Jakarta-Jeddah PP bersama Saudia Airlines; Antara Ujian atau Tak Belajar dari Pengalaman

Pengalaman umroh naik Saudia
Just landed at 2.00 am 


Alhamdulillah saya beserta keluarga berkesempatan melakukan perjalanan ibadah ke Tanah Suci awal Maret 2019 ini. Perjalanan kali ini menggunakan Saudia Airlines dengan keberangkatan dijadwalkan pukul 20.00 wib, di terminal 3 bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Perjalanan malam ke Tanah Suci ini bukan yang pertama, dulu saya juga pernah naik Emirates. Dalam kondisi saya yang saat itu masih menyusui, nafsu makan saya cukup membludak, dalam artian cepat lapar. Padahal jam 2 siang sudah makan satu porsi ayam AW, ealah jam 7 malam, which is satu jam setelah take off saya sudah merasa lapar lagi. 
Tidak hanya itu maskapai tersebut tidak langsung mengeluarkan makanan besar. Jadi mulai dari minum dulu itu pun aneka jenis minuman dingin, baru beberapa waktu kemudian dikeluarkanlah menu berat daaan terakhir baru minuman hangat. Itu pun seat saya kebagiannya belakangan, padahal di lorong sebelah sudah mulai dibagikan makanannya. Sabaaar ... 

Melihat pengalaman 5 tahun silam tersebut, sebetulnya saya sudah mewanti-wanti agar sering makan. Namun entah ujian atau memang saya yang kurang baik dalam segi persiapan, alhasil terulanglah kembali rasa lapar yang teramat itu.

Sebelum cerita tentang rasa lapar yang mendera, saya mau mengupas sedikit tentang maskapai flag carrier-nya Arab Saudi ini. Perjalanan yang dijadwalkan terbang jam 20.00 ternyata terpaksa molor beberapa saat karena pesawat perlu mengisi bahan bakar dulu. Kalian tahu lah yah, beberapa saatnya orang yang sedang lapar rasanya mirip-mirip dengan beberapa jam gitu deh. 

Awalnya sih tak seberapa lapar, bahkan saya masih sempat take beberapa foto untuk bahan tulisan. Sebagai informasi saja pesawat dengan formasi 3-4-3 ini memiliki leg-room yang luas, suami saya dengan tinggi 170an cm masih memberikan sisa ruang pada kaki dengan bangku di depannya dan tersedia pula pijakan kaki, jadi lumayan nggak pegal-pegal amat. Walau yang ternyaman pastinya mah tetap di bussiness class ya.
Ada pijakan kaki di Saudia
Space antara dengkul dan bangku depan cukup luas


Pramugarinya beberapa bisa berbahasa Indonesia. Saya banyak mendengar katanya pramugari Saudia ini jutek alias galak. Kalau menurut saya sih mereka lebih ke tegas saja dan kurang senyum dikit tapi sebetulnya sangat helpful dan perhatian. Emang harus begitu sih, lah wong baru landing, pesawat pun masih mencari tempat parkir, kok susana sudah gaduh kaya pasar, penumpang sibuk berdiri ambil barang, ya jelas pramugarinya harus punya sikap demi keselamatan bersama. 

Moslem-friendly

Yang saya suka dari maskapai ini adalah sebelum terbang ada ritual pembacaan doa yaitu doa naik kendaraan, serta tata cara tayamum. Bahkan juga ada ruang solat yang kira-kira cukup untuk 4-5 orang. Saya sendiri memilih solat sambil duduk saja, karena kalau di ruang solat khawatir anak minta ikut. 

Oya soal arah kiblat juga tertera di layar monitor jadi tak perlu bingung, meski sebetulnya kalau dalam perjalanan kita mendapat keringan boleh menghadap mana saja sesuai posisi pesawat. Tapi bagi yang ingin solat di ruangan dan menghadap kiblat sangat dipersilakan demi kesempurnaan ibadah. Bagi yang ingin langsung berihram kita akan diberitahu bila telah melewati tempat miqot.


Ujian vs Ketidakmatangan persiapan

Lanjut cerita tadi ya saat keberangkatan. Saya semakin lapar dan terus mengawasi lampu kenakan sabuk pengaman, berharap agar segera dipadamkan. Selama belum padam artinya ya food and beverages-nya belum bisa keluar. 

