Diary #UmrohBackpacker Part2: Ketika Ucapan Kontan Terijabah di Masjid Nabawi

Pengalaman solat di masjid Nabawi

Assalamualaikum ...

Lihat deh foto itu, langitnya indah, bersih dan gradasinya cantik berwarna lembayung . Ini saat fajar, usai kami melaksanakan solat subuh berjamaah. Itu baru sepenggal keindahan yang menghiasi langit Madinah. Sebelum membaca part-2 ini jangan lupa baca part-1nya juga ya tentang perjalanan Jeddah-Madinah. Sebetulnya kali ini inginnya membahas tentang Madinah dulu biar runut, tapi saya nggak bisa tahan mau bicara tentang Masjid Nabawi dan Raudhah juga. Hihihi ... maklum saking belum bisa move on-nya.

Saya sedih, selama 3 hari 2 malam di Madinah, saya nge-flek sisa haid selama 2 harian. Jadilah hanya bisa menatap keindahan Masjid Nabawi dari balik jendela kamar. Flek saya ini di luar kebiasaan banget, biasanya haid saya itu 7 hari selesai, ini sudah hampir 10 hari belum usai juga dan terus flek 3 hari belakangan. Ketar-ketir? Jelas, soalnya dari tiga hari di Madinah hampir 2 harinya berlalu begitu saja sementara keesokan harinya sudah harus cek-out menuju Makkah untuk umroh.
Kamar Movenpick menghadap Masjid Nabawi
Haram View

Lalu saya teringat nasihat salah satu guru untuk membaca Quran surat Al Baqarah. Saya bertekad tuh setelah makan siang mau khatamin surat Al Baqarah. Alhamdulillah dikasih kemudahan, si anak mau bermain sama ayahnya dulu. Siang itu sambil berbaring saya mendengarkan murrotalnya hingga selesai dan memohon ampun, Alhamdulillah atas izin Allah Swt, menjelang magrib saya sudah bersih.  It means saya bisa ikut ke Raudhoh malam hari dan umroh keesokan harinya. Ini semua tak lepas doa dari orang-orang tersayang yang memohon agar saya bisa segera solat.

Sebelum bahas tentang Raudhoh saya mau berbagi cerita saja soal Masjid Nabawi. Masjid ini begitu istimewa karena di dalamnya juga ada makam orang paling mulia di dunia yaitu Rasululloh Saw serta  makam para sahabatnya. 

Bagi umat muslim masjid ini begitu berarti, bagaimana tidak bahkan ganjaran pahala solat di dalamnya adalah 1000 kali lebih besar dari masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya menyukai Masjid ini, mau datang saat fajar maupun senja, mau saat terang maupun gelap gulita selalu indah dan syahdu.

Jarak antara penginapan kami di Movenpick dengan Masjid Nabawi begitu dekat. Kami masuk  ke masjid ini melalui pintu gerbang 15. Pelatarannya luas dan berhiaskan payung-payung nan indah. Dulu seingat saya payung ini kerap menutup saat menjelang magrib. Namun kali ini saya belum sekalipun melihat payung yang menanungi pelataran Masjid Nabawi ini tertutup. 

Menurut saya, suasana di Masjid Nabawi ini lebih damai, tenang, dan teratur ketimbang di Masjidil Haram. Meski solat di pelataran, namun jelas wilayah untuk jamaah perempuan dan untuk jamaah laki-laki. Sedangkan kalau di Masjidil Haram, kadang kalau solat di pelatarannya hanya terpisah sedikit jaraknya antara jamaah perempuan dan laki-laki.

Bila ingin solat di dalam Masjid, baiknya sedia kantong plastik untuk menaruh sendal/sepatu. Sebetulnya ada rak untuk alas kaki di dekat pintu masuk, namun ini pilihan sih, kalau saya prefer membawa kantong plastik sendiri agar sendalnya bisa diletakkan di dekat kita nantinya.

