Perjalanan ke Coban Rondo yang Melegenda


Setelah mengalami pergulatan batin antara Museum Angkut dan JTP3, kini bingung lagi antara Coban Rondo (Air Terjun) atau Batu Secret Zoo (Kebun Binatang). Hiyaah gitu aja pakek bingung segala. Beginilah kalau liburan singkat sementara tempat wisatanya banyak banget. Baiklah, agaknya tema liburan ke Malang kali ini lebih ke alam aja ya mencari yang lebih natural, soalnya di Jakarta susah nyari yang beginian. Ibaratnya nih bagi warga Jakarta kalau mau ke kebun binatang bisa ke Ragunan atau kalau mau yang hawanya mirip di Batu, bisa ke Taman Safari. Tapi kalau nyari Air Terjun alami, mau kemana coba? #makesensekanya

Hari ketiga di Malang ini jadwalnya lebih santai sih. Kami keluar hotel sekalian check-out sekitar jam 09.30an pagi. Heuheuu asliii kurang banget rasanya liburan di Batu, Malang ini. Soalnya selain belum puas nikmatin hotelnya itu sendiri juga karena banyak tempat wisata sekitar penginapan yang belum kita kunjungi. Sebagai informasi saja The Singhasari Resort, tempat kami menginap ini dekat banget sama JTP3 dan BNS. Bismillah, next kalau liburan lagi ke sini eksplor semuanya deh ya.

Otw Coban Rondo

Kalau dari penginapan kami The Singhasari ini untuk mencapai Coban Rondo masih harus nanjak lagi ke arah Pujon sekitar 20 menitan. Perjalanan kami ke Coban Rondo cukup lancar, jalannya berkelok-kelok tapi bagus. Sepanjang jalan kiri-kanan banyak pohon-pohon tinggi, yah mirip-mirip seperti di Puncak suasananya, cuma di sini lebih sepi, beda sama Puncak yang kiri kanan sudah banyak kios-kios dan restoran. 

Begitu sampai kami yang masih di dalam mobil, membayar tiket masuk sebesar 35ribu/orang. Tiket masuknya ini nanti bisa digelangkan supaya mudah ditandai saat mau masuk wahana. Ini merupakan tiket terusan, jadi kita bisa pakai untuk bermain hampir seluruh wahana. Wow bisa dibilang murah ya, padahal yang disajikan itu bentukan alam yang nggak ada duanya. Iya dong mungkin tempat lain ada Coban juga tapi pasti tidak ada yang identik satu sama lain, namanya juga ciptaan sang Maha Kuasa.

Wahana Outbond dan Labirin

Wahana pertama yang kami temui adalah lebih ke kegiatan outbond. Ada flying fox, panahan, berkuda, labirin, serta beberapa spot foto yang instagrammable banget. Tadinya sih saya mau men-skip tempat ini karena fokus utama kami ya Coban Rondo aja udah, tapi pikir yang lain, "udah lihat dulu saja, kalau tidak suka tinggal pindah." Hmm... bener juga sih. Oiya lagi pula anak saya waktu itu mengeluh pusing, kayanya antara kena AC langsung saat di mobil atau jalannya berkelok-kelok. Jadi ya sudah saya pun mengurut punggungnya sebentar dengan minyak telon sambil si anak memeluk ayahnya. Daaan, seketika si ayah gelege'an alias sendawa berkali-kali, setelah itu? Alhamdulillah si anak pun ceria kembali malaaaah ngajakin naik flying fox yang tingginya, beuuuh saya aja gak mau nyobanya.

Ya sudah karena si ayah juga mau nyobain, jadilah berduaan mereka terbang romantis di flying fox. Daaaan ternyata dong dia malah minta lagi... Hohoo ... Sudah ya karena memang satu gelang ini hanya berlaku 1x permainan tersebut. 

