Menikmati Cita Rasa Es Krim yang Melegenda di Toko Oen Malang

Cagar Budaya di Malang

"Di tengah modernitas Malang Raya sebagai kota wisata, ada satu tempat yang telah berdiri sejak lama dan melebur dalam suasana kekinian, sebuah kedai es krim yang melegenda dan siap mengajak siapa pun yang datang kembali merasakan atmosfer tempo doeloe." 
Penghujung September lalu saya dan keluarga berkesempatan menikmati liburan singkat di Malang Raya. Dua hari kami habiskan di kota wisata Batu, namun belum puas rasanya kami menjelajah objek wisata yang ada, kini hari ketiga kami sudah harus bertolak ke Malang. Sore itu udara Malang cukup dingin, maklum saja selain daerahnya yang memang di dataran tinggi juga kondisi saat itu tengah hujan rintik-rintik. 

Sebuah mobil minibus putih membawa saya dan keluarga dari Pujon, Batu, menuju sebuah toko es krim di pusat kota Malang. Mobil ini berjalan dengan kecepatan rata-rata sehingga saya bisa melihat dengan jelas bagaimana suasana kehidupan di sepanjang jalan menuju Malang. Lalu lintas cukup ramai namun tidak semrawut. Sesekali tampak bunga kekuningan di tepi jalan, sangat unik dan menarik perhatian kami. "Ini seperti di Korea," celoteh adik saya takjub. Sayangnya sang supir tidak mengetahui pasti nama pohon ini. Lantas, saya teringat unggahan foto seorang sahabat yang merupakan warga Malang tentang pohon ini, inilah pohon Tabebuya. 

Setelah lebih kurang satu jam perjalanan, kami tiba di Malang. Hujan rintik-rintik pun reda. Mobil kami berbelok ke kiri menuju Jalan Basuki Rahmat. Tampak sebuah bangunan dengan arsitektur modern klasik bertuliskan Riche Heritage Hotel di sebelah kiri jalan. Tidak jauh dari sini, kami sampai di depan sebuah bangunan klasik bercat putih gading dengan sedikit sentuhan hijau tua, terlihat tulisan Toko Ice Cream “Oen” Palace" di sisi atasnya. 

Oen Ice Cream Palace Patissier 

Restoran yang telah berdiri sejak tahun 1930 ini memiliki desain khas kolonial. Kini, bangunan ini tetap seperti yang dulu, sangat kontras dengan suasana kota yang dipenuhi kendaraan serta beberapa bangunan modern di seberangnya, ada sebuah mall besar yang juga telah berdiri lama di Malang.
Eksterior toko oen Malang
Meski gerimis, wajib foto dulu :)

Oen Ice Cream Palace Patissier adalah nama mula Toko Oen di Malang pada tahun 1930. Restoran ini merupakan tempat favorit untuk berkumpul bagi orang-orang Belanda dan Eropa masa itu. Pemilikinya seorang Tionghoa bernama Max Liem yang memiliki marga Oen. Tempat ini juga sangat bersejarah karena pernah dijadikan sebagai tempat diadakannya Kongres Komite Nasional Indonesia tahun 1947. 

Melihat lebih dalam Toko Oen Malang 

Kami turun satu per satu dari mobil. Udara sejuk sangat terasa menyelimuti pipi saya. Saya tarik nafas dalam dan merasakan aroma sisa-sisa hujan yang membasahi pepohonan. Langsung saya keluarkan kamera untuk mengabadikan beberapa gambar di depan dan sekitar Toko Oen. 

Rupanya masih sedikit gerimis ataukah ini hanya tetesan air yang jatuh dari pohon besar di dekat kami? Entahlah. Setelah mengambil gambar kami semua bergegas masuk. Suasana di dalam toko lebih redup, selain lantainya yang berwarna abu tua, juga tak ada lampu yang menyala sebagai tambahan penerangan sore itu. Kesan kolonial masih sangat terasa, sebuah etalase roti model lawas menyambut kedatangan kami. Terlihat beberapa roti dan kue di dalamnya. Ciri khas bangunan kolonial juga tampak dari langit-langitnya yang tinggi, pilar-pilar putih serta pintu dan jendela dengan kaca yang lebar. Kaca-kaca ini sangat membantu pencahayaan serta sirkulasi udara yang baik. Sungguh desain yang sangat matang bahkan bisa menjadi inspirasi bangunan di masa kini.

