Diary #UmrohBackpacker Part 3; Pengalaman ke Raudhah Malam Hari

Masuk dari pintu 25
Menunggu antrean ke Raudhah.


"Hmm ... punya kerudung hitam nggak?"

Pause dulu ...

Sudah baca cerita Part 2 kemarin tentang pengalaman religi saat di Masjid Nabawi? Kalau belum klik dulu linknya ya. Jadi, tahukan bagaimana kemarin saya ketar-ketir menanti haid bersih?

Long story short, alhamdulillah pas banget menjelang magrib saya sudah bersih ini artinya saya berkesempatan ikut ke Raudhah.

Memang esoknya nggak bisa? Bisa sih jam-jam sholat duha, cuma rasanya riweh aja karena harus persiapan untuk umroh. Enaknya kan hari itu istirahat, karena perjalanan Madinah-Makkah cukup panjang juga sekitar 5 jam-an.

Oke, lanjut! Jadi saya dapat info dari suami, kata muthawwifnya (pemimbing laki-laki) yang mau ikut ke Raudhah malam ini, setelah solat magrib langsung balik ke hotel untuk makan malam. Kalau sudah, nanti langsung saja ketemuan sama muthawwifahnya (pembimbing perempuan) di lobby, kemudian berangkat bareng untuk solat isya dan lanjut ke Raudhah.

Selepas solat magrib dengan masih bermukena ria saya makan malam karena memang niatnya mau mukenaan aja biar gampang solatnya dan pengen ngirit baju juga tepatnya, qiqiqi...

The flash! Gak pake lama pokoknya, saya bersama dua adik ipar selepas makan malam langsung cus ke lobby yang kami juga aselik bingung banget di hotel ini musti naik lift yang mana. Soalnya di bawahnya itu nyatu dengan mall dan lumayan gede gitu deh.

#dramakesatu

Singkat cerita, kami keluar dari lift, muter ... muter ... muter ... nyari lobby nggak ketemu juga, akhirnya kami memutuskan keluar dari hotel supaya jelas mana pintu utamanya. Ealah ternyata masih mayan jauh tapi setidaknya lebih mudah mengetahui mana sisi depannya. Nah itu! Baru deh terlihat pintu utamanya, wkwkwk... Udah olahraga duluan, it's ok!

Setibanya di lobby, saya sih lihat ada seorang wanita bertubuh tambun dan berpakaian hitam-hitam berdiri tak jauh dari pintu lobby, tapi kami berlalu begitu saja karena yang kami kenal ya muthawwifnya.

Nggak lama, muthawwif kami datang dan memperkenalkan si muthawwifah yang ternyata wanita yang tadi saya lihat. Beliaulah yang nanti akan menemani kami di Raudhah. Si muthawwif pamit, akhirnya tinggal kami ber-empat.

#dramakedua

"Hmm ... pada pake mukena ya? Punya kerudung hitam gak? tanya si muthawwifah.
"Ada sih, tapi di kamar. Memang kenapa?" tanya saya.
"Soalnya penjaga di sana agak-agak sensi sama jamaah kita." jawab si muthawwifah.
"Hmm ..." kami bertiga mengangguk-angguk dan saling melempar pandangan.
"Eh tapi kalau repot gak usah deh" ujar si muthawwifah.
"Gimana nih ... gimana nih?" Kami kemudian saling bertanya-tanya.

Yoweslah, kami ikuti saran si muthawwifah. Meski PR banget balik ke kamar hotel, bukan soal jauhnya, tapi lewat mananya itu yang bikin bingung. Dan si muthawwifah ini nggak mau kami ajak ketemuan di gate 15, maunya di depan pintu lift, huhuu... padahal buat kami lebih mudah ketemuan di gate 15. Baiklah, semangat!!!

