Diary #UmrohBackpacker Part 4: City Tour Madinah; Masjid Quba, Kebun Kurma, Jabal Uhud

City tour Madinah

Madinah, 13 Maret 2019

Sudah baca part-2 tentang solat di pelataran Masjid Nabawi dan part-3 tentang ziarah ke makam Rasulullah Saw di Raudhah? Kalau belum boleh mampir dulu. Kalau sudah cus lanjut.

Tanpa terasa, fajar pun menyingsing. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Padahal hari itu kami ada jadwal city tour dan diharapkan semua sudah siap berangkat pukul 07.30.

Huwaaah, satu jam untuk makan dan bebersih, cukupkah? Yah, gitu deh ... Hihi ... Setelah melakukan ini itu akhirnya kami baru siap berangkat jam 08.30. Telaaat deh. Agaknya Madinah dan Makkah mulai disiplin soal waktu. Sekarang bus-bus itu nggak boleh ngetem, jadi kalau lama dikiiit aja, bus mereka itu difoto oleh polisi sana kemudian kena denda. Makanya supir busnya bete kalau kita telat atau lama movingnya.

Masjid Quba

Destinasi yang pertama kami kunjungi adalah Masjid Quba. Dalam perjalanan ini sang muthawwif memberikan tausiyah singkat. Sambil mendengarkan, saya buka tirai jendela bus. Ternyata menyenangkan ya menyimak ceramah sambil melihat suasana kota.

Baiklah, Masjid Quba ini merupakan masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah Saw bersama para sahabatnya ketika tiba di Madinah. Sebaiknya berwudhulah sebelum mengunjungi masjid ini karena pahalanya begitu besar.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa telah bersuci (berwudlu) di rumahnya. kemudian mendatangi masjid Quba, lalu shalat di dalamnya dua rakaat, baginya sama dengan pahala umrah.'' (Sunan Ibn Majah no. 1412). 

Dari balik jendela saya perhatikan banyak burung yang berterbangan. Udaranya sejuk meski sinar matahari sedikit menyilaukan. Bulan Maret-April agaknya memang menjadi waktu yang menyenangkan untuk ibadah umroh. Cuacanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia bahkan di Madinah lebih sejuk pada pagi dan malam hari.

Akhirnya kami sampai, ternyata tidak begitu jauh dari penginapan kami di Movenpick, hanya sekitar 15 menit dengan bus, kami sudah tiba di Masjid Quba. Tausiyah singkat dari Pak Ustadz pun berakhir. Rupanya lokasi parkir bus kami agak jauh dengan Masjid Quba.

Kami tiba dari sisi samping Masjid Quba. Tampak dua bangunan, yang satu bangunan utama, yang satunya lagi di seberangnya tempat belajar mengajar. Dulu waktu umroh yang pertama kali, saya solat di bangunan utama Masjid Quba, di sana agak ramai. Sementara yang kali ini saya disarankan untuk solat di bangunan seberangnya, suasananya lebih tenang, sehingga insya Allah bisa lebih khusyuk beribadah. Muthawwif kami bilang sama saja kok, karena masih bagian dari Masjid Quba.

Di pelataran parkir banyak pedagang yang menjual aneka makanan maupun oleh-oleh khas dari Arab Saudi. Tidak lama kami di sini, seusai solat, berfoto sejenak, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kebun kurma.


Kebun Kurma

Ini menjadi destinasi kedua kami. Tidak terlalu jauh juga dari Masjid Quba, sekitar 15 menit dengan bus kami sudah sampai. Lalu saya teringat 5 tahun silam, membeli kurma Ajwa di sini dengan kualitas yang kurang baik. Jadi karena saya dan suami nggak pandai memilih, jadi kami serahkan pada si penjual. Ealah, ternyata kurma Ajwa yang kami beli kering banget bahkan sampai sulit dimakan.

Jadi kunjungan kali ini kami tidak membeli kurma di sini lantaran kuapok dengan pengalaman yang lalu, wkwkwk. Terus nggak beli kurma gitu? Tetep beli dong, tapi nggak di situ, belinya di Makkah di Siafa, lokasinya di kios lantai dasar Zam-Zam Tower. Kurma Ajwanya di Siafa ini enak, segar, dan manisnya pas.

