8 Tips Agar Anak Tak Cranky Saat Liburan

Liburan dan anak cranky? Eleuuh, PR banget ya ... Butuh kesabaran yang berlapis-lapis kayanya. Sabar dengan diri sendiri juga sabar sama sikap anak yang lagi cranky.
Libura bersama anak repot tidak ya

Bicara soal sabar, jangankan anak-anak orang dewasa pun perlu belajar banyak. Traveling adalah kegiatan yang menyita energi selain biaya dan waktu tentunya, hihii ...

Namun begitu meski harus menempuh perjalanan yang jauh, bahkan biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit, orang-orang tetap menyukai traveling. Bahkan kini bukan sekadar gaya hidup tapi sudah menjadi kebutuhan (bagi sebagian orang).

Banyak hal tak terduga yang mungkin saja terjadi selama perjalanan. Bila naik pesawat, bisa jadi delayed, yang naik mobil mungkin AC mati atau ban kempes. Selama liburannya sendiri bisa jadi objek wisata yang dituju malah penuh sesak, makanannya tidak sesuai dengan selera. Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Kita yang dewasa mungkin bisa tahan alias sabar, namun yang anak-anak menghadapi ini semua rasanya sangat melelahkan. Anak-anak itu agaknya pantang merasa bosan, karena ketika bosan biasanya mereka akan mencari gadget sebagai jalan keluar (kebanyakan).

Untuk seorang anak apalagi yang masih balita sebetulnya mereka tak paham arti berlibur, apa lagi hanya melihat-lihat keindahan kota. Percaya deh, keindahan yang paling hqq buat seorang anak kecil adalah melihat bundanya.

Liburan anti-cranky bersama anak 


Namun karena sesuatu hal kadang kita perlu mengajak anak saat traveling. Lalu, bagaimana membuat anak agar tak-cranky alias bisa bersabar dengan kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi selama perjalanan:


1. Briefing

Bagi anak itu mendatangi tempat baru, sensasinya sama kaya kita kalau mau tampil di depan presiden, perlu briefing. Nanti tampil setelah siapa, bicaranya berapa lama, siapa saja yang perlu disebut dalam sambutan, berpakaiannya harus bagaimana.

Briefing yang tepat dapat memberikan imajinasi juga persiapan mental pada diri anak. Sebutkan saja kemungkinan yang bisa terjadi namun dengan bahasa yang bisa menguatkannya.

Seperti saat pengalamaan umroh kami kemarin, sebelumnya saya katakan padanya, "Nanti kemungkinan kita akan begadang atau tidak tidur sepanjang malam karena harus ibadah, makanya kalau sore ada kesempatan tidur, Alin tidur ya, biar tetap sehat dan kuat".

Kita bisa tambahkan juga, "malam-malam langitnya bagus, lho. Kalau cerah nanti bisa lihat bintang-bintang."

Alhamdulillah selama perjalanan ibadah kemarin si anak tidak rewel meski berlangsung sepanjang malam. Dan ia bisa ikut tidur pula pagi harinya.

2. Temani bermain

Menjaga emosi anak tetap stabil selama perjalanan apalagi yang monoton baginya bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila kita termasuk orangtua yang menerapkan no-gadget. Kalau saya sendiri baru tahap meminimalisir-gadget aja sih, heuheuu...

Nah, untuk menjaga suasana hatinya agar tetap riang, kita perlu berkorban menemaninya bermain. Apa jenis permainannya? Kalau saya kemarin ABC 5 Dasar, suit jepang, tebak-tebakan, muka jelek, wkwk sampai motret anggota keluarganya. Bisa juga sebetulnya bermain peran.

Saran saya sih kalau masih kecil bawakan activity book aja, misal buku mewarnai, stiker tempel-tempel, alat tulis.

3. Menyediakan camilan

Kadang kan kita lelah juga ya dan butuh istirahat saat perjalanan. Nah, kalau saya siapkan camilan kesukaannya, yah cheating sedikit saat liburan masih ditolerirlah, hihi... Kita bisa sediakan biskuit, wafer, vitamin kunyah, atau coklat.

