikit kemacetan di hari kerja. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup asyik untuk dinikmati. Suasana Balinya kentara banget di setiap sudut jalan. Kayanya kalau di Bali mah di mana pun kita foto, orang sudah tahu bahwa kita sedang di Bali. 

Wilayah Ubud ini memang di dataran tinggi jadi lebih sejuk dan lebih tenang, jalanannya juga berkelok dan menanjak. Mendekati lokasi mulai banyak pemandangan pematang sawah. Sampai akhirnya tibalah kami di salah satu kompleks istana yang sudah sangat tersohor di Bali, yaitu Tampak Siring. Sebagai pelancong kami hanya mengunjungi pura tirta empul yang juga terdapat kolam pemandian di dalamnya.

Waktu itu supir kami bilang, hari ini bertepatan dengan hari suci umat Hindu, kalau tidak salah sih bertepatan dengan purnama. Jadi selain turis, tempat ini juga ramai oleh umat Hindu yang mau ibadah. Saat di parkiran sudah banyak kendaraan terparkir, baik mobil pribadi, mobil travel hingga bus. 

Oiya saya ada sedikit tips sebelum kalian masuk ke dalam Pura ini.

1. Buat yang merasa sering pipis baiknya ke WC dulu aja ya soalnya di dalam gak ada toilet. Letak toilet ini ada di samping loket. Agak smell bad sih waktu itu, tapi bule-bule kayanya pada enjoy aja.
2. Bagi kalian para wanita yang sedang haid juga tidak diperkenankan masuk ke dalam Pura.
3. Buat yang rambutnya panjang tergerai, jangan lupa dikuncir atau kalian akan diminta menguncir sendiri di dalam atau malah mau dikuncirin?
4. Berpakaianlah yang sopan.
5. Bagi yang murni ingin berwisata, baiknya atur jadwal agar tidak bertepatan dengan hari suci mereka. Pada saat hari suci biasanya tempat ini terutama kolam pemandian akan ramai. Jelas kurang nyaman buat yang suka hunting foto, kecuali kalau memang ingin merasakan langsung atmosfer atau membuat liputan seputar hari suci di sana.
6. Apalagi ya... Hmm kayanya itu aja sih. Kalau ada lagi boleh ditambahin loh.

Harga tiket masuknya cukup terjangkau, sekitar 15.000/orang dan 5000/mobil. Sebelum masuk kawasan inti, kami diminta memakai kain yang sudah mereka (pihak pura) siapkan. Meski sudah berpakaian tertutup saya juga tetap harus memakainya kecuali anak kecil. Tidak dipungut biaya, cuma katanya kalau mau sedekah tak apa.
Hari purnama tirta empul
Tempat penyediaan kain sarung, bisa pilih motif yang cantik-cantik
Sebelum masuk kami sempat mengambil gambar di beberapa spot khas Bali. Inilah kekurangan liburan tanpa guide kadang gak bisa full team karena harus gantian jadi fotografer. Tapi it's yeko, eh okey! 

Ketika masuk area Pura, bau khas sajen langsung menyergap hidung saya. Jujur saja, saya agak agak kurang nyaman dengan bau ini begitupun dengan anak saya. Hal ini membuat kami cepat saja melalui tiap sudut Tirta Empul selain juga tidak ada pemandu yang bisa menjelaskan nilai historis tiap bangunan yang ada.
liburan keluarga ke bali
Di mana pun kami foto, nuansa Balinya selalu terasa
Sampai akhirnya tibalah kami ke salah satu area yang menjadi ikon Tirta Empul, yaitu kolam pemandiannya. Saya sampai gak percaya, inikah yang pernah saya lihat di foto? Kok... kok... kok... ramai banget sih? Hehe... Iya jelas tempat ini menjadi sangat ramai karena bertepatan dengan hari suci umat Hindu. Saya hampir tidak bisa melihat space untuk satu orang yang bisa menyelip di antaranya (oke yang ini lebay!) hahaa... Inilah pertama kalinya saya melihat objek wisata di mana ekspektasi tak sesuai realita. Saya pikir cuma ada di 9GAG. Hahaa...
Pemandian tirta empul Ubud
Kenali kapan waktu tepat berkunjung ke sini. Catet!
Umat Hindu meyakini air di tempat pemandian ini merupakan air suci. Makanya banyak orang rela antre demi bisa membasuh muka atau mandi di kolam yang terdiri dari 13 pancuran air ini. Kami pun tidak lama di sini, karena banyak orang dengan tubuh yang basah berlalu lalang untuk menjalankan ritual selanjutnya. 