Sekarang di kebun kurma kami justru membeli buah tin dan aprikot kering. Harganya sekitar 10-15 riyal perbungkus. Saya memang menyukai buah kering, selain tekstur dan rasa, khasiatnya juga banyak.

Kebun kurma ini sangat luas. Saya dan rombongan kemudian menikmati duduk-duduk santai di bawah pohon kurma. Cuaca panas seketika terhalau oleh barisan pohon kurma. Sambil menikmati frozen ruthab (kurma muda), "maka nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan?"


Oya, rasa Ruthab frozen ini enak banget menurut saya. Apalagi saat cuaca panas makan yang segar dingin itu jadi bikin on lagi. Ruthab frozen ini crunchy, manis, dan pastinya dingin, hati-hati yang giginya sensitif. Ruthab frozen ini nggak bisa dibuat oleh-oleh karena tak tahan lama karena kan harus frozen, kalau tidak jadinya rusak.

Tidak lama di kebun kurma kami segera menuju destinasi selanjutnya yaitu Jabal Uhud.

Jabal Uhud

Ini menjadi destinasi ketiga di city tour kami kali ini. Jabal Uhud termasuk bukit yang istimewa karena dijanjikan kelak menjadi salah satu bukit yang ada di surga.
Nabi SAW bersabda, ‘Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga’, (HR Bukhari).
Jabal Uhud ini merupakan saksi bisu dari perang uhud yang menewaskan 70 syuhada. Para syuhada tersebut kemudian dimakamkan di sekitar Jabal Uhud.

Menurut penuturan sang mithawwif, dulu waktu terjadi banjir, kondisi makam rusak berat sehingga ada rencana untuk memindahkan makam. Namun ternyata meski sudah lebih dari 40 tahun dalam kubur, jasad para syuhada masih baik dan segar, seperti baru saja meninggal. Akhirnya tak jadi dipindahkan. Kini kompleks makam dikelilingi oleh pagar berjeruji dengan tinggi sekitar 3 meter.

Bus kami sudah terparkir rapi. Sang muthawwif menanyakan "apakah ada yang ingin turun?" Duuh, meski sudah pernah tapi kok rasanya sayang ya kalau gak turun.

Ya sudah beberapa di antara kami turun, sebagian menaiki bukit, sebagian menunbhu di bawah, salah satunya saya. Ternyata oh ternyata si anak minta naik, huwaah baiklah mamak pun akhirnya naik.

Jangan lupa berdoa untuk para syuhada. Dulu Nabi Muhammad Saw hampir tiap tahun berziarah ke sini dan kebiasaan ini diteruskan oleh para sahabatnya setelah beiiau wafat.

Selain berziarah banyak orang berfoto dan mendaki bukit. Di sana tidak sedikit orang yang berniat bantu memotretkan kita, cuma hati-hati kadang ada yang meminta bayaran. Jadi saran saya kalau mau meminta tolong difotokan, mintalah pada jamaah Indonesia insya Allah mereka bersedia dan nggak pamrih. Kalau ketemu orang Timur Tengah dan niat mau memfotokan bilang saja "La" artinya nggak.

Pelataran Jabal Uhud ini cukup luas, banyak para pedagang yang berjualan. Harganya tidak begitu mahal, suami saya beli kopiah di sini harganya 2 real sementara ibu mertua saya membeli aprikot kering harganya 10 real. Huhu padahal si aprikot ini saya beli di kebun kurma harganya 15 real.

Usai berfoto kami segera kembali ke bus, tapiiiiii duuh namanya juga anak-anak ya lihat aja ada tukang eskrim mangkal, qiqiqi. Kami akhirnya membeli es krim rasa vanilla dan coklat harganya sekitar 5 real kalau tidak salah. Tapi gakpapalah anggap aja hadiah buat si anak yang sudah sangat baik dalam perjalanan ini.

Hmm ... enak, segar, dan dijamin halal. Sambil menunggu kembalian, sesekali kami menikmati es krim tapi bukan contoh yang baik makan sambil berdiri, kami segera menuju bus supaya nggak cepat mencair dan bisa makan es krim sambil duduk, which is ini salah satu sunnah rasul.


