Liburan Keluarga ke Telaga Sarangan; Susuri Danau di Ketinggian


Surakarta, 27 Juni 2019

Kamis pagi itu cuaca Solo cukup cerah. Selepas sarapan di sini kami kembali ke kamar untuk menyiapkan segala keperluan selama di Sarangan.
Liburan bersama anak ke Telaga Sarangan

"Aku nggak bawa jaket nih katanya dingin ya?" Celetuk ontynya Alin.

Dalem hati sedingin apa sih, lha wong panas begini, lagian kayanya masih dinginan Bromo. Nada sedikit menantang ya kedengarannya, padahal asli nanya lho.

Sekitar jam 08.30 kami berangkat dari Solo menuju Telaga Sarangan yang tentu saja melewati Tawangmangu, Karanganyar lalu Magetan.

Iya Telaga Sarangan itu berada di Magetan, Jawa Timur, tapi bisa jadi alternatif tempat wisata kalau lagi menginap di Solo. Nggak deket banget sih, jaraknya sekitar 57.8 km atau kalau dengan mobil bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam.
jarak Surakarta ke Telaga Sarangan
Google makes everything easier (tentu saja atas izin Allah)

Selama perjalanan Solo-Magetan kami disuguhkan pemandangan yang indah apalagi saat di Tawangmagu, sepanjang jalan itu banyak sengkedan atau terasering. Benar-benar manjain mata banget. Sesekali kami berhenti selain sengaja mau foto di sawah juga memang mencari toilet, hihi ... Setelah itu lihat-lihat jajanan dan beli juga kan bakso pentol yang enak banget. Beneran enak lho, apalagi udaranya sejuk-sejuk gitu terus makan bakso pentol hangat. Aaah maknyus.
Sengkedan atau terasering di Tawangmangu
Sengaja melipir demi foto di sawah, hihi ...
Sampingnya ini SPBU lho sementara yang lain asyik makan bakso pentol di mobil

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan panduan gmaps. Jalannya terus menanjak namanya juga daerah pegunungan ya. Kalau kalian tahu Gunung Lawu, nah di sinilah lokasinya, di Tawangmangu.

Memasuki daerah pegunungan udara semakin dingin. Brrr ... istigfar deh. Saltum banget nggak bawa jaket, alhamdulillah si anak ada baju hangat yang ketinggalan di mobil. Saking dinginnya kita tuh sampai nggak nyalahin AC, cukup buka kaca dan merasakan udara asli pegunungan. Segernyaa ...

Kita semua sama-sama belum pernah jadi nggak ada yang bisa kasih saran lewat sini saja atau situ aja atau jangan belok kanan, jangan belok kiri, daaaan sebagainya. Tau sendiri kan ya, kalau pakai peta online macam gmaps gitu kadang kita diarahkan jalan yang nggak umum meski memang lebih cepat.

Jadi jalan yang kami tempuh itu menanjak banget, sampai khawatir ini mobil kuat nggak ya, tapi yakin bismillah kuat. Melihat mobil lain sekelasnya saja bisa kita juga pasti bisa. Jalanannya yah tipikal jalan di Puncak gitu. Pemandangan di sebelah kiri banyak rumah warga dan perkebunan, sementara di kanan adalah lereng gunung yang berselimut kabut.

Warga di sini banyak menanam daun bawang, strawberry, butternut atau labu madu, serta tanaman khas dataran tinggi lainnya.

Selain rumah penduduk, di sini juga banyak penginapan dan tempat wisata keluarga. Kayanya seru juga sih menginap di sini latihan sebelum ke Eropa, heheh ...

Di sepanjang jalan banyak terlihat pohon cemara. Pohon cemaranya rerata menguncup seperti memeluk dirinya sendiri, seolah ingin mengatakan pada siapapun yang melihatnya, "hei aku kedinginan".
Perjalanan ke Tawangmangu
See? Pohon cemara pun kedinginan
Wisata di Tawangmangu
Tulisannya sudah Selamat Datang padahal masih lumayan hingga tiba di Telaga Sarangannya

Jalan yang ditunjuki gmaps ini selain curam juga sekalinya ada belokan, berkelok tajam. Beberapa kali aku memeringatkan suami yang sedang menyetir untuk berhati-hati. Perasaanku sih agak ngebut tapi katanya nggak juga lagian menurutnya ini untuk menjaga momentum karena kalau kecepatan berkurang berat lagi nariknya meski sudah menggunakan power mode.