#dramaketiga

"Lho kok nggak bisa dibuka pintunya?"
Drama ketiga, pintu kamar hotel kami nggak bisa dibuka, mana lagi buru-buru.
"Coba ... coba kunci yang lain" ujar salah satu di antara kita.
"Duh, nggak mau juga"
Coba lagi kartu yang lain, nggak bisa juga. Ya Allah, 3 kartu dan semuanya nggak bisa.
Istigfar, basmalah, semua kami ucapkan.
"Telpon ... Telpon" maksudnya telpon para cowo supaya cepat datang. Syukurnya kamar kami itu connecting jadi bisa masuk dari kamar sebelahnya.

Alhamdulillah ... pertolongan Allah datang, pucuk dicinta ulam tiba. Saya lihat suami, anak, dan yang lainnya muncul dari kejauhan.

"Cepetaaaan" heboh deh langsung minta kunci, masuk kamar dan kami bergegas ganti outfit. Akhirnya kami sekalian saja pakai gamis dan kerudung hitam. Selesai! Cus berangkat. Huhuhuu padahal itu gamis mau dipakai besok buat umroh.

Inna ma'al usri yusro

"Ting tung" suara lift berbunyi pertanda kami sudah sampai lantai yang dituju. Selepas tiga drama tadi, sekarang kami merasa diberi banyak kemudahan. Keluar dari lift, seorang wanita melambai-lambai dari kejauhan. Nah itu dia muthawwifahnya. Alhamdulillah nggak pake nyasar.

Sambil berjalan menuju masjid ia memberi briefing. Kita jalan gandengan berdua-berdua ya, menuju pintu 25.

Saya bergandengan dengan sang muthawwifah, dengan langkah agak cepat karena memang sudah adzan isya, ia juga bercerita sedikit. "Saya juga heran jamaah kita itu suka "dikalahkan", yah bisa sih kalau mau lowong, tapi nunggu sampai jam 2 pagi setelah semuanya selesai."

Lalu saya ingat pengalaman umroh 5 tahun lalu, ke Raudhah di jam solat dhuha sekitar jam 9-10 gitu deh, suasana ramai, dan mereka para penjaganya itu lebih mendahulukan orang-orang Timur Tengah yang badannya tinggi-tinggi gitu. Sebetulnya ada baiknya juga, karena kan postur wanita asia ya memang begini, jadi lebih pada faktor keamanan juga.

Lanjut cerita yang tadi ya, kalau malam itu semua dicampur dari wilayah negara mana pun. Nah jadi ini yang perlu strategi. Salah satu adik ipar saya sudah ke Raudhah malam sebelumnya dengan rombongan besar dan dengan muthawiffah yang berbeda.

Katanya sih ia salah strategi #tsyahbahasanya, jadi dia itu pas nunggu memang masuk dari pintu 25, tapi teruuuus menuju barisan paling depan dan berdiri lama. Padahal sekat yang dibuka menuju Raudhah itu bukan yang di depan melainkan di samping. Jadi walaupun sudah paling depan, tetap saja gak jadi duluan karena salah tempat menunggu.

Nah kalau saya kemarin, selepas solat isya, mulai mendekat dan terus masuk. Solat jenazahnya? Ya saat takbir di mana posisi kami saat itu ya solat saja, karena kan tak perlu rukuk dan sujud yang penting ada shafnya. Setelah itu kami terus maju sampai ke titik yang sejurus dengan sekat samping. Kami duduk menunggu hingga sekat itu di buka. Selagi menunggu kita bisa berdzikir, mengaji, atau berdoa. Biasanya kan kalau jamaah umroh Indonesia dapat buka panduan kecil gitu ya, nah itu bisa dibaca-baca.

Sekitar satu jam kemudian suasana semakin ramai, ternyata sekat menuju Raudhah akan dibuka. Kami siap-siap berdiri dan bergandengan dua-dua. Saat menuju sekat tersebut, muthawwifah kami agaknya sedikit kesal lantaran ada rombongan jamaah dari Indonesia yang berpegangan tangan panjang sekali hingga mengular, akibatnya seorang ibu hampir terjatuh karena ditarik-tarik oleh rombongannya. Nah, mungkin ini lah ya kenapa muthawwifah saya menyarankan gandengannya berdua-dua.