Sebelum masuk ke dalam masjid, barang bawaan kita akan diperiksa oleh para askar. Kalau dulu katanya tidak boleh bawa ponsel berkamera, makanya dulu saya suka letakkan di dalam Alquran. Kalau sekarang agaknya lebih kendur, paling yang tidak boleh itu membawa barang belanjaan, mungkin khawatir mengotori masjid kali ya.
Solat di masjid nabawi pahalanya 1000x lipat
Nah, dekat pintu masuk yang di belakang itu ada rak sepatu. 

Askar di Masjid Nabawi kata orang-orang lebih ketat, kalau menurut saya? Hmm sama saja sih dengan yang di Masjidil Haram. Beberapa kali saya "diusir" agar solatnya tidak di dalam. Hihi ... Kenapa? Entah karena memang saya yang sudah membatin kalau bawa anak tidak bisa solat di dalam atau ya memang murni mentaati aturan bahwa orang tua dengan anak kecil solatnya di lapis kedua.  Tidak bisa masuk banget hingga ke dalam. 

Bagi saya di sisi manapun selama di dalam Masjid Nabawi, semuanya indah. Dalamnya megah, arsitektur interiornya kental dengan nuansa Arabian. Banyak pilar nan kokoh di mana di bagian bawahnya terdapat pendingin ruangan serta kumpulan Alquran dari para pewakaf. Kadang ada juga rak sepatu dekat tiang tersebut. 

Lengkungan yang menghubungkan dua pilar di dekatnya khas bergaya Timur Tengah dengan warna abu-abu dan krem yang berselang-seling. Entah berapa banyak jumlahnya, saya hanya bisa berdecak kagum. Tampak pula kaligrafi asma Allah di dinding-dindingnya yang sangat jelas terlihat, sebab pancaran ratusan lampu yang terang benderang. Warna lampunya bukan putih menyilaukan juga bukan kuning yang membuat mata lelah, namun di anatara keduanya yang memberi suasana damai dan nyaman untuk berlama-lama di dalamnya. Tak hanya itu kemewahan juga tampak dari lampu gantungnya dengan warna dominan emas.
Ademnya suasana masjid nabawi
Keindahan interior Masjid Nabawi

Kubah di Masjid Nabawi ini juga bisa terbuka dengan cara bergeser. Jadi desain Masjid ini sangat apik termasuk soal sirkulasi udara. Kapan bergesernya? Dulu sih saya melihatnya pagi di jam-jamnya solat dhuha. Maka cobalah saat di sini, jelajahi keindahannya ke seluruh sisinya. Mungkin pegal, mungkin lelah karena memang sangat luas, tapi percayalah ini akan menambah rasa cinta kita pada Allah Swt, Rasululloh Saw, juga pada masjid ini.

Kalau dulu saat umroh pertama, ketika ke masjid tak pernah lupa mukena dan sajadah, di umroh kali ini saya justru lebih sering menanggalkan keduanya. Maksudnya saya lebih suka mengenakan gamis, jilbab panjang, dan kaos kaki. Dengan demikian saya bisa langsung solat dan bisa di mana saja mengisis shaf yang kososng karena tanpa sajadah Memang perlu tidak sih membawa sajadah? Kalau saya setelah mengetahui ini, prefer tidak membawa karena lebih ringkas dan enteng. Hehe bukan itu aja sih, kadang sajadah kita itu ukurannya besar-besar, jadi kalau berdiri saat solat, renggang-renggang shafnya. Mengenai shaf solat ini jangan dianggap sepele ya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan shaf shalat jamaah dengan memerintahkan:
“Rapatkan shaf kalian, rapatkan barisan kalian, luruskan pundak dengan pundak. Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sungguh aku melihat setan masuk di sela-sela shaf, seperti anak kambing.” (HR. Abu Daud 667, Ibn Hibban 2166, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Alasan lain tak begitu perlu membawa sajadah adalah di dalam itu sudah disediakan karpet yang empuk dan bersih. Karpet di Masjid Nabawi warnanya merah, sedangkan yang di Masjidil Haram warnanya hijau sama dengan Raudhah. Selama di Masjid Nabawi aktivitas yang bisa kita lakukan adalah solat, dzikir, mengaji, dan melakukan amal baik lainnya.