Perjalanan kami tiba pada sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Dasar kolamnya tampak dengan sangat jelas, berwarna hijau lumut dihiasi tumbuhan air yang bergerak-gerak terbawa arus lembut air di kolam tersebut. Di sisi sebelahnya lagi ada kolam yang berisi ikan-ikan koi beraneka warna. Ikan-ikan tersebut kelihatan sangat sehat, gemuk, dan lincah. Mereka seolah berebutan inhin mengucapkan selamat datang kepada para turis. Anak saya sendiri cukup tertarik di sini, bisa berfoto bersama ikan yang besar-besar.
Kolam jernih di tirta empul, gianyar
Jernihnya air membuat indah pantulan pepohonan di permukaan kolam
Ada apa di Tampak Siring

Kolam ikan ini menjadi penjelajahan terakhir di pura Tirta Empul. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, kami sempat melihat istana yang berdiri anggun di atas bukit. Itulah istana Tampak Siring. Istana ini digunakan sebagai tempat istirahat Presiden RI-1 beserta keluarga saat berkunjung ke Bali. Selain itu, istana ini dulu juga kerap dijadikan tempat menjamu tamu negara. Sayangnya, hanya orang tertentu yang boleh memasuki kawasan istana hingga saat ini.
Apa bisa masuk ke Tampak Siring?
Bak istana di kayangan ya, terletak di bukit dan bisa melihat akivitas di pura

Sepanjang jalan keluar banyak berderet toko kaki lima dengan harga yang menurut saya memang cukup murah. Saat itu seseorang menawari pakaian anak dengan harga Rp. 10.000/pcs. Sebetulnya saya penasaran, cuma karena jalan sama suami dan orang tua terpakasa rasa itu saya pendam, heuheuu... asliii padahal cuma pengen tahu bahannya kaya gimana, kalo adem kan lumayan banget, beli di toko oleh-oleh harganya berkali-kali lipat. 

Usai sudah perjalanan satu jam kami di Tirta Empul. Bagi saya perjalanan ini masih menyisakan banyak tanya terutama tentang istana Tampik Siring itu sendiri. Oiya jangan lupa untuk mengembalikan kain tadi ya.

Waktupun sudah menunjukkan saatnya makan siang. Di dekat sini ada beberapa tempat makan enak dengan pemandangan pematang sawah yang memanjakan mata. Buat yang muslim sebaiknya pastikan apakah tempat makan tersebut halal atau tidak, karena di Bali agak sulit mencari tempat makan yang bersertifikasi halal. Untuk makanan seperti bebek khas Bali biasanya ada sayuran khusus, nah ini yang katanya jadi titik krusial. Di manakah titik krusial tersebut? Heuheuu ampuni gaya yang sok tau ini ya. Jadi di beberapa tempat ada yang menggunakan lawar sebagai tambahan bumbu dari sayuran tersebut. Jadi katanya lawar ini juga ada versi tidak haramnya. Yang mau tahu lawar itu apa dan bagaimana googling aja yes.

Long story short, singkat cerita, kami memutuskan makan di Bebek Joni. Saya lihat websitenya sih mereka menyatakan halal. Sayang tidak ada foto makanan karena kami semua lapar beratsss, hahaa... Yang jelas bebek krispinya enak garing kriuk-kriuk, kami semua memesan itu cuma beda ada yang paha dan dada, jadi tidak tahu bagaimana rasa menu lainnya ya. Soal harga, ini dia, standarnya sudah seperti turis, tapi worth it dengan rasa dan pemandangan yang ditawarkan. Tidak ada musholla khusus, tapi mereka bisa sediakan di tempat art-gallery cuma tak ada mukena dan sarung, jadi baiknya siapkan sendiri ya.
Bebek Joni Halal
Laper ya neng? Sabar yaa... Qiqiqiqi... 

