Lost in Bromo; Liburan Bersama Anak

Liburan bersama anak ke Bromo


Bukan tanpa prencanaan, justru perjalanan kami ke Bromo selepas subuh adalah perencanaan yang sudah sangat matang sejak awal. Kami memang tidak mengejar sunrise, alasannya tentu saja demi kenyamanan si anak. Mungkin sebagian menyayangkan ke Bromo tak melihat sunrise itu ibarat makan pizza nggak pake toping, hahaa ... Apa bagusnya gitu mungkin ya ... Tapi, saya rasa kalian harus setuju selepas sunrise pun kawasan Bromo ini masih memamerkan pemandangan yang sangat cantik. 

Perjalanan kami waktu itu berawal dari The Singhasari Resort di Batu. Sekadar informasi saja, sebetulnya kalau mau ke Bromo itu lebih dekat dari Malang ketimbang Batu. Pukul 05.15 pagi kami sudah siap di lobby hotel, tak lupa mengambil nasi kotak berisi nasi goreng komplit dan roti di meja reservasi sebagai bekal sarapan kami di mobil. 

Sebetulnya ini sudah agak kesiangan sih, langit juga sudah lumayan terang. Tapi, tetap asyiklah kami jadi bisa melihat dengan jelas aktifitas warga Malang di pagi hari, ada yang berangkat sekolah, siap-siap berdagang, kerja, dan lainnya. Waktu tempuh kami dari penginapan hingga ke kawasan TNBTS  (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) sekitar 1.5 jam melalui jalur Tumpang, katanya ada juga jalur lain melalui Pasuruan hanya saja lebih lama sekitar 3 jam kalau dari penginapan kami, atau bisa juga melalui Probolinggo. Memang banyak jalan menuju Bromo karena letaknya yang di tengah-tengah. 

Sebelum memasuki kawasan TNBTS, kita membayar tiket masuknya dulu. Untuk kendaraan roda empat dikenakan biaya 10.000, sementara perorangnya saat hari kerja 27.500. Harga yang sangat terjangkau, meski begitu untuk wisatawan mancanegara ada perbedaan harga sekitar 10x lipatnya. Di samping loket retribusi ini ada toilet, sebaiknya kalau udah ada rasa-rasa ingin buang air mending di sini saja. Soalnya mulai pergantian Jeep agak susah mencari toilet. Waktu itu kami sampai meminta izin numpang ke toilet sekolah di tempat pergantian Jeep ini. Whuaa pas pintu mobil dibuka, jangan ditanya bagaimana rasanya. Dingiiin brrrrr, bahkan dinginnya mengalahkan AC mobil.... Saya langsung memakai jaket karena kami akan berpindah mobil.

Ini kali pertama buat saya dan si anak naik Jeep. Pengalaman yang mendebarkan, bagaimana tidak, melihat mobilnya saja sudah kebayang sangarnya menaklukan medan. Aah ada sih rasa deg-degan, hingga saya sampaikan ke sang supir, "Jalannya santai aja ya, Pak!" Alhamdulillah sang supir, Pak Sujud sangat ramah dan beliau juga punya jam terbang yang tinggi mengendarai Jeep ini, jadi cukup menangkanlah. 

Kami ber-6 ditambah supir sudah siap di mobil. Yang jelas tidak lupa berdoa. Formasi duduk kami di Jeep, suami dan anak (5 tahun) di depan. Saya, adik ipar, ibu & bapak mertua di belakang. Kursi belakangnya ini berhadapan dan saya kurang nyaman dengan posisi ini jadi tetaplah ngadepnya ke depan terus selain juga karena ngeri liat samping yang jurang. Sebetulnya jalannya relatif bagus cuma memang medannya agak curam, berliku, dan sempit. Jadi kalau ada Jeep yang papasan yah tau sama tau deh, yang lebih lowong ya mengalah saja.
harga tiket masuk bromo
Pengalaman pertama selalu berkesan 
Sekitar 15 menit setelah berganti Jeep tadi kami mulai memasuki kawasan padang savana dengan gugusan bukit di sisi kiri dan kanannya. Sayang beberapa minggu sebelum kedatangan kami, area ini sempat terbakar dan kini menyisakan rumput-rumput hitam saksi keganasan kobaran api saat itu. Padahal katanya kalau sedang musim hujan tempat ini bagus sekali, terlihat rumput-rumput hijau bak karpet. Tak lama dari bukit ini terlihat hamparan pasir yang begitu luas. Sesekali tampak pasir yang seperti sedang menari karena tersapu oleh angin atau jejak Jeep yang melaju. Kelihatannya sih indah namun bila mendekat harus hati-hati karena bisa masuk dan melukai mata. Menurut pak Sujud bila semua Jeep dikumpulkan jumlahnya bisa mencapai 2000an unit, wow banyak ya... 

