Museum Angkut; Tak Sekadar Transportasi, Tapi Juga Rasakan Sensasi Lintas Zaman


Sebetulnya kami sudah tiba di Malang sejak pukul 10.00 pagi. Rencana awal sih mau kulineran sebentar lanjut ke Jatim Park 3 karena lokasinya yang tidak begitu jauh dari penginapan kami. Hanya saja karena perjalanan dari Bandara Abdul Rahman Saleh ke The Singhasari Resort memakan waktu yang cukup lama karena macet jadilah itinerary kami agak berantakan. Ya begitulah ya, manusia hanya bisa berencana, Allah tetap yang menentukan. Jadi saat kami tiba waktu itu sedang ada carnaval atau bersih desa istilahnya yang mana acara tersebut menggunakan jalan protokol. Bisa terbayang dong ya jalan alternatif satu-satunya tentu jadi macet banget karena semua teralihkan ke sini.

Kami selesai makan siang sekitar pukul 14.00, mau ke JTP3 rasanya kok berat, mengingat sore kita mau ke museum angkut dan besoknya pagi-pagi sekali kami berangkat ke Bromo. Ya sudahlah lambai-lambai dulu sama JTP3. Kalau gitu mending istirahat dulu aja deh bobo cantik di hotel sambil menunggu asar dan mandi sore biar seger jelajah Museum Angkutnya. 

Sebetulnya pilihan yang sulit antara JTP3 atau museum angkut namun setelah menimbang-nimbang kami prefer ke Museum Angkut karena tahu nggak, kita harus bangga nih, Museum Angkut ini merupakan museum transportasi pertama di Asia Tenggara, lho! 👏👏👏

Perjalanan kami ke Museum Angkut menggunakan travel yang sudah kami pesan dengan sahabat saya yang asli Malang. Asyiknya menggunakan travel ini kita bisa menghemat waktu dan supir siap kapan saja. Perjalanan kami dari The Singhasari Resort ke Museum Angkut minggu sore itu sangat lancar, sementara arah sebaliknya (baca: menuju Malang) macet parah.

Sekitar 15 menit kami sudah tiba di Museum Angkut. Suasana minggu sore waktu itu tidak begitu ramai oleh pengunjung tapi kemeriahan tempatnya sih udah kerasa banget bahkan sejak di pintu kedatangan. Sebelum masuk jangan lupa beli tiketnya dulu ya. Dan bagi kalian yang membawa kamera DSLR dikenakan charge tambahan. Malah dulu katanya tidak boleh membawa kamera kecuali kamera handphone.
Harga tiket masuk

Setelah dipakaikan gelang masuk, kami menuju ruangan utama yang cukup besar yang memamerkan mobil-mobil kuno tapi tetap tampak mewah dan menarik. Nggak cuma mobil ada juga motor, pesawat, sepeda, hingga kereta kuda. Oiya ada catatan nih kalau objeknya dikelilingi oleh rantai artinya jangan dimasuki ya meski sekadar berfoto atau memegang sedikit saja bagiannya. Mereka sangat menjaga objek tersebut. Sebaiknya berfoto di luar rantai saja. Kami tidak berlama-lama di sini karena museum angkut ini luas dan masih banyak zona lainnya.
Liburan bersama anak ke museum angkut
Mobilnya gede ya, gagah pula.