Biasanya saat ngemil begini, hati anak sedang lembut, kita bisa sekalian ajarkan tentang berbagi.

4. Bercerita

Bagi tipe anak auditorik, mendengarkan cerita bisa jadi hal yang menyenangkan. Nah membawa buku cerita juga bisa jadi pilihan. Nanti kita bisa meminta ia kembali menceritakan apa isi bukunya.

Bila ia tak mau? Kita bisa pancing, misalnya dengan membuat cerita yang tidak sesuai dengan cerita tadi.


5. Membaca hikmah dibalik peristiwa

Buat kita para orangtua, coba deh lebih peka terhadap peristiwa apapun yang terjadi di sekitar kita selama perjalanan. Misal ada truk yang terjeblos ke parit, kita bisa sampaikan hati-hati dalam berkendara, kalau mengantuk sebaiknya tidur. Lalu kita sambungkan dengan aktivitanya, adek kalau mengantuk juga tidur ya meski lagi asyik bermain. Ga mau kan mainannya hilang, karena salah lihat, mainannya dikira sampah jadi taruhnya di tong sampah.

Kalau pengalaman saya kemarin bisa baca di sini, bagaimana ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan setelah sebelumnya "terusir", hihi ...

6. Beri pujian pada prosesnya

Kita jangan harapkan anak bisa se-nice kita saat mengikuti perjalanan orang dewasa. Ketika ia sudah mau makan setengah porsi dari biasanya, pujilah ia sudah mau memakannya. Ketika ia sudah mau ikut solat meski masih goyang sana-sini pujilah usahanya. Ketika ia mules, sudah jongkok dan pupnya belum keluar, pujilah bahwa ia sudah mau mencoba (ini PR saya bangeeet).

Memberi pujian sesuai porsinya akan membuat anak merasa diapresiasi dan percaya diri, sehingga ia mau mencoba dan tak khawatir bila belum berhasil.

7. Ajarkan anak mengungkapkan isi hatinya

Alhamdulillah selama kami liburan bersama, anak saya begitu menyenangkan meski harus berjalan jauh menyusuri sudut kota saat kami di Perth, tidak tidur semalaman saat umroh, menahan cuaca dingin saat di Bromo, dan lainnya.

Itu semua tak lepas karena kemudahan dari Allah dan saya beserta suami juga kerap mengajaknya bicara. Kami ajarkan bagaimana ia mengungkapkan isi hatinya. Bila mengantuk katakan mengantuk, bila lapar katakan lapar, bila capek katakan capek.

Kami jelaskan bahwa marah-marah malah akan membuat kita tidak dapat apa-apa. Kalau tidak bilang, orang lain tidak akan tahu apa yang kita rasakan. Misalnya mau permen karena tidak bilang jadi tidak beli karena tidak tahu.

8. Berikan hadiah sewajarnya

Selain pujian, hadiah juga bisa kita berikan. Nah reward ini adalah bentuk penghargaan buat anak karena sudah begitu menyenangkan atau setidaknya sudah mau berusaha melakukan sesuatu yang menurut kita baik.

Sekadar es krim, sebuah permen atau coklat kesukaannya agaknya sudah menjadi reward yang berkesan buat anak. Hmm mungkin tergantung usia anaknya juga kali ya... Anak saya sih masih 5 tahunan so far masih bisa dengan cara ini.

Nah, Demikianlah hal-hal yang bisa kita lakukan agar anak tak cranky dan tetap menyenangkan selama liburan.

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman juga saat liburan bersama anak? Share yuks...

14 komentar:

  1. Kalau liburan ala keluarga saya, justru kami lebih banyak ngobrol atau berdiskusi tentang segala hal dalam perjalanan.
    Bahkan kadang anak-anak ceritanya gak habis-habis, ngomong teruus..! Hihihi

    BalasHapus
  2. Anak² dulu becandaa aja. Sampai ayahnya yg nyupir kezel krn ganggu konsentrasi. Dikasih camilan dan perut kenyang trus tidur deh. Rupanya laper...hehe...

