Diary #UmrohBackpacker; Part-1; Jeddah-Madinah



Jeddah, 12 Maret 2019; 02.00 am

"Flight attendants prepare for landing"

Demikian kurang lebih informasi dari kokpit memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat kami akan mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Setelah terparkir rapi, para penumpang yang sebagian besar merupakan jamaah umroh Indonesia ini kemudian turun dari pesawat, sebagian berfoto, sebagian bergegas menuju imigrasi.

Jeddah memang tidak masuk tanah haram, meski begitu antrean imigrasi tetap mengusung konsep gender. Jadi perhatikan mana antrean untuk perempuan dan antrean untuk laki-laki. Kemarin saat mengantre petugas imigrasinya seperti mengingatkan demikian dengan bahasa arab, tentu saja saya tidak paham. Namun yang sudah biasa bolak-balik ke Tanah Suci sudah mengerti apa maksudnya.

Saat kami tiba di imigrasi, antrean tersebut banyak diisi oleh jamaah yang baru saja mendarat dari pesawat yang kami tumpangi, yang tentunya kebanyakan orang Indonesia. Entah gemas atau bagaimana, petugasnya berceloteh sendiri dengan lantang, dan ooh ternyata dia geregetan. Kita memang diharuskan mengantre sesuai gender tapi kan bisa ambil antrean yang paling sedikit, begitu yang saya tangkap, saat si petugas berkata "bla bla bla ... take the shorter line" sambil tetawa kecil dan memandang para jamaah. Qiqiqi ... Maap ya Haji, karena kita tak boleh ada jarak #nantikangen.


Imigrasi selesai! Hati makin bergemuruh, tak sabar menapakkan kaki di Kota Nabi. Namun, bagaimanapun kami harus menahan keinginan yang membuncah itu karena kami masih harus menempuh perjalanan 5-6 jam lagi menuju Madinah dengan jalur darat.

Di tengah dinginnya udara malam, saya, adik ipar, beserta ibu mertua sama-sama merasa ingin buang air kecil. Sayangnya, toilet di bandara Jeddah ini terbatas. Betapa terkejutnya kami ketika mengetahui bahwa antrean toilet wanita sudah mengular hingga ke ruang tempat ambil bagasi. 

Dengan sabar kami mengantre, maju selangkah demi selangkah, dan sesekali sambil bercengkerama sesama jamaah umroh Indonesia lainnya. Tiba-tiba seorang wanita berperawakan tinggi, besar, dengan kulit sedikit gelap memotong antrean. Kontan ibu-ibu jamaah Indonesia merapatkan barisan sambil memberi isyarat pada wanita tersebut agar mau mengantre. Wanita tersebut terlihat enggan dan justru berceloteh "malas". Sontak para jamaah semakin ramai bersorak. Akhirnya terjadilah drama saling mendesak yang akhirnya dimenangkan oleh wanita tersebut. Hufft... #adaadasaja #dramatoilet.

Setelah sekian lama mengantre, entah berapa jam kemudian karena #sakinglamanya, selangkah lagi kami masuk bilik WC, seseibu berkerudung biru ukuran jumbo tiba-tiba masuk dan memanggil kami. Katanya sudah ditunggu sang muthawwif dan semua rombongan sudah keluar. Lalu kami? Sudah mengantre sejak lama dan harus disudahi begitu saja??? Oh Noooo! Akhirnya kami harus menjelaskan lagi, bahwa sudah ada perwakilan kami yang menunggu dan bus kami berbeda dengan rombongan besar. Ibu tersebut pun akhirnya paham dan ya sudahlah, beliau keluar dan menunggu kami di depan toilet. #dramatoilet lagi ... Setelah selesai, kami keluar menuju exit gate tampak sang muthowwif dan beberapa staff. Kami kemudian bergegas menuju parkiran bus. 