Sejurus kemudian, mata saya tertuju pada sebuah spanduk berlatar putih dengan tinta merah bertuliskan "Welkom in Malang Toko “Oen” Die Sinds 1930 Aan De Gasten Gezelligheid Geeft". Beberapa pramusaji berdiri di bawah tulisan ini, seolah siap menyambut para tamu yang datang. Mereka memakai kemaja putih, bawahan hitam, lengkap dengan sepatu pantofel serta peci hitam. Ada beberapa meja bundar dan kursi rotan rendah dengan warna dominan hijau toska, putih, dan coklat. Bila tak nyaman duduk dengan posisi rendah, pengunjung juga bisa memilih kursi yang lebih tinggi, malah beberapa meja di alasi dengan kain bermotif kotak-kotak dengan warna dominan merah dan putih. Beberapa tirai putih transparan juga terpasang menutupi setengah bagian bawah jendela. Sungguh kesan klasik bangunan ini makin terasa kala saya melihat beberapa lukisan masa lalu yang menghiasi dinding-dindingnya. Berada di sini seolah kita diajak menikmati suasana masa lalu. 

Sambil mengamati toko bersejarah ini langkah kami terhenti di sebuah meja kayu bundar yang berada persis di dekat jendela. Tak lama kemudian, seorang pelayan pria datang menghampiri kami dengan beberapa buku menu di tangannya. Sapa hangat bergulir di antara kami yang dilanjutkan dengan pemesanan beberapa menu khas Toko Oen. 

"Apa es krim yang khas dari Toko Oen, Mas?" tanya saya lantang. 
"Oen's spesial," jawabnya mantap. 

Setelah melihat-lihat menunya, pilihan kami jatuh pada es krim Oen’s spesial, Banana Split dan Tutti Frutti. Oen’s special adalah es krim dengan tiga rasa berbeda yaitu, coklat, vanilla, dan stroberi, serta diberi pemanis berupa wafer batang, wafer rol, dan krim putih dengan potongan kecil buah ceri di atasnya. Sementara Tutti Frutti adalah es krim berbentuk seperempat lingkaran berwarna coklat dan tengahnya berwarna putih rasa buah-buahan. Satu lagi, Banana Split merupakan es krim tiga rasa yang diberi tambahan dua iris pisang potong memanjang yang mengapit es krim tersebut.
Harga Banana Split Toko Oen Malang
Banana Split, yummy!
Harga es krim di toko oen Malang
Oen's Special menjadi menu spesial di Toko Oen Malang
Dari segi harga, es krim ini di atas rata-rata, namun dari segi suasana dan sejarah, Toko Oen adalah juara. Untuk sebuah Oen’s special dibanderol dengan harga Rp. 55.000 dan Banana Split dengan harga Rp. 60.000 (September, 2018). Tidak beberapa lama pesanan kami datang. Soal rasa mungkin tidak se-creamy es krim masa kini, namun tetap es krim Oen memiliki cita rasa yang sulit dilupakan. Teksturnya sedikit kasar, rasanya ringan, tidak terlalu manis, dan mudah mencair. Ya, inilah es krim yang telah menghiasi Malang sejak zaman kolonial. Es krim homemade yang dibuat dengan masih mempertahankan keasliannya. 

Selain menu es krim, Toko Oen juga menyediakan menu makanan Indo-Hollandnya. Ada steak lidah, sup buntut, juga nasi goreng. Konon, kelezatan steak lidah di tempat ini cukup tersohor sehingga banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang mencicipinya.
Keberadaan Toko Oen di tengah modernitas kota Malang wajib dijaga dan dilestarikan. Toko Oen memang pantas menjadi Cagar Budaya Indonesia, lebih dari sekadar kedai es krim, Toko Oen merupakan bangunan bersejarah yang sudah lama keberadaanya, bahkan sebelum Indonesia merdeka, menjadi saksi bisu sebuah perjuangan lintas zaman. 