Hari sudah semakin siang, kita mengejar agar bisa salat zuhur berjamaah di Nabawi. Alhamdulillah jam 12 kurang kami sudah tiba di hotel, istirahat sejenak kemudian berangkat ke masjid.

Ini hanyalah sebuah catatan tentang kota Madinah dan apa yang ada "didalamnya". Semoga perjalanan ini bisa membangkitkan ghirah islam kita. Jadi rindu lagi kan ... Semoga Allah Swt memudahkan kita semua beribadah kedua kota suci Makkah dan Madinah baik untuk umrah maupun haji. Aamiin.

13 komentar:

  1. Gak ada kata or kalimat lagi yang bisa aku komen buat tulisan ini selain MasyaAllah AllahuAkbar. Semoga aku cepet mengunjungi masjid Quba dan tanah haram aamiin

    BalasHapus
  2. Betul banget mbak.. nyesek banget rasanya kalo ngebayangin tentang perang uhud tapi dari situ banyak sekali hikmah yg dipetik..

    BalasHapus
  3. Duuh...jadi kangen nih suasana Madinah dan sekitarnya. Kalau ke Kebun Kurma kami digiring untuk belanja. Eeeh...di tempat lain malah jauh lebih murah. Wkwkwk...
    Di Arab mah saya suka banget yogurtnya. Enaaak engga kecut, 1 atau 2 real. Wkwkwk...

    BalasHapus
  4. Ya Alloh betapa pengennya saya sholat di masjid Quba. Berjalan Jalan di antara pepohonan kurma. Medinah kota yang cantik ya mba
    Terbayang betapa perjalanan Rosullulloh ketika ke kota ini. Semoga segera bisa tercapai mimpi saya itu

    BalasHapus
  5. Mbaaak ... Dulu aku juga nggak belanja apa-apa di kebun kurma. Kata ibu-ibu yang satu rombongan denganku, kurmanya nggak bagus. Yo wis aku nurut dan waktu itu belinya di Madinah. Memang ya, harga-harga di kebun kurma itu lebih mahal dibandingkan di luar. Aku rindu kembali ke tanah suci. Semoga nanti bisa kesana bersama keluarga dan anak-anak. Aamiin.

    BalasHapus
  6. wah si cantik sholehah banget ya Mba.. semoga next trip ke sana dimuadahkan semuanya. Aminn

    BalasHapus
  7. Subhanalloh cerita umrohnya beneran lengkap, Mbak. Mulai dari persiapan, perjalanan, ibadah sampai acara jalan-jalan semua terdokumentasi dengan baik. Mantap ini, Mbak. BIsa jadi panduan untuk yang sedang menunggu panggilan ke sana. Insya Allah semoga kami dimudahkan.

    BalasHapus
  8. Selalu senang baca pengalaman umrah Mbak Dwi. Jadi lebih tahu kalau diceritakan secara personal begini. Masya Allah, Masjid Quba dan Bukit Uhud. Saya baru baca kisahnya saja.

    Baiklah, akan sy ingat2 yg tentang kurma terlalu kering dan minta foto hanya dengan jamaah Indonesia :)

    BalasHapus
  9. MasyaAllah, cerita di tanah suci memang penting banget nih di jabarkan di sini, bisa jadi pengingat diri dan motivasi buat orang lain untuk beribadah:)

    BalasHapus
  10. Masya Allah, jasad syuhada masih utuh walau sudah 40 tahun dikubur. Subhanallah. Semoga saya dan keluarga juga dimudahkan ke tanah suci. AaMiin

    BalasHapus
  11. Perjalanannya lumayan panjang ya mbak. Pasti banyak pengalaman dan perjalanan berharap di dapat.

    BalasHapus
  12. terimakasih mbak telah berbagi cerita indah tentang tanah suci..gambaran indah tentang tanah suci membuat saya ingin segera datang kesana..aamiin

    BalasHapus
  13. Makasih tips-nya mbak. Kalau foto minta tolong orang Indonesia saja. Btw suka ulasannya mbak.
    Berasa ikut umroh saya. 😁

    BalasHapus