Kita juga bisa berbagi lho baik dalam bentuk uang, makanan, ataupun Alquran untuk wakaf di masjid. Wakaf Alquran ini bila memang mampu baiknya jangan dilewatkan. Ini salah satu cara agar pahala atau kebaikan kita terus mengalir meski sudah kembali ke Tanah Air. Oya, pastikan Alquran yang kita wakafkan merupakan Alquran cetakan Madinah agar tidak kena sortir. Jadi setiap hari akan ada petugas yang mengecek Alquran yang ada di Masjid, bila tak sesuai maka akan diambil, katanya sih bisa dibagikan ke sekolah atau masjid-masjid lain di sana.

Berlama-lama ibadah di dalam masjid jangan khawatir kehausan, banyak galon zam-zam baik yang dingin maupun tidak dingin. Gelasnya pun banyak tersedia. Yang gelas tengkurap artinya masih baru, yang terbuka menghadap ke atas artinya sudah dipakai. Saran saya ambil air secukupnya saja yang mampu kita habiskan, sayang kan jadi mubazir kalau ambil penuh ternyata kita cuma habiskan setengah gelas.
Minum air zam-zam
Jangan lupa berdoa sebelum minum ya , insya Allah berkah dan menyehatkan.

Bila batal wudhunya? Tenang banyak tempat wudhu di pelataran. Kalau soal toilet wanita di Masjid Nabawi saya juga kurang tahu hingga saat ini. Nah, soal toilet umum di Masjidil Haram lebih friendly, mudah ditemukan pokoknya. Dan ingat toilet, saya jadi ingat pengalaman unik saat di Masjid Nabawi. Inilah momen di mana apa yang saya ucapkan kontan terijabah. 

Jadi waktu itu siang-siang, kami bergegas menuju masjid. Saat di pelataran saya bicara dengan ibu mertua, "Solat di sana juga enak, Bu, dekat tempat wudhu". Ibu mertua saya diam saja. Karena sudah mendekati adzan zuhur, kami berjalan lebih cepat, suasana pun sudah semakin ramai.
Pemeriksaan oleh askar pertama kami semua lolos. Saat di askar kedua, ibu mertua serta dua adik ipar saya lolos kecuali saya. Seorang askar berniqob dan jubah hitam "mengusir" sambil berkata "ibu ... ibu" tangannya memberi isyarat agar saya solat di luar.
Saya coba membandel, solat di paling pinggir dekat galon zam-zam, tidak boleh juga. Terus begitu ketika saya mau naruh sajadah, tidak boleh juga disuruh di belakang. Ke belakaaaaang terus akhirnya saya benar-benar solat di luar alias di pelataran persiiiiiiis dekat dengan tempat wudhu yang saya ucapkan ke ibu mertua. 
See you on hajj masjid nabawi
Solat di bawah payung Masjid Nabawi, must try! HIhi ... ini tampang setelah "terusir" dan kemudian mendapat rezeki tak terduga.
letak toilet dan tempat wudu di nabawi
Saya gak potret tempat wudhu nya saat siang, tapi inilah tempat yang saya tunjuk kepada ibu mertua dan saya solat di sampingnya. :D

Astagfirullohaladziim wa atubuilaih ...

Sebetulnya tidak sedih sih atas pengusiran tadi, saya justru geli sendiri kalau ingat kejadian itu. Betapa berdoa itu sangat mudah dan pengabulan doa itu begitu dekat. Ternyata anak saya justru senang sekali solat di pelataran di bawah payung-payung nan besar. Meski terasa juga hawa panas siang tapi lumayanlah masih ternaungi oleh payung yang ada. 

Tidak hanya itu, kebahagiaan bagi si anak salihah ini bertambah ketika ada seorang wanita Turki yang berada di samping kami membuka seplastik permen dan permen tersebut berantakan hingga ke sajadah saya. Tanpa disangka, permen yang berserakan tersebut justru dikumpulkan di sajadah saya dan kemudian ia langsung pindah ke tempat lainnya. Alhamdulillah rezeki anak solihah.