Baiklah ... yang penting terus berdoa dan berhati-hati. Meski hati dag dig dug tapi melihat alam sekitar hati jadi adem banget. Kabut mulai menebal dan berarak turun ke lereng bukit, jarak pandang semakin dekat tentu saja fog lamp harus dinyalakan.

Aaaah pokoknya nggak bisa dilukiskan keindahannya karena mata adalah alat potret terbaik, terbaik dari handphone dan kamera canggih manapun.

Setelah mencapai puncak, jalan kembali menurun. Udara yang sejak tadi dingin pun perlahan berubah sedikit lebih hangat rasanya. Sinar matahari mulai terlihat. Tak lama kemudian kami tiba di tempat wisata Telaga Sarangan. Harga tiket masuknya sekitar 20ribu perorang.
Biaya masuk Telaga Sarangan

Ternyata di dalam kawasan wisata ini sangat ramai, terlihat banyak mobil pribadi, travel, bus, dan juga beberapa penginapan. Ya, ternyata banyak juga lho hotel di Telaga Sarangan. Parkirannya sebetulnya cukup luas, ada dua tingkat. Namun begitu tetap saja agak sulit mencari slot yang kosong karena musim liburan juga kali ya jadi banyak yang ke sini. Kalau dulu katanya bisa parkir di dalam persis di dekat Telaganya, namun sekarang hanya tamu hotel yang di dalam yang bisa.

Sebelum pintu gerbang kami sudah disambut oleh para pedagang. Mulai dari kaos, mainan, makanan, hingga sayuran segar ada semua. Oya di sini juga ada toilet dan musholla yang cukup bersih.

Alhamdulillah ... Akhirnya tiba juga kami di Telaga Sarangan, sang objek wisata utama. Duuuh cakep banget deh, terpampang pegunungan yang menjulang tinggi melatarbelakangi si Telaga.

Kisah Legenda Telaga Sarangan

Legenda Telaga Sarangan
Aslinya lebih rame cuuyy ...

Sebagaimana objek wisata alam pada umumnya di Indonesia, Telaga Sarangan pun memiliki kisah legenda. Menurut cerita yang dilansir budayajawa.id, Telaga Sarangan juga dikenal dengan nama Telaga Pasir. Kok bisa?

Beginilah misteri Telaga Sarangan "Jreng ... Jreng ..." hehee ...

Begini, konon zaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Pasir ( Kyai Jalilung ) dan Nyai Pasir ( Nyai Jalilung ). Keduanya hidup aman tentram di hutan gunung Lawu. Suatu ketika sang suami berangkat untuk berladang namun karena ladang tersebut dipenuhi pohon besar sang Kyai Pasir pun menebang pohon-pohon itu terlebih dahulu.

Singkat cerita, ditemukanlah sebuah telur di bawah pohon besar yang ditebangnya tadi. Ia pun membawanya pulang untuk direbus dan dimakan. Suami-istri tersebut sangat menikmati telur yang dimasaknya.

Setelah dimakannya telur tersebut, sang Kyai berangkat kembali ke ladang melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ia merasa sekujur badannya kaku dan sakit, tubuhnya panas, dan matanya berkunang-kunang, hingga kemudian ia pun jatuh ke tanah. Hal aneh menimpa sang Kyai, tubuhnya berubah menjadi seekor ular naga yang besar.

Sementara sang istri yang juga memakan telur yang sama merasakan hal demikian pula. Ia berangkat menyusul suaminya ke ladang. Badannya pun menjadi panas, kaku, dan kemudian tersungkur ke tanah dan berubah menjadi ular naga yang besar juga.

Kedua naga itu akhirnya berguling-guling dan menggeliat-geliat di tanah ladang yang menyebabkan tempat tersebut menjadi cekungan yang semakin besar dan dalam kemudian memancarkan air. Nah karena ulah Kyai dan Nyai Pasir inilah Telaga Sarangan dikenal juga dengan Telaga Pasir.

Itulah kisah legenda dibalik keindahan Telaga Sarangan. Masyarakat di sini begitu menyadari bahwa Telaga ini menjadi salah satu sumber matapencahariannya. Makanya mereka merawat betul Telaganya. Setiap jumat kataya ada bersih-bersih danau dari sampah. Iya sih pas aku lihat juga bersih banget.
danau sarangan bersih
haha mommaap close up :D

Aktivitas di Telaga Sarangan


Ada beberapa aktivitas yang bisa dikerjakan di sini, antara lain berkuda dan naik speed boat.

