Dan Dialah Sang Maha Pencipta




Bismillahirrohmaanirrohiim...

Summarji'il-bashoro karrotaini yangqolib ilaikal-bashoru khoosi`aw wa huwa hasiir
"Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih."
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 4)

Sepenggal ayat di atas mengingatkan saya pada perjalanan ke negeri kangguru musim panas lalu. Pada suatu pagi yang cukup terik kami (saya dan keluarga) diajak mengunjungi salah satu pantai yang sangat cantik di Perth, Cottosloe Beach. Letaknya yang berada di pinggir kota dan langsung menghadap Samudera Hindia akan membuat siapapun setuju bahwa ini adalah lukisan alam yang sangat indah. Adalah hal yang sangat saya syukuri bisa menjadi saksi atas kesempurnaan ciptaanNya ini.

Kembali dengan kontemplasi. Menurutmu bisakah manusia membuat yang serupa dengan ini? Membuat pantai yang putih bersih, samudera yang luas, angin yang menyapu ombak dan membawa kesejukan, hingga gradasi warna langit yang cantik? Maha Besar Allah dengan segala ciptaanNya. 

Tak pernah bosan memandang ini semua, namun semakin lama dipandang semakin tampak jelas betapa lemahnya penglihatan kita. Seberapa lama kita sanggup menahan kedipan mata karena takjub dengan potret yang ada? Satu menit? Dua menit? 

Pada akhirnya kita harus berkedip lagi untuk bisa mengulangi kenikmatan memandang ini. Dengan sinar matahari yang masih condong di timur saja mata kita sudah tak sanggup terbuka lebar melihat lanskap yang terbentang di hadapan. Kacamata atau picingan mata karena silau mentari pun adalah bukti betapa lemahnya penglihatan ini. 

Itu baru tentang mata. Belum lagi ketika kita bahas tentang kemampuan berdiri, berjalan, berlari. Bagaimana Allah Swt menyusun sedemikian apiknya sistem rangka tubuh kita hingga bisa melangkah ke belahan bumi lainnya? Bagaimana antar tulang bisa bersinergi tanpa ada kekecauan gerak, bisa menopang tubuh sedemikian beratnya bahkan sambil berlari?

Perjalanan bahkan dalam rangka liburan pun tak selamanya mulus. Maka daripada mengumpat berkata tak baik lebih baik berdoa, karena doa saat safar itu mustajab. Benar bila ada yang mengatakan, bila tak sanggup berkata baik, maka diamlah!  Kemampuan kita berkata-kata pun semua karena ciptaannya yang begitu sempurna. Mari kita renungkan, ketika kita mengucapkan L, maka posisi lidah di atas dan bibir terbuka, ketika kita berucap D lidah sempat ke atas dan kemudian ke bawah, ketika mengucap T lidah di antara gigi kemudian ke dalam, dan kita bisa mengucap rangkaian kalimat begitu baik tanpa lidah tergigit.

Poinnya adalah perbesar syukur, memahami bahwa kita manusia begitu lemah karena tak ada kekuatan melainkan dariNya. Merasa cukup dengan yang ada justru dapat mengayakan hati. Tak masalah bila kita baru mampu menjelajah yang dekat, selama perjalanan itu membawa setiap detik kita untuk mengingatNya, itu lebih baik. Teringat tulisan gurunda Indari Mastuti, "Jika air yang sedikit sudah mampu menghilangkan dahaga, tak perlu meminta yang banyak yang malah bisa menenggelamkan" lalu bila boleh saya lanjutkan ... namun bila dengan yang banyak itu kita bisa distribusikan dengan baik sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak makhluk, maka mintalah. Sesungguh Allah Swt Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Inilah yang saya suka dari sebuah perjalanan, menggali hikmah, menemukan pesan, dan memandang alam dengan penuh kerendahan hati, karena Dialah Yang Maha Tinggi. Apalah arti perjalanan tanpa bisa menemukan pesan cintaNya di hati. Karena sejatinya setiap perjalanan adalah cara kita untuk mengenal Allah Swt lebih dekat melalui ciptaan-ciptaanNya.

22 komentar:

  1. Masya Allah. Hal ini pula yang membuat saya senang jalan jalan mba. Dengan melihat sisi lain dunia, saya bisa merenung lebih lama. Sebab rutinitas rasanya sering membuat lupa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba. Kadang kita perlu melihat dunia dari sisi lain juga agar lebih terbuka pandangan ya.

      Hapus
  2. ya kekaguman akan ciptaan Allah itu sering bikin merinding ya, dan kita searsa kecil banget dibanding kebesaran Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bangeeeeet mba. Apalah kita di hadapanNya, hanya butiran debu. Maha Besar Allah.

      Hapus
  3. Betul banget, Mbak. Dengan semakin mengenal ciptaan Allah akan membuat cinta kita kepada sang pencipta makin besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin menambah kecintaan padaNya ya mba Lisa.

      Hapus
  4. Setuju Mba. Perjalanan bisa meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT

    BalasHapus
  5. Ma sya Allah, terima kasih Mbak sudah mengingatkan... Perjalanan memang bisa menjadi sarana kita tadabbur kebesaran Allah swt, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba, sekadar sharing saja, supaya tidak lupa ketika lagi senang2.

      Hapus
  6. Masya Allah..gak akan pernah habis rasa syukur ini terucap setiap melihat keindahannya,makasih mba atas sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 mba, semoga makin menambah syukur kita ya mba.

      Hapus
  7. Ayat pembukanya sangat menarik, masya Allah. Saya baru baca. Perjalanan memang penuh hikmah, ada 3 pelajaran di dalamnya: mendidik hati, menajamkan akal dan menguatkan fisik. Happy traveling!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Uniii, banyak manfaatnya ya traveling itu selamajuga dalam kebaikan.

      Hapus
  8. Setuju...setiap perjalanan mustinya bertambah rasa syukur kita pada segala nikmat-Nya.Karena tak ada kekuatan melainkan hanya dari-Nya
    Terima kasih sudah menuliskan ini Mbak Dwi

    BalasHapus
  9. That's right! Jalan2 itu penting, buat kita tafakur, menyadari Allah Maha Pencipta, n siapalah kita. Malu kalo masi belagu. Kita bener2 bukan apa2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, duuh manusia dilihat dari gedung 5 lantai sja juga sudah terlihat kecilnya.

      Hapus
  10. Setiap perjalanan hidup mesti disyukuri ya mbak agar nikmat semakin ditambah. Kl melihat keindahan alam, gak akan henti2 dan gak akan habisnya utk disyukuri

    BalasHapus
  11. Seneng baca postingan ini. Saya suka banyak ngeluhnya apalagi kalau bawa anak2 di perjalanan panjang haha. Thanks sudah diingatkan :D

    BalasHapus
  12. Bener banget Mba, perjalanan itu selalu menggugah hati. Melihat banyak hal, termasuk pemandangan alam ciptaan Allah, makin bikin takjub dan syukur. Apalagi kalau bisa travelling sesering mungkin,kaya Mba Dwi nih asyik banget.... Makasi sharingnya ya Mba :)

    BalasHapus
  13. Indeed. Syukur bikin kita kaya hatu yaa mba. Tapi meski kayaknya gampang, kenyataannya ga selalu mudah. Padahal syukur bisa membuat kita lebih lapang juga.

    BalasHapus