Ting ... suara lampu sabuk pengaman dipadamkan. Dalam hati bergumam alhamdulillah ... Benar saja tak beberapa lama mbak pramugari mengeluarkan sebuah keranjang, berisi ... tissue basah. Okesip, mungkin sebentar lagi.

Suami saya sebetulnya sudah meminta agar makanan kami dikeluarkan lebih dulu sejak sebelum take-off  karena anak kami juga sudah lapar sih. Namun, katanya tidak bisa karena sedang dipanaskan. 

Selang beberapa saat setelah membagikan tissue tadi, keluarlah kali ini .... kereta minuman. Minumannya pun yang dingin-dingin. Saya sendiri nggak tertarik akhirnya hanya meminta air putih. Beberapa kali saya mengganjal dengan biskuit marie yang saya bawa, yang sebetulnya ini buat cemilannya si anak sih malah saya yang makan. 

Lumayan lama juga kemudian keluarlah ... headset. Ya Allah, saya terus istigfar ... lapar luar biasa mana sebetulnya ngantuk juga ... Berulang kali suami mengusap-usap dan bilang "sabar ... istigfar..." Dalam hati ya ampuuun dari tadi juga sudah istigfar malah sampai baca doa Nabi Yunus as juga saat ditelan paus"Laa illahailla anta subhanaka inni kuntu minazholimin." Katanya bisa jadi suatu rezeki tertahan karena dosa kita juga dan kadang juga kita nggak tahu dosa yang mana yang membuat kita begitu jadi ya sudah rendahkan diri di hadapan Allah, tiada Tuhan selain Allah Swt, akui saja bahwa kita memang lemah, salah, dan telah menzolimi diri sendiri. 

Waktu terus bergulir, sampai akhirnya saya merasa dua jam kemudian makanan berat baru dikeluarkan dan momaap yaa, saya nggak sempat motret karena laper beratzzz sementara handphone sudah bobo cantik di tas. Tapi isinya komplit sih ada nasi, ayam, kue, roti dan minuman. Rasanya sendiri buat saya sih enak #efeklaper kayanya ... Qiqiqi

Lama perjalanan kami 9 jam. Satu jam sebelum landing keluar lagi makanan berat. Anak saya yang terlanjur tidur semalam akhirnya tak bisa mencicipi nasi ayamnya. Padahal saya rasa dia juga pasti suka. Ketika suami meminta untuk disimpan sendiri, pramugrarinya bilang biar disimpankan saja. 

Ternyata pas si anak bangun sejam sebelum landing, makanan pertama tadi tak bisa dikeluarkan lagi, alasannya sudah tidak bagus. Saya pun baru tahu ternyata makanan berat di pesawat itu hanya bisa bertahan 2 jam. Pramugari pun mengeluarkan makanan berat kedua which is satu jam sebelum landing, sayangnya menu yang ini tak ada nasi, melainkan pasta, roti, dan puding. 

Untuk menu saat rute Jeddah-Jakarta tak jauh berbeda, cuma saya merasa tastenya lebih enak yang rute kembali ini. Mungkin karena dari sisi psikologis yang sudah lebih matang, artinya tidak kelaparan banget lagi. Suasananya pun lebih enak sambil melihat pemandangan matahari terbit dari jendela. Yup, posisi favorite saya adalah dekat jendela karena melihat lukisan alam itu mendamaikan #tsyah.
Makan pagi di Saudia
Nasi goreng-ayam goreng-potongan buah segar-roti dan minum
Makanan halal di Saudia Airlines
Menu sebelum landing @ SHIA. Nasi kebuli+ikan dengan salad sayur segar dan kue yang lezat.
Pemandangan dari jendela Saudia
Catch the sun

About In-Flight Entertainment

Ada siiih, tapi sebagian tidak berfungsi layar monitornya. Jadi tampak hitam saja gitu layarnya, sampai kita bilang ke pramugarinya untuk direset. Hiburannya pun tidak begitu up-to-date tapi lumayan lengkap. Mau dengar Murrotal? Ada. Nonton film? Ada. Games? Ada. Kids? Juga ada.
Ada mainan dI peswat Saudia
Nah ini contoh yang tidak menyala ...  Dan mamak mengalah tukeran kursi demi anak terhibur.

Yang mau lihat pemandangan di bawah pesawat juga bisa. Pesawat ini dilengkapi kamera sehingga kita bisa melihat sisi bawah pesawat maupun pemandangan dari sisi cockpit. Dan kita juga bisa pantau sudah sejauh mana pesawat kita terbang. 