Kami lanjut ke lantai dua. Buat yang tidak kuat naik tangga tenang saja karena ada lift kok. Lantai 2 ini isinya lebih ke transportasi tradisional (non mesin) seperti yang menggunakan hewan itu ada cikar tuban yang menggunakan kerbau dan Cidomo Lombok yang menggunakan Kuda. Sisi luar di lantai 2 ini juga memiliki pemandangan yang bagus. Banyak orang yang berfoto berlatar belakang gunung Panderman. Gunung yang namanya berasal seorang pendaki Belanda Van Der Man yang mengangumi view dan sunrise gunung. Kalau sore suasanya lebih sejuk meski mungkin sebagian gunungnya tertutup awan. Bagus sih konsepnya, nggak cuma sekadar menghadirkan tapi juga sudah dirancang sedemikian rupa sehingga objek tersebut benar-benar nyata dan terasa lebih hidup. Kaya becak yang berlatar jalan Malioboro, Yogyakarta.
Cidomo Lombok di Museum Angkut
Cidomo Lombok
Ceritanya di Malioboro. Insya Allah next ya, Lin... :)
Nah, ini yang biasanya sangat dinantikan sama anak-anak cowo apalagi yang punya cita-cita sebagai pilot, flight simulator. Untuk mencobanya dikenakan biaya lagi. Saya dan keluarga sih nggak nyobain, kami lanjut saja ke lantai 3 melihat koleksi pesawat mulai dari pesawat tempur sampai pesawat kepresidenan. Penasaran sih sama interior pesawat kepresidenannya, ternyata dalamnya whuaa banget deh. Maksudnya sudah terbayang sih kalau replikanya aja begitu bagaimana aslinya. Di dalam juga ada replika bapak BJ Habibie dan meja kerja presiden, ruang awak, ruang bersantai, dan ruang makan. Pesawat replika ini katanya menggunakan pesawat express air yang dicat menyerupai pesawat kepresidenan kita. Di lantai 3 ini juga lebih bagus lagi pemandangannya karena hampir seluruhnya merupakan ruang terbuka kecuali sebagian food corner atau yang disebut Runway27 yang didesain seperti berada di dalam pesawat.
Van Der Man gunung yang terlihat dari Museum angkut
Gunung Panderman tengah menunjukkan dirinya.
Kata si embak penjaganya ini menggunakan pesawat express air
Ceritanya ini di dalam pesawat kepresidenan. 

Asyiknya di sini itu tersedia banyak bangku dan toilet. Jadi sangat mengerti banget deh kebutuhan para pengunjung apalagi yang mebawa anak-anak ataupun orang tua. Museum angkut ini sangat luas, tidak ada penyewaan sepeda seperti di JTP2. Jadi kalau lelah memang sebaiknya istirahat saja dulu duduk santai. 

Saya sendiri sudah tidak sabar ingin segera memasuki zona Uni Eropa, Inggris, dan Amerika. Namun sebelum menuju ke sana, ada zona Batavia yang menggambarkan Jakarta tempo doeloe. Ada stasiun kota, bajaj, sunda kelapa, dan beberapa khas kota Jakarta lainnya kaya ondel-ondel dan kerak telor. Di sini juga ada tempat makan, jadi kalau ada yang haus atau lapar kita bisa mengisi perut dulu. Karena ini masih setengah perjalanan dari keseluruhan Museum Angkut.
Ceritanya di Sunda Kelapa. 
Ini si ayah mau pesen apa kenal sama simbok sih?
Selepas area Batavia kami memasuki area mobil-mobil kuno lagi. Semuanya dilingkari tali artinya kita hanya boleh melihat dan berfoto dari luar tali tersebut. Bagus sih, jadi mobilnya tetap terlihat bersih dan kinclong, nggak ada tuh bekas ceplakan tangan-tangan.
Mobil tua di museum angkut
Kinclong beet kan? 
Nah, setelah dari sini baru deh kita memasuki kawasan yang hits banget. Sering kan lihat plang bertuliskan The Gangster Town ini? Beberapa tempat ikonik Amerika juga ada di sini. Zona ini didesain menyerupai kehidupan di Amerika banget (kaya pernah aja), gemerlap lampu dari berbagai sudut dihiasi warna langit yang mulai meredup menambah hidup zona ini. Semakin malam museum angkut ini semakin ramai, maklum kali ya karena hari minggu.
Gak anak-anak, remaja, ibu-ibu juga demen foto di sini.
Sekarang lanjut memasuki zona Uni Eropa. Berbeda dengan zona sebelumnya, di sini konsepnya indoor. Beberapa negara yang hadir dalam zona ini adalah Jerman, Perancis, Belanda, dan Italia. Awalnya sempat bingung sih apa hubungannya museum angkut dengan negara-negara Uni Eropa ini, ternyata demi menghidupkan suasana mereka menampilkan alat transportasi seperti vespa, motor, serta mobil khas atau yang pernah tren di negara tersebut lengkap dengan lanskap tiruannya. 
#tsyah, gaya si ayah naik Velocette
Akhirnya terasa lelah juga, kami pun duduk-duduk sejenak di Zona Inggris. Zona ini ada yang indoor dan outdoor. Di sisi outdoor kita bisa berfoto di depan istana buckingham yang pasti tiruan. Kita juga bisa menikmati sisi dalam istana tersebut bahkan bertemu ratu Elizabeth yang juga tiruan. Tapi, kalau kami memilih tidak masuk, hihii sudah lelah sangaaat...
Mobil tua yang masih kelihatan tjakeeep.
Kami langsung saja menuju jalur bertuliskan EXIT. Yang unik adalah jalur exit ini dibuat seolah-olah kita seperti masuk ke dalam kereta dengan sensasi gujak-gajuk yang persis banget kaya naik kereta sungguhan. Seru banget, Museum Angkut ini sepertinya sudah dikonsep dengan sangat matang. 