Kejadian ini kemudian saya ambil hikmahnya untuk menjadi pelajaran bagi anak. Bahwa kadang ya beginilah cara Allah mengabulkan keinginan kita. Saya katakan padanya, "kita tidak usah bersedih kalau sesuatu tidak sesuai harapan kita, bisa jadi Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Belum tentu solat di dalam masjid bareng onty dan yayi, ada yang ngasih Alin permen. Ternyata setelah diusir tadi, Alin malah dapat permen di sini." Ia hanya diam dan saya berharap ia sedang mencernanya.

Dan ya memang begitulah kadang kita hidup ini sok tahu, ambil jalan ini itu padahal itu tak baik atau bukan yang kita butuhkan. Akhirnya Allah sebaik-baik perencana, bukan karena benci justru karena menyayangi hambaNya "memaksa" kita masuk ke jalur lainnya, mungkin sedikit tak nyaman, tapi insya Allah baik di ujung perjalanannya. 

Solat zuhur pun usai, kami menunggu sambil duduk santai di bawah payung indah ini. Tiba-tiba seseorang datang membawa tasbih dan memberikannya pada saya. Saya ragu, orang ini jualan atau memberi secara sukarela. Ternyata, cara membedakannya adalah, bila ia bilang "halal" itu artinya dikasih. Alhamdulillah ... 

Kata orang-orang di sana itu kalau kita tak berniat beli jangan pernah menyentuh barang dagangannya atau kita akan dipaksa membelinya, katakan saja "La" artinya tidak. Kecuali ia bilang, "halal" artinya kita boleh pegang.

Orang ramai keluar dari masjid namun saya masih belum melihat ibu dan adik-adik ipar. Tiba-tiba ketika sedang fokus mengamati, seseorang melemparkan permen lagi di antara kami dan berlalu begitu saja. Sontak, saya dan si anak kaget, ya Allah ... Rezeki si anak banget ini sih, rasanya permen itu kaya turun dari langit. Alhamdulillah ... 

Tak lama kemudian mucul juga mereka yang kami tunggu-tunggu. Bersama-sama kami kembali ke hotel untuk makan siang dan istirahat. Sambil berjalan santai menikmati udara Madinah, si anak bercerita penuh kegembiraan pada neneknya. Sungguh, hari yang penuh cerita dan pengalaman.

Wah, maafkan rasanya sudah cukup panjang membahas tentang Masjid Nabawi, kalau begitu cerita tentang Raudhah di part selanjutnya saja ya. Kisi-kisinya, ada tips dan trik mudah ke Raudhah meski orang banyak dan berdesakan.

Wassalamualaikum.

cuaca di Madinah
See you on Hajj, Nabawi Mosque,  insya Allah. Aamiin.

30 komentar:

  1. Saya jadi merinding membaca cerita ini. Begitu indahnya tanah impian. Begitu inginnya saya beribadah kesana sekeluarga. Semoga saya sekeluarga segera bisa beribadah ke Tanah Suci, baik umroh maupun haji.
    Mbak Dwi beruntung sekali bisa beribadah kesana ketika masih muda, fit dan bersama si kecil pula. Makin sholehah yaa mbak cantiik.. pantesan banyak yang kasih permen , sudah sholehah, gak rewel bahkan saat sholat diluar, plus imuuut pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga dimudahkan ya mba ke Baitulloh.

      Memang saya juga maunya begitu sih mba, hajinya saat masih muda dan fit karena kan fisik banget ya.

      Hapus
  2. MasyaAllah mbak Dwi..aku tertarik
    bangets dengan umroh backpacker ini..Dan pengin sekali tahu info lengkapnya. Terima kasih sudah menuliskan kisahnya
    Ditunggu lanjutannya yaaa..
    Alhamdulillah sudah diberi kelancaran umroh beserta keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba insya Allah nanti aku bahas juga soal itinerary dan harga ya...

      Hapus
  3. Indahnya. Saya berharap suatu saat bisa sampai di sana. Ingin sekali. Semoga keinginan ini bisa terpenuhi.Amin.