Pak Sujud merekomendasikan supaya kami langsung ke view point saja nanti setelah itu baru keliling ke pasir berbisik, dan bukit teletubbies. Kawah Bromo? Heee, nggak. Kami lihat dari kejauhan saja. Banyak pertimbangan sih, pertama fisik yang pasti akan melelahkan naik tangga yang tinggi banget itu, kedua waktunya sudah mendekati waktu makan siang, ketiga demi kenyamanan si anak juga karena ini pengalaman pertamanya ke gunung. Jadi biar yang dia ingat bahwa ke gunung itu menyenangkan. Hihi ....

Kami berlalu saja di padang pasir ini karena akan langsung menuju penanjakan 1. Tampak beberapa Jeep tengah parkir sementara para penumpangnya ramai berfoto. Pak Sujud ini merupakan orang Tengger (huruf e pada Tengger dibacanya seperti kata meletus ya), ia kerap berhenti dan menyapa bila berpapasan dengan kawannya, berbicara dengan bahasa yang saya sendiri kurang bisa memahami, maklum yang asli jawa itu orang tua, sementara saya asli jawa Jakarta.

Jalan menuju penanjakan juga sama curamnya. Suara klakson selalu dibunyikan ketika akan berbelok karena memang sangat berliku dan sempit. Beberapa motor asyik saja melaju, mungkin memang ia sudah mahir dan hafal medannya. Sebelum tiba di penanjakan 1 atau view point kami sempat melewati Love Hill atau bukit cinta. Belum lama memang tempat ini dibangun. Katanya dinamakan demikian karena banyak yang memadu kasih #tsyahbahasanya. Baiklah, kami harus fokus menuju penanjakan 1, so tempat ini kami lewati dulu. 

Yeah, akhirnya kami tiba di view point pukul 08.15an. Masih harus sedikit berjalan menanjak melalui beberapa anak tangga sebelum benar-benar bisa melihat komplek Pegunungan Tengger nan megah. Di penanjakan 1 ini ada toilet yang letaknya di dalam warmindo, kalau musholla saya kurang tahu pasti. 
View point sunrise Bromo
Brrr ... Asli dingin beeud ...
Naik tangga ke penanjakan
Qiqiqi, ketahuan jarang exercise nih...

Aah sedikit lagi, semangaaat!!! Kami akan benar-benar melihat ciptaanNya nan agung. Yap, inilah pemandangan indah di hadapan kami... Masya Allah, cantik banget meski matahari sudah meninggi dan menyilaukan mata. Sangat jelas setiap lekuk punggung gunung-gunung di hadapan dan makin sempurna ketika melihat langitnya yang bergradasi warna biru hingga putih nan bersih. Sementara di bawahnya beralaskan pasir yang terus berbisik. Kini, sudah dipasang pagar untuk melihat sunrise, memang terlihat kurang natural saat di foto tapi faktor keamanan memang yang utama mengingat Bromo kini sudah menjadi objek wisata keluarga bahkan dengan anak dan orang tua.
Pemandangan Bromo pagi hari bulan September
Masya Allah cantiknya ...😍
Ada yang bertanya, "apakah Bromo masih memiliki sensasi alami mendaki?" Menurut saya Bromo sangat memanjakan para pendaki pemula bahkan untuk mereka dan juga saya yang gemar melancong ala koper. Bisa dibilang turis sangat terfasilitasi ke sini. Contohnya saja view point ini, disediakan bangunan melingkar berundak-undak yang bisa digunakan untuk duduk santai melihat sunrise seperti laiknya teater. Saking sudah menyatu sebagai objek wisata bahkan ada tukang bakso keliling di area pegunungan ini. Memang tidak begitu sulit mencari tempat makan bahkan berburu oleh-oleh di Bromo.
suasana view point Bromo
Memang ada reduksi akan kealamiannya, namun di satu sisi ini sangat memfasilitasi wisatawan.