Selepas dari zona-zona tadi kita keluar di area jajanan. Di tengah-tengahnya dibangun sungai buatan. Sesekali ada perahu lewat, ternyata kita bisa menaiki perahu ini hanya saja saya tidak tahu persis berapa harganya. Ada juga yang replika misalnya perahu apung dan perahu cinta. Jajanan di sini sepertinya tidak begitu mahal, segelas es degan dibanderol dengan harga 8000 rupiah saja. Rasanya pun mantul, air degannya berasa banget.
Ini yang namanya perahu cinta. Tampang udah lelah beeeet, si anak masih on aja minta foto mulu...
Es degan tersebut pun menutup perjalanan kami di Museum Angkut malam itu. Meski luas tapi nyaman banget dijelajahi karena banyak kursi, tempat makan, dan toilet, bahkan ada musholla juga. Letak musholla ini berada di area pecinan dan Batavia. Semua sudutnya instagrammable banget. Sebagian areanya pun dibuat ada yang indoor dan outdoor, jadi kita tidak bosan dan sesekali bisa menghirup udara segar, bahkan konsep outdoornya malah bisa menambah pencahayaan yang membuat foto-foto kita jadi lebih ciamik. 

Lokasi Museum Angkut ini di Batu, Malang. Tepatnya di Jl. Sultan Agung No. 2, Ngaglik, Kota Wisata Batu, Jawa Timur. Jam bukanya mulai dari 12.00-20.00 wib. Harga tiket masuknya untuk weekday 70.000 sementara weekend 100.000. Hiks, kopermini masih perlu banyak belajar membuat itinerary nih padahal udah sengaja liburan pas weekday, eh minggunya katut ke Museum Angkut mestinya besoknya aja ya, biar harga tiketnya lebih murah.... Hihi... Gakpapa deh yang penting kalian bisa belajar dari sini yaa ... Jadi pengen belajar bikin itinerary lagi, #ehmodus

Sekian dulu ya jalan-jalan kopermini sekeluarga, see you on our next travel stories... 💗 

25 komentar:

  1. Wah, keren! Luas banget pula. Jangan² butuh seharian penuh kalau mau menikmati keseluruhan koleksinya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba luas banget, hihi tapi gak seharian penuh jugak sih...

      Hapus
  2. Keren ya temoatnya. Saya pernah mampir ke Museum Angkut. Tapi tidak sempat masuk karena saat itu menunggu sangat lama untuk pembukaan loketnya. Padahal sudah lewat jam buka. Jadi batal deh... :( hanya sempat foto2 di depannya.

    Btw, Terimakasih makasih tulisannya bagus... Dan berhasil bikin saya merasa harus berkunjung ke sana. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa sayang juga yah sudah di tempat padahal. Semoga next ya bisa ke sini lagi. Terima kasih ya atas kunjungannya.