    BalasHapus
  4. Masjid Nabawi banyak yg bilang masjid perempuan, krn kesannya feminin. Sedangkan Masjidil Harram, lebih macho. Adzannya juga beda. Duh...ngangenin denger suara adzannya...Tapi emang bener sih, engga boleh ngomong sembarangan yah di sana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaa analoginya seperti itu ya Bun karena lebih tenang suasananya.

      Hapus
  5. Masyaallah kangennya. Pengen kesana lagi rasanya abis baca tulisan bun. Akhir tahun ini pengennya tapi belum ada 3 tahun umroh katanya kena denda ya, hiks. Tapi emang sih madinah dan mekkah itu bikin kangen banget. Setiap ada yg umroh terus cerita lgs keinget dulu umroh. Terus kepengen banget kesana lagi. Masyaallah, semoga kita dimudahkan untuk kembali ya bun. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya mba Stef kena visa progresif sekitar 8 jutaan..

      Hapus
  6. Masya Allah, ceritanya penuh haru mbak. Jadi turut membayangkan juga. Allah, Semoga dapat berkunjung dan beribadah disana. Aamiin

    BalasHapus
  7. Aku sering dengar cerita-cerita seperti ini. Pokoknya kalau habis ada yang umroh atau haji, pastti banyak cerita penuh hikmah yang bisa diambil pelajaran. Semoga segera dimampukan Ya Alloh. Ditunggu lanjutannya ya.

    BalasHapus
  8. Bangunan arsitekturnya keren ya, backpackeran sambil bawa anak asyik ya mba?

    BalasHapus
  9. Masjid Nabawi yang indah dan Madinah dan Mekkah, membuat ingin dan ingin kembali lagi...semoga dimudahkan, Aamiin

    BalasHapus
  10. Bun kok aku sedih dan nangis yah bacanya. Ya Allah aku berharap disegerakan buat sholat di masjid nabawi. MasyaAllah bun Allah langsung ijabah banget yah doanya. MasyaAllah masyaAllah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga dirimu dan keluarga disegerakan ya Mba Meg

      Hapus
  11. Aku kemarin sama bu ustadzah, disaranin minum obat pencegah haid, mbak. Biar dapet penuh ibadahnya.
    Subhanallah ... selalu punya rasa gimanaaa gitu kalo liat foto masjid Nabawi dan Masjidil Haram

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyayah... itu juga tadinya udah sempat mau minun aja deh... hihii

      Hapus
  12. Masya Allah. Duh jadi pengen banget kesana. Semiga Allah lapangkan rezeki kami agar bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

    BalasHapus
  13. Makkah.. Madinah.. menyebut dua nama kota ini selalu membuat rindu yang teramat sangaaad. Menyajikan beragam kisah yang kadang unpredictable ya mbak. Tapi hikmahnya luar biasa. Barakallah untuk perjalanan ibadahnya

    BalasHapus
  14. Penuturan keindahan masjid berasa ada disana, apalagi saat lihat fotonya. Lampunya aja bikin sejuk. Dan MashaAllah mbak Alin pinter nan sholehah, enggak rewel, makanya dikasih hujan permen. Semoga sehat terus ya mbak :) Beribadah dengan khusuk.

    Btw kadang kalo aku pergi wisata religi kayak di Wali atau masjid2 juga memilih pakai gamis dan koos kaki. Jadi gak perlu bawa mukenah dan sajadah.

    Semoga Allah kabulkan segala doa agar kelak bs ke tanah suci saat masih sehat dan kuat. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin... Semoga dimudahkan ya Mama Luii

      Hapus
  15. Alhamdulillah diberi kesempatan memenuhi panggilan ke baitullah saat masih muda. Mudah2an Allah segera memanggilku suatu saat

    BalasHapus
  16. Semakin ingin umroh backpacker nih mba. Syukaaa ceritanya mb Dwi Arum. Alhamdulillah diberi klncaran. Ikut deg2an juga baca pas ngeflek 2 hri jd gk bs ibadah ya? Tp ternyt blkgn bs bersih. Hehe

    BalasHapus