Fasilitas

Tadi saya sempat singgung soal headset ya. Headset yang dibagikan ini terbungkus rapi dalam sebuah plastik rapat dan bila ingin menggunakan kita harus menyobeknya.
Headset Saudia boleh dibawa pulang

Jangan khawatir, headset ini halal dibawa pulang #sudahnanya, kalau maskapai lain kadang dipinjamkan bahkan ada yang harus membayar. Bila membawa anak kecil juga ada kemungkinan mendapatkan merchandise cantik berupa tas lucu bertuliskan SAUDIA. Lumayan biar makin terhibur perjalanannya. Semua bangku sudah tersedia bantal kecil, tapi bila mau selimut kita perlu request ke pramugarinya ya. 

Smooth landing

Alhamdulillah dalam perjalanan semua berjalan lancar, sesekali terjadi turbulens ringan yang saya rasa mirip lokasinya ketika berangkat maupun kembali. 

Dalam rute ini yang saya rasakan sih ketika sudah memasuki jazirah Arab di atas gurun dan saat memasuki wilayah perairan. Ketika di atas laut sendiri yang saya rasakan sih relatif tenang. Aiish ini komentar sotoy subjektif banget. Daaaan yang saya suka, pesawat berbadan lebar ini sangat mulus landingnya baik berangkat maupun kembali. 

Repeat to fly with SV?


Saya sih yes, karena moslem-friendly, pramugarinya sebagian bisa berbahasa Indonesia, leg-roomnya luas, daaan so far pengalaman terbang cukup menyenangkan. Minusnya makanannya saja yang agak lama keluarnya.

Kamu sendiri bagaimana? Tertarik terbang bersama Saudia?

Baca Juga
Review Batik Air ke Singapore

21 komentar:

  1. Kabarnya Saudia memang nyaman ya, mbak? Ada tempat shalat juga. Saya waktu umroh naik maskapai dari Singapur.. dan sama, laper juga hihi karena dapet makannya cuma sekali haha

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah aku juga berkesempatan naik Saudi Airlines dan senang juga. Karena tempatnya juga nyaman dan menurutku pramugarinya ramah-ramah :)

    BalasHapus
  3. Wah-wah kok aku jadi ngebayangin itu rasa lapernya ya .jadi inget dulu jaman pernah kelaparan dulu di kosn wkwkkw 😂. Pasti bahagia banget ya pas makanannya datangnya. Doain ya bun semoga nanti bisa umroh dan haji juga ke sana

    BalasHapus
  4. Memang nyaman di Saudia Airlines, tetapi aq lebih suka menu pada saat berangkat...lebih ke menu Indonesia he he he

    BalasHapus
  5. Saudia adalah salah satu maskapai penerbangan favorit saya untuk rute jarak jauh.
    kursinya nyaman, jarak antar kursi jg lega.
    kalo saya sih selalu bekel makanan (biasanya roti) buat antisipasi kalau makanan datengnya lama.

    BalasHapus
  6. Pernah naik Saudia Airlines dulu banget waktu haji. Kalau ga salah ada 2 maskapai yang melayani haji, SA dan Garuda. Memang leluasa ya pesawatnya. Tapi aku lupa makanannya apa aja. Hehe...Setahuku kalau maskapai Timur Tengah memang halal food, tinggal kita mau beef, chicken, atau fish. Pengen lagi euy jalan-jalan naik pesawat...

    BalasHapus
  7. Terima kasih infonya. Jadi nanti kalau mau pakai maskapai Saudia, harus prepare makan. Doakan saya juga segera berangkat umroh.

    BalasHapus
  8. Wah ikut senang ya mba ... bisa ibadah bareng keluarga dengan selamat dan sukacita. Semoga ibadahnya diterima sama Tuhan, diberikan kekhusukan dan makin sempurna. AMin amin

    BalasHapus
  9. Kalau udah lapar memang segalanya terasa lama ya, Mbak. Saya jadi ikut membayangkan saat makanan berat gak keluar-keluar. Kalau saya yang mengalami, pasti lambung saya udah menjerit-jerit perih tuh...hihihi...
    Jadi pengalaman juga buat saya nantinya, sebelum naik pesawat lebih baik ngemil dulu :))

    BalasHapus
  10. MaasyaAllah, terimkasih infonya ya mbak, penting banget nih baginpemula seerti saya. Semoga suatu saat bisa ke rmh Allah bersama keluarga besar, Amin...