Banyak jalan menuju Toko Oen 

Keberadaanya di pusat kota Malang, tepatnya di Jalan Jenderal Basuki Rahmat No. 5, membuat Toko Oen sangat mudah ditemui. Bila kita datang dari stasiun Kota Baru Malang bisa hanya dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum yang melintas di depannya. Bila mengenakan kendaraan pribadi tinggal arahkan kendaraan menuju alun-alun kota Malang. Dari alun-alun akan mudah kita temui Toko Oen ini. Kini, dengan kemudahan taksi online serta perangkat lunak google maps kita bisa sampai di Toko Oen dengan mudah. 


Harapku pada Toko Oen 

Sebagai penikmat es krim, besar harapan saya agar Toko Oen tetap mempertahankan cita rasa khasnya. Tidak perlu berinovasi meniru-niru es krim kekinian sehingga dikhawatirkan hilang kealamian cita rasa es krim tempo doeloe-nya. Keunikan rasa adalah identitas, akan menjadi nilai tambah serta pembeda dari es krim lainnya di masa kini. 

Selain soal rasa, agaknya harga juga perlu dibuat lebih bersahabat bagi warga atau turis lokal, agar bisa menjangkau seluruh lapisan. Mungkin konsekuensi dari harga yang relatif terjangkau adalah suasana yang lebih ramai namun kita bisa berikan aturan bagi para pengunjung agar suasana di dalam restoran tetap nyaman. 

Hal lain yang menjadi perhatian saya sebagai seorang muslim adalah mengenai status kehalalannya. Meskipun saat suami saya tanyakan kepada pramusaji es krim di sini halal namun alangkah lebih bijak bila Toko Oen juga memberikan kepastian status ini setidaknya untuk es krimnya. Besar harapan saya es krim Oen bisa dinikmati oleh semua lapisan. 

Satu lagi, mengenai kualitas makanan. Masyarakat tentu berharap rasa yang istimewa dari bahan-bahan segar berkualitas, apalagi dengan harga yang cukup tinggi saat ini. Agaknya harapan ini tidak berlebihan, semoga Toko Oen terus mampu berdiri mempertahanakan keasliannya sebagai restoran legendaris di tengah zaman yang terus maju. 





42 komentar:

  1. Malang emang ngangenin ya mba😍
    Makin banyak wisata kulinernya, tapi toko Oen ini emang udah jadi salah satu wisata kuliner yang harus dikunjungi, makan es cream dengan nuansa klasik toko Oen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, aku pun nggak menolak kalau diajak liburan ke Malang lagi, masih banyak yg belum dikunjungi.

      Hapus
  2. Bener mbak, di depan toko wajib ditempel sertifikat atau logo acc halal dari lembaga terkait. Apalagi ini es krim yg bisa jadi tujuan wisata kuliner Malang, udah dari zaman kolonial lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, banyak juga ternyata ya kan yang memperhatikan hal ini. Mending tegas sekalian ya, halal atau tidak, tidak perlu baper. Toleransi itu indah kok.

      Hapus
  3. Menikmati cita rasa es cream masa lampau , toko penjual bagaikan meningkatkan rasa ingin tahu, seperti apa es cream Tempo Doeloe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tau Ragusa, mirip kaya gitu Mpo...

      Hapus
  4. Berkali2 ke Malang, selalu nanti balik baru ingat dengan tempat ini.
    Padahal suka mupeng pengen nyobain.

    Next semoga gak lupa mampir.
    Enak2 kayaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malang memang terlalu menggoda setiap sudutnya ya, hihi sampe lupa...

      Hapus
  5. Saya pernah makan di Toko Oen, Malang. Sebetulnya kurang suka dengan interiornya. Agak gelap buat saya yang memang lebih suka suasana terang. Tetapi, rasa es krimnya memang khas :)

    -Myra-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaa sama nih yang aku rasakan. Betul mba, apalagi aku ke sana sore dan agak mendung jadi memang berasa sedikit gelap di dalamnya.

      Hapus
  6. Saat ke Malang saya cuma lewat dan nggak sempat mampir soale diburu waktu hahaha...kapan2 kalau ke Malang lagi pengen kesini ah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasa-rasanya liburan ke Malang seminggu pun kurang mba, mungkin perlu waktu sebulan kali ya, ihihiii

      Hapus
  7. Pengen banget ke Toko Oen ini, tapi belum pernah ke Malang. Huhu. Semoga nanti bisa main-main ke Malang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba, Malang itu must visit banget buat wisata keluarga.