Brrr... Sesekali saya memasukan tangan ke kantong jaket karena dinginnya. Ya, bagi saya udaranya termasuk dingin meski terlihat cukup terik. Foto-foto pun tak luput kami lakukan. Setelah puas, kami mulai turun. Menyempatkan berhenti di Love Hill yang ternyata juga memiliki pemandangan yang indah. Karena keindahannya sampai ada pasangan yang tengah bersiap foto-prewed di sini. Kalau mau menanjak mungkin lebih bagus lagi, tapi kami semua rasanya sudah cukuuuup lelahnya, haha ...
Ibudari-bundadari-bibidari-bidadari (lagi nunduk) 😀
Bukit Cinta terletak pada ketinggian 2.680 mdpl dan merupakan salah satu tempat tertinggi di komplek Pegunungan Tengger yang biasa dijadikan lokasi untuk melihat Kaldera Tengger yaitu Gunung Bromo, Gunung Kursi, Watangan, dan Gunung Widodaren, dari sini pula kita dapat melihat Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl). Menurut Suku Tengger tempat ini juga disebut Lemah Pasar yang nama aslinya Pasar Agung yang merupakan tempat memenuhi kebutuhan upacara adat. *Demi akurasi informasi, narasi ini saya kutip seutuhnya dari papan informasi yang ada di Bukit Cinta.💓
Pemandangan Bromo dari Love Hill
Pemandangan kompleks Pegunungan Tengger dari Love Hill

Pasir Berbisik

Tujuan kami selanjutnya adalah pasir berbisik. dinamakan demikian karena memang bila tertiup angin menimbulkan suara di telinga seperti bisikan-bisikan. Indonesia memang kaya, kita bisa merasakan sensasi seperti berada di gurun pasir timur tengah. Harusnya memang membawa masker karena bila angin cukup kencang sangat mungkin pasirnya masuk ke mata dan hidung. Anak saya beberapa kali kelilipan bahkan suami saya yang sedang makan roti di mobil juga sempat termakan pasirnya, haha karena pas mangap pas pintunya dibuka. Kawasan Bromo ini kalau malam gelaaaap sekali. Tak ada cahaya selain dari lampu sorot Jeep dan mungkin juga sinar bulan. Makanya kalau malam-malam berjalan sendirian tanpa pemandu atau supir yang paham arenanya, ngeri tersesat.
Pasir Berbisik di Bromo
Entah deh lupa, ini di pasir berbisik atau bukan, yang jelas kami lihat lautan pasir yang luas.

Foto di pasir berbisik
Kita terus berjalan bergandengan ya sayang ... 

Bukit Teletubbies

Menurut penuturan pak Sujud, bulan terbaik mengunjungi Bromo adalah bulan ke-4 alias April, udaranya sejuk dan rerumputannya hijau subur. Bila ingin melihat salju datanglah di bulan Agustus. Perbincangan dengannya terus bergulir sampai akhirnya kami tiba di Bukit Teletubbies. Bukit ini bukan tempat shooting teletubbies melainkan bentuknya yang menyerupai.
Bukit Teletubbies Bromo Kebakaran
Jangan imajinasikan sebuah angka, karena itu hanya bilangan tanpa makna 😅
Jaga kode etika pecinta alam
Si anak lagi enggan membuka maskernya, karena memang pasirnya cukup sering berterbangan.