Kami terus berjalan menjelajahi tempat lainnya. Ealah ternyata ada panahan, si suami katanya mau coba. Terus otak akuntingku muncul, "masa aku gak main apa-apa, lha wong sudah bayar yasudah kalau panahan mah hayuk aja deh."  Gitu deh kira-kira gumamku dalam hati. Meski begitu, tetap saja anak panahku malah banyak dipake sama suami, untungnya pas anak panah terakhir berhasil masuk di lingkaran. Apa sih ini istilahnya? Haahaa ...
Ternyata berat juga yes nariknya...
Nggak jauh dari tempat panahan ini juga adala toilet dan musholla. Di sisi sebelahnya ada area luas yang sudah ditata dengan sangat cantik dan apik. Kalau sudah di area sini, foto di mana juga pokoknya cakep deh. Oiya satu lagi, di sini juga ada taman labirin lengkap sama menara pengintainya. Buat apa? Ya mungkin buat memberi petunjuk yang di dalam labirin. Soalnya nek ora bisa mumet di dalam labirin. 
Asyiknya jalan rame-rame itu ada yang motoin :D
Ada yang pernah masuk labirin?
Dekat wahana ini banyak tukang jajanan termasuk oleh-oleh. Sebagai informasi saja ya, toko paling kanan menjual dengan harga yang relatif terjangkau dan kualitasnya cukup baik. Buat perbandingan saja, anak saya dibelikan topi oleh yangutinya topi dengan harga 20.000, kacamata 15.000 dan kaos dengan bahan adem seharga 35.000 saja dooong. Sementara di tempat oleh-oleh, kaos dengan kualitas bahan yang bagus itu harganya paling murah 65.000an, huwaah terus menyesal kenapa nggak beli pas di Coban saja. Ya sudahlah itu namanya rezeki. Sekarang sudah tau kisaran harga di tempat oleh-oleh jadi next kalo di tempat wisata ada yang menjual barang dengan kualitas sama tapi harga lebih miring, sikat aja.

Coban Rondo; Bukan Sekadar Air Terjun

Nah ini yang ditunggu-tunggu, asli penasaran karena saya kayanya sih memang belum pernah lihat air terjun secara langsung. Terus langsung kepikiran dong, pas adik ipar bilang waktu dia ke Coban Rondo ada monyetnya. Heuheuuu ... Nah kan pas sampai di parkiran bener aja, monyetnya ternyata buanyaaak banget, udah gitu gede-gede dan lincah-lincah. Katanya tipsnya adalah jangan tatap mata si monyet, soalnya dia bisa jadi agresif karena merasa terancam dan juga kalau bisa makanan atau minuman diumpetin dulu deh. Waktu itu ibu mertua saya nenteng jagung ke mobil dan kita udah teriak semua takut si monyet masuk. Soalnya itu monyet udah kaya mau nggaruk makanannya gitu.
Banyak jajanan di parkiran
Kesunyiannya bikin nyaman banget saat berkunjung ke sana.

Ya sudahlah, bismillah ... Yakin saja nggak akan reseh kok kalau kita tidak membuat dia tidak nyaman. Monyet di sini tidak seagresif yang di Uluwatu, Bali, jadi woles aja ya. Waktu itu kami ke sini hari selasa, tidak begitu banyak pengunjungnya jadi sangat nyaman. 

Ternyata tidak jauh kami berjalan dari parkiran sudah mulai tampak air terjunnya. So, saya bisa bilang Coban Rondo kurang cocok buat kalian yang suka liburan ala petualang. Ini lebih cocok buat pelancong dengan paham narsisme kaya saya yang menyukai alam tapi ala-ala koper. Makanya kopermini merasa cocok banget ke sini. Ambiance-nya itu juara banget, bikin betah berlama-lama, menghirup udara pegunungan yang segar banget. Di sekeliling kami banyak pepohonan tipikal dataran tinggi gitu yang bentangan cabangnya hampir menutupi langit Coban Rondo. Nah beberapa langkah kemudian, kami sampai di hadapan air terjun Rondo, sampingnya itu ada sungai yang airnya jernih banget, dihiasi batu-batu kali beraneka ukuran. Aah, heavenly!
Pohonnya tinggi-tinggi banget
Masya Allah, aslinya cantik bangettt... Air terjunnya langsung mengalir ke sungai.

Sungainya berundak-undak dengan banyak bebatuan mulai dari kerikil hingga yang besar.

Maka, sesi foto-foto menjadi keharusan setelah sebelumnya memuja kebesaran Ilahi dengan segala ciptaanNya. Tidak berlama-lama sih kami di sana, paling sekitar 15-20 menitan. Hhh... Nyatanya kepuasan manusia memang segitu saja ya, coba bandingkan dengan perjalanan menujunya. #kontemplasi.