      Hapus
  8. Es krimnya menggoda sekali. Jadi pengen coba es krim banana split. Semoga nanti kalau ke Malang bisa mampir ke toko Oen Malang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya mba. Aku juga suka banget yang banana split.

      Hapus
  9. aku juga pasti mampir ke toko oen kalau pas ke malang, selalu kangen sama suasana dan rasa es krimnya :)

    BalasHapus
  10. Wah sebagai (pengusaha) es krim aku jadi pengen studi banding juga nih penasaran sama cita rasa es krimnya sampe harapan mba jangan berinovasi hahaha...next kalau ke Malang mesti cobain ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaaa pengusaha es krim, aku sukaaaa, hehe... Iya mba, kalau ikut yg kekinian, sayang hilang keotentikannya.

      Hapus
  11. Es krim ini memang udah tak asing lagi ya mba... tapi aku belom pernah coba... sesekali nanti main ke Malang mampir untuk mencicipi rasa es tempo dulu... TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mba, biasanya ini masuk ke itinerary org yg liburan di Malang. Belum lengkap rasanya kalau blm ke sini.

      Hapus
  12. Aaaakkkkk... Ini salah satu destinasi aku kalau ke Malang nengok keluarga suamiku. Pasti minta mampir kesini, jadi kangen Malang nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whuaaa... Asyik banget punya saudara di sana.

      Hapus
  13. wah udah terkenal banget ya
    semoga nanti klu sy ke malang bisa nyoba nih
    ngiler liatnya..apalagi panas panas gini

    BalasHapus
  14. sering banget seliweran review toko oen ini 😍 bikin semakin mupeng pengen ke Malang.. entah kapan aku bisa kesana huhuhu

    BalasHapus
  15. Ice cream banyak penggemarnya. Termasuk diriku. Tp blm pernah coba di toko eon. Mudah2 suatu saat bs menikmatinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, es krim memang banyak disukai, dari anak-anak hingga dewasa.

      Hapus
  16. Seru nih, masih bercerita tentang Malang :) sip, cagar budaya ini emang sebaiknya tdk boleh dilewatkan.
    Walopun terus terang, saya blm pernah ke Toko Oen. Seringnya ke Gramedia yg ada di sebelahnya :D
    Selama ini ragu dg kehalalan es krimnya sih. Ternyata halal, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut keterangan pramusaji demikian mba. Walau besar harapan saya mereka bisa memasang logo halal MUI.

      Hapus
  17. Bener nih sarannya, jangan sampe berubah jadi kayak toko eskrim jaman now ya, ntar hilang etnik dan legendarisnya😀

    BalasHapus
  18. Wah asyik mba Dwi. Saya pernah baca juga review toko es krim Oen Malang ini dari tulisan teman. Dua tulisan ini sukses bikin saya yg suka bgt eskrim jadi ngeces. Thanks for sharing. Btw, saya punya bukunya mba lho 😊

    BalasHapus
  19. Beberapa kali mendengar nama toko legendaris ini disebutkan. Mudah2an bisa berkunjung ke sana juga.

    BalasHapus
  20. Malang ini gudangnya wisata kayaknya, ya. Beberapa waktu lalu saat ke Malang, sudah ke satu dua tempat wisatanya. Namun ternyata masih banyak lagi yang belum dan patut dikunjungi. Wah, jempol deh buat toko Oen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku 4 hari di sana masih banyak yg belum dikunjungi mba. Heuheuu, pengen lagiiii...

      Hapus
  21. Alhamdulillah....smg berkenan balik lagi ke Malang ya mba Dwi. Msh bnyk yg blm dikunjungi. Btw tentang Toko Oen adalah salah cagar budata kota Malang. Untuk rasa es krimnya termasuk bangunan sangat dijaga keasliannya. Semoga berkenan dan tmbh rindu dgn Malang yaa...

    BalasHapus
  22. Setuju dengan harapannya..semoga tetap mempertahankan keotentikannya
    Karena seringkali , berinovasi sehingga enggak asli lagi cita rasanya.
    Sayangnya belum pernah ke sini..dulu jaman kuliah main ke temen di Malang tiap liburan , tapi enggak kuat mau jajan di sini hihihi..
    Kalau ke Malang musti ke sini nih

    BalasHapus