Aaah, tak terasa, hari sudah makin siang dan si anak juga tampak udah lelah sangaaat. Whaa sepertinya ada yang kurang, saya belum membahas tips serta do and dont'snya sekalian saat berlibur ke gunung khususnya Bromo. Baiklah untuk tips liburan ke Bromo bersama anak bisa klik di sini ya . Yang jelas kalau kalian mengaku mencintai alam, ingatlah kode etiknya ya ... 
Take nothing but picture (jangan mengambil apapun kecuali gambar).
Leave nothing but foot print (jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki atau jejak).
Kill nothing but time (jangan membunuh apapun kecuali waktu).
Liburan bersama anak ke Bromo
See you on our next trip stories 💗

22 komentar:

  1. Ingin sekali berkunjung ke sana lagi krna saya pernah kesana tapi tak sempat juga menikmati sunrise dan keindahan bromo krna kondisi yang tidak memungkinkan. Juga saat itu, bromo baru saja "muntah" (2011 atau 2012,saya lupa) sehingga wisatawan saat itu kurang bisa menikmati keindahan bromo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba bisa segera kembali melihat keindahan Bromo secara langsung

      Hapus
  2. Balasan
    1. Whuaa orang gunung aja bilang demikian ya...

      Hapus
  3. wah jadi pengn cepat2 nikah biar bisa jalan2 :D hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa, gak musti nikah dulu kalii... Atau biar ada alesan ya sekalian honeymoon... :D

      Hapus
  4. Saya juga enggak sampai kawah Mbak..di tengah jalan berhenti, si sulung agak sesak karena asap belerang - dia ada asma. Tapi suami gendong si bungsu sampai bibir kawah. Tapi worth it juga berangkat dari jam 4 pagi buat liat sunrise.

    Masih pengin ke Bromo lagi karena saat itu di bungsu baru 4 tahun jadi sekarang kalau ditanya dia lupa sudah ke sana atau belum hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. berangkat jam 4 pagi masih bisa lihat sunrise mba?

      Whua, hayoo kalo gitu ke Bromo lagi asik kok buat wisatawan..

      Hapus
  5. Bromo luar biyasah.....ketagihan. itu salah satu ciptaan Allah yg samgat indah & ketakutan menuju kesana hilang saat melihat keindahan yg terbentang didepan mata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang jalannya sempit dan berliku ya mba, tapi insya Allah sekarang sudah terfasilitasi dengan baik jadi no worry lagi.

      Hapus
  6. Mupeeeeeng. Aku tahun lalu udah list banget harus ke Bromo lalu hamil, ditunda deh.
    Liat ini lagi jadi pengen bayi cepet ( agak ) gedean biar bisa dibawa traveling

    BalasHapus
  7. Salah satu wishlist untuk dikunjungi. Semoga someday bs ksna

    BalasHapus
  8. Duhhh banyak orang menuliskan tentang bromo tapi aku belum pernah ke sana. Semoga suatu hari nanti bisa maen ke sana ya. Aaaminnn

    BalasHapus
  9. Wuih manteb beuuh ni, Kopermini! Salut sama mama papa yang masih sehay dan kuat mengunjungi Bromo. Sehat selalu buat semuanya yaaa

    BalasHapus
  10. Cakep! Fotonya oke banget.Cocoklah buat mendaki santai. Kalau badan lagi nggak pengin remek, ya memang kudu ke sini mendakinya.

    BalasHapus
  11. Waktu di Tulungagung aiu kepengeeennn banget buat mampir ke bromo ini. Cuman Yuaan msih bayi banget. Nyesel dulu enggak nekat bawa anak sekalian aja, huhuhu

    BalasHapus
  12. Aku belum pernah ke Bromo. Waktu SD hanya memdengar cerita keindahannya dari bapak dan foto fotonya.

    BalasHapus
  13. Hihihi namany lucu2 ya...bukit cinta dan lain lain. Jadi penasaran pengen berkunjung kesana,semoga!

    BalasHapus
  14. Wah Bromo. Lagi-lagi traveler blogger emang paling bisa bikin iri deh. Hahaha. Apalagi ini traveling nya sama anak-anak. Keren bingit. Semoga suatu saat aku bisa yaa

    BalasHapus
  15. Jalan-jalan terus pokoknya ya mbak...penasaran tadi katanya kalau lihat ingin lihat salju datang pas bulan agustus. Di bromo turun salju juga kah?

    BalasHapus
  16. Masya Allah cantiknyaaaa. Aku bener-bener takjub liat viewnya Mbak. Semoga suatu saat Allah izinkan aku dan keluarga mencicipi langsung pemandangan indah ini. Selama ini setiap liat foto-foto Bromo cuma bisa ngiler doang. Hihihi.

    BalasHapus