    BalasHapus
  3. Wah bawa anak saat perjalanan agak-agak gimana gitu ya bun. Soalnya mood anak kan enggak tau juga. Tapi selama si anak happy karena senang jalan itu beda urusan. Kaya ponakan saya kalau di rumah dong uring-uringan tapi kalau diajak jalan-jalan yang tadinya sakit jadi sembuh. Masyaallah. Demennya jalan, hihi.

    BalasHapus
  4. Tantanganku karena kedua anakku cenderung kinestetik. Agak susah berkendara lama karena bosan duduk. JAdi kalau di kereta selalu mondar-mandir ke kamar mandi, gerbong lain atau ke restorasi (favorit ibu dan anaknya, eh). Nah, kalau mudik naik mobil selalu menguji kesabaran. Karena keduanya selalu ribut gak tahan duduk, jadi bolak-balik berhenti untuk peregangan. Sementara ini ya dinikmati saja sih, sambil dialihkan dengan aktivitas lain sambil mensugesti diri biar sabar.

    BalasHapus
  5. Bawa anak pas travelling emang agak tricky yaa mba hhehe, aku kl pergi sm anak agak jauhan, modalnya bawa mainan segambreng :'D belum lg kalau tiba2 nafsu makannya hilang kl lg diluar kota, roti atau jajanan selalu jadi andalan, yang penting anak senang mama tentram 😂

    BalasHapus
  6. Anakku yang penting cukup tidur ama makan mba. Kalau nggak bisa reqpwel banget hehe, makanya kalo pergi2 jauh harus nyesuaiin sama jam tidurnya.

    BalasHapus
  7. Kalo perjalanan yang ditempuh cukup jauh, anak saya biasanya pada tidur .tapi ya gitu deh,sebelumya berantem dulu sama kakak dan adiknya. Sudah lelah baru pada tidur.

    BalasHapus
  8. Mungkin kalau sudah bosan, anak bisa dialihkan perhatiannya ke hal-hal yang disukai...

    BalasHapus
  9. Setuju sama tipsnya, anak-anak saya yang penting ada cemilan di jalan, bisa tidur cukup, dan badannya hangat. Insya Allah aman.

    BalasHapus
  10. Anakku yang penting ada cemilan, bisa tidur cukup nyaman(masing-masing satu baris) dan bawa mainannya masing-masing. Insya Allah aman dari cranky. Makasih tipsnya mba.

    BalasHapus
  11. Halo Mba, salam kenal. Mau sharing aja, saya baru sekali ajak anak traveling ke Jakarta dari Bandung pakai KA. Perginya lancar, pulangnya ambyar. Mungkin karena dia capek, jadinya nangis terus, sampe diliatin penumpang lain :(

    Bulan ini rencananya saya mau ke Yogya. Si kecil jadi ditinggal karena enggak kebayang berada di kereta Bdg-Ygy. Apalagi dia baru 14 bulan dan lagi seneng jalan. Waahh, masih horor buatku, Mba.. :(

    BalasHapus
  12. Kalau aq selalu bawa camilan kesukaan sm mainan mereka mb saat anak2 msh kevil. Biar gk bosan di perjalanan. Kalau pas bw kendaraan sendiri ya mampir ke tempat yg pas dilewati misal pantai atau tempat menarik lainnya. Jadi gk monoton skalian drivernya rehat.😁😁😁

    BalasHapus
  13. Kalau aq selalu bawa camilan kesukaan sm mainan mereka mb saat anak2 msh kevil. Biar gk bosan di perjalanan. Kalau pas bw kendaraan sendiri ya mampir ke tempat yg pas dilewati misal pantai atau tempat menarik lainnya. Jadi gk monoton skalian drivernya rehat.😁😁😁

    BalasHapus
  14. Untuk anak pertama saya bisa melakukan tips tersebut Mak. Tapi anak kedua saya? Hahaha... Dia tuh kalau perjalanan jauh suka bosen. Mainan atau makanan mah bentar aja mengalihkannya. Kalau gak bisa lari2 pasti rewel. Hehe. But thx for sharing Mak. Kereeen

    BalasHapus