Demikianlah perjalanan setengah hari kami di Ubud, setelah ini kami akan turun ke wilayah selatan Bali yaitu GWK. Ada apa saja sih di GWK, nantikan cerita lainnya ya... See you on our next trip stories

16 komentar:

  1. Baca ini kok jadi pingin liburan ke Bali lagi ya, udah 4 tahun gak kesana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa ada kang masroer *gelarkarpetmerah dulu kalo gitu. Ahaha... Monggo mas diatur jadwalnya, Bali selalu seru.

      Hapus
  2. Jadi kangen ke Bali lihat postingan ini ...
    Suasana Bali eksotis banget ya,kak.
    Berasanya kayak bukan di Indonesia 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii betul selalu ada yang baru yang bisa ditemui di Bali.

      Hapus
  3. Jadi ga ikutan nyebur atau sekedar cuci muka mam? hehehe

    BalasHapus
  4. Wkwkwk, sepi pun gak akan lah aku melakukannya..

    BalasHapus
  5. harus pas jadwalnya ya mba kalau pengen nikmati semua spot ditampak siring, daripada ngedumel sendiri. hehe

    BalasHapus
  6. Saya udah pernah ke sana mba.tapi dah lama banget...iya ya kalau ke sananya pas ada perayaan hari besar kita jadi kurang bisa menikmati ya karena banyak orang

    BalasHapus
  7. Setuju, harus jeli dengan jadwal. Aku dulu pas ke Bali nggak bisa masuk karena lagi dipakai acara sembahyangan. Keren kopermini! Thanks for sharing

    BalasHapus
  8. Baliiii. Dekat banget dari Surabaya, tapi terakhir kesana malah pas SMP hihihi. Selalu senang suasananya yang adem kalo lihat postingan orang.

    Thank you sharingnya Mbak Arum, noted datangnya jangan pas hari raya ya, karena untuk ibadah 🙏

    BalasHapus
  9. Itulah mengapa Bali punya kalender sendiri. Biasa lengkap dengan tanggal upacara. Atau kalau tidak, jika kita ikut tour, cek dulu jadwal kegiatan kegamaan. Karena selama itu dijamain, kemacetan dan tempat wisata yang sekalgus jadi tempat beribadah bakal penuh atau malah ditutup....hehehe
    Oh ya, Mbak..Istana Tampak Siring bisa dimasuki hanya sebatas halaman saja, dan ada beberapa jendela yang dibuka jadi kita foto di luar...dulu, enggak tahu sekarang

    BalasHapus
  10. Aduh duh,,,tulisan ini bikin baper,,pengen banget merasakan liburan di Bali

    BalasHapus
  11. Waduuh..benar-benar bukan waktu yang tepat. Penuh sama orang mandii..hihihi. Pancurannya jadi gak begitu kelihatan ya..sayang sekali. Tapi setidaknya masih bisa menikmati tempat menarik lainnya. :))

    BalasHapus
  12. Wah, datengnya juga pas ngepasi sama upacara keagamaan umat Hindu sih ya, mbak? Jadi resikonya begini. Tempat wisata yang kita kunjungi bakal ramai karena digunakan buat ibadah juga. Tapi menurut saya, kekecewaannya terobati sama view cantik dari kolam ikan yang ada di arah pintu keluar itu sih

    BalasHapus
  13. Indah banget tempatnya mbak. Belum pernah ke sana.

    BalasHapus
  14. Selain Nuansanya yang begitu indah masih banyak fenomena diBali yang perlu kita datangi dan kita gali dan bisa dijadikan sesuatu yang bermanfaat.. 😄😄

    BalasHapus