Berkuda; Tepatnya Menunggang Kuda

Aku bukannya nggak mau sih, cuma agak ribet aja karena pakai rok. Hahah alasan! Jadilah Alin ditemani ontinya menyusuri tepi Telaga dengan kuda. Kayanya luas juga soalnya lumayan lama aku menunggunya.
Biaya berkuda di Sarangan
Dududu yang sudah besar dan nggak mau ditemenin berkudanya, hmm ...

Kalau mengitari Telaga biayanya 60ribu/orang, sementara kalau keliling "pasar" cukup merogoh kocek 40ribu/orangnya. Kudanya cakep-cakep, bersih dan kalem kok jadi tenang saja, bahkan juga nggak terlalu bau.

Menaiki Speedboat

Nah ini, mamak berusaha memberanikan diri sampai bilang ke abangnya jangan ngebut ya. Gimana pula speed boat nggak ngebut coba. Hahah ...

Baiquelah, kami ber-4 akhirnya mencoba naik speed boat. Sementara ibu dan bapak mertuaku menunggu di kedai sambil nyeruput jahe hangat.

Bismillah, pengalaman pertama ini pun dimulai. Huwaaah ... Seenggak ngebut-enggak ngebutnya tetep aja berasa ngebut buatku, tapi melihat anak berani banget masa aku kelihatan takut bisa diketawain nanti, hahaah ...
dermaga sarangan
Danaunya bersih ya dan mereka paham potensi yang ada pada daerahnya. 

Abangnya pake nanya lagi, mau satu atau tiga putaran, langsunglah dijawab tiga putaran sama si anak ini. Huwaaaah ... Etapi ternyata seru juga sih, ada sensasi jedug-jedugnya gitu waktu perahu menyentuh air.
Mengitari danau sarangan dengan speedboat
Dalam keadaan laju lho ini, makanya ngblur...

Putaran pertama bisa dibilang masih selow. Kami bisa menikmati dengan jelas pemandangan sekitar. Menyusuri tiap inchi telaga dengan speedboat sambil take photo itu, sesuatu! Meski jilbab berkibar-kibar karena nggak pake hair spray tapi seru aja, yang penting sih nggak terbang, wkwkwk...
pengalaman naik speedboat di Telaga Sarangan
Nah ini dalam keadaan mesin mati, lebih jelas kan gambarnya, meski ngeriii nahan goyangan

Putaran kedua mulai kencang malah sesekali pakai ngepot. Lalu tiba-tiba mesin mati tepatnya dimatikan sih dan si abangnya berinisiatif motret kita di tengah danau. Jelas saja perahu pun bergoyang-goyang. Hiiih ...

Nah putaran ketiga ini yang super ngebut, beberapa kali saat belokan dibikin sangat miring sampai kami semua teriak. "Aaaaaa...." Apalagi saat sebelum parkir, ngepotnya warbyasah permirsah. Huhuhu... Alhamdulillah kelar juga. Mamak mau nenangin hati dulu nyeruput jahe hangat juga.

Biaya naik speedboat ini 60ribu/putaran/perahu, namun masnya baik kami dikasih diskon jadi 50ribu/putarannya. Aaah pengalaman bangettt ... Tapi aku lebih suka naik perahu yang selow gitu, kaya waktu di Mandurah.

Waktu semakin siang, kami pun menyudahi pertemuan dengan Telaga yang melegenda ini. Kami harus kembali sebelum hari semakin sore dan cuaca menjadi lebih gelap.

Nggak lengkap tentunya ke objek wisata tanpa belanja cinderamata. Hal yang kami suka biasanya sih beli kaos daerah, seru aja sih jadi bisa diingat terus momennya dan berguna karena dipakai.

Sayuran di sini juga segar-segar, rasanya ingin diborong namun apalah daya, selain sudah nggak ada space lagi buat belanjaan juga khawatir layu di jalan.
sayuran segar di Sarangan
Aaaah, rasanya pengen borooongggg
Para penjual di Sarangan
Suasana yang menghiasi sepanjang jalan menuju Telaga Sarangan
Keindahan Telaga Sarangan
See you :)

Kini perjalanan kembali kami melalui jalur yang berbeda, jalur yang umum digunakan oleh para wisatawan. Tidak securam tadi, lebih landai, lebih berkelok-kelok, lebih banyak resto-resto yang instagenic juga.