Saat kami tiba di parkiran ternyata busnya tidak ada. Kata sang Muthowwif bus di sana tidak boleh ngetem alias menunggu penumpang, justru penumpang yang harus menunggu, karena khawatir disangka bus gelap. Jadi setelah jamaah ready, siap naik, bus baru datang. Tak lama kemudian, bus tiba. Tak disangka dan dinyana, bus kami begitu besar, untuk 8 orang kami disediakan bus 50 seat. Wow! Kami masih takjub mengamati, perlahan namun pasti masuk ke dalam bus besar ini. Daaan baru saja duduk, muthawwif kami langsung memberikan sarapan nasi kotak. Whaaa sejak touchdown di Arab, saya justru merasa kenyang terus karena sebentar-sebentar dibagikan makanan, meski sekadar roti croissant coklat.
Sewa Bus besar jeddah-madinah
Bus merah yang siap mengantar kami selama perjalanan ibadah
Bus Rawahel Madinah
Menu sarapan ala Indonesia.
Awalnya sih menurut sang muthowwif harusnya pakai mercedez benz sayangnya semua sedang keluar, jadilah kami pakai Bus besar ini. Koplak-koplak dong? Ya nggak lah, emang baju, kebesaran! Namanya kendaraan diisi satu atau penuh juga sebetulnya sama saja. Justru kita yang enak, karena leluasa diisi oleh keluarga sendiri dan yang paling menyenangkan adalah toiletnya jadi kami-kami doang yang menggunakannya.
Sewa Bus Madinah
Busnya nyaman, bisa reclining seat, ada colokan usb, tatakan makan, dan legaaaa

Katanya backpacker tapi kok full-service? Jadi begini, kami memang menggunakan jasa travel Ubepe alias umroh backpacker. Di sini kami bisa custom itinerary, request penginapan, termasuk pesan tiket pesawat sendiri dan dapat muthawwif pribadi. Namun demi menghemat biaya kami akhirnya ikut rombongan besar untuk tanggal keberangkatan dan kepulangannya meski nanti saat tiba di lokasi ya sudah masing-masing. Lengkapnya soal itinerary dan biaya nanti saya ulas terpisah ya. 

Perjalanan dimulai. Sebagian kami melanjutkan tidur, sebagian lagi termasuk saya mengamati pemandangan luar yang masih gelap. Hingga kemudian berhentilah kami di suatu rest area untuk solat subuh. Sayangnya, tempatnya kurang bagus, toiletnya kurang bersih, airnya pun terbatas. Bahkan beberapa jamaah tidak mendapatkan air untuk berwudhu. Saran saya, selalu siapkan air minum dalam botol untuk bersih-bersih maupun berwudhu. Rest area di sana jarang terjamah sehingga kebersihannya pun alakadarnya.

Perjalanan terus berlanjut. Saya padahal ingin sekali bisa tidur agar nanti saat tiba di Madinah sudah segar. Apalah daya, si anak salihah ini terus berupaya mengajak Bundanya bermain. Ada saja hal-hal yang dilakukannya, akhirnya saya pun yang awalnya mulai mengantuk, jadi tak bisa tidur. 

Bus yang luas ini agaknya membuat si anak happy, karena ia bisa memilih duduk di mana pun, berjalan ke mana pun, dan mengajak bermain siapa pun. Saat ia sibuk sendiri dengan aktivitasnya, saya coba membuka sedikit jendela dan memandang langit yang mulai menguning. Fajar pun menyingsing.
perjalanan jeddah ke madinah
Dalam heningnya pagi, Jeddah-Madinah
Mulai tampak padang bebatuan nan luas di sepanjang perjalanan kadang juga diselingi pemandangan gunung batu di sisi kanan dan kiri jalan. Mungkin sebagian memandang ini membosankan tapi tidak bagi saya. Sesekali teringat perjalanan umroh 5 tahun silam, potongan-potongan kejadian sesekali muncul tiba-tiba seperti sebuah potongan film. Masya Allah, syukur pun terucap diberi kesempatan kembali ke Tanah Suci.