Setelah puas kami kembali ke mobil untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Malang. Namun dalam perjalanan ke parkiran ternyata saya menemukan spot di mana terdapat beberapa mainan anak seperti ayunan, perotosan, dan jungkat-jungkit. Saya juga menemukan sebuah tulisan berupa legenda Coban Rondo di papan wawasan yang ada di sini, mau tahu kisahnya :
Asal-usul Cobanrondo berasal dari sepasang pengantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita yang bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusuma berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi berangkat dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan.
Ketika dalam perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tiak jelas asal usulnya. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan kepada punokawan yang menyertainya Raden Baron  berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada Cobannya (air terjun), perkelahian berlangsung seru dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian akhirnya Dewi Anjarwati menjadi janda (Dalam bahasa jawa Rondo).
Sejak saat itulah, Coban tempat tinggal Anjarwati menanti suaminya dikenal dengan COBAN RONDO...
Konon, batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri.
Nah, kisah legenda Coban Rondo ini mengakhiri eksplorasi kami di sini. See you on next trip stories. :)

19 komentar:

  1. waaaah, jadi pengin juga ke sini. Dulu pas SD ke Coban Rondo, hiks..lamanyoo sudah!
    Tapi memang bagusnya Malang dan Batu, obyek wisata sudah terkelola dengan baik. Jadi kalau kita ke sana jadi bingung mau kemana karena bagus semua.
    Hm..berrati musti ke Malang lagi Mbak Dwi karena belum ke BSZ #kompor kwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mauuu, saranku buat teman-teman yang mau ke Malang, minimal banget itu seminggu deh, kalo mau nyantai yah 2 minggu. Asyik deh tuuh..

      Hapus
  2. Masya Allah air terjunnya bikin salfok. Coban Rondo jadi kepingin jg kesana juga pas main2 ke malang. Mau ah masukin wish list hihi. Makasih infonya mba, keceeeee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mba, di Malang banyak coban kok, setidaknya kalau nggak ke coban rondo bisa yang lain. Etapi menurut tiap tempat itu uni jadi cobain juga deh ke sini :D

      Hapus
  3. Wah akhirnya terjawab juga pertanyaanku selama ini. Coban itu artinya air terjun to hahahah. Noce trip and amazing story, Kopermini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whahahaha, alhamdulillah bila artikel ini menjawab kegalauanmu... Makasih ya mbok sudah mampir...

      Hapus
  4. Waduuuh...jadi kangen ke malang. Coban rondo itu keren bingit..kapan ya bisa kesana lgi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa Bunda Srie mah kayanya sudah puas kemana-mana kayanya yah. Apalagi sekarang makin gampang kalau mau jalan-jalan, gak perlu surat cuti atau izin kecuali dari suami, hihii

      Hapus
  5. Mbak dulu aku LDKS SMA di Coban Rondo, tapi gak ke labirin dan gak tau sejarahnya kenapa namanya begitu. Tapi emang beneran bagus ya. Aku dlu dipinggir cuban rondo disiram2 sama senior OSIS hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaaa udah kebayang pasti seru banget, dengan adegan yang ala-ala sedikit militer itu yaa..

      Hapus
  6. Malang memang wisatanya nggak ada matinya ya, Mbak. Baca dan dengar cerita banyak teman soal cantik dan lengkapnya Malang dan Batu. Etapi aku belum pernah kesana. Hiks, jadi kalau teman cerita cuma mesam-mesem dan angguk-angguk kepala aja, nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba dalam waktu dekat ada rezekinya ke Malang :)

      Hapus
  7. Pernah ke cuban rondo masih jaman dulu smp, hehehhe.. Riwayatnya baru tau baca disini #lahdulugapaham asal ikut aja, wkwkkw.. Makin bagus ya mbk..
    Bener deh kalau ke malang tuh bingung banyak tempat wisata, ga cukup kalau sekali,hehehhe😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, minimal pun seminggu kalau mau eksplor Malang.

      Hapus
  8. Yuhuuu, Coban Rondo emang salah satu wisata kebanggaan Malang Raya. Jadi sadar nih kalo saya udah 3 th yg lalu ke sana. Waktu itu pas musim hujan. Duingiiin... Yuk, mampir ke Coban2 lain di Malang, Mbak. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mauuu, ada coba pelangi sama coban Rais juga ya mba, belum yang lain-lainnya. Whua warga Malang, Batu, dsk harus bersyukur nih dianugerahi tempat seperti ini.

      Hapus
  9. Wah seruuu, kepo main di labirin mbak gimana ya. Senangnya kalau baca kopermini jadi berasa ikut traveling. Makasih mbak Dwi ceritanya seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba Ummu, terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca.

      Hapus
  10. Hehe... Keren ya mb coban Rondo... Ketemu kera-kera yang manis kan? Jangan kapok yaa... Ditggu liburan ke Malang lagi...

    BalasHapus