      Hapus
  3. luar biasa….
    pingin ke sana rasanya.
    thank you for sharing

    BalasHapus
  4. Sayang banget aku nglewatin destinasi ini. 😭😐

    BalasHapus
  5. Fotonya cakep-cakep Mbak Dwi...
    Sudah bener jalan ke Malang bukan pas liburan eh masih macet juga ya..?memang ..
    Bayangin kalau aku ke sananya selalu pas seputar lebaran kwkwk..di tujuan sejam, di jalan 3 jam hiks
    Tapi terbayar sih..ke Museum Angkut dan tempat lain yang bener-bener yahud. Malang selalu menarik didatangi lagi dan lagi :)

    BalasHapus
  6. Waah, museum angkut pertama di Asteng? Kereeen beeud, Mbaaa. Next holiday pengen ke Malang ah. Thnks ya Kopermini!

    BalasHapus
  7. Saya belum pernah ke museum angkot, jadi mupeng. Pas ke malang mampirnya malah ke Jatim Park hihi. Next mampir ah ke museum angkut ~

    BalasHapus
  8. Wah, udah nyampe Malang juga ya, Mbak? Met berkeliling, ya. Btw, saya yang orang Malang malah belum pernah ke Museum Angkut. Batal2 melulu, hiks. Iya sih, kalo weekend pasti arah ke Batu muacet. Itu yg kadang bikin males keluar, hehe

    BalasHapus
  9. Betaaah ya lama-lama di mari, apalagi di pasar apungnya puas nyobain kulineran jajanan pasar dan makanan khas Malang apalagi harganya bersahabat di kantong. Si Alin pasti betah yaak.

    BalasHapus
  10. Kami suka foto di The Gengster Town, viewnya bagus, penerangannya pas.
    Serasa bukan di luar negeri hihihi ...
    Tapi pas kami ke sana belum ada pesawat kepresidenannya.
    Berarti perlu kembali ke sana lagi nih sepertinya. 😁😘

    BalasHapus
  11. Wah Bun liburannya seru sekali walau pun harus macet-macetan dulu. Liburan ke museum angkut ini banyak edukasinya juga ya Bun ke anak. Semoga nanti berkesempatan jalan-jalan juga ke sana

    BalasHapus
  12. Emang keren ni Museum Angkut. Tapi kl ke museum angkut dari jatimpark rasanya kaki ini yg ga kuat, kmrn ke sini kurang menikmati krn lelah kaki, hahahaha.

    BalasHapus
  13. Keren banget ya, Mbak. Belum pernah ke Malang euy. Itu kalau menyusuri semua bagian di dalamnya, butuh waktu dari pagi sampai sore kali, ya?

    BalasHapus
  14. Akhirnya nyampe juga kw Museum Angkut. Alhamdulillah ya mbaa...

    BalasHapus
  15. wuah menarik mba, akupun rencana juga ingin ke JTP bulan ini, jadi pengen ke museum angkut tapi kayaknya mau ke JTP 2 dulu deh..:) mmg gak cukup sehari kalo buat susur JTP

    BalasHapus
  16. Wah keren yaaa. Coba ada di Lampung juga yaa. Hihihi

    BalasHapus
  17. penataan museumnya keren ya. mau lagi kalau punya kesempatan balik ke Malang

    BalasHapus
  18. Wih seru ya mbak jadi wisata edukatif buat kita juga anak-anak. Asik banget lihat aneka transportasi yang unik-unik.
    Makasih mba Dwi informatif banget.

    BalasHapus
  19. Salah satu destinasi wisata yang pengen banget saya datangi kalau suatu hari nanti jalan2 ke Malang 😍

    BalasHapus
  20. Seru ya jalan-jalan ke Museum Angkut. Saya belum pernah, tapi setelah baca tulisan ini jadi kebayang dan kepengen main ke sana.

    BalasHapus
  21. Satu kata untuk Museum Angkut … Kereeennn. Kombinasi antara museum dan tempat rekreasi yang menyenangkan. Antara seni dan hiburan menjadi satu. Anda bisa belajar tentang sejarah alat alat transportasi yang digunakan oleh manusia dari jaman dahulu sampai sekarang. Dari Gerobak sampai Mercedez, dari pesawat capung hingga boeing, dari kebudayaan Asia sampai Eropa, Dari Bollywood hingga Hollywood semua komplit disini. Sekali lagi two thumbs up.

    BalasHapus