Tepat sesuai jadwal kami tiba pukul 10.00 pagi di Madinah. Tampak jelas kehidupan Kota Nabi dari balik jendela Bus. Aktivitas para pedagang dengan pakaian khasnya, hilir mudik jamaah dari dan ke masjid, serta burung-burung merpati yang asyik terbang mengepakkan sayapnya. 

Beberapa jamaah bisa kita kenali dari pakaian maupun karakteristik pembawaannya. Jamaah Indonesia khas dengan mukena maupun pakaian putihnya, sedangkan jamaah Timur Tengah dengan gamis hitam dan niqobnya.

Ada lagi jamaah Turki yang khas dengan blazer panjang berwarna krem atau hitam, serta syal bergambar bendera Turki. Ada juga jamaah Pakistan dan sekitarnya dengan pakaian atasan-bawahan mirip India serta kerundung persegi panjang yang diselempangkan.
Pas motret pas lewat dan ini adalah jamaah Turki.

Bus kami terus menyusuri jalan berliku di antara bangunan-bangunan tinggi tipe penginapan masa kini. Kadang tampak payung Masjid Nabawi di antara bangunan tersebut. Alhamdulillah, tiba juga kami di depan Movenpick Anwar, hotel tempat kami menginap selama di Madinah.
menginap do movenpick madinah
Sangat dekat dengan Masjid Nabawi

Satu persatu, kami turun dari Bus bertuliskan rawahelalmashaer di badannya ini. Sejenak menghirup aroma kota Nabawi, merasakan denyut kehidupan serta atmosfer kedamaian yang ada di Madinah. Kesejukan udara serta semilir angin yang menyapu pipi tak bisa dilupakan. Dan bagaimana mungkin bisa, berada di sini tanpa mengambil gambar?

Bagi saya perjalanan Jeddah-Madinah ini memberi makna tersendiri, betapa sejatinya kita hidup di zaman dengan penuh kemudahan dan kenyamanan. Sudah seharusnya rasa ini kita syukuri dengan banyak amal soleh sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW yang diiringi dengat niat ikhlas karena Allah ta'ala.

Kembali syukur kuucapkan tentang perjalanan Jeddah-Madinah bersama anak. Saya tahu, bagi anak kecil yang tingkat pemahaman akan esensi perjalanan ibadah ini belum seberapa, maka perjalanan panjang ini bukan hal yang mudah. 

Wajar bila ia sesekali meminta bermain maupun memakan camilan coklat kesukaannya. Biarlah, karena menjaga emosi anak tetap stabil dan ceria selama perjalanan yang monoton itu tak mudah. Dan saya angkat topi padanya, betapa ia sangat manis selama perjalanan tersebut, tak ada drama rewel, ngambek, apalagi menangis. Alhamdulillah atas semua kemudahan yang Allah Swt berikan. 

Demikianlah cerita perjalanan kami dari Jeddah ke Madinah. Karena perjalanan tanpa gambar dan tulisan akan hilang dan tinggal kenangan dalam bayangan. #tsyah. Nantikan part selanjutnya ya.

21 komentar:

  1. Waaaaw g sabar mak nunggu part selanjutnyaa....
    Mupeng bngett Ya Allah

    BalasHapus
  2. Love it, smg saya bisa mengikuti jejak panjenengan, bisa umroh juga. AMin

    BalasHapus
  3. Aaaaaah kangeeeeen ... Ya Allah, semoga bisa datang lagi bareng keluarga. Aamiin.
    Aku kemarin dari Mekkah dulu, baru ke Madinah. Tapi ikut agent. Next, pingin backpacker juga aaah bareng keluarga. Bismillah

    BalasHapus
  4. Selalu ingin dan ingin kembali umroh ke Madinah & Mekkah...

    BalasHapus
  5. MasyaAllah kalau udah diundang Allah mah gimana aja caranya yah bun. Barakallah. Penasaran sama biaya selama perjalanan umrah backpacker ini. Aku tunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  6. MasyaAllah, Mbak ... Aku jadi rindu kesana lagi. Teringat perjalanan dari Jeddah ke Madinah lalu mampir ke rest area dan aku berjalan terhuyung-huyung karena angin kencang dan udara dingin banget. Huhuhu ... Pengen kesana lagi.