Sekat pun dibuka. Kami semua berlarian menuju Raudhah berharap cepat mendapat tempat di depan agar bisa solat. Situasinya sangat padat dan berdesakan.

Istigfar, solawat, terus saya lantunkan, memohon kemudahan. Muthawwifah saya ini sangat sigap dengan tubuh tambunnya ia menahan gelombang desakan dari jemaah lain agar saya tak terjepit. Ya Allah, mata saya berkaca-kaca lagi membayangkan suasana kala itu.

Rinduuuu....

Air mata saya tak terbendung lagi, nangiiiis sejadi-jadinya. Bukan karena sakit terdesak-desak tapi lebih karena terharu dan bersyukur. Ya Allah, makasiiih banget udah dikasih kesempatan lagi bisa ke makam Nabi. Berharap sangat akan syafaat dari Rasululloh Saw kelak di yaumul akhir. Semoga kelak kita termasuk umat yang dikenali oleh beliau dan mendapat syafaatnya ya atas izin Allah Swt. Aamiin

Setelah melalui perjuangan saling desak, akhirnya bisa juga saya sampai depan dan solat di karpet hijau. Iya di Raudhah. Begitu tenang tak ada desak-desak. Muthawwifah saya menyarankan solat sunah dua rokaat saja, gantian dengan yang lain. Saya pun mengikuti sarannya, solat sunah mutlak dan berdoa panjang di sujud terakhir. Kemudian sedikit mundur dan memberi kesempatan yang lain untuk solat. 

Beberapa jamaah justru tampak mengusap-usap dinding/sekat makam. Ini tak boleh, ya! Mereka yang melakukan ini pun dimarahi oleh askarnya, karena memang tak ada keberkahan pada dinding tersebut. Hati-hati mengharap keberkahan pada suatu benda jatuhnya bisa menjadi syirik. Yang benar adalah solat menghadap kiblat, berdoa, dan perbanyak sholawat.  

Sebelum keluar Raudhah kami berdoa sejenak untuk para sahabat juga. Ada makam sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq serta sayyidina Umar bin Khattab. Perjalanan keluar dari Raudhah lebih mudah dan lebih tenang. Sekitar Pukul 10.15 malam kami sudah selesai ziarah dari makam Nabi. Alhamdulillah, banyak kemudahan setelah tiga drama di awal tadi. Tanpa pakai lama
Hari semakin malam dan tetap ramai orang di masjid ini. Kami menikmati sebentar suasana malam di Madinah. Indaaaah sekali, bermandikan cahaya dari pijaran lampu di masjid, hotel,serta pertokoan. Kota Nabi kini semakin modern, demi kemudahan transaksi sudah banyak tersedia mesin atm di sekitar masjid. Pun para jamaah yang ingin keliling Madinah bisa menumpak hop on hop off bus.

Bus malam di madinah
Saya tidak mencoba, jadi tak ada reviewnya ya...


Mengapa sih Raudhah ini begitu berarti?


Ya, ini merupakan tempat yang istimewa di Masjid Nabawi. Posisinya terletak di antara rumah Rasululloh Saw dan mimbar tempat beliau berkhutbah. Kalau kita lihat dari luar, rumah Nabi yang kini menjadi makam beliau dapat dikenali dari kubah yang berwarna hijau. Begitu pun dengan kondisi di dalam Raudhah dapat dikenali dari karpetnnya yang berwarna hijau.

Dulu Raudhah letaknya di luar halaman Masjid Nabawi namun seiring dengan perluasan akhirnya Raudhah ini berada di dalam Masjid Nabawi. Beberapa hadis menyatakan bahwa Raudhah termasuk dalam taman-taman surga.

"Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga." (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Dulu, Rasulullah SAW melakukan ibadah, memimpin salat, menerima wahyu ya di tempat ini, di Raudhah. Dan kini banyak orang berdatangan ke sini selain karena cinta pada sang suritauladan, juga karena ini merupakan tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Di dunia, inilah posisi di mana kita begitu dekat dengan sang Baginda. Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad, Wa Ala Ali Sayyidina Muhammad.