Mampir Makan Sambil Lihat Kebun Strawberry


Karena lapar kami menyempatkan makan siang di lereng gunung Lawu, berlatar belakang hamparan kebun strawberry dan daun bawang. Waaah kabut semakin turun, dingiiiiin ... Untungnya sempat ambil photo sebentar.
Kebun strawberry di tawangmangu
Beberapa saat sebelum kabut yang di belakang itu berarak menuju kamiiiii ...

Sebelum sore banget kita bergegas turun karena masih ada satu tempat lagi yang mau kita kunjungi, ke manakah itu? Wait ya ...
Rumah atsiri tawangmangu
Segeeer ... Di mana ya ini?

Intinya sih kalau next kalian ke sini juga, jangan lupa bawa jaket atau pakai baju hangat dan pastikan kondisi kendaraan prima serta ada bensinnya. Namanya di gunung nggak ada SPBU yekan, jadi penuhilah saat di kota.

Anak-anak mungkin nggak ingat kapan ini terjadi tapi mereka pasti ingat momen saat kita ke sini.

See you yaaa on our next trip stories.

12 komentar:

  1. Wah..jadi kangen Sarangan..
    Ku lernah di rute yang sama, dari Solo. Juga rute dari Madiun. Keduanya curam, bahkan mobil kakakku sampai enggak kiat, akhirnya turun, parkir deket situ terus nyambung ojek..duh
    Dan..paling seneng belanja sayuran, karena segeer-seger.

    BalasHapus
  2. Wah senenh banget ikh aku klo liat bunda dwi jalan-jalan. Soalnya tempat-tempatnya itu yang belum pernah aku kunjungi. Ternyta tempat itu ada legendanya juga ya bun. Bisa jadi dongeng buat anak kita juga jadinya

    BalasHapus
  3. Indah ya di Telaga Sarangan, mbak, satu saat mau ke sana deh...

    BalasHapus
  4. wah seru juga jalan2nya ...:) indah bgt telaga sarangan

    BalasHapus
  5. wah seru juga ya sampe ada speedboatnya segala, klo ditilik sekilas kayak di Danau Toba

    BalasHapus
  6. Aku baru sekali ke Telaga Sarangan. Itupun udah lama kaliii.. hahaha. Emang asyik di sana mba, dingin gitu jadi asik buat jalan-jalan dan makan.

    BalasHapus
  7. Ngenayanginnya adeeeem banget kayaknya. Sarangan sekarang cantik banget. Hihi..pengen ke sana..pengen beli sayurannya.

    BalasHapus
  8. Saya ke Sarangan dulu waktu kuliah, tujuannya malah ke air terjunnya mbak.
    Maklum waktu itu masih muda, jadi kalau nggak menantang nggak seru, hihi.
    Btw lihat cerita Mbak Dwi koq jadi pingin ke Sarangan lagi.

    BalasHapus
  9. Wow... Pemandangannya indah banget mbak...

    Btw saya sedang berusaha mengingat2 karena sepertinya tak asing dengan telaga sarangan.
    Ooh... Baru ingat dulu waktu kecil pernah baca cerbung anak yg temanya detektif2an gitu... Seru pokoknya.. Yg mengambil setting latar belakang telaga sarangan... Hehehe...

    BalasHapus
  10. Slalu menunggu tulisan"mu sahabat on line ku..mmmuaach...Baarokallooh

    BalasHapus
  11. aku bbrp kali ke telaga saranagn ini kalo sedang mudik ke solo. sukaaaa soalnya ama tempat ini krn dingiiiin. pas aku dtg, kabutnya lagi tebeeeel banget. kalo mudik solo lagi, kayaknya pgn coba bermalam di kawasan sini deh mba.

    eh btw, pas naik speedboatnya, aku sempet liat ada tulisan di sisi danau, telaga sarangan 1400 m. itu mksdnya kedalaman danau mba?? gilaaa sih kalo iyaaa. danau toba aja dlmnya diperkirakan cm 500 meter. ini jauuuh lbh dalam lg yaaa? walopun aku kurang yakin sih 1400 m itu kedalamannya

    btw, kalopun seandainya bener, aku jd serem pas naik speedboat. secara g ada diksh pelampung samasekali :(. gmn kalo sampe kebalik, ga bisa berenang pula :(. hrsnya dikasih tuh tiap penumpang wajib pakai pelampung yaaa.. utk safety juga

    BalasHapus