    BalasHapus
  7. Waduh,drama toilet ternyata ada di mana-mana ya...hihihi, heran deh sama orang yang gak mau ngantri.
    Bis rombongannya besar dan nyaman ya...apalagi hanya diisi 8 orang bebas deh.

    BalasHapus
  8. Ikut hepi ya mba, bisa menjejakkan kaki di tanah suci :)
    Ditunggu cerita jalan-jalannya yang lain

    BalasHapus
  9. Masha Allah, makasih udah berbagi pengalaman, sehingga kami-kami bisa merasakan kota impian tersebut meski hanya lewat tulisan dan gambar.
    Semoga bisa diberi kesempatan untuk bisa ikut bertamu di kota nabi tersebut :)

    BalasHapus
  10. Bu dok, mashaAllah perjalanannya sarat hikmah. Mulai menempub 5-6 jam ke Madinah dari Jeddah, drama antri toilet yang pasti gak mudah sesabar itu, sementara kebutuhan toilet gak bs ditunda. Sampe tetep jaga si kecil agar tetep nyaman selama perjalanan. Semoga suatu saat, aku bisa menuju tanah Nabi Muhammad, esok, entah, bismillah. Selamat khusuk beribadah ya mbak. Aku tunggu cerita selanjutnya :)

    BalasHapus
  11. Masya Allah.. makin pengen saya berangkat umroh. Backpacker anak seru ya mbak. Semoga nanti ada rezeki bisa merasakan trip Jeddah Madinah. Ditunggu cerita selanjutnya mbak

    BalasHapus
  12. Semoga Allah rindukan kembali untuk bisa ke Baitullah ya mba. Aamin . Kangen sekali aku dengan dua kota suci itu ya Allah. Aamiin

    BalasHapus
  13. Wah drama tolilet ngeselin yaa... ujian hehe
    Mbak kalau umroh backpacker gtu total habis biaya berapa ya?
    Lalu bagaimana dengan ibadahnya apakah ada pembimbingnya juga?
    Wah bawa anak kecil ya, keren :D

    BalasHapus
  14. Wahh, Masya Allah, seru banget mba. Apalagi bawa si kecil pula, bener2 memberikan pengalaman banget buat anak-anak. Aku jadi penasaran banget sama biaya dikeluarkan. Please, share dong mbaa

    BalasHapus
  15. aaah keren kisah nya Mbak, ada ya ternyata customised tour buat umroh...

    BalasHapus
  16. Seneng ya kalau baca-baca cerita teman yang sedang beribadah ke tanah suci seperti ini, apalagi dengan cara backpaker an, tentu banyak deh cerita yang tidak biasa. Aku selalu berdoa agar kami dimampukan untuk sampai ke rumah Allah.

    BalasHapus
  17. MasyaAllah senengnya mbak baca cerita dan pengalamannya saat travelling begini. Keinginan yang pengen kugapai salah satunya adalah backpackeran bareng keluarga ke tanah suci...

    BalasHapus
  18. Masya Allah Mba, semoga saya dan keluarga bisa ke Tanah Suci jg menunaikan ibadah umrah atau haji sekalian..boleh share tipsnya mba umroh backpacker bersama anak kecil??terima kasih

    BalasHapus
  19. Masya Allah mudah mudahan saya juga bisa merasakan perjalanan luar biasa impian umat islam itu aamiin kemrn juga denger cerita kaka ipar yang baru pulang umroh yaAllah makin pengen kesana yah mom,walau biayanya lumayna banget yah 35/org mudah2an saya sekeluarga bisa kesana aamiin

    BalasHapus
  20. Masyallah ini cita2 kami sekeluarga bisa berangkat umroh bareng...di tunggu cerita selanjutnya

    BalasHapus
  21. Jadi ingat dulu pas umrah sama orang tua. Jamaah Turki termasuk favorit kami karena dandannya modis banget. Hihi

    BalasHapus