    BalasHapus
  11. Mbak Dwi, mau nanya kalau umroh. Dalam pemilihan air lines, jemaah bisa memilh kah? Hehe maafkan saya yang nggak pernah umroh ini.

    BalasHapus
  12. Insya Allah, kalau ada rejeki mah, saya tertarik saja pakek Saudia.Cuma mungkin lbh prepare saja ya, lagian sudah baca pengalaman Mbak Arum Juga. Bulan depan Insya Allah ibu berangkat.Semoga saja lancar sampai pulang kembali

    BalasHapus
  13. Memang suka lamaaa keluar makanan kalau penerbangan jarak jauh. Kecuali bisnjs class yang makanan malah ditawarkan melulu..pantesan harga beda banget dwngan ekonomi gitu huhuhu.

    BalasHapus
  14. Masya Allah tabarakallah, sudah ke tanah suci untuk kedua kalinya.
    Membaca kisah perjalanan unik via Saudia ini saya jadi mesam-mesem sendiri. Yang jelas, saya belum pernah. Tapi dulu kalau pas terbang, saya biasa bawa snack, sih. Tapi pastinya kalau penerbangan jarak jauh spt itu laparnya kerasa banget, yak.

    Mohon doanya agar saya sekeluarga disegerakan menjadi tamu Allah ya, Mbak. Nice sharing :)

    BalasHapus
  15. Wow, terima kasih sudah berbagi kisah perjalanannya. Menarik banget mb. Kebayang gimana rasanya nahan laparnya, he.

    BalasHapus
  16. Masya Allah, nikmatnya bunda.

    Review dari para jamaah umroh yang dihandle suami juga bilang pake saudia enak. nyaman ya, mbak.

    doain ya mbak semoga kami juga bisa beribadah disana sekeluarga. aamiin

    BalasHapus
  17. desember kmrn umroh, aku jg naik saudi :). dan beruntungnya karena sahabat kakakku pramugari saudi, jadinya aku dan suami di kasih goodiebag yg sama kayak penumpang business class :D. tasnya furla hahahah. mnurutku sih not bad laah pesawatnya. flight entertainmentnya ga ada yg mati kalo di deretanku. makanannya enak.

    paling cuma tipe penumpangnya yaaa yg agak2 aneh hahahahah.. adalah yg minta ac dimatiin, tapi ada 1 penumpang umroh yg aku sebel bgt liatnya. masa dia meludah di karpet.udh tua sih, tp kan ttp ya mba jijik ngeliatnya. untung ga duduk di deretanku, tp agak kedepan. cuma kliatan dr tempat aku duduk. sbnrnya itu aja sih, yg bikin mikir kalo mau naik lg. kayaknya emirates lbh nyaman dan ga prnh liat yg begitu :D.

    BalasHapus
  18. Umroh pertama aku juga naik Saudi Arabia, tapi dari Sri Lanka, Kolombo.
    Sebelumnya dari Kualanamu ke Kolombo naik Mihin Lanka.

    Pesawat Saudi yang aku tumpangi, gede banget, dan 2 lantai.
    Pramugarinya ramah dan supel. Aku bahkan ngobrol dengan mereka.
    Ada yang dari Malaysia dan Filipina.
    Makanannya enak.

    Lengkapnya sudah aku bagi di blog, bisa di search dengan kata 'Saudia"

    Yes, aku mau naik Saudi lagi :)

    BalasHapus
  19. Smg bs jd tamu Allah
    Denger cerita mak dwi mupeng bangett

    BalasHapus
  20. Saya kogh ngakak pas cerita kelaparan yak wkwk. Emang kebutuhan makan tuh gak bs ditunda-tunda. Emak bs runsing khan. Btw ternyata headseatnya boleh dibawa pulang ya, hehe. Kirain kudu bayar karena terbungkus rapi.

    BalasHapus
  21. Keren ya, ada beberapa pramugari yang bisa Bahasa Indonesia juga.
    Ceritanya panjang banget, lapar luar biasa karena nggak ada makanan.
    Eh, giliran makanan disimpankan, ternyata nggak bisa dimakan, akhirnya datang makanan kedua, eh malah bukan nasi.
    Gimana ya rasanya cobaan itu? Istigfar memang yang terbaik.
    Beruntungnya dapat merchandise headset dari pesawat.

    Salam kenal Kakak.

    BalasHapus