Tips bagi wanita yang ingin ke Raudhah:

1. Gunakan outfit serba hitam
Kalau tadi baca ceritanya, pasti tahu ya alasannya. Selain itu, warna putih itu sebetulnya rawan, maksudnya rawan menerawang bila terkena cahaya ataupun lampu. 
2. Masuk dari pintu 25
3. Carilah posisi yang sejurus dengan sekat (dinding plastik berwarna putih). Jangan terlalu depan saat menunggu karena yang dibuka sekatnya adalah yang sisi samping.
4. Perbanyaklah berdoa dan bersholawat.
5. Bila mudah haus, boleh bawa air minum karena agak lama menunggunya.
6. Pahami waktu yang ditentukan bagi wanita untuk mengunjungi Raudhah, yaitu pagi, selepas zuhur, dan setelah isya.
7. Jangan mendesak/menyakiti orang lain kecuali bila kita didesak duluan, boleh mempertahankan diri.
8. Sebaiknya jangan dalam kondisi lapar, karena cukup menyita energi juga.

Kalau yang bawa anak kecil? Sepanjang saya ke sana sih belum pernah lihat ada anak kecil. Saya pun memilih tidak mengajak anak karena selain sudah malam juga kondisinya yang padat.

Hindari kesalahan-kesalahan ini di Raudhah

1. Tidak boleh campur baur antara perempuan dan laki-laki. Masjid Nabawi ini saya lihat sangat tertib, termasuk ada jam khusus serta pintu khusus bagi wanita.

2. Tidak boleh "Ngalap berkah" dengan mengusap-usap dinding atau cara lainnya. Ini yang pernah saya lihat dan sontak dilarang dan dimarahi oleh Askar. Tujuan kita itu beribadah kepada Allah Swt, bukan mencari keberkahan dari yang lain. Hati-hati ya, meyakini suatu benda dapat mendatangkan berkah jatuhnya malah syirik.

Saya rasa sekian dulu tjurhatan tentang Raudhah. Maaf ya tidak bisa foto-foto di Raudhah, bukan apa-apa riweh sama diri sendiri euy, heuheu ... Semoga bermanfaat dan terus ikuti perjalanan umroh backpacker rasa koper kami ya di part-part selanjutnya. 
Tips ke Raudhah saat malam
Sekitar jam 10 .15 malam. 


Wasaalamualaikum.

6 komentar:

  1. Kangennn.. Nyempil di dlm dan duduk menunggu giliran sambil berdesak"dngn seluruh umat...gak bs diungkapkan dng kata" 😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneeeer... Meski begitu tetap rinduu ke sana, ke tempat di mana kita sudav begitu dekat dengan baginda Rasulullah Saw. Semoga kelak kita semua mendapat syafaatnya ya mba ...

      Hapus
  2. Org Indonesia ketahuan dr postur dan suka pakai mukena tea ya. Ama asykar udh dikelompokkan Malay², gabung ama Malaysia. Pakai outfit hitam bisa menyelinap. Hiks...selalu merasa kurang lama di Raudah. Semoga kita termasuk yg disayang Rasulullah...

    BalasHapus
  3. pas ke raudhah kmrn, muthawwifah ku ga ada nyaranin baju hitam. jd aku ksana pakai gamis abu2, sementara yg lain mukena. tp alhamdulillah askarnya ga ada menyulitkan mba. di awal semua rapi ikut antrian masuk. tp di dlmnya memang yaaaa rame parab. rombonganku jdnya bikin linkaran kecil melindungi yg solat duluan. jd gantian. tp memang suasananya bikin terharu sekali :(. pgn balik lg

    BalasHapus
  4. raudah kangen banget sama tempat ini. emang agak sulit masuknya kudu antri, bener hehe. Alhamdulillah bisa sholat di raudah dan bisa dua kali dateng pas umroh. Jadi kangeeen. Semoga Allah mudahkan kesana lagi, Aamiin.

    BalasHapus
  5. Bacanya hatiku ikut membuncah, semoga Allah segera undang saya dan keluarga ke sama.

    BalasHapus